Love You My Wife

Love You My Wife
Masalah (61)



Setelah beberapa hari, Riri akhirnya pulang ke rumah, kondisi mentalnya sudah mulai membaik dan berangsur sehat dan kembali ceria.


"Kak Lina" panggil Riri pada sosok temannya saat masa kecilnya dulu.


"Kau di sini? bagaimana bisa?" tanya Riri heran.


"Eh Riri, bagaimana keadaanmu?" tanya Lina tak menjawab pertanyaan Riri.


"Aku baik, bagiamana keadaanmu?" tanya Riri balik


"Aku baik, hanya ibuku sudah tidak ada lagi di dunia ini" ucap Lina menunduk sedih.


"Benarkah? aku baru tahu kak, maaf aku tidak ada disaat kau sedih" ujar Riri ikut sedih mendengarnya


"Tidak apa apa"


"Oh ya, kau baru saja sehat, lebih baik istirahat saja" ucap Lina.


"Iya, kakak akan menginap?"


"Tidak, aku akan ke hotel saja, lagi pula aku tidak kenal mereka, ini saja bibi Hana yang menyuruhku untuk ke sini bertemu denganmu"


"Ohhh, tapi kenapa harus di hotel, di sini saja kak, lebih baik dari pada di hotel"


"Tidak Riri, aku tidak kenal mereka" tolak Lina.


"Benar apa kata Riri sayang, kau menginap lah di sini" ucap Hana pada Lina.


"Tapi bibI Hana, aku..."


"Sudah kak, lebih baik kau di sini saja, jangan menolak!" sela Riri memotong ucapan Lina.


"Baiklah kalau begitu"


"Bagus sekali kak, nanti tidur denganku ya, aku ingin bercerita padamu"


"Iya"


Malam hari tiba, setelah makan malam, mereka semua langsung tidur di kamar masing-masing, Lina tak jadi tidur bersama Riri, karena Riri harus berada di ruangan steril tanpa debu sedikit pun.


Tap Tap Tap


Langkah kaki menggema di kamar Lina.


"Kau! mau apa kau ke sini?!" tanya Lina sinis pada Reza.


"Ckk, jangan pura pura polos! aku tahu apa maksudmu datang ke sini!" ucap Reza menatap Lina dengan amarah.


"Pergi dari sini! atau aku akan berteriak!" ucap Lina marah.


"Kau pikir apa ruangan ini bisa terdengar ke luar? hah?"


"Kau!"


"Diamlah ja*ang! aku tidak akan pernah mengampuni mu kali ini!" ucap Reza sinis.


"Pengkhianatan yang kau lakukan, masih membekas di dalam hatiku! aku tidak akan mengampuni mu kali ini!" ucap Reza mencengkram dagu Lina.


"Ishhh, sa...sakit Reza! aku mohon lepaskan!" ucap Lina terbata bata.


"Kau pikir aku bodoh hah?! dasar ja*ang!" teriak Reza dengan api amarahnya


"Jika kau tidak tahu apa apa! lebih baik jangan menuduhku! kau pikir hanya kau yang bisa menuduhku?! aku juga bisa menuduh mu karena selingkuh denganku!" teriak Lina kesal.


"Apa kau bilang?!" tanya Reza menarik rambut Lina, membuat dirinya meringis sakit


"Apa? apa setelah berpisah denganku kau menjadi tuli?!" ucap Lina tertawa meledek.


"Diam! jangan tertawa!" teriak Reza menggema di seluruh ruangan kamar.


"Aku tidak akan mengampuni mu!" ucap Reza lalu meraup bibir Lina.


Seolah sudah tidak merasakannya lagi, Lina langsung terbuai oleh pagutan kasar itu, Lina membalasnya, merasakan kenikmatan yang selama ini sudah tidak di rasakan olehnya lagi


"Ahhh" desah Lina karena Reza menyentuh miliknya.


"Dasar jalan*! sekali jala*g tetap akan menjadi jala*g!" ucap Reza melepaskan Lina dan mendorongnya sehingga tertidur di kasurnya.


Reza langsung keluar kamar Lina, dengan merasakan kesal pada Lina, sang mantan (terindah) ehh.


Lina hanya mengulas senyum seakan dirinya ingin lebih lagi dari Reza, waktu dulu, Lina selalu merasakan kenikmatan dari belaian Reza namun setelah terakhir kalinya di hotel, Reza malah memutuskan hubungan dengannya.


Pagi hari pun tiba, Riri merasa tubuhnya berat, seakan ada orang yang memeluknya.


"Kak Reza" gumam Riri tersenyum.


"Pantas saja sangat berat" cibir Riri.


"Selamat pagi! pagi pagi sudah mengomel" sapa Reza meledek


"Kak! kau sudah bangun?" tanya Riri kaget.


"Sudah, saat kau mengomel"


"Kak!!!!"


"Sudahlah, ayok mandi dan sarapan" ucap Reza pada Riri, Riri mengangguk dan tersenyum.


Semua orang sudah berada di meja makan untuk sarapan.


"Selamat pagi sayang, bagaimana keadaan mu?" tanya Hana menyapa Riri.


"Selamat pagi bunda, aku baik"


"Syukur lah kalau baik baik saja, ayok sarapan"


"Iya bunda"


"Tidak, lagi pula semuanya sudah beres oleh sekretaris ku grandfha" jawab Reza.


"Oh, bukankah kau harus bertemu klien di negara tirai bambu lagi?" tanya Farrel lagi.


"Dari mana grandfha tahu?" tanya Reza heran.


"Aku menanyakannya pada asistenmu" jawab Farrel.


"Ohhh, tidak usah di pikirkan, aku ingin menemani Riri sampai dia sembuh" ucap Reza, Farrel pun mengangguk mengerti, susah membuat Reza pergi dari mansion nya ini.


"Tirai bambu?" tanya Riri aneh.


"China sayang" ucap Reza, Riri pun hanya ber-oh saja.


"Oh ya, tuan Aryan, kau terus bekerja di sini kenapa tidak kembali ke negara asalmu?" tanya Reza menyindir.


"Saya..."


"Kakak, bukankah dia tamu di sini? kenapa seolah kau mengusirnya?" tegur Riri pada Reza.


"Tidak, saya memang ada sedikit urusan di sini dan urusan dengan tuan Ryn" jawab Aryan, Reza hanya mendengus kesal atas jawaban Aryan yang menggunakan nama kakeknya itu.


"Bukankah urusan nya sudah selesai?" tanya Reza lagi.


"Reza! makanlah sarapan mu!" ucap Farrel kesal.


__--__--__--__--__--__--


"Alena! jawab mommy!" teriak Gista pada Alena putrinya.


"Mommy, a..aku a...ku tidak tahu" ucap Alena menangis.


"Siapa ayah dari bayi itu?! berapa bulan umurnya sekarang?!" tanya Gista lagi.


"Mommy! jangan beritahu Daddy! aku mohon!" pinta Alena.


"Kau menyuruh mommy untuk menyembunyikan nya?! sampai kapan Alena? sampai kapan?" ucap Gista mengguncang tubuh Alena.


"Mommy, aaaa...aku aku akan menemuinya, aku berjanji, tapi jangan beritahu Daddy, mommy!" ucap Alena.


"Sampai kapan? bagaimana jika dia tidak mau bertanggung jawab?! kau hanya akan mempermalukan keluarga kita Alena!" teriak Gista.


"Mommy, ada apa ini? apa yang kalian bicarakan?" tanya Rian yang berada di balik pintu.


"Rian"


"Kakak" lirih mereka berdua kaget melihat Rian berada di sana.


"Apa? apa yang kalian sembunyikan?!" tanya Rian menaikkan nada bicaranya.


"Kakak, aku..."


"Jawab aku!" teriak Rian.


"Kak, a..aku aku tidak tahu, aku salah kak, aku mohon maafkan aku" ucap Alena bersujud di hadapan Rian.


"Mommy, kapan mommy tahu hal ini?" tanya Rian pada Gista.


"Rian, mommy..."


"Jawab Rian mom!" ucap Rian pelan namun penuh penekanan.


"Daddy tahu tentang ini? apa pikiranku benar tentang hal ini?" tanya Rian masih menyangkal.


"Mommy tidak tahu Rian, Alena dia" ucap Gista terpotong karena tak tahan untuk mengatakannya.


"Kenapa aku baru tahu?" tanya Rian marah.


"Kakak, maafkan aku! aku mohon jangan beritahu Daddy" ucap Alena memohon.


"Tidak! Daddy harus tahu hal ini! jika tidak maka Daddy akan semakin marah padamu Alena!" ucap Rian menggeleng.


Rian mengambil ponselnya dari saku celana, menekan nomor Daddy nya, untuk memberitahu semua yang terjadi.


Setelah menelpon Dian, Dian langsung pulang dan masuk kedalam mansion nya.


Di dalam ruangan, mereka berempat sedang duduk untuk menyelesaikan masalahnya.


"Kapan ini semua terjadi?"


"Kau mengetahuinya kapak istriku?" tanya Dian pada Gista.


"Suamiku aku..." ucapan Gista terhenti karena Dian mengangkat tangannya.


"Alena, Daddy bertanya padamu? apa yang terjadi?" tanya Dian pada Alena.


"APA YANG TERJADI!" bentak Dian membuat Alena dan semuanya terperanjat.


"Hiks Daddy, maafkan aku, aku hanya di jebak oleh temanku!" ujar Alena menangis.


"Bagaimana bisa? siapa temanmu itu! akan saya bunuh mereka!" tanya Dian lagi.


"Suamiku, aku mohon..."


"DIAM LAH!" sergah Dian.


"Daddy semuanya di luar kendali, aku melakukanya bukan karena keinginanku"


"Siapa laki laki itu?" tanya Dian lagi.


"Dia... dia Willem Iskander" jawab Alena.


"Siapa dia?" tanya Dian tak mengenal.