Love You My Wife

Love You My Wife
Sarapan Bersama



Tuttt.. Tuttt... Telpon terus berdering namun tak ada jawaban sama sekali, Aryan yang sedang tertidur pun langsung bangun dengan lemas namun saat melihat nama yang tertera di layar handphone dirinya seakan menjadi semangat lagi.


"Hallo Riri" ucap Aryan dengan cepat saat sudah mengangkat telponnya.


"Hallo juga, emmm itu" ucap Riri menggantung.


"Ada apa sayang? oh ya bagaimana keadaanmu?" tanya Aryan dengan tersenyum.


"Aku baik, Aryan aku... sebenarnya aku ingin memberitahu sesuatu.."


"Apa sayang? katakan saja jangan ragu ragu"


"Besok aku akan ke negara L bersama grandfha!" ucap Riri dengan terbata bata.


"A-apa?! kenapa mendadak sekali?!" teriak Aryan yang kaget saat Riri mengatakan hal itu.


"I..iya, tapi Aryan kakek sudah mengatakan hal ini sejak tadi pagi, jadi aku yang tidak cepat memberitahu mu!"


"Tapi apa kau setuju Cherry? untuk ke negara itu?" tanya Aryan dengan sedikit kecewa.


"Iya Aryan, aku tidak bisa membantah nya! terlebih grandfha yang menyuruh!" ucap Riri dengan memelas.


"Tapi kapan kau akan kembali lagi?"


"Tidak tahu, yang pasti grandfha akan mengantarku jika sudah selesai masalahnya" jawab Riri.


"Memangnya masalah apa?"


"Aku tidak tahu, hanya beberapa saja yang di katakan mereka padaku!"


"Huhffttt yasudah lah, boleh aku.... aku mengantarmu besok, kapan berangkatnya?"


"Mungkin saja besok pagi pagi"


"Baiklah aku besok akan mengantarmu juga bolehkan?"


"Tentu saja, tidak ada yang melarangmu!"


"Baiklah, terima kasih sayang"


"Tidak perlu berterima kasih!"


"Cherry kau akan tidur atau masih ingin berteleponan?"


'Pertanyaan apa itu?! sungguh menyebalkan!' batin Riri kesal saat mendapat pertanyaan itu.


"Aku tidur saja, sudah malam juga" ucap Riri dengan berat hati nya.


"Baiklah kalau begitu selamat malam sayang, aku mencintaimu" ujar Aryan dengan memberi kecupan pada handphone nya seolah itu pada Riri.


"Aku juga mencintaimu" balas Riri dengan sedikit cemberut memanyunkan bibirnya itu.


"Baiklah aku yang tutup atau kau yang tutup?"


"Terserah kau saja cutty!" jawab Riri dengan kecewa.


"Baiklah, kalau begitu aku akan matikan, selamat malam sayang" pamit Aryan dan mematikan handphone.


Riri pun langsung loncat ke arah kasur dan bertelengkup.


"Dasar!!! tidak peka!!!!" teriak Riri dengan menutup mulutnya dengan bantal supaya tidak terdengar jelas.


"Dasar! kenapa aku mencintai orang yang tidak peka!!"


"Arrgghhh dasar-dasar tidak peka!" gerutu Riri dengan terus menerus, Riri pun akhirnya lelah karena terus berteriak dan langsung tertidur karena kelelahan.


Pagi hari pun telah tiba, Riri kini sedang mandi lalu berganti pakaian, setelah semuanya beres Riri pun melangkah keluar pintu kamar untuk sarapan bersama keluarga.


"Selamat pagi" sapa Riri lalu mencium mereka semua.


"Selamat pagi sayang" jawab mereka satu persatu.


"Ehh, kak Alex ada di sini?" tanya Riri yang terkejut melihat Alexander.


"Tentu saja, kakakmu ini tidak mungkin melewatkan untuk mengantar adik ipar" jawab Alex dengan sedikit tertawa.


"Hihihi, kak Alex bisa saja"


"Riri, apa semuanya sudah siap?" tanya grandfha Farel.


"Tentu sudah grandfha, semuanya sudah siap" jawab Riri dengan tersenyum.


"Bagus sayang, setelah sarapan kita akan langsung berangkat, bisa kan?"


"Tentu bisa grandfha" jawab Riri dengan mengangguk.


Sang pelayan rumah menghadap kakek Wisnu dan semua orang.


"Tuan, ada yang bertamu di luar" ucap sang pelayan itu dengan menunduk.


"Benarkah? siapa?" tanya Risma pada pelayan itu.


"Saya tidak mengenalnya nyonya"


"Mungkin saja Aryan kakek, dia mengatakan akan ikut mengantarku sampai ke bandara" ujar Riri, semua orang pun menatap nya, terlebih tatapan Reza yang sangat tidak bersahabat itu kesal saat Riri mengatakan nama Aryan.


"Kau memberitahunya?" tanya Reza dengan mengangkat alis sebelah.


"I..iya kak, apa tidak boleh?" jawab Riri dan bertanya dengan gugup.


"Tentu tidak apa apa sayang, lagi pula kau kekasihnya kan!" jawab Risma dengan buru buru, Riri pun tersenyum pada Risma.


"Pelayan, antar tamu itu ke sini, agar sekalian ikut sarapan bersama" titah Wisnu dan langsung di angguki oleh sang pelayan.


Pelayan pun menghampiri Aryan yang di sebut tamu itu, Aryan langsung mengikuti pelayan itu untuk ke ruang meja makan yang memang beda dengan ruang tamu.


Pelayan pun telah sampai, dan memberitahu Risma bahwa tamu nya sudah datang, mereka melihat Aryan secara bersamaan hanya Riri yang menatapnya dengan tersenyum merekah.


"Selamat pagi tuan nyonya Maxwell" sapa Aryan dengan membungkukkan badannya.


"Selamat pagi juga, duduk lah tuan Mahesya di sebelah Riri" ucap Wisnu mempersilahkan Aryan untuk duduk.


Mendengar hal itu, Reza langsung pindah tempat di sebelah Riri dan langsung menggandengnya, semua orang hanya bernafas kasar saat melihat tingkah Reza seperti kekanakan.


Sedangkan Aryan yang baru akan melangkah hanya menatap cengo saat Reza duduk di sebelah Riri.


Wisnu hanya memijat pelipis nya saja "Maaf tuan Mahesya, cucuku sedikit kekanakan, duduklah di sebelah Rara" kata Wisnu, Aryan pun segera memutar badan dan duduk di sebelah kursi Rara.


"Selamat pagi pak Aryan" sapa Rara pada Aryan, Aryan hanya membalas deheman dan anggukan saja, membuat Rara sedikit tidak enak dan malu.


"Pelayan siapkan untuk tuan Mahesya!" ucap Risma dan di angguki oleh pelayan.


"Tidak nyonya Maxwell, saya sudah sarapan di mansion, jadi tidak perlu" sergah Aryan.


"Tidak, jangan malu malu, anda kekasih Riri tentu harus memperlakukan anda dengan baik kan" balas Wisnu, mau tak mau Aryan pun hanya menurutinya dan mengangguk.


"Sayang buka mulutmu" ujar Reza pada Riri, karena sejak tadi tangan kanan Riri sudah di pegang oleh Reza sehingga tak bisa makan apa pun.


Aryan yang melihat itu pun langsung mengepalkan tangannya kesal karena Reza menyuapi Riri.


"Apa enak sayang?" tanya Reza, dengan canggung Riri pun mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Reza, makan lah makanan mu, Riri bisa makan sendiri!" tegur Farel kini membuka mulutnya.


"Grandfha! Riri sebentar lagi akan pergi, kenapa harus melarang ku untuk menyuapinya?" ujar Reza dengan kesal.


"Tidak sopan karena di sini ada kekasih Riri Reza!"


"Baiklah baiklah"


"Riri kau bisa makan?" tanya Reza dengan melihat Riri, Riri yang sudah tahu Reza menjahilinya pun hanya bernafas halus.


'Tentu tidak kak! aku ingin mencakar mu rasanya, bagaimana bisa aku makan jika tanganku kau pegang terus?!' batin Riri bergerutu.


"Kau suapi saja kak, aku tidak keberatan" jawaban Riri membuat bola mata Aryan seakan keluar, entah apa yang di pikirkan Aryan kini.


"Oh Riri, kau menguji kesabaranku ya" gumam Aryan dengan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


Reza pun senang karena jawaban Riri, dia pun mulai menyuapi Riri terus menerus, sampai akhirnya Riri kenyang dan minta untuk berhenti menyuapinya.


"Aku sudah kenyang kak" ucap Riri dengan mendorong tangan Reza.


"Apa? kau hanya memakan sedikit sayang! kapan kau akan gemuk jika makanannya sedikit?" ucap Reza dengan memelas.


"Tapi aku sudah kenyang kak!!!" rengek Riri pada Reza.


"Hmmm baiklah tuan putri tersayang" ucap Reza dan mengelus rambut Riri.


"Ayah sudah selesai" ucap Wisnu pada semua orang.


"Aku juga sudah ayah" timpal Hana.


Semua orang pun sudah selesai sarapan, Aryan pun tentu berhenti dan juga langsung berdiri ketika semua orang berdiri, saat itulah mereka langsung meninggalkan meja makan.


Aryan menghampiri Riri yang terus di gandeng pundak oleh Reza.


"Selamat pagi sayang" sapa Aryan tanpa menghiraukan Reza.


Reza pun hanya memutar bola matanya dengan malas karena kesal Aryan menghampirinya.


"Selamat pagi cutty" balas Riri.


"Riri! apa itu cutty?' tanya Reza dengan menangkup wajah Riri untuk menatapnya.


"Ah? oh itu panggilan untuk Aryan kak!" jawab Riri dengan tersenyum.


"Panggilan, kesayangan?" tanya Reza dengan mengerutkan keningnya, Riri pun dengan polos mengangguk.


"Riri! kau memberinya nama panggilan! sedangkan aku tidak!" tegur Reza dengan sedikit berteriak.


"Ehh? kakak mau aku memanggil kakak dengan sebuatan kesayangan?" tanya Riri, Reza pun mengangguk.


"Aku tidak tahu, bukankah sejak dulu aku sudah memanggilmu kesayangan?" tanya Riri dengan mengetuk dagunya.


"Kapan?"


"Oh ya aku ingat, aku selalu memanggilmu kak iza!" ucap Riri dengan berteriak senang.


"Sudah Riri, ayok kita pergi dari sini" ajak Aryan dengan memegang tangan Riri.


"Ehhh kau mau membawanya kemana?" tanya Reza pada Aryan.


"Pergi dari ruang makan!"


"Oh, aku ikut, ayok Riri!" ucap Reza lalu memegang pundaknya Riri, sedangkan Aryan hanya melongos kesal melihat Reza seperti itu, sedangkan dirinya yang berstatus kekasih tidak menggandeng nya.


(-)(-)(-)(-)(-)


Saya up nya jarang ya gais, karena saya mau nyelesain cerita 'Tikak Akan Berhenti Mencintaimu' dulu.


Jangan lupa Like komen dan sekalian vote nya ya guys