Love You My Wife

Love You My Wife
Mengantar Reza Ke Bandara



"Mommy, ada apa dengan kakak?" tanya Alena pada Gista.


"Dia menangis Alena" jawab Gista.


"Aku tahu kakak menangis, tapi kenapa bisa kakak menangis?" tanya Alena dengan malas.


"Kau tahu Alena ini gara gara Rara, yang sudah menjadi istri Alex" ucap Gista dengan nada kesalnya.


"Huhfftt, kakak, jangan menangis seperti ini, jangan pernah menangis lagi hanya karena wanita" ucap Alena memeluk kakaknya itu.


"Kau belum pernah merasakannya Alena, kau belum pernah mencintai orang lain, kau belum pernah mengharapkan orang lain menjadi pendamping hidupmu, karena itu lah kau mengatakan itu padaku" ucap Aryan dengan nada pelan namun seperti orang yang sedang menahan marah.


Di sisi lain, viona mengetahui bahwa Aryan mencintai Riri namun Aryan malah berpikir bahwa Riri itu adalah Rara.


"Hahaha, bodoh sekali kau Aryan, tidak tahu sama sekali bahwa yang kau cintai adalah Riri! hahaha!" ucap viona dengan tertawa.


"Bagaimana Vio? apa kita culik saja Riri?" tanya Darren teman nya viona itu.


"Jangan gegabah dulu, aku masih ingin bermain main dengan Riri Darren"


"Tapi bukankah lebih bagus jika kita membalaskan dendam mu saat ini, selagi mereka masih lengah" ucap Darren dengan tawanya.


"Tidak! aku masih ingin bermain dengan Reza, agar dia takut pada ku!"


"Oh ya, apa Reza dan keluarganya sudah tahu kalau aku kembali lagi ke sini?" sambungnya bertanya pada Darren.


"Sudah vio, karena mata mata Reza selalu mengawasi dirimu" jawab Darren dengan nada kesalnya.


"Biarkan saja, aku tidak akan pernah menyerah kali ini, gara gara Riri, Daddy dan mommy ku meninggal! dan aku harus kehilangan semuanya, harta kekuasaan dan juga kasih sayang dari ibuku!" sergah Viona pada Darren.


"Terserah kau saja viona, aku hanya ingin Reza segara mati di tanganku!"


'Aku ingin Riri segera berada di pelukanku vio, karena setelah Riri dan harta Reza berada di tanganku, aku akan membuangmu' batin Darren.


"Sudah lah, aku akan kembali ke apartemen ku!" ucap viona lalu pergi meninggalkan Darren di sana sendiri.


"Hahaha, kau bodoh Vio, tidak mungkin aku melakukannya tanpa imbalan! hahaha!" tawa Darren setelah melihat viona pergi dari rumahnya.


Pagi hari semua sudah bersiap untuk sarapan lalu mengantar Reza ke bandara, kini Riri bertekad untuk ikut, jadi Rara sekarang yang tidak ikut, lagi pula Rara juga sudah mempunyai suami untuk menjaganya, Reza tidak terlalu khawatir pada Rara, namun pada Riri tentu saja dia khawatir, Reza ingin membawa Riri ke luar negri, namun bundanya tidak mengizinkan Reza melakukan nya.


"Reza, bagaimana dengan perusahaan di negara A?" tanya Wisnu kepada Reza.


"Teratasi kakek, aku bisa melakukan nya, hanya saja aku sedikit keteteran" jawab Reza memasukkan makanan ke mulutnya.


"Kenapa tidak meminta bantuan pada Rara dia pasti bisa melakukannya, apalagi menjadi sekertaris, dan pernah bekerja di perusahaan mu itu sangat mudah bagi Rara" usul Wisnu.


"Aku hanya tidak ingin membuat Rara lelah kakek, lagi pula aku sudah meminta sekertaris ku untuk membantu ku jadi tidak terlalu sulit"


"Bagaimana jika aku membantu kakak" ucap Riri.


"TIDAK!" ucap Hana dan Reza bersamaan, Riri yang melihat itu pun hanya meminum susu dengan gugup.


"Hahaha! kalian terlalu mengkhawatirkan Riri, padahal dia sangat ingin" ucap Rara dengan tertawa.


"Rara, andai bukan Riri yang memaksa untuk menggantikan dirimu, aku tidak akan pernah mengizinkannya!" ucap Reza dengan sinis.


"Emm, maaf kak, aku harus melakukannya, karena aku tidak mungkin meminta izin!"


"Harusnya kau memilih mundur saja Rara, dari pada seperti itu, kakakmu masih bisa menafkahimu, dan membayar denda mu" balas Reza dengan menatap Rara.


"Sudahlah Reza jangan memarahi istriku!" bela Alex dengan memegang pundaknya.


"Aku tidak memarahinya, hanya menasehati kalau dia mempunyai kakak yang bisa menafkahi nya dan menuruti keinginannya" ujar Reza yang tak mau kalah.


"Kakak, sudahlah makan lah dulu" ucap Riri memegang tangan reza yang berada di atas meja.


"Iya sayang!" ucap Reza dengan tersenyum.


Sedangkan Rara, dia hanya tersenyum kecut karena kini dia merasa bodoh karena dirinya seperti tidak di anggap di keluarga nya sendiri.


"Tidak tahu Riri, apa urusannya denganmu?!" jawab Rara dengan nada tingginya.


"Rara, jangan berkata seperti itu!" tegur Arif pada Rara.


"Maaf ayah"


"Tidak apa apa Rara, jangan di masukkan ke hati oke!" ucap Reza mengelus rambut Rara.


"Iya kak"


"Kalau begitu bersiap siap lah untuk menuju ke bandara Reza, maaf kakek dan nenek tidak bisa mengantarmu" ucap Wisnu, lalu berdiri dan di ikuti oleh semuanya.


"Tidak apa apa kakek, lagi pula kakek tidak boleh berjalan keseringan, karena takut kelelahan" ucap Reza dengan tersenyum.


"Baiklah, bersiap lah Reza setengah jam lagi kita akan berangkat" ucap Arif dengan menepuk punggung Reza.


"Iya ayah"


Setelah mereka ke kamar masing masing, Riri berjalan dengan memikirkan Aryan sudah 2 hari dia tidak menelpon atau mengirim pesan, ia ingin melakukan nya, namun tidak bisa karena masih ada kakaknya.


"Aku ingin menelpon mu Aryan, namun apa kau akan marah padaku?" ucap Riri bertanya tanya.


Riri pun masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya, mengklik nomor Aryan dan tersambung.


Aryan yang sedang bekerja di kantor pun hanya melihat telpon itu, ia tak mau mengangkatnya, namun hatinya memaksa untuk mengangkatnya.


"Kenapa menelponku Riri, setelah kau menyakitiku, harus berapa kali kau menyakiti diriku dan kau puas" gumam Aryan.


Aryan pun mengangkat telponnya.


"Hallo Aryan!" sapa Riri.


"Hallo Aryan! apa kau mendengarkan?" tanya Riri karena tak mendapatkan jawab dari Aryan.


Riri pun mematikan telponnya dan menelpon nya kembali.


"Hallo Aryan, apa kau mendengarku?" tanya Riri lagi.


"Iya ada apa Cher- ada apa Rara meneleponku?" tanya Aryan seolah tak mau berbicara dengan Riri.


"Aku merindukan mu Aryan, aku ingin bertemu denganmu!" ucap Riri dengan menangis.


"Jangan memancingku Rara! harus berapa kali kau menyakiti diriku dan menyakiti diriku lagi!" ucap Aryan dengan berteriak.


"Aryan, tolong dengarkan aku, aku ingin bertemu denganmu, aku merindukan dirimu"


"Lalu?" tanya Aryan dengan menaikkan alisnya.


"Aku ingin bertemu setelah nanti siang, apa bisa?"


"Tidak, aku ada rapat Rara, jadi tidak bisa!"


"Kapan kau bisa Aryan?"


"Sore atau malam! akan ku usahakan"


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu"


"Aku akan menelpon lagi, aku harus ke bandara sekarang Aryan" sambung Riri lagi.


"Untuk apa ke bandara?"


"Mengantarkan kakakku, dia hanya bisa beberapa hari di sini!"


"Ohh, baiklah, aku tutup telponnya!"


"Baiklah selamat-" belum selesai Riri berkata, Aryan sudah mematikannya.