
"Iya bunda, tenang lah, bagaimana keadaan diri sekarang?" tanya Rara menenangkan bundanya.
"Dia masih kritis sayang, banyak darah yang keluar dari tubuhnya, kepalanya, dia kini membutuhkan darahmu" ucap Hana dengan melihat tangannya, seakan ada darah Riri di sana.
"Maaf nyonya, jadi siapa yang akan mendonorkan darahnya?" tanya dokter baru keluar lagi.
"Sa...saya dok, saya yang akan melakukannya" ucap Rara dengan rasa takut dan gemetar.
"Baiklah, kalau begitu ayok masuk" ucap dokter lalu pergi dengan di ikuti oleh Rara.
"Duduklah sayang, jangan berdiri terus" ucap Arif lalu mendudukkan Hana ke kursi yang ada di sana.
"Aku tidak bisa diam saja suamiku, kenapa harus kau suamiku!"
"Kenapa harus kau! kenapa tidak aku saja, andaikan gol darah Riri sama denganku, aku akan memberikan semuanya, haaaa kenapa tidak aku saja haaaa!" teriak Hana dengan tersedu sedu, sedangkan Arif hanya bisa bersabar dan memeluk istrinya.
"Sabar lah sayang, Riri kita akan baik baik saja, dia tidak akan pernah meninggalkan dirimu dan kita semua" ucap Arif menenangkan Hana.
Hana masih menangis meskipun tidak seperti tadi yang berteriak.
"Suamiku, kau sudah menelpon Reza?" tanya Hana kini menatap suaminya.
"Tidak bisa, mungkin belum sampai sayang, kasihan Reza, sebaiknya jangan mengganggu nya, dia sangat kelelahan pastinya" jawab Arif jelas.
"Tapi, bagaimana bisa Riri seperti ini? bukankah dia berada di rumah?" tanya Hana yang kini tersadar apa yang terjadi.
"Tidak tahu Hana, mungkin dia ada urusan mendadak, jadi tidak memberitahu kita" jawab Arif yang tak ingin istrinya berpikir macam macam, apalagi sampai mengadu pada Reza
"Mommy! kenapa kalian ada di sini?" tanya Alex yang kini bertiga dengan orang tuanya.
"Kami mengkhawatirkan dirimu sayang, sebenarnya ada apa?" jawab Thalita lalu bertanya pada Alex yang terburu buru saat keluar rumah
"Tidak apa apa, mommy sebaiknya pergi saja, jangan berada di sini, itu tidak baik" ucap Alex menyuruh mereka untuk pulang, karena Alex masih belum di perbolehkan untuk mengatakan dengan jujur.
"Jawab dulu Alex, jangan menyimpan apapun dari mommy" ucap Thalita yang tahu Alex menyembunyikan sesuatu.
"Iya Alex, kau terlihat buru buru tadi, ada apa?" timpal Seno dengan bertanya.
"Daddy, mommy, tidak perlu tahu, yang pasti semuanya baik baik saja" jawab Alex memegang tangan Thalita yang masih enggan untuk pergi dari rumah sakit.
"Tidak, kami tidak akan pergi dari sini!" kekeh Thalita dengan keras kepalanya itu.
Aryan kini sedang berlari menelusuri koridor rumah sakit, ia khawatir pada Rara, karena saat keluar Rara malah meminta pergi ke rumah sakit.
"Alex!!" teriak Aryan saat melihat Alex dan kedua orangtuanya.
"Alex! dimana Rara?" tanya Aryan tiba tiba.
"Apa maksudmu Aryan, kenapa bertanya seperti itu?" tanya Alex yang cemburu karena Aryan menanyakan Rara meskipun dia tahu yang di cari adalah Riri.
"Jangan berbohong padaku Alex, atau kau akan aku bunuh!" ancam Aryan dengan menatap tajam pada Alex.
"Ada apa ini Aryan, kenapa kau masih saja mencari Rara, dia sudah menjadi istri Alex!" ucap Seno yang kesal karena Aryan tak mengerti hal itu.
"Daddy, aku mencintai Rara, dia Cherry ku!" balas Aryan, lalu pergi mencari Rara.
Aryan yang berpapasan dengan Luna yang masih berada di sana, terlihat seperti patung karena Luna yang tidak sama sekali bergerak.
Melihat dua orang yang sama persis, tentu membuatnya syok, apalagi saat merasa bahwa Rara berbeda dari biasanya.
"Luna! dimana Rara?" tanya Aryan pada Luna yang kaget karena pertanyaan Aryan yang di lontarkan nya.
"Siapa kau?! Aryan?!" tanya Hana dengan menaikan alisnya sebelah.
"Iya, dimana sekarang Rara? apa dia baik baik saja?" tanya Aryan yang khawatir.
Mendengar pertanyaan itu, Hana dan Arif menautkan alisnya bingung.
"Bu! dimana Rara?" tanya Aryan sekali lagi, namun tak ada jawaban, hanya isakan tangis Hana yang keluar.
"Luna! kau tahu dimana Rara kan?" tanya Aryan pada Luna.
"Apa?! kritis? bagaimana bisa terjadi?" tanya Aryan dengan sedikit berteriak.
"I..iya pak!" jawab Luna dengan menunduk.
Setelah beberapa menit, akhirnya Rara pun keluar, melihat Rara, Aryan langsung memeluknya dengan erat.
"Aryan! jangan peluk istriku!" teriak Alex yang melihat Aryan memeluk istrinya.
"Aryan! jangan coba coba berani melakukan nya!" ucap Alex dengan nada marahnya itu dan menarik Rara dengan kencang.
"Apa maksudmu Alex, bukankah kau selalu tidka peduli?!" ucap Aryan yang kesal kepada Alex, sedangkan Hana dan Arif tidak tahu apa apa, hanya bisa melihat dan menyaksikan perdebatan itu.
"Karena dia istriku Aryan!" teriak Alex.
Aryan langsung menarik Rara dengan cepat, dan menghalangi Alex agar tidak mengambil Rara lagi.
"Aryan, kau gila! dia istriku!" ucap Alex kini tak tahan dengan sikap Aryan yang sudah keterlaluan.
"Tidak Alex, waktu dulu kau tidak pernah menganggapnya!" ucap Aryan dengan nada pelan namun penuh penekanan.
"Aryan, waktu dulu! orang yang bersamamu bukan Rara tapi Riri! dan sekarang Riri sedang kritis!!" teriak Alex yang kini tak bisa menyembunyikan rahasia lagi.
DEGH!
"Alex!!!" teriak Rara yang kaget Alex mengatakan kebenaran dan rahasia yang selama ini dia jaga.
Aryan yang mendengar itu pun melepaskan tangannya Rara dan menunduk.
"Apa maksudnya?" tanya Aryan kini melihat Alex sinis.
"Tidak pak Aryan, a...alex, di..dia hanya berbohong!" ucap Rara yang masih ingin menyangkal semuanya.
"Kau berbohong Rara! pantas saja kau berbeda!" teriak Aryan yang kesal karena di bohongi.
Aryan berjalan ke ruang ICU, namun saat berada di depan pintu, dokter keluar dengan wajah leganya.
"Dokter, bagaimana keadaannya Rara? emm, maksudku Riri?" tanya Aryan yang tak ingin salah mengucapkan nama.
"Pasien baik baik saja-" tanpa mendengar dokter itu, Aryan langsung masuk ke ruangan ICU, dia melihat Riri dengan kabel kabel yang ada di badannya, serta kain yang melilit kepalanya.
"Cherry!!!" teriak Aryan yang sedih melihat Riri seperti itu.
Hana dan Arif pun masuk ke ruangan itu, Hana yang sudah muak dengan sikap Aryan yang seenaknya, rasanya ingin mengusir Aryan dari ruangan itu.
"Maaf, pasien harus di bawa ke ruangan rawat dulu, jadi tidak boleh ada yang masuk ke sini!" ucap dokter dengan pelan dan jelas.
"Aryan, sebaiknya kita keluar dulu" ucap Alex dengan menyentuh pundaknya.
"Tidak Alex, aku ingin di sini, Cherry ku kesepian nanti" sergah Aryan dengan menangis namun tak mengeluarkan suara.
"Arif! Alex, seret Aryan keluar!" ucap Hana yang kesal dengan Aryan.
Arif dan Alex pun menyeret Aryan paksa keluar, namun masih tak mau meninggalkan Riri, sampai akhirnya Arif menenangkannya barulah Aryan dengan pasrah keluar.
"Nanti saja, setelah Riri di pindahkan ke ruang kamar rumah sakit, baru kau boleh menemuinya lagi" ucap Arif dengan pelan.
"Tapii-"
"Kini aku memberimu pilihan, ingin di usir oleh Hana istriku, atau menurut padaku!" ucap Arif menyela dengan tegas memberi pilihan pada Aryan.
"Baiklah, terima kasih pak!"
Aryan pun terpaksa keluar dan duduk, menunggu Riri di pindahkan ke kamar rumah sakit.
"Dokter! pindahkan Riri ke ruangan VIP!" ucap Aryan pada dokter, dan dokter pun mengangguk.
"Apa maksudmu? kau pikir kami tidak sanggup menempatkan Riri di kamar VIP!" teriak Hana yang entah kenapa menjadi pemarah seperti itu.
"Sudahlah sayang, jangan marah, dia hanya ingin yang terbaik bagi putri kita!" sela Arif yang tak ingin istrinya marah marah seperti itu.