Love You My Wife

Love You My Wife
Kekhawatiran Keluarga



Setelah beberapa menit, akhirnya mobil itupun masuk ke kediaman Maxwell.


Semua orang sedang menunggu Riri dengan khawatir, terlebih saat mengetahui jika Reza mencari Riri, sedikit membuat Hana khawatir.


Riri dan Reza masuk ke dalam rumah, mengetahui Riri telah datang Hana dan Arif langsung menghampiri Riri dengan wajah senang.


"Riri, sayang apa kau baik baik saja?" tanya Hana dengan memeluk Riri


"Sayang kau tidak apa apa kan?" tanya Arif


"Tenang saja ayah bunda, aku baik baik saja" jawab Riri dengan menunduk.


"Masuklah ke kamar ku sekarang Riri! dan tunggu aku!" ucap Reza tanpa menatap Riri.


"Apa ini Reza, sebaiknya Riri istirahat saja!" protes Hana, karena Reza malah menyuruh Riri ke kamarnya.


"Bunda! tolong jangan membantah!" Hana yang ingin protes lagi pun menjadi diam karena Riri menyuruhnya untuk diam saja.


"Baik kak!" ucap Riri, lalu pergi ke kamar Reza, dengan langkah gontai Riri masuk ke kamar Reza, entah hukuman apa yang akan di berikan kepadanya saat ini.


"Kak Reza, jangan memarahi Riri, dia masih kecil" pinta Rara dengan menggenggam tangan nya Reza.


"Masih kecil? kau dan Riri sama saja Rara, bahkan dia lahir setelah 5 menit kau lahir!" ujar Reza yang memang kesal.


"Maaf sayang, Kakak tidak bermaksud memarahi mu, maaf ya" Reza pun memeluk Rara, entah sudah me berapa kali, dia memeluk Rara, yang pasti waktunya saat pulang ke rumah ayahnya pasti di habiskan dengan Riri.


"Aku akan menghampiri Riri, jangan khawatir!" ujar Reza dengan melangkah pergi meninggalkan mereka.


Pintu kamar terbuka, terlihat Riri sedang menunggu hukuman dengan rasa yang campur aduk, dirinya memang bersalah karena telah berani tidur dengan orang lain , terlebih itu adalah laki laki.


Reza berjalan ke arah lemari, dia membuka pintu lemari itu kemudian membuka laci, mengambil sebuah kotak perhiasan, menutup semua lemari itu dan berjalan ke arah Riri.


"Riri! apa kau tahu kesalahan mu sekarang?" tanya Reza tanpa menatap Riri.


"Kak, a..aku maaf kan aku!" ucap Riri terbata bata.


"Aku tidak butuh maaf mu! aku hanya butuh penyesalan mu Riri, sehingga kau tidak berbuat seperti itu lagi!" ucap Reza dengan sinis.


"Kak!" ujar Riri kini menatap Reza, yang tak mau menatap nya kini, malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Duduklah Riri" Riri pun melakukan perintah Reza, ia tak mau membantah apalagi kini kakaknya itu sedang marah.


"Bagus, jadilah anak yang pintar!" ucap Reza lagi.


Reza pun melangkah dan duduk di samping Riri.


"Jangan melepaskan cincin ini Riri, jangan pernah sama sekali, atau nanti aku tidak bisa memaafkan dirimu lagi!" ucap Reza dengan sedikit ancaman, meskipun itu tidak benar menurut hatinya.


"Kau memberiku cincin?" tanya Riri tersenyum.


"Apa ini tidak indah?" tanya Reza tak menjawab pertanyaan Riri.


"Sangat indah kak!" jawabnya dengan tersenyum kecil.


"Bagus jika kau senang Riri" kini Reza sedang memakaikan kalung pada Riri, Reza yang tahu Riri tidak akan pernah melepaskan kalung itu namun tidak dengan cincin.


"Kakak memberiku kalung juga?" tanya Riri dengan menatap heran pada Reza.


"Iya, aku khawatir Riri"


"Sekarang kau boleh pergi!" sambung nya lagi, tanpa melihat Riri.


"Kak, kakak masih marah padaku?" tanya Riri dengan hati hati.


"Tidak, tapi jika kau tidak pergi dari sini, aku akan marah" ancam Reza, Riri pun berdiri dan berbalik untuk keluar kamar kakaknya, namun saat membuka pintu, Riri berbalik dan memeluk Reza.


"Tidak Riri-"


"Kau tidak akan marah jika memanggilku sayang" sela Riri.


"Jangan menyelaku Riri, itu tidak sopan!" ucap Reza dengan menepuk jidatnya Riri.


"Keluar lah sekarang"


"Tidak! aku tidak bisa pergi jika hatimu marah padaku!" sergah Riri dengan mengeratkan pelukannya.


"Bunda mengkhawatirkan dirimu Riri, sebaiknya pergi lah dan temui bundamu"


"Aku akan tetap disini" Reza menatap Riri dnegan tersenyum lalu di ikuti Riri.


"Kau mau tidur denganku?" tanya Reza dengan tersenyum, Riri pun mengangguk kan kepalanya.


"Baiklah, ayok tidur"


"Kakak tidak marah lagi kan padaku?" tanya Riri menatap mata Reza nanar.


"Tidak, asalkan kau tidak melakukan kesalahan lagi!" ucap Reza, kini mereka tertidur dengan keadaan saling memeluk.


Di hotel, Aryan masih terduduk, kini badannya tidak terlalu lemah, ia marah karena Riri tidak mau membantah Reza, kesal karena Riri sama sekali tidak membelanya.


Aryan lebih memilih untuk pulang dan beristirahat disana, dirinya telah kecewa pada Riri apalagi saat dirinya di pukul, Riri malah memeluk kaki laki itu yang tak lain adalah Reza sendiri.


"Aryan, dari mana saja kamu seharian ini?" tanya Gista saat melihat putranya masuk ke rumah, namun Aryan tak mengindahkan ucapan Gista mommynya.


"Aryan! jawab mommy dulu!" teriak Gista mengikuti Aryan ke kamarnya, setelah sampai ke kamar, Aryan mengunci pintu nya supaya tidak ada yang mengganggunya.


"Aryan, tolong buka pintunya sayang, kita bicara baik baik ya" ucap Gista mengetuk pintu Aryan berulang kali.


"Tidak mom, mommy pergilah dari sini, aku sedang ingin sendiri" teriak Aryan di dalam kamarnya.


"Aryan tolong buka pintunya sayang, jangan seperti ini, jangan membuat mommy khawatir padamu" ucap Gista merayu Aryan untuk membuka pintu kamarnya.


"Mommy pergilah! aku tidak ingin di ganggu" teriak Aryan dengan posisi terduduk menelengkubkan kepalanya di tengah kakinya.


"Aryan, mommy mohon, kita akan membicarakan semua ini dengan baik baik kepada keluarga Rara, mommy mohon sayang" ucap Gista dengan memohon.


"Tidak mom!"


Gista yang mendengar itu pun hanya bernafas kasar saja, entah apa yang di rasakan putranya kini, pasti sedang sakit hati, apalagi melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain.


Gista meminta pelayan untuk mengambil kunci cadangan kamar Aryan, dia khawatir jika hanya menunggu Aryan membukanya sendiri, tentu saja seorang ibu akan khawatir pada anaknya terlebih jika sedang sakit hati atau sedang menangis.


"Ini nyonya kuncinya" ucap pelayan dengan menunduk menyerahkan kunci cadangan itu.


"Baiklah, kau boleh pergi" ucap Gista lalu pelayan pun pergi dari sana.


Cekrek!


"Aryan sayang! kenapa menjadi seperti ini?" tanya Gista dengan berlari ke arah Aryan yang sedang menunduk.


"Mommy!! aku mencintai nya! mommy!!!" teriak Aryan seperti anak kecil dengan memeluk kaki Gista.


"Mommy tahu kau sangat mencintai nya Aryan, tapi mommy mohon ikhlaskan lah Rara, masih banyak wanita yang menginginkan dirimu" ucap Gista menenangkan Aryan.


"Tidak mommy! aku tidak mau wanita lain! aku ingin Cherry ku aku ingin Rara ku!" teriak Aryan dengan menangis histeris.


"Kakak! ada denganmu?" tanya Alena yang melihat Aryan menangis dan masuk ke kamarnya.