Love You My Wife

Love You My Wife
Kecelakaan



"Riri, apa kau ada di dalam?" tanya Reza dengan mengetuk pintu kamar Riri.


"Iya kak, sebentar aku buka dulu" sahut Riri sambil berjalan dan membuka pintunya.


"Ada apa Riri, kenapa mengunci pintunya?" tanya Reza curiga.


"Maaf kak, aku...aku tadi mengganti baju" jawab Riri dengan gugup.


"Kau tidak berbohong kan Riri? kenapa bajumu masih itu?" tanya Reza dengan menaikkan alisnya.


"Aku untuk apa berbohong kak!"


"Ayok berangkat, jika tidak maka kau akan ketinggalan" sambung Riri, dengan menarik tangan Reza.


"Baiklah" ujar Reza mengikuti langkah Riri.


'Apa yang kau sembunyikan Riri, jangan pernah berbuat salah lagi, jika tidak kau akan menerima hukumanku' batin Reza, yang masih curiga kepada Riri.


Kini mereka semua berangkat dengan menggunakan mobil Arif, semua barang sudah di bawa, terutama barang barang dari bundanya Hana, meskipun Hana kesal atas perilaku putranya tapi tidak memungkinkan untuk Hana tak perduli padanya.


Tentu seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi putranya, sekalipun dia selalu berbuat tidak baik.


"Bunda, selama aku tidak ada di rumah, jagalah Riri dan Rara, jangan sampai mereka kemana mana tanpa penjaga, setelah aku pulang, aku akan mengirimkan penjaga ke rumah, jangan pernah biarkan Riri pergi tanpa penjaga!" ucap Reza kini tanpa mengalihkan pandangannya ke arah depan.


"Tidak perlu seperti itu Reza, lagi pula Riri akan tetap di rumah, dan sesekali ke butiknya, dan Rara, dia sudah mempunyai suami, jangan berbuat seolah kau mengekangnya seperti anak kecil" protes Hana yang terlalu mengkhawatirkan anaknya di banding Hana sendiri.


"Tidak bunda, aku tidak percaya jika viona masih belum di selesaikan, dia harus pergi dari negara ini atau jika dia tetap tidak mau, dia harus pergi ke alam lain" tegas Reza tanpa ingin di perintah lagi.


Sedangkan Riri dan Arif hanya diam, karena tentu saja Hana saja masih di bantah apalagi mereka berdua, sungguh tidak masuk akal.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di bandara, dan saling berpelukan untuk perpisahan.


"Ayah jaga Rara dan Riri ku, mereka tidak boleh pergi tanpa pengawal" ucap Reza pada Arif ayahnya.


"Tenang saja Reza, kau tidak perlu mengkhawatirkannya" balas Arif dengan menepuk punggung Reza.


"Riri, jangan membantah perkataan ayah dan bunda, ingat! jangan pernah sesekali pergi tanpa pengawal dariku!"


"Maaf jika kakak tidak bisa menghubungi dirimu saat kakak berada di luar negri, jaga baik baik dirimu ya" ucap Reza dengan mencium puncak kepalanya Riri.


"Iya kak, tenang saja"


"Baiklah, bunda ayah, Riri, aku akan masuk " ucap Reza lalu pergi dengan melambaikan tangannya.


"Hati hati kakak!" teriak Riri melambaikan tangannya juga.


Setelah Reza sudah tidak terlihat lagi, mereka pun segera pulang dengan hati rindu pada Reza, apalagi Hana yang memang memaksa nya untuk berjauhan, kini dia sedikit menyesal karena mengatakan hal itu, namun ini semua demi kebaikan nya, dia tidak ingin melihat anak nya menikah dengan adik nya sendiri, ini bukan film, dan ini bukan kisah legendaris, dia hanya tak mau jika sampai itu terjadi.


('Ini hanya novel Bu Hana')


"Hana, kau sedang memikirkan apa?" tanya Arif bingung melihat istrinya diam saja.


"Tidak suamiku, aku hanya merindukan Reza saja" jawab Hana dengan sedikit terkejut.


"Jangan melamun Hana, doakan saja Reza agar dia selalu sehat dan baik baik saja" ujar Arif, dan Hana pun hanya menganggukkan kepalanya.


Kini Riri sedang memikirkan cara untuk bertemu Aryan secepatnya, ia hanya ingin mengatakan identitas aslinya, sudah cukup dia kehilangan Aryan, dan tak mau kehilangan Aryan lagi hanya gara gara identitas nya yang di sembunyikan.


"Iya ayah, sebentar"


Setelah mereka masuk, mereka ke kamar untuk istirahat, sedangkan Riri kini berinsiatif untuk bertemu dengan Aryan nanti siang


"Akhirnya setelah berhari-hari aku merindukan mu Aryan, sebentar kita bertemu lagi" gumam Riri.


Drrrttt... drrtttt...


Kini handphone Aryan berbunyi menampilkan nama mommy di layar hp itu.


"Hallo mom, ada apa?" tanya Aryan setelah mengangkat telpon.


"Nanti siang, kita makan bersama keluarga sayang, kau harus ikut ya" ucap Gista di sebrang sana.


"Bersama siapa? apa bersama Alex dan Rara?" tanya Aryan karena dirinya kini tak mau bertemu dengan mereka berdua, Alex dan Rara.


"Tidak sayang, kau harus tetap ikut, kakekmu juga akan ada di sana, jadi kau harus ikut ya!" ucap Gista tanpa ingin di bantah.


"Tidak mommy, aku tidak mau, mommy tahu sendiri kan! aku masih belum bisa melupakan nya!" ucap Aryan dengan penuh penekanan.


"Tidak Aryan, kau harus ikut, mommy akan melakukan pertunjukan di sana, mommy akan mempermalukan Rara di depan keluarganya, sehingga dia tidak akan di anggap oleh keluarga kita, kau harus ikut sayang, emmuach" ujar Gista lalu mematikan handphone tanpa pamit pada Aryan.


"Apa yang mamih rencanakan?"


"Mempermalukan Rara? tidak mommy, jangan lakukan hal itu!" gumam Aryan pelan.


Aryan pun langsung mengambil kunci mobil, supaya dirinya bisa menghentikan mommynya untuk tidak berbuat hal yang tidak baik, meskipun dirinya membenci Riri namun tetap saja hatinya selalu mengatakan bahwa dirinya mencintai Riri atau Rara.


Di sisi lain Riri sedang berada di mobil taksi, dia ingin menemui Aryan siang ini, hatinya begitu gembira saat berhasil keluar dari rumah, setidaknya satu atau dua jam dia tidak akan berada di rumah nya jadi tidak perlu membuat keluarganya khawatir.


Tanpa Riri ketahui, ada mobil yang sedang mengikutinya, dia adalah viona! Viona yang tahu bahwa Darren mencintai Riri, kini sedang melakukan rencana untuk membunuh Riri tanpa sepengetahuan Darren.


Riri pun keluar dari mobil dan menyebrang ke arah kantor nya Aryan, tanpa tahu dari mana mobil itu ada, ya g tiba tiba mendekat padanya dengan kencang.


"Kau akan mati Riri, ini pembalasan dariku" ucap viona lalu menjalankan mobilnya dengan kencang.


BRUK!


"Hahaha, matilah kau Riri, dirimu tidak pantas berada di dunia ini lagi!" ujar viona tertawa seperti orang gila, sedangkan Riri yang tergeletak hanya mengangkat tangannya, seolah ingin bahwa Aryan menyelamatkan dirinya.


"Aryan!"


DEGH!


"Cherry" gumam Aryan yang merasa dirinya di panggil oleh Riri.


Aryan yang baru saja tiba di mansion nya, terlihat bingung karena tidak ada siapa siapa, kecuali penjaga gerbang.


Semuanya, kini sudah hadir, Aryan yang melihat Rara menatap Rara dengan sinis.


'Cih, mengatakan bahwa kau merindukan diriku, namun apa ini Rara, kau malah mesra bersama Alex!' batin Aryan yang merasa bodoh, termakan oleh rayuan Rara lagi.


Semua orang yang berada di kantor kini keluar untuk melihat orang yang tertabrak, saat Luna melihat Riri, Luna menutup mulutnya karena terkejut.


"Rara, kenapa bisa terjadi?" tanya Luna yang tak sadar air matanya terjatuh.