
Alena yang melihat suaminya itu di peluk oleh orang lain, langsung saja berlari menyusul mereka.
"Kau! berani sekali kau memeluk suamiku!" teriak Alena membalikkan badannya Riri.
PLAK!
"Alena!" teriak Willem membentak Alena.
"Heiiii!!!" teriak Leo, yang langsung mencengkram dagunya Alena, membuat Alena sedikit tidak bernafas.
"Beraninya kau menampar Alice!" bentak Leo menguatkan cengkeramannya, sedangkan Riri hanya meringis sakit atas tamparan itu.
Reza, Rara, Alex dan Aryan, langsung saja masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi di sana, cukup terkejut melihat Leo marah pada Alena.
"Leo! lepaskan dia!" titah Reza pada Leo.
"Tidak! wanita yang berani menampar Alice harus mati!" teriak Leo menjambak rambut Alena.
"Lepaskan istriku!" teriak Willem mencoba untuk tidak memakai kekerasan.
"Diam kau! dasar ba*ingan! kenapa berani memeluk Alice!" cengkraman itu lepas dan kemudian menarik kerah Willem.
"Kak! jangan seperti ini!" pinta Riri yang kini menyadari adanya keributan (dari tadi kemana aja?)
"Kau juga Alice! kenapa mau di peluk olehnya!" bentak Leo kesal.
"Leo! jika mau berkelahi! jangan di sini!" bentak Reza melepaskan tangan Leo dari Willem.
"Cherry" panggil Aryan dan memeluk Riri.
"Aryan, bagaimana ini?" tanya Riri bingung.
"Sudahlah jangan khawatir".
"Alex, kau jaga Riri sebentar" ucap Aryan pada Alex, Rara dan Alex pun mengangguk dan mengelus punggung Riri.
"Alena, ada apa ini sebenarnya?" tanya Aryan memeluk Alena.
"Kakak, wanita itu mencoba untuk menggoda suamiku" ucap Alena menunjuk pada Riri.
"Alena, Riri tidak seperti itu!" sergah Aryan.
"Kak! tapi itu kenyataannya!"
"Tidak, sebaiknya kau istirahat saja, tidak baik untuk marah marah seperti ini" ucap Aryan dan mencium rambut Alena sekilas.
"Ayok"
"Kau juga Willem, sebaiknya jaga adikku baik baik" ucap Aryan pada Willem yang masih dengan Reza dan Leo.
Willem langsung melongos pergi membawa istrinya Alena itu.
"Dasar tidak tahu diri!" gerutu Leo kesal.
"Ada apa sebenarnya Leo? kenapa kau hilang kendali?!" tanya Reza pada Leo.
"Kau tahu Reza! wanita itu menampar Alice! dia membuat Alice menitikkan air mata! aku tidak tahan melihatnya!" jawab Leo dengan rahang yang mengeras.
Reza hanya menghela nafas kasar, tidak baik jika bertanya pada Leo jika sedang marah seperti ini.
"Tuan dan nyonya, maafkan atas ketidak nyamanan tadi, sekarang silakan nikmati acara pernikahan adikku ini" ucap Aryan memakai mic untuk meminta maaf pada para tamu undangan.
"Aryan, apa benar ada keributan di sini" tanya Gista pada Aryan setelah turun dari atas pelaminan.
"Mommy, lupakan saja"
"Tidak sayang, mommy di beritahu jika ada orang yang menyakiti Alena" ucap Gista tetap bertanya.
"Bukan Alena yang di sakiti, tapi Alena yang menyakiti Riri mommy, dia salah paham dengan Riri dan Willem, laki laki bejat itu" jawab Aryan.
"Jangan berbohong!"
"Aku tidak berbohong, kalau mommy tidak percaya tanyakan saja pada anak mommy" balas Aryan.
"Aku pergi dulu, meminta maaf pada kakak kakaknya Riri" pamit Aryan dan pergi setelah Gista mengangguk.
Aryan berjalan ke arah mereka dimana Riri dan mereka di sana.
"Maafkan atas tindakan adikku, mungkin ini hormon kehamilannya yang selalu membuatnya cemburu" ucap Aryan pada mereka.
"Sudahlah lupakan saja, lagi pula memang kita tidak tahu siapa yang salah di sini" ucap Reza.
"Jelas jelas dia yang bersalah!" sela Leo.
"Kita pulang saja Alice, ayok" ajak Leo membawa Riri pergi dari acara itu.
"Jangan pergi, jangan bawa Riri" ucap Aryan memohon pada Leo dan memegang tangan Riri.
"Kak, ini salahku, jangan marah pada cutty. Dia sangat baik padaku" ucap Riri lembut.
Leo hanya memutar bola matanya jengah atas perkataan Riri itu.
"Baiklah, nikmati saja acaranya, jika sampai ada yang membuatmu meneteskan air matanya, aku tidak akan segan segan membawanya ke negaraku!" ucap Leo pada Riri.
"Wahhh, kau sangat murah hati kak, karena mengajak orang itu jalan jalan" ucap Riri tertawa menanggapi ucapan Leo yang serius.
"Ayok sayang, aku kenalkan pada mommy ku" ajak Aryan memegang pundak Riri dan membawanya pergi.
"Sayang, ayok kita bertemu mommy, dia sangat merindukan menantu cantiknya ini" ajak Alex kini pada Rara
Rara hanya mengangguk dan tersenyum, setelah itu mereka pun berjalan untuk menghampiri mommy mereka.
"Mommy, Daddy, perkenalkan ini Riri, kalian pasti sudah mengetahuinya kan?" tanya Aryan memperkenalkan Riri pada Gista, Dian, Seno dan Thalita.
"Tentu saja kami tahu, mereka adik kakak yang kembar" ucap Thalita mengusap rambut Riri.
"Mommy, lihatlah siapa yang datang" teriak Alex pada mereka.
"Ya ampun, menantuku baru kembali ke sini, bagaimana jalan jalanmu hemmm?" tanya Thalita memeluk Rara dengan perasaan gembira.
"Menyenangkan mommy" jawab Rara tersenyum.
"Bagaimana kehamilanmu? apa dia baik baik saja?" tanya Seno kini dan memeluk Rara.
"Aku baik, kami sangat sehat" jawab Rara.
"Berapa usia kandungannya? Daddy sudah tidak sabar mengajaknya main bola nanti" tanya Seno dan langsung mendapat pelototan dari Thalita.
"Baru saja dua bulan Daddy" jawab Rara.
"Ah masih sangat kecil, semoga tumbuh dengan baik di dalam sana" ucap Seno tertawa.
"Ayok duduk sayang" ajak Thalita.
"Oh ya, bagaimana dengan hubungan kalian? kapan menikah?" tanya Gista pada Aryan dan Riri.
"Aku terserah Cherry saja, jika dia mau secepatnya aku akan langsung menikahinya hari ini juga" jawab Aryan tertawa kecil.
"Sebaiknya cepat menikah, itu lebih baik" ucap Dian menasehati.
"Bagaimana sayang? mereka menyuruhku untuk cepat cepat menikah denganmu" ucap Aryan pada Riri.
Lantas Gista langsung memukul tangan Aryan pelan, membuat Aryan sedikit meringis.
"Wanita jika di tanya seperti itu, pasti akan sangat malu, jika kau melamarnya pasti dia akan mau" tegur Gista pada Aryan.
"Hehehe iya mommy, maaf aku tidak tahu hal itu!"
"Dasar kau ini Aryan, Daddy saya menanyakan pada mommy mu, dia hanya tersenyum malu saja" ucap Dian, membuat Gista langsung menatap tajam padanya.
"Hei hei hei! ada apa ini ramai sekali? tega sekali kalian, aku menyambut para tamu di sana, sedangkan kalian enak enakan berbincang dan tertawa seperti ini!" ujar Rian yang baru datang dan langsung duduk di kursi kosong.
"Memangnya kenapa? kau ini sangat playboy, tentu saja kau bukan menyambut tamu! tapi merayu wanita wanita cantik itu!" ucap Aryan pada Rian.
"Ahhh, sangat sakit sekali di hatiku ini, mommy, kakak membuat hatiku sakit" adu Rian pada Gista.
"Bukankah itu benar Rian, kau harusnya menjadi pengantin di sana, bukan malah merayu para wanita disana!" timpal Gista.
"Ya ampun sangat sakit jika mommy mengatakan hal itu padaku" Mereka yang mendengar hanya tertawa riang saja atas ocehan Rian yang tak bermutu.
"Sudahlah hentikan! kau bukan aktor yang baik Rian, lebih baik rayu dan cari wanita yang akan kau nikahi nanti! lihatlah kakakmu sudah membawa calon menantu untuk kami" timpal Dian kini.
"Ah, hanya menantu saja, cepat menikah, lalu akan aku bawa wanita untuk aku jadikan menantu kalian!" ucap Rian.
"Aku kasihan pada istrimu nanti, pasti dia akan menyesal jika menikah denganmu!" ucap Alex tertawa renyah.
"Enak saja! istriku nanti, akan merasa paling bahagia di dunia ini karena memiliki diriku yang menjadi suaminya"
"Benarkah itu Rian? jangan sampai istrimu nanti menyesalinya karena menikah denganmu!" ucap Seno tertawa.
"Ehh, kenapa kalian menyerang ku?! tidak baik jika delapan orang lawan satu!" ucap Rian.
"Sudahlah, jangan bertengkar dan jangan berakting lagi! para tamu semakin banyak, sebaiknya kita sambut mereka" ucap Thalita melerai.
"Ah, bagus sekali mommy, kau membelaku ternyata, tak ku sangka kau begitu mencintaiku" ucap Rian pada Thalita.
"Siapa bilang mommy membelamu! it's not baby?" ucap Thalita lalu berdiri
"Sombong sekali kalian karena sudah mempunyai pasangan! akan aku buktikan untuk mencari pasangan untukku" cibir Rian kesal.
"Yuhuuuuuuu!!! siapa yang mau jadi pasanganku?" teriak Rian dengan menyusul mereka.