
Kini Reza kelimpungan, tidak bisa mencari Riri lagi, membuatnya khawatir, takut terjadi apa apa pada Riri.
"Bunda, jawab aku dimana Riri sekarang?" tanya Reza dengan berjalan mengarah kepada mereka yang sedang sarapan bersama.
"Bunda tidak tahu Reza! bunda bukan perangko yang terus dekat dengan Riri!" jawab Hana yang kesal karena dari kemarin malam Reza menanyakan Riri pada semua orang.
"Bunda jangan berbohong jangan menipuku, aku tahu kau menyembunyikan Riri, tidak mungkin jika Riri hilang kau tenang seperti itu" ucap Reza dengan mengambil pisau selai dari tangan Hana bundanya.
"Tenang saja Reza, sebentar lagi Riri akan pulang" tegas Hana pada Reza, meskipun mengatakan nya dengan santai.
"Bunda!" ucap Reza menahan emosinya agar tidak meluap.
"Viona telah datang ke sini!" sambungnya, ucapan Reza membuat Hana terperanjat, dan terdiam setelah ucapan Reza.
"Apaa?!" teriak Hana yang terkejut.
'Bagiamana bisa dia kembali ke sini, aku sudah melarangnya untuk ke sini jika masih sayang dengan nyawanya' batin Hana yang kesal viona datang kembali ke negara ini.
"Ya! aku mendengar hal itu dari mata mataku bunda, viona sudah datang dari seminggu yang lalu"
"Tapi bagaimana viona bisa datang?" tanya Arif.
"Bukankah kita sudah melarangnya untuk datang!" sambung Arif lagi.
"Tidak tahu ayah, karena itulah aku khawatir pada Riri, Riri lah yang menjadi sasaran viona" ucap Reza dengan menahan amarahnya.
"Reza telpon Riri, tidak mungkin dia mematikan hp nya dari semalam!" perintah Arif, Reza pun langsung menelponnya.
'Telepon yang anda hubungi sedang tidak aktif'
"Tidak tersambung ayah" ucap Reza dengan helaan nafas yang kasar.
"Hana kau pasti tahu kan Riri dimana, cepat katakan sekarang, Riri tidak boleh keluar jika ular itu masih ada!" ucap Arif pada istrinya.
Risma dan Wisnu hanya terdiam, mereka tidak tahu harus apa yang pasti mereka terus berdoa agar Riri dan Rara semuanya baik baik saja, dia tidak mau terjadi apa apa pada kedua cucunya itu.
"Suamiku-"
"Jangan membantah Hana!" sela Arif yang kini semakin kesal pada istrinya, kenapa dirinya tidak pernah mengerti sama sekali.
"Baiklah, aku akan menelpon Rara dulu!" ucap Hana dengan kesalnya, setelah mengklik nomor Rara, panggilan pun terjawab.
"Rara dimana sekarang?" tanya Hana dengan terburu buru.
"Sedang di hotel bunda, ada apa? kami sedang sarapan!" jawab Rara dan bertanya pada bundanya, karena aneh harusnya bundanya membiarkan dia untuk berduaan dengan suaminya.
"Rara tolong telpon bos mu Aryan, suruh mengantarkan Riri sekarang!" perintah Hana pada putrinya itu membuat rara bingung ada apa dengan bundanya, kenapa bisa tahu jika Riri sedang bersama pak Aryan, batin Rara.
"Cepatlah Rara telepon, dan langsung katakan jika kami mengkhawatirkan dirinya" ucap Hana lalu mematikan teleponnya sepihak.
Di kamar hotel, Alex bingung karena menatap istrinya kini sedang terheran heran.
"Ada apa sayang?" tanya Alex mendekat pada Rara dengan menyentuh pundaknya.
"Bunda menelponku sayang"
"Memangnya ada apa? kenapa bunda menelponmu?" tanya Alex yang kini khawatir dengan istrinya itu.
"Bunda menelpon ku menyuruh Aryan untuk segera di antarkan ke rumahnya, Riri sedang bersama Aryan" jawab Rara dengan menatap Alex.
"Lalu apa masalah nya?"
"Kak Reza kan masih menyembunyikan Riri sayang"
"Ohhh, baiklah biar aku saja yang menelpon Aryan" ucap Alex, lalu menelpon Aryan.
Telepon berdering lama seperti tak ada yang menjawab nya.
"Ada apa Aryan?" tanya Riri yang bingung.
"Alex menelponku sayang! dia menggangu waktu kita" jawab Aryan dengan nada kesalnya.
"Angkat saja, takut penting sayang"
"Tidak mau Cherry, aku ingin kau disini bersamaku terus" rengek Aryan memeluk Riri.
"Baiklah, biar aku saja yang angkat" ucap Riri lalu mengambil handphone Aryan, namun sebelum mengangkat nya, Aryan mengambilnya lagi.
"Biar aku angkat" ucap Aryan lalu mengangkat telponnya.
"Ck, dasar kau Aryan lama sekali mengangkat telpon ku!" protes Alex yang kesal karena Aryan mengangkat telpon lama.
"Sudahlah tidak penting, dimana Riri sekarang?" tanya Alex tak mau meladeni Aryan yang seperti kekanak kanakan.
"Diaaaaa.... sedang berada dalam pelukanku sekarang Alex" jawab Aryan agar Alex cemburu.
"Mau peluk mau di kamar mandi, di kasur itu bukan lah urusanku Aryan"
"Cepat antar Riri ke rumah, dan jangan sampai lecet sedikitpun, kau mengerti" sambung Alex lagi.
"Siapa kau Alex memerintahkan ku, itu tidak akan berguna!"
"Sial kau Aryan, cepat bawa Riri ke rumah nya, jangan membuat orang tuanya khawatir!" klik Alex pun mematikannya, karena jika terus meladeninya, maka tak akan pernah beres.
"Ada apa sayang? kak Alex berbicara apa?" tanya Riri yang memang tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Hanya menyuruhku untuk mengantarmu pulang"
"Sedangkan aku tidak mau, aku ingin terus bersamamu" sambungnya lagi, Aryan pun masih memeluk Riri kian semakin erat.
"Tapi kenapa mereka menelponmu, kenapa tidak meneleponku" ujar Riri dengan bingung.
"Ohhh, ya ampun aku mematikannya saat kesini" sambung Riri yang baru tersadar bahwa dia lah yang mematikan teleponnya waktu itu.
"Sudahlah, jangan pikirkan, tetap disini cherry" pinta Aryan dengan wajah memelas.
"Baiklah, tapi setelah sore aku akan pulang" timpal Riri.
"Tidak bisa kah besok saja cherry, aku tidak mau Alex mengambilmu lagi" protes Aryan.
"Selamanya kak Alex tidak akan pernah menyentuhku Aryan, aku mohon ya cutty pie ku" ujar Riri lalu mengecup bibir Aryan sekilas.
"Baiklah kalau begitu, kau berjanji tidak akan pernah berdekatan dengan Alex!" ujar Aryan yang ragu dengan Riri.
"Aku janji sayang, hatiku hanya untukmu" jawab Riri, Aryan yang merasa kan aneh pun hanya bisa membuang jauh jauh perasaan yang mengatakan bahwa di dekapannya itu bukanlah Rara, tapi orang lain.
"Aku mencintaimu Cherry" ujar Aryan mencium rambut Riri.
Mereka pun kembali untuk tidur, merasa Riri masih mengantuk, akhirnya Aryan pun ikut tertidur dengannya lagi.
"Rara, kau sudah mengatakannya?" tanya Hana pada Rara, kini setelah mendapat telpon dari bundanya, Rara dan Alex langsung pulang ke rumahnya, karena terdengar khawatir sekali.
"Sudah bunda, tapi mungkin mereka terjebak macet" jawab Rara dengan menepuk pundak bundanya.
"Tapi tidak mungkin jika sampai sekarang belum datang" ujar Arif yang sama hal nya khawatir.
Kini Reza sedang berada di hotel bekas acara pernikahan nya Rara dan Alex, Reza melacak nomor Aryan yang untung saja masih aktif dan terlacak.
Reza menggedor gedor pintu kamar hotel yang di tinggali Aryan dan Riri, karena merasa berisik akhirnya Aryan membuka pintu kamarnya itu.
"Siapa kau?" tanya Aryan setelah membuka pintu kamarnya, Reza tak mengindahkan pertanyaan Aryan, lalu masuk begitu saja, mencari Riri.
"Riri kau tidak apa apa sayang?" tanya Reza yang khawatir.
"Kak, aku baik baik saja, ada apa?" tanya Riri yang khawatir.
"Oh Riri, kenapa kau tidak mengatakan bahwa kesini" ucap Reza, lalu tanpa aba aba Reza pun mencium bibir Riri, Riri yang tak pernah mengelak pun hanya membalasnya, karena dia tahu kakaknya sedang merilekskan pikiran nya.
Aryan yang melihat itu pun sontak kaget dan menarik Reza untuk tidak berciuman dengan Riri.
"Berani sekali kau mencium kekasihku" bugh, Aryan terus memukul Reza, Reza pun membalas perlakuan Aryan, hingga membuat Aryan tersungkur.
"Kak Reza!" bugh! Reza terus memukul Aryan dan sontak Aryan terus memukul Reza lagi.
"Kak Reza, jangan pukul dia lagi!" teriak Riri dengan memeluk Reza.
"Riri, ayok kita pulang, berbahaya jika kau tetap berada di luar" ajak Reza menarik Riri, sedangkan Aryan yang kini sedang duduk di lantai karena tak kuat untuk berdiri, hanya marah dan kesal melihat hal itu.
"Cherry!!!!!" teriak Aryan menggema di kamar hotel itu, sedangkan Riri yang mendengarnya hanya mengikuti kakaknya untuk pulang.
"Riri ayok masuk ke mobilmu!" ucap Reza menyadarkan Riri.
"Iya kak"
Selama perjalanan, Riri dan Reza hanya terdiam, tak ada yang berbicara sedikitpun, hanya suara dari luar dan mobil lah yang terdengar
"Maaf kak aku-"
"Diamlah Riri, jangan berbicara!" sela Reza dengan nada dinginnya itu.
"Maaf"