Love You My Wife

Love You My Wife
Kerinduan Riri dan Aryan



Aryan kini sudah beberapa hari di kantor, tak akan makan dan tak minum, jika Gista tidak memaksanya, dirinya hanya menatap kesedihan, menangis hanya itulah yang kini dia bisa lakukan.


Tiga hari lagi, Rara dan Alex menikah, kedua belah pihak sudah tidak mempermasalahkan Aryan lagi, Gista yang sering ke kantornya Aryan pun hanya menatap sedih, sudah membujuk Thalita dan Seno untuk membatalkan pernikahan Alex dan Rara, agar Aryan bisa kembali lagi seperti semula, dan menikah dengan Rara.


Namun bagaimana tidak, Thalita dan Seno pun hanya ingin kebahagiaan putranya, jelas Alex dan Rara sudah menjalin hubungan 5 tahun jadi tidak mungkin Thalita dan Seno mengalah pada Aryan yang hanya beberapa kali bertemu dengan Rara.


"Aryan, jangan seperti ini sayang, Rara dan Alex akan segera menikah, apa kau tidak akan datang?" ucap Gista yang kini sedang bersama Alena putrinya.


"Iya kak, jangan bersedih, di dunia ini masih banyak wanita" ucap Alena, Aryan pun langsung menatap Alena sinis.


"Tidak, maksudku aku akan mencarikan wanita untuk kak Rian!" sambung Alena yang tadi melihat Aryan menatap tajam padanya.


"Aryan, sebaiknya kau mandi dulu di ruanganmu, dan bersiap siap ya, ayahmu mengkhawatirkan dirimu, setidaknya pulang dulu sekarang" pinta Gista pada putranya.


"Tidak mom, disini masih banyak pekerjaan, aku tak bisa pulang sekarang" ucap Aryan yang kini berkutat dengan kertas kertas, kekesalannya bisa ia lampiaskan pada pekerjaan.


"Jangan seperti ini Aryan, kau bersikap seperti ini membuat mommy sedih" ucap Gista dengan menitikkan air matanya.


"Maaf mom, tapi sebaiknya mommy pulanglah dulu, setelah pernikahan di mulai aku akan kesana" ucap Aryan dengan menatap mommynya kini.


"Baiklah kalau begitu, mommy pergi dulu" ucap Gista pada Aryan dengan mengelus rambutnya.


"Jaga kesehatanmu Aryan" sambungnya.


"Kakak, jangan bersedih" ucap Alena dengan tersenyum dan Aryan pun membalasnya.


Kini Riri sedang berada di loby kantornya Aryan, dia rindu, setidaknya dia akan memeluk Aryan dan pergi setelah itu.


Riri izin pada bundanya, bundanya yang senang akhirnya Riri keluar, namun kecewa saat Riri mengatakan ingin menemui Aryan hari ini.


Sedangkan Gista kini sudah keluar lift dan berjalan, saat berjalan Gista malah berjumpa dengan Riri, membuat dia kesal kembali.


Gista pun berjalan dengan cepat mendekati Riri yang sedang berjalan.


"Mau apa kau kesini! ******!!" teriak Gista membuat semuanya yang berada disana kaget.


"Bi...bibi, a...aku" ucapan Riri terpotong karena Gista.


"Menggoda putraku lagi? hahh?!" tuduh Gista, Riri pun tak kuasa menahan air matanya kini, luruh jatuh begitu saja.


"Mommy, jangan seperti ini, kasihan kak Rara!" ucap Alena dengan memegang tangannya.


"Jangan kasihan pada wanita licik ini Alena, dia itu ******, penghancur hubungan keluarga kita!" ucap Gista berteriak lagi.


Alena pun langsung mengirim pesan pada Aryan kakaknya.


"kak, cepatlah kebawah, kak Rara ada disini, mommy memarahi kak Rara" pesan pun terkirim.


Aryan yang tak mau mengecek hpnya pun terpaksa mengeceknya, dan terkejut saat Rara ada disini.


Aryan pun langsung melangkahkan kakinya untuk keluar, dia benci pada hatinya, yang tak mau kalah.


Benci dengan sesuatu yang berhubungan cinta, kini hatinya harus pasrah pada perasaan ini.


Aryan pun sedang memakai lift pribadinya, dia sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya itu, saat mengatakan kekasih, Aryan tersenyum kecut, haha kekasih, menikah dengan orang lain apa itu bisa di sebut kekasih.


Aryan pun langsung berlari ke arah loby, memang benar mommynya sedang memarahi Rara nya.


"Pergi dari sini ******!" bentak Gista pada Rara.


"Mommy! jangan membentaknya" teriak Aryan lalu berlari ke arah Riri.


"Apa maksudmu Aryan? dua hari lagi, dia akan menjadi istri orang lain!" teriak Gista karena Aryan semakin menjadi jadi, sehingga tak bisa menghadapi kenyataan.


"Aku mencintai nya mom, dia juga mencintai diriku" ucap Aryan dengan nada tinggi.


"****** ini, kenapa dia bersifat murahan!" ucap Gista pelan.


"Aku merasa ada yang berbeda mommy, dihadapan kita ini seperti bukan kak Rara!" ucap Alena pelan.


"Mommy harap seperti itu, namun apa ini dia bahkan masih menggunakan nama Rara, Alena." balas Gista.


Aryan dan Riri masih dalam keadaan berciuman, hati Riri senang Aryan ada disini, dirinya yang merindukannya kini sudah terlampiaskan, memeluk Aryan sekali lagi, dan ketika ingin pergi, Aryan mencegahnya.


"Jangan pergi Rara, aku mohon!" pinta Aryan dengan memelas.


"Baiklah" ucap Riri tersenyum, dirinya tak bisa dipungkiri bahwa cinta seperti ini, harus ia katakan dia benci hatinya yang tak bisa berpikir logistik.


"Aryan! sebentar lagi Rara akan menikah, jangan membawa Rara!" ucap Gista, saat menyadari Aryan membawa Riri ke arah lift.


"Aku mencintai dirinya mom, aku akan menjaganya tenang saja" balas Aryan terus melangkah.


"Mommy, ayok kita pulang!" ajak Alena.


"Alena kamu sudah gila, Aryan masuk ke lubang ****** itu lagi!" bentak Gista pada Alena.


"Mommy, biarkan mereka berdua, lagi pula kita tidak tahu pasti kan, siapa yang berada bersama kak Aryan" ucap Alena, menarik tangan Gista untuk pergi, akhirnya Gista pun pergi bersama Alena.


Di ruangan yang berantakan lagi, membuat Riri meringis.


'Ya ampun ini seperti rumah angker saja, bagaimana tidak, kaca di tutupi oleh kain hitam!' batin Riri meringis melihat hal itu.


"Maaf sayang, ruanganku acak acakan seperti ini" ucap Aryan tersenyum, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau sangat bau Aryan, apa tidak mandi?" tanya Riri dengan candanya.


"Tidak, aku tidak mandi beberapa hari ini, tapi cintamu tidak akan luntur kan" goda Aryan, merekapun ber***man lama.


"Aku akan mandi dulu, tunggulah di kamarku sayang, aku mohon" pinta Aryan pada Riri.


"Aku akan terus disisimu Aryan, aku pikir kita tidak akan bertemu lagi, tapi aku senang kita bisa bertemu lagi" ucap Riri, mendekat pada Aryan, menggigit leher Aryan hingga memerah.


"baiklah, ayok kita ke kamar"


Riri pun masuk bersama Aryan, tak mau Riri pergi, Aryan pun mengunci pintu kamar itu, membuat Riri heran.


"Kenapa di kunci?" tanya Riri yang heran.


"Aku tidak mau kehilanganmu lagi, atau jika tidak, mereka akan masuk ke kamar ini, dan mengacaukan hari kita!" jawab Aryan, Riri pun hanya tersenyum.


Riri yang lelah, akhirnya tertidur di kasur Aryan yang ada di sana, lama Aryan mandi dan berganti baju, setelah keluar, terdapat Riri tertidur dengan pulas.


Aryan pun mendekati Riri menggangunya, dari menciumi Riri dan berakhir dengan desah dari Riri.


Aryan yang tak bisa menahan nafsunya pun, langsung men***m Riri dengan tak terkontrol.


Riri yang bangun membalas semuanya, karena ini yang di inginkan Riri kesini, ingin berdua dengan Aryan tanpa ada yang menggangu, jika bisa dirinya akan menyerahkan mahkotanya.


"Aku akan melakukannya sayang" ucap Aryan


"Aku menyerahkannya hanya untukmu"


Mendengar hal itu Aryan pun tak jadi melakukannya, hanya tertidur bersama Riri di sebelahnya, memeluk dengan kasih sayang dan cinta.


"Aku merasa ingin mati karena rindu ini Aryan, rindu ini membunuh diriku, apalagi disaat aku ingin menemui dirimu, kenapa kau tidak menemui diriku di rumahku Aryan, aku ingin kau ke rumahku mencari ku, dan menghapus kerinduanku ini, aku tersiksa oleh rasa rinduku padamu" ucap Riri dengan pelan, namun bisa di dengar oleh Aryan.


"Maafkan aku sayang, kita sudah bersatu, lalu akan menikah setelah ini" ucap Aryan, merekapun melakukan aktivitas mereka lagi, namun tak sampai melakukan pembobolan.