Love You My Wife

Love You My Wife
Tidur Bersama (59)



Tok tok tok


"Sayang, boleh bunda masuk?" tanya Hana mengetuk pintu kamar Riri.


Ceklek, pintu di buka oleh Riri.


"Bunda, ada apa?" tanya Riri.


"Boleh bunda masuk sayang?" tanya Hana kembali.


"Iya bunda, masuklah" Mereka pun masuk ke kamarnya Riri, kini Riri terkesan kaku sekali di depan Hana.


"Boleh bunda bertanya?" tanya Hana hati hati.


Riri hanya mengangguk saja.


"Apa kau mendengar pembicaraan kami sayang?"


"Iya bunda, maaf aku tidak sopan"


"Apa saja yang kau dengar?" tanya Hana cemas.


"Bunda, boleh aku bertanya? tentang kak Rara, apa kak Rara sudah menikah?" tanya Riri dengan hati hati


"Kau... emmm iya sayang, Rara sudah menikah, bahkan sekarang dia telah mengandung" jawab Hana tersenyum kecut.


"Benarkah? aku tidak tahu tentang hal itu"


"Kau tidak tahu?" tanya Hana sekali lagi.


"Siapa yang menikah dengan kak Rara? aku benar benar lupa bunda! ada apa dengan kepalaku?!" tanya Riri menunduk menangis.


"Sudah sudah, itu terbiasa terjadi, besok kau akan melakukan pengobatan agar kau tidak sakit lagi, oke sayang" ucap Hana mengelus rambut Riri.


"Sekarang kau tidurlah, bunda akan membawakan susu untukmu" ucap Hana mengecup kening Riri, setelah itu Hana pun pergi keluar meninggalkan Riri sendiri di kamar.


Riri berusaha untuk memejamkan matanya, namun bayangan ketika dirinya terus di siksa membuat dirinya pusing, seolah banyak orang yang menghantui Riri.


Kini Riri malah berjalan ke arah balkon, menatap langit yang indah itu, dirinya sangat ingin ke langit, terus berjalan hingga dirinya terbentur pagar pembatas.


"Tunggu aku, aku akan ke sana" gumam Riri menatap langit itu dengan pandangan kosong.


Riri nekat untuk memanjat pagar itu, saat di bawah, Aryan baru datang kaget melihat Riri berada di balkon.


"Cherry! apa yang sedang kau lakukan?!" teriak Aryan yang sama sekali tidak menyadarkan Riri.


Tak ingin terjadi sesuatu, Aryan langsung berlari ke kamarnya Riri.


BRUK!


"Ma..maaf, aku tidak sengaja" ucap Aryan langsung pada pelayan yang dia tabrak.


"Hei! apa yang terjadi?!" tanya Calista memandang Aryan yang berlarian.


"Cherry! jangan lakukan itu!"


Aryan langsung menarik tangan Riri, sehingga mereka jatuh bersama. Riri yang berada di atas tubuh Aryan tersadar, merasakan jantungnya berdetak kencang tidak karuan.


"ALICE!!!!!" teriak Calista.


"Apa yang terjadi nak?" tanyanya membantu Riri untuk berdiri, Riri hanya diam pikirannya kalut antara Aryan dan pikiran yang terus menghantuinya.


"Sayang, apa yang terjadi nak?" tanya Calista lagi.


"Maaf, Cherry, tadi berada di atas balkon dia memanjat pagarnya" jawab Aryan terus memegang Riri.


Calista terperanjat atas ucapan Aryan yang membuat hatinya semakin khawatir.


"Alice, jangan lakukan hal itu lagi" pinta Calista menangis memeluk Riri.


"Aunty, apa yang terjadi?" tanya Riri seakan linglung.


"Jangan pernah melakukan hal itu Alice, itu berbahaya" ucap Calista.


"Kakak ipar, ada apa?" tanya Hana yang baru saja tiba di kamar Riri, Hana melirik Aryan sinis.


"Hana, putrimu, dia berusaha memanjat pagar yang ada di sana" ucap Calista menunjuk pada balkon.


"APA?! bagaimana bisa?!" tanya Hana terkejut.


"Tidak tahu, Hana cepat lakukan sesuatu jangan sampai kejadian ini terulang lagi"


"Aku juga sudah bicara pada dokter kak, mereka hanya bisa besok karena harus menyiapkan semuanya?"


"Menyiapkan apa?" tanya Aryan penasaran.


"Apa hubungannya denganmu?! lepaskan tangan anakku!" ucap Hana membentak dan mendorong Aryan agar menjauh.


"Alice, dia akan di suntik untuk melupakan kejadian waktu dirinya di culik, memakai alat-alat untuk membuat otaknya tidak mengingat hal itu" ucap Calista menjelaskan.


"Apa?! apa itu ada? lalu bagaimana dengan Riri? apa dia akan mengingat kalian?" tanya Aryan yang tidak tahu harus apa.


"Tentu saja ada! memangnya kau yang seperti hidup di hutan saja! hal itu saja tidak tahu!" ucap Hana menyindir, Aryan hanya mendengar perkataan Hana itu dengan mentah dan membuangnya.


"Ada, jika mengingat kita, tentu Alice akan ingat, tapi tidak dengan kau, Leo dan lain lain yang tidak pernah bertemu saat dia masih kecil" ucap Calista menjawab pertanyaan Aryan.


"Lalu apa..."


"Sudahlah! memangnya apa masalahmu?! Riri anakku!" ucap Hana memotong pertanyaan Aryan.


"Kak, sebaiknya kau pergi saja! dan bawa tuan Aryan dari sini!" usir Hana tertuju pada Aryan.


Mereka berdua hanya menghembuskan nafas mereka kesal dan pergi dari kamar Riri.


"Sayang, tidurlah" ucap Hana setelah memberikan susu yang sudah di berikan obat tidur itu.


Malam hari, Reza kini pulang karena mendengar cerita dari bundanya, membuat Reza sangat khawatir terlebih pada adiknya itu.


Reza mendengar suara dari arah dapur, Reza yang penasaran pun akhirnya menuju ke tempat pantry.


"Reza! kau sudah pulang?" tanya Hana yang melihat Reza di bawah.


"Bunda, iya aku khawatir pada Riri, dimana Riri sekarang?" tanya Reza.


"Dia sedang tertidur, tadi bunda memberinya obat tidur agar tenang" jawab Hana berjalan mendekat ke arah Reza.


"Bunda, aku mendengar suara dari arah pantry, apa bunda mendengarnya?" ucap Reza bertanya.


"Tidak, bunda sedang berbicara dengan Daddy tadi di atas, memangnya kau mendengar apa?"


"Tidak tahu, aku akan memeriksa dulu"


"Sudahlah Reza, mungkin itu pelayan di sini"


"Tapi jam segini mana ada pelayan yang masih di sini" ucap Reza.


"Aku periksa dulu, setelah itu aku akan menemui mu" lanjut Reza.


Reza berjalan ke arah dapur


Setelah melihat siapa yang berada di sana, Reza terperanjat melihat Riri di sana


"Riri!" gumam Reza, Riri yang sedang menangis dalam diam dan menancapkan pisau itu ke meja makan yang berada di pantry berulang kali.


"Hiks hiks hiks"


"Riri, apa yang terjadi?" tanya Reza perlahan mendekat pada Riri agar tidak terkejut melihatnya.


Riri menoleh untuk mengetahui siapa yang memanggilnya.


"Kak!" lirih Riri.


"Riri, ada apa sayang?"


Riri langsung menubruk Reza dan memeluknya erat.


"Hiks hiks, aku takut kak! mereka semua mendatangiku, aku takut!" ucap Riri melantur.


"Siapa? tidak ada siapa siapa sayang" ucap Reza mengelus punggung Riri.


"Aku sangat takut kak"


"Tidak apa apa, sedang apa kau di sini?" tanya Reza menatap mata Riri.


"A...aku aku tidak tahu! apa yang sedang aku lakukan?" tanya Riri balik


"Tidak apa-apa, kau mau tidur denganku?" Riri pun mengangguk dan memeluk Reza kembali.


Setelah membujuk Riri untuk keluar dari pantry, Reza langsung membawa Riri keluar.


"Reza, Riri? kenapa ada di sini?" tanya Hana yang sedang duduk di sofa.


"Bunda, kau tidak tahu? Riri berada di dapur! kenapa kalian lalai sekali?!" ucap Reza kesal.


"Bunda tidak tahu sayang, tapi Riri tadi berada di kamar" ucap Hana merasa dirinya lalai lagi.


"Sudahlah bunda, aku akan membawa Riri ke kamar dulu" pamit Reza dan berjalan ke kamar Riri.


Setelah berada di kamar Riri, Reza langsung tidur dengan memeluk Riri, tentu selalu saja seperti ini ketika Riri ketakutan waktu dulu, namun Hana yang memang egois malah mengirim Reza ke negara A untuk memulai bisnis daddy-nya di sana.


Beberapa saat kemudian, mereka tertidur dengan pulas, Reza masih merasakan sakit di punggungnya itu, apalagi ketika dirinya tidur terlentang menekan luka itu.