
Episode Terpanjang Guys
Jangan bosen ya hehe
Setelah acara pernikahan selesai Reza dan Lina pun pergi ke hotel untuk melakukan malam pertama mereka.
"Reza, kau bisa melepaskan gaun ini?" tanya Lina pada Reza yang sedang duduk di sofa hotel itu.
"Tidak bisa, memangnya kau tidak bisa melakukannya sendiri?!" jawab Reza sedikit membentak, Lina pun hanya mendesah kecil karena mendapati perlakuan itu dari Reza, Lina pikir jika Reza menikah dengannya, sikap Reza akan semakin baik, namun ini malah sebaliknya dari keinginan Lina.
"Maaf" cicit Lina, dengan susah payah Lina mencoba menurunkan sleting itu, Reza yang melihat Lina berusaha namun tak berhasil, membuat Reza gemas dan mulai membantu Lina.
"Terima kasih" ucap Lina tersenyum malu malu.
"Tidak perlu berterima kasih! kau bodoh sampai menurunkan sletingnya saja tidak bisa!" ucap Reza memarahi Lina
"Maaf, bukan begitu..." ucap Lina menggantung melihat Reza langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Reza, ini adalah malam pertama kita" ucap Lina setelah Reza keluar dari kamar mandi.
"Memangnya kenapa? bukankah sebelum menikah kau sering melakukan hal itu?" tanya Reza bernada tinggi.
"Bukan begitu maksudku, tapi bukankah malam ini spesial?"
"Jangan mendekat!" teriak Reza, Lina pun terperanjat dan langsung menghentikan langkahnya.
"Tidurlah di sofa, kau pikir aku akan menyentuhmu?! jangan berharap!" ucap Reza dan langsung tidur di kasur terdapat bunga bunga itu
Lina hanya menatap Reza sedih, dirinya juga tidak tahu sebab Reza melakukan hal ini, apa ini karena dirinya pergi ke negara London? batin Lina, dengan cepat Lina menghapus air matanya.
Keesokan hari, keluarga Maxwell kini sedang melakukan pertemuan dengan keluarga Mahesya Giroud.
Untuk membicarakan pernikahan Riri dan Aryan.
"Hahaha, tentu saja, saya sangat senang melihat Aryan akan menikah dengan orang yang wajahnya sama" ucap Dian tertawa.
Mereka pun tertawa bersama menceritakan Rara dan Riri yang mempunyai wajah yang tidak bisa di tebak.
"Sepertinya, nanti kita harus mengadakan siapa yang bisa menebak istri mereka nanti setelah Aryan dan Riri menikah" ucap Wisnu menimpali
"Hahaha, benar sekali tuan, kita memang sudah tua, tapi sifat jail kita masih lekat dalam tubuh dan otak kita!" ucap Albert kini.
"Benar sekali, kita sesekali harus menjahili anak anak, supaya tidak terlalu serius di kehidupan ini" timpal Wisnu.
"Sebenarnya kalian di sini akan membahas pernikahan atau rencana menjahili mereka?!" tanya Risma sedikit bernada kesal.
"Ya ampun, aku sampai lupa kita ke sini ternyata bertujuan untuk menikahkan Aryan dan Riri" ucap Dian tertawa.
"Ini salahmu! kenapa malah melantur kemana mana?" ucap Gista pada Dian.
"Kenapa kau menyalahkan diriku saja?! salahkan Daddy juga!" ujar Dian kesal.
"Sudah sudah, tidak apa apa, lagi pula kita harus berbicara juga agar keluarga kita semakin dekat" ucap Risma menengahi mereka.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan Aryan dan Riri? apa kalian sudah setuju?" tanya Alber pada keluarga Maxwell.
"Tentu saja, kami sudah menyetujui mereka, asalkan mereka saling mencintai" jawab Arif dengan menatap Riri yang sedang duduk di samping Aryan.
"Bagus sekali, bagaimana jika pernikahan nya seminggu lagi, lebih cepat lebih bagus kan?" ucap Albert dan bertanya.
"Kami di sini, terserah kalian saja, asalkan kalian menerima anakku dengan baik dan kasih sayang" ujar Hana tersenyum pada mereka.
"Tentu saja nyonya, kami akan selalu menyayangi Riri dengan kasih sayang kami" balas Gista tersenyum juga
"Silakan di minum tuan, kami juga meluncurkan produk baru, sebagai hadiah untuk kalian" ucap Risma pada keluarga Mahesya.
"Tidak perlu repot-repot nyonya, kami sangat senang kalian sudah menyetujui pernikahan Aryan dan Riri, bagi kami itulah yang kami inginkan, tidak dengan yang lain" ucap Dian pada Risma.
"Kalian juga sama, barang barang yang kalian bawa itu sangat banyak, kami hanya memberikan sedikit hadiah saja" timpal Hana kini.
"Ahh, baiklah nyonya, saya sangat berterima kasih" ucap Gista.
"Tidak perlu berterima kasih, bukankah kita besan?" ucap Risma tersenyum pada mereka.
"Baiklah, sepertinya pernikahan akan di tetapkan seminggu lagi, kita akan siap siap, mulai dari sekarang" ucap Albert bahagia.
"Hahaha, tentu tuan, saya akan melakukan yang terbaik untuk pernikahan mereka" ujar Arif.
"Mari makan siang bersama, kita baru pertama kali bertemu, tidak baik jika langsung pergi begitu saja" ajak Hana, lalu berdiri.
"Jangan menolak, ayok" ucap Risma mengajak mereka.
"Ya, baiklah" ucap Gista tersenyum
Mereka semua pun makan bersama, dengan senang mereka menyambut keluarga Mahesya, bukan hanya sebagai perusahaan terkemuka dan orang terkaya, tapi karena memang mereka senang Riri akan menikah dengan laki laki yang di cintai Riri.
__--__--__--__--__--
"Reza, kau mau kemana?" tanya Lina saat Reza bersiap siap.
"Apa urusannya denganmu!" ucap Reza sinis.
"Reza, jangan pergi ku mohon" pinta Lina berlutut di hadapan Reza.
"Minggir kau ja*lang! menyingkir dari hadapanku!" teriak Reza menarik paksa tangan Lina, "Kau ingin aku hukum hah?!" teriak Reza dekat wajah Lina.
"Reza, sakit" pekik Lina, saat Reza mengeratkan cengkeramannya.
"Apa mau mu sebenarnya?! aku sudah menikah denganmu! kau masih belum puas?!" tanya Reza kesal.
"Reza, ku mohon lepaskan!" ringis Lina.
Dengan cepat Reza membuka baju Lina, merobek bajunya, Reza melempar tubuh Lina ke kasur itu, tanpa aba aba, Reza memasukkan pisang ke selai itu.
"Arrhhggg" pekik Lina menahan suaranya.
"Reza! sakit!"
"Ini yang kau mau kan? dasar ja*lang! apa tidak puas sehari tidak melakukan hal ini!" ujar Reza menghina.
"Ahhh Reza! pelan pelan!" pekik Lina terbata bata, Reza terus saja mengguncang hebat tubuh Lina, menyiksanya dengan pukulan pukulan yang membuat Lina menangis.
"Reza! ahhrrrhhh" teriak Lina mencapai orgasme.
"Aarrhhh Riri!!!" teriak Reza setelah mencapai nya, Lina yang berharap Reza menyebut namanya, seketika langsung saja lirih air matanya, mendengar nama dari bibir suaminya itu.
Tak puas dengan itu, Reza terus memompa Lina, dengan hentakan yang dahsyat, tubuh Lina menggeliat hebat.
"Riri, Riri, Riri, aku mencintaimu!" teriak Reza terus menyebut nama Riri.
"Reza! jangan menyebut nama Riri!" teriak Lina mendorong Reza sehingga lepas darinya.
"Ada apa? apa aku salah menyebut nama? apa kau ingin aku menyebut namamu? menjijikkan!" ucap Reza meludah.
Reza langsung memakai bajunya kembali, sedangkan Lina memohon agar Reza tidak pergi, namun tak Reza pedulikan.
__--__--__--__--__--__--__
Reza pun sampai di rumahnya, bermaksud ingin menemui Riri, agar hatinya tenang.
"Reza, kau di sini? dimana Lina?" tanya sang bunda saat melihat Reza masuk ke dalam rumah.
"Dia sedang tidak sehat bunda, aku ingin meminta obat" jawab Reza asal, Hana mengerutkan keningnya curiga pada Reza.
"Kak!!!! kau di sini?" teriak Riri berlari dan langsung memeluk Reza.
"Ayok ikut aku" ajak Riri menarik tangannya Reza
"Ada apa? kenapa membawaku ke dapur?" tanya Reza heran.
"Aku baru saja belajar masak bersama bunda, kakak cicipi ya" jawab Riri gembira.
"Bukankah aku melarangmu?" tanya Reza tak berekspresi.
"Biarkan saja Reza, Riri yang menginginkannya" ucap Hana yang baru saja masuk.
"Bunda..."
"Kak, ku mohon jangan melarangku lagi" pinta Riri memelas, Reza hanya menghela nafas kasar.
"Apa yang kau masak? apa sangat enak?" tanya Reza, Riri pun senang mendengar pertanyaan Reza.
"Tentu saja sangat enak, tadi aku menambahkan garam lagi, agar enak, karena tadi bunda kurang memasukkan garamnya" ucap Riri, lalu menyendok kan kuah itu.
"Ini, cobalah. Pasti sangat enak" ucap Riri menyodorkan kuah sop itu.
"Uhuku uhuk" Reza tersedak akibat mencicipi kuah itu.
"Ada apa kak? apa tidak enak?" tanya Riri menyodorkan air.
"I...ini, ini sangat enak sayang" jawab Reza ragu
"Ada apa Reza? kenapa wajahmu sangat pias?" tanya Hana menatap Reza.
"Bunda, a...aku tidak apa apa" jawab Reza, yang masih terasa asin di lidahnya.
Hana tentu tidak percaya pada ucapan Reza, lalu mencicipi sop itu.
Baru beberapa detik, Hana langsung memuntahkan kuah sup itu.
"Ada apa bunda?" tanya riri yang heran.
"Kenapa sup ini sangat asin?" tanya Hana bingung, karena dirinya sudah mencicipinya dengan baik dan enak.
"Benarkah?" tanya Riri tidak percaya, dengan cepat memakan kuah sup itu, kejadian pun terulang, Riri langsung muntah karena terlalu asin.
"Kenapa sangat asin?" tanya Riri heran.
"Ya ampun,,, tidak jadi memakan sup" ujar Riri menghela nafas kasar.
"Tidak apa apa, besok bisa membuatnya lagi" balas Hana.
"Biar bunda cicipi masakan yang lain" ujar Hana dan mengambil sendok lagi.
"Kenapa semuanya asin?! Riri, apa kau memasukkan garam lagi?" tanya Hana dengan melihat Riri, dengan tenang Hana menahan amarahnya.
"Aku hanya manambahkan sedikit garam bunda" jawab Riri merincikan tangannya.
"Mpphttt" Reza menahan tawanya, takut jika Riri akan marah.
"Ya ampun Riri, lalu kita akan memakan apa sekarang?" ujar Hana bertanya.
"Beli di luar saja bunda" jawab Riri tersenyum.
"Haisss, bunda sangat bingung, Reza! kau saja yang beli" titah Hana pada Reza.
"Baik bunda, Riri kau mau ikut?" tanya Reza.
"Aku? tentu saja kak! ayok!" jawab Riri bergelayut di tangan Reza.
__--__--__--__--__--
Hana melihat makanan yang begitu banyak, membuat mulut Hana ternganga.
"Riri, kenapa begitu banyak sayang?" tanya Hana kini menatap Riri.
"Bukankah pelayan di sini banyak bunda?" tanya Riri
"Tapi tidak sebanyak ini, pantas saja sangat lama" ucap Hana pelan.
"Kau bisa menghabiskannya?" tanya Hana lagi
"Tentu saja tidak bisa!" jawab Riri, Reza hanya menahan tawanya, atas perkataan Riri.
"Yasudah sekarang makan saja ayok" ajak Hana pasrah dengan semuanya.
Mereka pun makan dengan lahap, terutama Riri yang di suapi oleh kakaknya itu, semakin gencar memakannya.
"Apa tidak takut gendut nanti?" tanya Reza menyuapi Riri.
"Tidak, kan Aryan sangat mencintai diriku!" jawab Riri.
"Ya ya ya, aku tahu itu" balas Reza memutar bola matanya.
"Ahhhh, aku sangat kenyang sekali, huhhfftt rasanya aku ingin tidur!" ucap Riri setelah menghabiskan makanannya.
"Jangan dulu tertidur, duduk saja di kamar, Ayok" ajak Reza.
"Kak!!! aku tidak bisa berjalan!" rengek Riri.
"Baiklah, kalau begitu kakak gendong saja" ucap Reza, lalu menggendong Riri, masuk ke dalam kamarnya.
Riri dan Reza saling duduk di kasur Riri, posisi Reza memeluk Riri dan Riri hanya menyender ke dada Reza.
"Kak, kenapa kau tiba tiba menikah dengan kak Lina?" tanya Riri menatap lekat ke arah Reza.
"Memangnya kenapa? kau akan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya?" tanya Reza.
"Tentu saja! kau adalah kakakku!" jawab Ruri memeluk Reza.
"Aku senang, kau mau jawabannya?" Riri mengangguk
"Karena aku mencintaimu sayang" jawab Reza.
"Kak! jangan bercanda!" ucap Riri menatap Reza.
"Aku tidak bercanda sayang" ucap Reza, mendekatkan bibirnya ke bibir Riri.
Dengan cepat Riri meraup bibir Reza dengan lembut, pagutan lembut terjadi di sana.
"Aku mencintaimu Riri" ujar Reza, namun Riri tidak membalasnya, malah semakin mencium Reza dengan sedikit kasar.
"Kak, aku sebentar lagi akan menikah dengan Aryan" ucap Riri menunduk
"Benarkah? bagus kalau begitu" ujar Reza tersenyum terpaksa.
Riri mendongakkan kepalanya "Kau tidak marah?" tanya Riri, aneh.
"Untuk apa aku marah? bukankah ini yang kau inginkan?" tanya Reza
"Aku menyayangimu kak, ku mohon jangan pernah meninggalkan diriku! aku tidak tahu harus apa jika kau menjauh dariku" ucap Riri memeluk Reza.
"Tidak akan pernah terjadi sayang! selamanya kakak akan selalu mencintaimu, menyayangi dirimu" balas Reza mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih kak"
"Sama sama"