Love You My Wife

Love You My Wife
Perkelahian Aryan Dan Reza



Mereka pun naik ke mobil Farrel yang sudah di siapkan untuk semuanya, mulai dari kaca yang tebal sehingga tidak bisa di pecahkan begitu saja, dan mempunyai peluru di dalam mobil ketika merasa terancam hanya memencet tombol dan akan keluar peluru dari mobil itu.


Kenapa? karena, notabe dari mafia memang seperti itu, banyak musuh, apalagi seorang mafia sangat mudah bertemu dengan lawannya, entah dari bisnis atau dari orang yang membencinya.


Mobil Farel membelah jalanan negara A, yang memang nampak tak terlalu macet dan bebas untuk bisa melajukan mobil sesukanya.


"Tuan sudah sampai" ucap bodyguard pada Farrel.


"Ayok, ayah bunda, kita sudah sampai" ucap Hana lalu membuka pintunya


"Sayang dimana suamimu?" tanya Farrel pada Hana.


"Dia sedang bekerja, sudah dua hari dia meninggalkan pekerjaannya, Daddy tahu sendiri kan, pekerjaan nya hanya dirinya yang menyelesaikan nya, dan Rara juga kadang membantunya, namun tidak terlalu semuanya karena Alex suaminya dan Reza kakaknya mencegah nya" jawab Hana dengan jelas.


"Tidak apa apa, lagi pula Daddy sudah melihat jika suamimu orang yang baik" balas Farel.


"Iya Daddy"


Mereka pun terus berjalan keruangan VIP, yang terletak di sepanjang koridor.


"Cucuku Riri sayang" ucap Farel saat membuka pintunya.


"Bagaimana keadaan mu Riri?" tanya Farel pada Riri dan mengecup puncak kepala Riri.


"Aku baik grandpa, ku kira grandpa tidak akan kemari, tapi ternyata grandpa kesini!" jawab Riri yang antusias melihat kakeknya datang.


"Tidak mungkin grandpa tidak datang sayang" balas Farel dan berjalan ke arah Rara


"Sayang! bagaimana keadaanmu?" tanya Farel pada Rara dan mengecup puncak kepalanya.


"Aku kesal grandpa!" jawab Rara dengan bersedekap tangan di dada.


"Maaf kan grandapa sayang, tidak menghadiri pernikahan mu" ucap Farel dan memeluk cucunya itu.


"Ya aku tahu grandpa sangat sibuk jadi aku maafkan!" ucap Rara lalu membalas pelukannya.


Aryan yang berada di sana, seperti di acuhkan oleh tuan Ryn, Aryan tentu tahu karena pernah bertemu dengan Farel Ryn yang terkenal itu, Farel adalah mafia kelas kakap yang terbilang cukup kejam.


"Saya pernah melihat anda, tapi saya lupa dimana" ucap Farel pada Aryan.


"Saya Aryan Mahesya Giroud, selamat bertemu kembali tuan Ryn" ucap Aryan mengulurkan tangannya dan tentu Farel membalasnya.


"Saya bingung, kenapa anda ada di sini?" tanya Farel yang memang tahu Aryan dari sana duduk dan tak bergeming, hanya melihat Riri cucunya itu.


"Saya-"


"Dia kekasihku grandpa, grandpa merestui kami kan?" sela Riri yang ingin memperkenalkan Aryan pada kakeknya.


Farel menautkan alisnya sebelah, karena merasa heran.


'Bukankah Reza menyembunyikan identitas Riri?' tanya nya dalam hati.


"Sudah Daddy, jangan di pikirkan"


"Ayah bunda, kalian duduklah dan aku akan membeli air" ucap Hana lalu pergi dari sana.


"Riri, cucu kakek, bagaimana kabarmu sayang?" tanya Wisnu dan mengecup puncak kepala Riri.


"Aku baik, apalagi ada Aryan di sini" jawab Riri dengan tersenyum membuat Aryan tersenyum juga karena merasa dirinya berarti di sisi Riri.


"Bagus sayang, semoga kau selalu bahagia dan baik baik saja ya" ucap Risma neneknya.


"Iya nenek, tenang saja! aku akan menjaga diri baik baik" ucap Riri tersenyum lebar.


"Baiklah, kau istirahat lah, jangan terus duduk" ucap Farel pada Riri.


"Grandpa! baru saja aku duduk, sudah di suruh untuk tidur lagi!" ucap Riri kesal.


"Oh ya? maaf grandpa tidak"dan tahu sayang, maaf ya" balas Farel mengacak rambut Riri.


"Tuan Ryn, duduklah di sini" ucap Aryan mempersilahkan Farel untuk duduk.


"Tidak perlu, anda temani saja cucuku di sini" ucap Farel.


"Dan ya, apa anda tidak bekerja tuan Mahesya?" sambung Farel dengan bertanya.


"Tidak, saya hanya ingin menjaga Riri, lagi pula perusahaan saya tidak akan bangkrut hanya karena tidak bekerja beberapa hari!" jelas Aryan meskipun terdengar sombong.


"Tidak apa apa, lagi pula sudah biasa orang kaya sombong sayang" balas Farel, lalu berjalan menuju ke sofa yang ada di sana.


"Bagaimana kabar suamimu?" tanya Farel pada Rara yang berada di sebelahnya.


"Baik grandpa, karenamu saham perusahaan menjadi meningkat pesat!" ucap Rara dengan tersenyum lebar.


"Tentu saja, cucu grandpa harus hidup mewah dan bahagia sekarang, jangan bekerja lagi, atau Reza akan marah padamu!" ucap Farel mengelus rambut Rara.


"Tentu tidak, suamiku juga tidak mengizinkannya, lagi pula grandpa, suamiku memiliki perusahaan jadi tidak mungkin aku bekerja di perusahaan orang lain!" jelas Rara pada kakeknya.


"Bagus, menurut lah sayang, maka permintaan mu akan grandpa kabulkan!"


"Tentu saja grandpa!"


Siang ini, Reza sudah turun dari pesawat dan sedang di bandara sendirian, dirinya ingin cepat sampai ke rumah sakit karena merasa khawatir pada Riri.


Tentu saja khawatir, karena kepala Riri memiliki benjolan karena wanita iblis itu, membuat Reza rasanya ingin mencabik cabul kepalanya jika wanita itu bukan anak sahabat dari bundanya.


Reza kini tengah berada di rumah sakit dan berlari di sepanjang koridor itu, dia ingin memastikan bahwa Riri baik baik saja, dirinya akan lega setelah melihat Riri baik baik saja.


Reza pun menemukan kamar Riri dan membuka pintu itu dengan pelan, terdapat mereka semua sudah komplit, hanya ayahnya Arif saja lah yang belum tiba.


"Riri!" teriak Reza berlari ke arah Riri dan memeluknya langsung padahal Riri sedang duduk.


"Kakak! kau membuatku sesak nafas" ucap Riri dengan terbata bata.


"Maafkan aku sayang" Reza pun langsung menyambar bibir Riri membuat Aryan melebarkan matanya, amarah dan kesal kini sedang membaluti otaknya dan hatinya.


"Bagiamana kabarmu?" tanya Reza setelah melepaskan bibirnya dari bibir Riri.


BUGH!


Aryan yang tak kuat menahan amarah langsung saja meninju wajah Reza.


"Argghh!" pekik Riri, semua orang yang ada di sana pun terkejut dengan apa yang di lakukan Aryan pada Reza.


"Reza!!!" teriak Hana dan berlari ke arah Reza.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Hana dengan amarahnya kepada Aryan.


"Dia berani mencium Riri!" jawab Aryan dnegan nada tinggi.


"Dasar kau tidak tahu malu!" BUGH! Reza membalas tonjokan pada Aryan sehingga membuatnya terjungkal.


"Kak!! jangan lakukan itu!" teriak Riri membuat Reza menoleh padanya, sedangkan Rara, Farel, Risma dan Wisnu, hanya bisa menonton tanpa melerai mereka.


"Apa Riri?! kau membelanya?!" teriak Reza menggema di ruangan nya Riri itu.


"Reza! sabarlah?" ucap Farel kini melerai mereka.


"Grandpa! dia berani memukulku!" ucap Reza dengan nada tinggi.


"Sudah cukup Reza! grandpa juga sangat kesal saat kau tiba tiba mencium Riri! kau bukan kekasihnya apalagi suaminya!" tegas Farel pada Reza.


"Itu sudah biasa Daddy, kami juga tidak merasa keberatan, hanya dia yang tidak tahu apa apa!" ucap Hana dan menunjuk pada Aryan.


"Karena itulah, kau membiasakan hal itu sehingga mereka berada di luar batas Hana! kau harusnya tidak membiarkan hal ini!" ucap Farel dengan nada biasa namun cukup untuk membuat mereka semua bungkam.


"Grandpa! apa ini?! grandpa membelanya?!" tanya Reza yang kini kesal pada kakeknya.


"Bukan membela, kau boleh mencium adikmu atau pun apa! tapi kau harus melihat kondisi Reza! Riri sedang sakit, tapi kau malah seenaknya melakukan hal itu!"


"Grandpa! jangan marahi kak Reza, dia tidak bersalah" ucap Riri memohon.


"Grandpa tidak memarahi kakakmu Riri, hanya menasehatinya" ucap Farel tersenyum.


Reza pun langsung pergi dari ruangan itu, merasa kesal pada grandpanya, bundanya Hana sudah tidak mempermasalahkan hal ini, tapi kakeknya malah mempermasalahkan hal ini.


"Bunda!-"


"Tidak apa apa Riri, dia hanya membutuhkan waktunya" sela Hana.


"Riri, tidurlah sekarang ayok!" ucap Aryan, yang tak mau mempermasalahkan hal itu lagi, karena membuatnya pusing saja.