
"Kak, kenapa kau baru memberi tahu padaku? jika selama ini Riri mendapatkan teror?" tanya Hana sedih.
"Maafkan aku Nana, ini semua karena Daddy melarang ku untuk mengatakan ini padamu" jawab Calista menunduk.
"Maafkan aku, jika saja aku tahu ini semua akan terjadi mungkin aku akan lebih waspada lagi" ucap Calista memegang tangan Hana.
Di rumah sakit
Riri sedang berada di samping Reza, dirinya tidak mau berjauhan dengan kakaknya itu, Aryan yang sejak tadi berada di belakang Riri, menatap sedih ke arah Riri karena kekasihnya itu tidak mengenalnya sama sekali.
"Nona kecil, nyonya muda memerintahkan kami untuk menjemput nona" ucap sang bodyguard pada Riri.
"Ah? tapi aku tidak mau pulang" ucap Riri memelas.
"Maaf nona, tapi ini perintah, tolong kami" ucap bodyguard itu menunduk.
"Cherry, sebaiknya kau pulanglah" ucap Aryan tiba tiba, Riri menatap Aryan bingung karena mendapatkan mendengar nama Cherry.
"Siapa kau? aku tidak mengenalmu!" ucap Riri membentak.
"Maaf, aku tidak sengaja" ujar Aryan menunduk sedih, dirinya sekuat hati untuk tidak mengeluarkan air matanya.
"Riri, ada apa?" tanya Reza yang bangun dari tidurnya.
"Kak! maaf aku membangunkan mu, tapi mereka menyuruhku untuk pulang! aku tidak mau! aku takut!" rengek Riri memeluk perut kakaknya itu.
Reza tersenyum karena Riri manja padanya.
"Sayang, memangnya kenapa? bukankah kau masih bisa kesini lagi? pulanglah, mungkin bunda merindukanmu" bujuk Reza tersenyum, Riri melepaskan pelukannya itu dan menatap Reza yang sedang tersenyum padanya.
Semua itu tak luput dari pandangan Aryan, dirinya merasa sakit sekali hatinya.
"Aku takut! aku tidak mau jauh darimu!" kekeh Riri.
"Apa ini? kau tidak menurut pada kakakmu?" tanya Reza pura pura marah.
"Maaf kak, tapi aku tidak mau pergi darimu!" ujar Riri memelas.
"Pulanglah dulu, besok baru temui aku lagi" bujuknya, Riri pun mau tak mau mengangguk setuju.
"Kakak di sini baik baik, cepat sembuh ya" ucap Riri dan memeluk Reza sekali lagi.
"Hati hati sayang" ucap Reza.
Setelah Riri pergi, Reza tersenyum pada Aryan karena merasa menang dari Aryan.
"Kau melihatnya? Riri sangat mencintai diriku! dia tidak mau meninggalkan ku sama sekali" pamer Reza pada Aryan yang baru saja akan pergi.
"Jangan senang dulu, mungkin sekarang Riri sedang ketakutan sehingga tidak bisa mengenaliku! tapi suatu saat nanti Riri akan kembali lagi padaku!" balas Aryan dan pergi meninggalkan Reza.
"Ckk, bodoh sekali!" gumam Reza tersenyum sinis.
Di mansion Ryn
"Lakukan sesuatu dokter, aku mohon kembalikan Riri semula" pinta Hana pada dokter Robert, dokter psikolog Riri waktu dulu.
"Maafkan saya nyonya, jika di lakukan lagi maka ini akan sangat berbahaya, takut jika nona kecil mengalami kerusakan otak" balas dokter memelas.
"Dokter, berapapun biayanya, akan aku bayar tapi tolong buat Riri melupakan semuanya" ucap Hana mengatupkan kedua tangannya.
"Baik, mungkin saya akan melakukannya sedikit saja, tapi saya tidak mau bertanggung jawab sedikitpun jika nona mengalami kerusakan otak" ucap dokter memberi syarat.
"Lakukan apapun asal yang tebaik dokter" ucap Calista kini.
"Baik nyonya, semaksimal mungkin saya akan melakukan yang terbaik!" ucap dokter tegas.
"Terima kasih dokter, kapan akan di mulai?" tanya Hana.
"Besok, saya akan menyiapkan dulu" jawab dokter itu.
"Terima kasih dokter"
"Sama sama nyonya"
Rara yang mendengar pembicaraan mereka pun mengernyitkan dahinya bingung.
"Bunda, apa yang terjadi pada Riri? kenapa dokter itu mengatakan hal itu?" tanya Rara mengagetkan mereka berdua.
"Jangan memutar pembicaraan bunda! katakan apa yang tidak aku ketahui selama ini?!" ucap Rara berteriak.
"Sayang, kau salah faham, tentu tidak terjadi apa apa pada Alice" jawab Calista mendekat pada Rara.
"Aunty! jangan membohongi Ainsley! aku mendengar semuanya!" ucap Rara bersikeras.
"Rara! kecilkan suaramu!" teriak Hana pada Rara.
"Apa bunda? kenapa kalian menyembunyikan hal ini dariku?! memang apa masalahnya?!" tanya Rara kembali berteriak.
"Sayang, jangan membentak bunda mu, Aunty akan memberitahu mu" ucap Calista mengelus pundak Rara.
"Aunty, katakan apa yang terjadi?! aku ingin semua penjelasan dan tidak mau ada yang terlewatkan!" pinta Rara.
"Baik Ainsley, aunty akan memberitahukan semuanya"
"Sejak dulu saat kalian berusia 8 tahun, tentu kalian sudah sekolah kan? sejak saat itu Alice selalu di ganggu oleh seseorang" ucap Calista memulai
"Lalu apa masalahnya?" tanya Rara tak sabar.
"Tentu Alice takut dengan semuanya, saat Alice umur 10 tahun, Nana memasukkan Alice sekolah umum lagi, namun teror itu ada lagi, sampai akhirnya Alice di bawa ke sini, namun saat pergi ke hutan Alice malah di culik"
"Yang menculik Alice adalah William Henry, ayah dari Willem, Willem yang bertemu dengan Alice umur 10 tahun malah jatuh cinta pada gadis kecil, sedangkan Willem waktu itu berusia 18 tahun, William juga gila, waktu dulu dia mencintai bunda mu, tapi bunda mu tidak mencintainya"
Hana terus mendengarkan semuanya dengan menitikkan air matanya, sedangkan Rara terus mendengar ceritanya yang menurutnya aneh itu.
"Willem langsung di kirim ke luar negeri oleh William, sampai umur 12 tahun Alice terkena gangguan, pikirannya terus terganggu sejak penculikan yang di lakukan laki laki bejat itu!"
"Kami membuat Alice melupakan semua ingatannya, dan itu berhasil Alice kembali ceria lagi, disitu kami sangat senang sekali, namun gangguan itu datang saat Alice berumur 14 tahun, tanpa kita ketahui Willem kembali untuk membawa Alice pergi, namun kami gagalkan semuanya, sejak itu lah kami sepakat untuk menjaga Alice lebih ketat"
"Maafkan bunda sayang, mungkin itu sedikit tidak adil bagimu, tapi kami terpaksa melakukan itu" ucap Hana memegang tangan Rara.
Melihat itu, Rara langsung memeluk bundanya itu sedih.
"Maafkan aku bunda, aku tidak tahu apa apa! kenapa kalian menyembunyikan hal ini dariku?" ucap Rara memeluk Hana, mereka pun menangis bersama.
"Maaf sayang, waktu itu kau masih terlalu kecil" jawab Hana melepaskan pelukan mereka.
"Aku tadi ke sini, ingin memberi tahu kalian" ucap Rara menghapus air matanya.
Hana dan Calista saling memandang memikirkan apa yang mau di beritahukan Rara pada mereka.
"Apa?" tanya mereka bersamaan.
"Hahaha, bunda, aunty, dalam perutku, ada nyawa di dalam sana" ucap Rara tertawa dan memberikan tespek pada mereka.
Calista dan Hana saling menutup mulut mereka tak percaya.
"Sudah berapa bulan usianya?" tanya Calista mengelus perut Rara.
"Enam Minggu aunty"
"Bukankah kau akan menundanya sayang? kenapa malah sekarang hamil?" tanya Hana tidak percaya.
"Iya, tapi sepertinya cucu bunda ingin segera hadir" jawab Rara tertawa.
"Hahaha, lihatlah Nana! mereka tidak sabar bertemu dengan grandma nya!" ucap Calista tertawa.
"Iya kakak, sepertinya begitu" ucap Hana.
Di depan pintu, Riri sedang berdiri di sana melihat mereka bertiga berinteraksi.
"Alice! kau sejak kapan berada di sana?" tanya Calista kaget melihat Riri di sana sedang melihat mereka bertiga.
"Aunty, maaf, aku akan pergi ke kamar dulu" ucap Riri pamit.
Mereka saling pandang, takut jika Riri mendengar pembicaraan mereka.
"Biarkan aku yang menemui Riri" ucap Hana pada Calista.
"Iya kak, hati hati, aku takut Alice mendengar pembicaraan kita" ucap Calista.
"Iya kak"