
Riri kini sedang di pindahkan ke kamar VIP sesuai keinginan Aryan, Hana sedih melihat Riri, anaknya seperti itu, andai bisa di tukar pasti dirinya rela untuk bertukar tempat.
"Sayang, sudahlah, jangan bersedih seperti itu, kau harus kuat untuk Riri sayang" ucap Arif menenangkan Hana yang masih menangis.
"Aku tidak bisa suamiku, aku ingin tahu siapa orang yang mencoba melakukannya" ucap Hana dengan kesal.
"Jangan pikirkan hal itu, kita fokus saja kepada anak kita Riri"
Aryan yang mendengar itu pun langsung menelpon seseorang untuk mencari siapa yang berusaha untuk mencelakai Riri, dia tak akan pernah memaafkan orang yang melakukannya.
"Baiklah Eden, beritahu aku jika sudah menemukan orang itu, cek semua cctv yang ada di depan kantor ku" ucap Aryan.
"Baiklah, kau tenang saja Aryan, aku akan melakukannya sebaik mungkin, jika bisa aku akan langsung menemui orang itu" jawab Eden dengan tertawa gila.
"Baiklah, sudah dulu, telpon aku ketika sudah menemukannya" ucap Aryan lalu mematikan teleponnya setelah Eden mengatakan iya.
Aryan kembali ke ruangannya Riri, meskipun mendapatkan tatapan sinis dari Hana, dia mencoba untuk tidak terganggu.
Aryan mendekat pada Riri, memegang tangannya dan mencium tangan punggung Riri, Hana yang ingin protes, langsung di cegah oleh Arif.
Tentu dia tahu apa yang terjadi pada pak Aryan, dia mencintai anaknya Riri, dan tak ingin mengganggu nya.
"Cherry, bukalah matamu, apa kau tidak merindukan diriku" gumam Aryan, menyentuh wajah Riri dan mengelus kepalanya yang terikat kain putih.
"Tolong bukalah matamu, aku merindukan matamu yang menatap ku Cherry, jangan biarkan aku seperti ini, aku tidak bisa jauh darimu, aku berjanji tidak akan melepaskan dirimu lagi" ucap Aryan pelan dengan di dampingi suara isakannya.
"Aryan, tenang lah, sebaiknya kau pulang saja, mommy dan Daddy pasti khawatir padamu" ucap Alex memegang pundaknya Aryan.
"Tidak Alex, Riri membutuhkan diriku" tolak Aryan yang tak mau pulang.
"Apa hubungan mu dengan Riri, dia putriku tuan Aryan Mahesya Giroud, kau tidak ada hubungannya dengan Riri!" teriak Hana kepada Aryan, sudah cukup dia menahan amarahnya yang ingin di keluarkan kepada Aryan.
"Bunda, jangan berkata seperti itu pada pak Aryan" ucap Rara menenangkan bundanya Hana.
"Dia sudah keterlaluan Rara, dia pikir siapa dirinya, yang masuk tanpa izin dariku!" balas Hana menatap Aryan dengan tajam, namun Aryan mengabaikan hal itu.
"Hana, biarkan tuan Aryan berada di sini" ucap Arif dengan memelas pada istrinya.
"Tapi-" ucap Hana terpotong
"Mungkin saja dengan adanya tuan Aryan, Riri akan bangun dengan cepat" sela Arif.
Hana pun hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, karena merasa kesal pada suaminya itu.
Kini orang tua Aryan sudah berada di rumah sakit, mereka terkejut saat mendengar bahwa ada yang mirip dengan Riri, bahkan sangat mirip sampai hanya Hana yang tahu siapa Riri dan siapa Rara.
Gista yang mendengar itu pun langsung saja ingin ke rumah sakit karena dirinya sudah keterlaluan kepada Rara atau Riri.
Apalagi kejadian di kantor Aryan Gista pernah menamparnya berulang kali, membuat dirinya merasa bersalah, karena terlalu termakan emosi.
"Pasien bernama Riri?" tanya Dian pada resepsionis.
"Sebentar saya lihat dulu"
"Baik, tolong dengan cepat"
"Hanya ada Riri naufalin dan Riri Carlin" ucap wanita itu dengan tersenyum.
"Tidak bukan itu, yang di belakangnya Riri Maxwell" ucap Gista
"Bagaimana kalau Rara, apa ada nama itu?" tanya Gista lagi.
"Iya ada nyonya, Rara Maxwell Ryn" ujar wanita itu.
"Oh iya, dimana pasien yang bernama Rara?" tanya Dian kini.
"Berada di kamar no 4, lewati kesana saja dan belok, nanti akan ada kamar nya" ucap wanita itu dengan menunjukkan letak yang harus di lewati
"Baiklah, terima kasih sus"
"Sama sama"
Mereka pun berlari kecil agar bisa sampai ke kamar Riri, mereka pun akhirnya mendapati no kamar itu, dan sedikit membukanya untuk mengetahui ada seseorang atau tidak.
"Mommy Daddy, kenapa kalian ada di sini?" tanya Aryan yang berada di luar.
"Mommy ingin menjenguk Rara, eh, Riri maksudnya" jawab Gista dengan kaku.
"Ohh, lebih baik jangan dulu, jika mau menjenguk nanti saja saat sudah dua hari atau tiga hari mom" ucap Aryan dengan tersenyum kecut.
"Tapi kenapa?" tanya Dian yang tadi diam saja kini angkat bicara.
"Mereka sedang berduka Daddy, jadi jangan dulu ya, aku mohon" jawab Aryan.
"Lalu kau Aryan dari mana tadi?" tanya Dian yang saat tadi mengintip kamar Riri tapi tidak melihat Aryan di sana.
"Aku ke sana, menelpon seseorang Daddy" jawab Aryan dengan menunjuk lorong yang masih ada belokan.
"Ohhh, lalu kau akan pulang?" tanya Dian kembali.
"Tidak, aku ingin bersama Riri Daddy!"
"Pulanglah dulu nak, kau sudah berhari hari tidak pulang, apa kau pikir mommy tidak mencemaskan dirimu!" ucap Gista dengan sedih karena putranya menjadi seperti ini.
"Tidak mom, setidaknya aku akan di sini sampai Riri sadar, dan akan pulang, maafkan aku" ucap Aryan dan meminta maaf pada mommy dan Daddy nya itu.
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu Aryan, jaga dirimu baik baik" pamit Dian, lalu memaksa istrinya untuk pulang.
"Hati hati Daddy, mommy, jaga diri baik baik" ucap Aryan pada orang tuanya, mereka pun mengangguk pasrah.
Aryan masuk ke bangsal Riri, dan duduk di sebelah Riri tanpa menghiraukan tatapan Hana.
Riri menggerakkan tangannya sendiri, Aryan yang melihat itu langsung saja senang dan berteriak memanggil dokter, dan setelah memanggilnya dokter pun langsung keruangan itu.
"Selamat sore nona Rara!" sapa dokter itu pada Riri.
Riri menatap dokter itu dan mengangguk.
"Bagaimana keadaanmu? apa merasa lebih baik?" tanya dokter itu.
Riri hanya mengangguk dan memaksa tersenyum kepada dokter itu.
"Riri, bagaimana keadaan mu sayang?" tanya Hana mengecup kepala Riri bersamaan air matanya jatuh ke kepala Riri.
"A...aku, ba...ik!" ucap Riri memaksa ingin menjawab pertanyaan dari bundanya.
"Bunda senang sayang, akhirnya kau sadar juga" ucap Hana yang memegang tangan Riri dan menciumi tangan Riri.
"Kak.... re...za!" lirih Riri yang sangat samar samar.
"Apa Riri?" tanya Hana yang mendengar Riri berbicara namun tidak terlalu terdengar
"Kak...re...za!" ucap Riri susah payah mengatakan hal itu.
"Reza? di...dia sudah pulang sayang, bukankah kamu juga ikut sayang mengantarkannya?" jawab Hana dengan hati hati.
Riri pun mengangguk ingat, dirinya ingin Reza berada di sini, dan menemaninya namun Reza malah pulang sekarang.
"Riri! bagaimana keadaanmu?" tanya Aryan dengan tersenyum, Riri pun mengangguk karena merasa lelah jika menjawabnya.
"Syukurlah, aku senang Riri" ucap Aryan lalu menciumi wajah Riri kesana kemari.
"Tuan Aryan, jangan mencium Riri!" bentak Hana pada Aryan, namun Aryan masih mengacuhkannya, dan tak ingin mengindahkan perkataan Hana.
Sedangkan dokter dan yang lainnya, hanya terdiam karena tak bisa menghentikan siapa siapa.
"Apa terasa sakit Cherry?" tanya Aryan, Riri pun hanya mengangguk kan kepalanya.
"Bagus, aku senang, istirahat lah, kau pasti lelah sayang" ucap Aryan memegang tangan kanan Riri.
Riri pun memejamkan matanya, setelah itu dokter berpamit kepada semua orang dan pergi meninggalkan mereka.
"Sayang, kau pulanglah sekarang, mandi dan ganti baju mu, jika bisa sekalian bawakan baju untukku" ucap Arif pada Hana.
"Tapi suamiku, aku tidak mungkin meninggalkan Riri, suruh saja pelayan di rumah untuk mengantarkannya!" tolak Hana yang tak mau jauh dari Riri.
"Bunda, jangan seperti itu, sebaiknya bunda pulang dan mengatakan pada nenek dan kakek bahwa semuanya baik baik saja, mereka pasti khawatir!" ucap Rara dengan pelan karena tak ingin membangunkan Riri adiknya.