Love You My Wife

Love You My Wife
Suasana Menegangkan



"Kau beruntung Riri, semua orang menyayangimu" ucap Rara dengan nada kecut.


"Apa maksud kakak?" tanya Riri yang heran kakaknya kini berubah.


"Lihatlah Riri! buka matamu! grandpa sampai membawamu ke mansionnya, sedangkan aku? aku hanya di sini dan hanya di berikan penjagaan saja!" ujar Rara dengan menatap sedikit kesal pada adiknya itu.


"Tidak kak, bukan seperti itu, tapi karena kakak sudah menikah!" ucap Riri memberi penjelasan.


"Lalu bagaimana jika kita terbalik? mereka pasti akan membawamu juga meskipun kau sudah menikah!"


"Hanya wajah kita saja lah yang sama! tapi tidak dengan kasih sayang!" sambung Rara.


"Tidak kak-"


"Sudah lah, lagipula memang selalu seperti ini kan, jaga baik baik dirimu Riri, pulanglah dalam keadaan sehat" potong Rara, dia berdiri dan langsung pergi ke arah pintu dan menutup pintunya lagi.


"Huhfftt, kenapa kakak seperti marah padaku? andai kau tahu kak, sejak kecil aku merasa terkurung di sini, andaikan dirimu tahu betapa aku sangat ingin bebas seperti dirimu!" gumam Riri dengan nada sedihnya itu.


Pintu terbuka dengan lebar membuat Riri sedikit terkejut, menampilkan Reza yang sedang menautkan alisnya karena wajah Riri yang nampak sedih, "Riri, ada apa?" tanya Reza dan mendekat pada Riri.


"Tidak apa apa kak, hanya saja aku pasti akan merindukan kalian" Reza hanya ber-oh saja, Reza mengelus rambut Riri dan duduk di sebelahnya.


"Kakak juga akan sangat merindukan dirimu Riri" ucap Reza dengan memeluk Riri dan membenamkan wajahnya di leher Riri.


"Kak!"


"Hmmm?"


"Apa kau akan selalu mengunjungiku?" tanya Riri dengan nada sedih.


"Tentu saja! tapi mungkin kita tidak akan pernah bertemu di mansion grandfa, tapi di tempat lain!" ujar Reza, membuat Riri bingung karena dari dulu kakaknya sangat tidak mau ke mansion grandfa nya itu.


"Tapi kenapa? apa grandpa tidak mengizinkan kita bertemu?" tanya Riri dnegan penasaran.


"Grandpa tentu saja memberi izin, tapi kakak tidak mau menginjakkan kaki Kaka di mansion grandpa!" jawab Reza, Riri yang kini menautkan alisnya.


"Sudah lah, lebih baik kita istirahat saja, besok kau akan berangkat ke negara L" ujar Reza dan di angguki Riri.


Mereka pun berbaring di kasur Riri, Reza berposisi memeluk Riri, mereka berdua pun akhirnya tidur dengan nyenyak terlihat jelas dengkuran halus terdengar menandakan mereka sudah terlelap.


Malam pun telah tiba, terlihat jelas semua orang sudah bersiap siap untuk makan malam bersama.


Riri terbangun terlebih dulu, jailnya kini sedang bereaksi, mulai dari memencet hidung Reza dan meniup niup matanya, sampai akhirnya Reza terganggu dan terbangun.


"Selamat malam kakak!" teriak Riri tak terlalu keras, Reza pun tersenyum dan menatap kesal pada Riri.


"Kakak malas untuk bangun!" ujar Reza lalu menarik Riri supaya tidur kembali.


"Tapi semua orang sudah menunggu kita"


"Biarkan saja, meskipun tidak ada kita mereka tidak mungkin menahan lapar" ujar Reza memeluk Riri erat.


"Tapi aku lapar" Riri pun mengeluarkan purple eyes nya, membuat Reza menghela nafas kasar.


"Baiklah, ayok kita turun dan makan" ajak Reza dan bangun dari kasur Riri.


"No! aku belum mandi kak!" ucap Riri tegas.


"Benarkah? ku pikir kau sudah mandi Riri, karena terlihat sang Dewi kini memancarkan keindahan nya" ujar Reza lembut, Reza terus mendekat pada Riri, Riri pun tersenyum malu karena pujian dari sang kakak.


Reza menyentuh dagu Riri dan menegakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Riri yang indah dan cantik ini, Reza terus mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Riri, mereka pun akhirnya berci*man, namun baru saja beraksi, pintu sudah terketuk dengan keras.


"Riri, buka pintunya" teriak Hana di luar pintu Riri yang terkunci.


"Kenapa lama sekali?" tanya Hana.


"Hmmm aku baru bangun tidur bunda, dan baru akan turun ke bawah" jawab Riri sedikit berdegup kencang jantungnya.


"Baiklah, ajak Reza juga!" DEGH! 'bunda tahu kak Reza di sini? tapi kenapa tidak marah?' tanya Riri dalam hati, Riri pun mengangguk mengiyakan, setelah nya Hana pun pergi ke bawah untuk bergabung bersama lagi.


"Ada apa sayang? kenapa terlihat bingung sekali?" tanya Reza dengan memeluk Riri dari belakang.


"Bunda tidak marah?" tanya Riri pada Reza


"Benarkah? bagus jika seperti itu, artinya kita akan terus bersama, dan mungkin saja bunda telah merestui kita Riri" ujar Reza, Riri pun terkejut lagi karena Reza mengatakan hal itu lagi.


"Ayok, kita sudah di tunggu" ajak Reza memegang tangan Riri dan menarik Riri yang sedang melamun kan hal tersebut.


Mereka pun turun ke ruang makan, semua orang sudah menunggu kedua adik kakak itu, mereka pun mulai saat Riri dan Reza duduk di kursi masing masing.


"Riri, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Arif sela saat makan.


"Aku baik ayah, sudah tidak terlalu sakit" jawab Riri dengan tersenyum.


"Bagus kalau begitu Riri, maaf ayah tidak bisa menemani dirimu di rumah sakit" ujar Arif pada Riri.


"Tidak apa apa ayah, lagi pula aku tahu ayah sibuk"


"Riri jaga baik baik saat kau di negara L ya sayang" ujar Risma nenek Riri kini.


"Tentu nek, aku akan sangat baik baik saja di sana, aku akan menjaga diriku sendiri" balas Riri dengan sedikit kekehan tawanya.


"Wahh, bagus sayang, itu memang harus!" ujar Wisnu kini dengan tertawa.


"Kakek dan nenek juga, harus jaga diri kalian baik baik, ingat nek, nenek punya penyakit diabetes, kurangi makan yang manis manis" ceramah Riri pada neneknya.


"Hahaha, kakek takut saat kau tidak ada di sini Riri, kau tahu nenekmu sangat keras kepala kan, tidak mau menuruti perintah kakek" ujar Wisnu tertawa dan di ikuti semuanya.


Sedangkan Rara di meja makan hanya tersenyum kecut, 'Kenapa semakin hari aku semakin membenci Riri?' tanya Rara dalam hatinya.


"Rara, bagaimana sekarang? kau akan bekerja di Perusahaan suamimu atau di Perusahaan ayah?" tanya Arif kini pada Rara, mendengar hal itu Reza pun langsung menyahutinya.


"Ayah! sudah aku bilang Rara tidak boleh bekerja, lagi pula sekarang Rara sudah mempunyai suami yang bisa menafkahinya" jawab Reza membuat semua orang terdiam.


"Hahaha, Reza! jangan terlalu mengekang Rara, dia berhak menjalankan apa saja yang dia mau!" ucap Arif dengan canggung.


"Tidak ayah, tidak cukupkah aku memberi dia waktu 3 tahun untuk bekerja di perusahaan MG?" ujar Reza dengan keras kepala.


"Tapi kak, bukankah ada satu tahun lagi?" tanya Rara hati hati.


"Sekarang bukankah kau telah menikah? bukankah aku memberimu izin hanya karena untuk membuat pengalaman bekerja saja?" tanya Reza dengan menatap Rara.


"Tapi ada satu tahun lagi" cicit Rara dengan menunduk.


"Tidak ada Rara, sekarang sudah menikah, tidak perlu untuk bekerja, lagi pula uang suamimu pasti cukup kan?!" tanya Reza menohok Rara.


"Sudahlah Reza, jangan mengekang Rara lagi, terserah ia melakukan apapun asal dia bahagia" ujar Hana menghangat kan suasana lagi, ini lah yang tidak di sukai oleh Hana, yaitu Reza! Reza terlalu mengekang Rara dan Riri jika sudah pulang ke rumah nya ini.


"Baik" cicit Reza dan fokus pada makanan nya.


Riri yang mendengar hal itu pun hanya diam, masih beruntung kakaknya bisa kemana saja tanpa ada yang menggangu, tapi Riri, dirinya tentu tidak akan di biarkan untuk kemana mana, apalagi bekerja, menggambar baju dan membuat baju saja dirinya di batasi waktu hanya boleh 5 jam perhari saja, tentu saja mana bisa melakukan hal itu.


Apalagi terkadang Riri meminta bantuan pada bawahan nya untuk cepat menyelesaikan gaun yang di rancang olehnya, tentu sedikit berbeda dari hasil namun tetap saja orang yang memesan gaun itu sangat menyukai karya Riri, yang menjahitnya dengan bagus.


Setelah mereka semua selesai makan malam, mereka pun ke kamar masing-masing untuk istirahat dan tidur, Riri yang memang baru bangun dari tidur pun susah untuk memejamkan matanya, dan memilih menghubungi Aryan karena merasa rindu padanya.