
Farrel pun berjalan keluar untuk menemui siapa orang yang ingin menemuinya, Farrel memang selalu berjaga jaga, takut jika musuh masuk tanpa dia ketahui, karena itulah Aryan menunggu di pintu gerbang yang lumayan jauh.
"Pak Aryan, anda di sini?" sapa Farel dan bertanya.
"Tuan Ryn, selamat siang" Sapa Aryan dengan membungkuk dan berdiri tegap kembali.
"Ah iya, ayok silahkan masuk" Aryan pun mengemudikan mobilnya lagi karena jika berjalan membutuhkan beberapa menit lagi.
"Ada apa anda datang ke sini?" Tanya Farel tetap formal pada Aryan.
"Saya di sini untuk mencari Riri, tuan. Jika anda mengizinkannya maka saya akan senang hati" jawab Aryan menyentuh dadanya sendiri hormat.
"Kau tahu dari mana Riri di culik?" tanya Farel bingung.
"Kebetulan sekali saya sedang Vidio call bersama Riri dan melihat Riri di kejar oleh orang orang, namun saya sangat khawatir karena Riri tidak menjawab panggilan saya" ucap Aryan dan di angguki Farel.
"Lalu... apa kau yang memberitahu Hana, bahwa Riri di culik?" tanya Farel mengintrogasi.
"Maafkan saya lancang, tapi saya benar benar kalut dan tidak tahu harus apa" jawab Aryan.
"Tidak apa apa, aku sangat mengerti kau kekasihnya tentu pasti khawatir, lalu dari mana kau tahu alamat mansion ku?"
"Dari seker, maaf, maksud saya dari Rara adik sepupu saya"
Pelayan datang dengan beberapa cemilan dan minuman hangat untuk Aryan, Farel mempersilahkan Aryan untuk meminum teh hangat itu dan makan cemilan yang sudah tersedia di meja makan.
"Tidak tuan, aku ke sini hanya ingin mencari Riri saja" tolak Aryan menggelengkan kepalanya.
"Tenang saja, Riri bisa kita temukan secepatnya" jawab Farel, Aryan pun kalah saing oleh Farel, dan meminum teh hangat itu.
Setelah satu minggu Aryan berada di negara L, dirinya belum memiliki petunjuk di mana Riri berada sekarang, dirinya sangat khawatir jika kekasihnya itu kenapa kenapa.
__--__--__--__--__--__--
"Hallo, Darren!" Ucap Willem di telpon genggamnya.
"Ada apa?" tanya Darren.
"Riri sedang di sekap Darren, kau harus cepat menyelamatkan nya sekarang juga" jawab Willem dengan panik.
"Apa?! siapa yang melakukannya?" tanya Darren.
"Aku tidak tahu, aku akan mengirimkan lokasinya, cepat kesini dan selamatkan Riri" Ucap Willem cepat dan langsung mematikan handphone.
Darren langsung bersiap untuk ke lokasi tersebut, cukup jauh karena lokasinya berada di sebuah pantai dan terdapat beberapa villa.
Setelah dua jam lebih, Darren akhirnya sampai di tempat villa itu.
Telpon berdering karena terdapat pesan, Willem menyuruh Darren untuk segera mencari Riri di sebuah ruangan gelap, dan bodohnya Darren tidak membawa bodyguard sama sekali.
"Riri! dimana kau?!" teriak Darren di ruangan yang gelap itu.
"To...tolong" lirih Riri karena sudah tak kuat berteriak.
"Riri! apa yang terjadi denganmu?" tanya Darren panik melihat Riri lemah di kursi.
"Riri, akhirnya aku menemui mu" ucap Darren memeluk Riri.
BUGH!
Seseorang menendang Darren hingga tersungkur dan jatuh melepaskan pelukannya dari Riri, Darren yang mendapatkan serangan tiba tiba itu langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Willem yang berada tak jauh darinya sedang berdiri dan memeluk Riri sekarang.
"Riri kau tidak apa sayang?" tanya Willem lembut.
"Willem!!! apa apaan ini?!" teriak Darren dan berusaha untuk berdiri, namun saat akan berdiri, Willem langsung meninju wajah Darren kuat.
"Dasar pria bia*ab kau Darren! menculik Riri dariku!" teriak Willem pada Darren.
Darren hanya menatap Willem kesal karena dia baru sadar jika dirinya hanya di jadikan kambing hitam saja.
"Siapa yang menjebak mu Darren?! kau lah yang menjebak ku! jangan memutar balikkan fakta!" ucap Willem tanpa merasa bersalah.
"WILLEM!!! Kau membuatku kesal, rasakan ini!" teriak Darren dan langsung meninju perut Willem, beberapa orang langsung berkerumun dan memegang tangan Darren agar tidak memukul bos nya lagi.
"Siapa kau?!" teriak Darren.
"WILLEM! Kau akan mendapatkan balasannya dari pengkhianatan atas mu padaku!"
"Cepat bawa pergi manusia yang telah menculik Riri ku ini, bawa dia dan buang dia langsung!"titah Willem pada bodyguard nya, para penjaga hanya mengangguk dan menyeret Darren paksa karena dari tadi terus meronta ronta.
"Riri kau tidak apa apa?" tanya Willem, namun Riri hanya diam saja tak menyahuti perkataan Willem.
"Ayok kita pergi dari sini" ajak Willem dan membantu diri berjalan.
Willem pun langsung memasuki kawasan perumahan elit yang terdapat rumah keluarga William Henry.
Gerbang langsung terbuka lebar dan mobil Willem memasuki rumah itu.
Willem menggendong Riri yang lemah tak berdaya, entah apa yang terjadi Willem pun tidak tahu, karena selama seminggu dirinya harus menuruti perkataan daddynya sebelum menemui Riri.
Willem memasuki kamar yang sudah di siapkan untuk Riri, ini semua telah di siapkan oleh Willem hanya untuk Riri.
Willem terus berusaha mengajak Riri untuk berbicara, namun tak sedikitpun Riri berbicara, sampai akhirnya Willem memanggil dokter untuk memeriksa Riri.
"Tuan, nona muda sepertinya merasa terguncang, dirinya merasa tertekan seperti mempunyai trauma" ucap dokter
"Apa nona muda pernah mengalami trauma mengerikan?" tanya sang dokter pada Willem.
"Saya tidak tahu, tapi apa bisa di sembuhkan?" tanya Willem.
"Tentu bisa, sebisa mungkin jangan membuatnya sendiri, karena penyakit ini bisa saja berhalusinasi, seperti bisikan mengerikan sampai membuat para pasien meninggal karena sebab itu" Ucap sang dokter
"Tentu saja dokter, terima kasih karena sudah memeriksa Riri" Ucap Willem pada dokter itu, Willem mengantarkan dokter sampai ke depan pintu kamar.
__--__--__--__--
Di negara L, semua keluarga sedang kelimpungan karena masih belum menemukan Riri sama sekali, Hana pun berusaha untuk menelpon Reza namun tetap saja seperti biasa Reza sangat susah untuk di hubungi.
"Bagaimana ini Daddy? Riri masih belum bisa di temukan!" ucap Hana mengusap wajahnya sedih.
"Maafkan aku Nana, tidak menjaga Alice dengan baik" Ucap Calista pada Hana.
"Tidak ada gunanya untuk meminta maaf kak! sudah dua kali kalian keteledoran! aku sudah melarang Riri untuk ke sini! tapi Daddy malah memaksa diriku untuk setuju!" ujar Hana kesal menatap Calista dan Farrel.
"Maafkan Daddy nak, sungguh jika Daddy tahu, maka mungkin saja daddy tidak akan membiarkan Alice di culik" balas Farrel.
"Sudahlah sayang, jangan memarahi Daddy, ini semua bukan kesalahan mereka, mereka hanya ingin yang terbaik untuk Riri" ucap Arif mengelus punggung Hana.
"Suamiku!!! aku ibunya! tentu aku akan khawatir jika putriku menghilang sudah lama" ujar Hana memeluk suaminya itu.
"Sudah sudah, kita pasti bisa menemukan Riri secepatnya, berdoalah agar Riri bisa ketemu sekarang juga" ucap Arif menciumi kening istrinya itu.
__--__--__--__--__--
Setelah beberapa hari, Farrel langsung menyuruh orang kepercayaannya untuk menyusul Reza ke negara A, namun Reza tidak berada di sana, namun sedang menemui klien di negara tirai bambu itu.
"Tuan, ada yang ingin menemui anda" bisik asisten Reza pada Reza.
"Kau tidak lihat aku sedang apa?!" tanya Reza kesal dengan menunjuk pada dokumen yang belum di tandatangani karena masih merencanakan kontrak kerjasama.
"Maaf tuan" ucap asisten.
"Sudahlah, cepat datangi orang itu dan katakan nanti saja aku menemuinya" titah Reza dan di angguki oleh sang asisten.
"Maafkan saya tuan, tuan Reza sedang tidak bisa di temui sekarang, beliau menyampaikan pesan untuk nanti saja setelah selesai bertemu dengan klien" ucap asisten pada asisten Farrel yang bernama Hendrik.
"Katakan padanya ini masalah penting, katakan juga ini masalah adiknya" ucap Hendrik dengan tegas, asisten itu pun langsung mengangguk dan masuk ke dalam lagi.