
Asisten Reza mendekat pada Reza, dirinya menundukkan badannya dan berbisik pada Reza
"Tuan, orang itu mengatakan ini sangat penting" bisiknya, Reza pun langsung menatap tajam pada asistennya yang tidak mengerti sama sekali.
"I..ini masalah adik anda tuan" lanjutnya terbata bata.
Reza yang terkejut langsung berdiri dan menatap lagi pada asistennya
"Siapa yang memberitahumu?!" tanya Reza dengan sedikit membentak, orang yang sedang meeting itu pun hanya menatap heran pada Reza.
"Di ..dia... asisten kepercayaan tuan besar, tuan" Reza langsung menutup dokumen yang sedang dia periksa, Reza melihat ke arah kliennya, dan langsung meminta maaf untuk melanjutkan pertemuan ini dengan asistennya saja.
Reza langsung keluar dari ruangan meeting itu, melihat asisten kepercayaan grandfha nya itu secara langsung datang hanya untuk menemui dirinya saja, Hendrik langsung menunduk pada Reza.
"Tuan kecil, selamat siang, maaf menggangu pekerjaan anda" ucap Hendrik dan menunduk lagi.
"Tidak usah banyak bicara! ada apa sampai kalian mendatangiku?!" ucap Reza tegas.
"Ini menyangkut nona kecil, tuan, nona di culik dan sudah seminggu lebih, masih belum di temukan" ucap Hendrik tanpa basa basi.
"Apa?! bagaimana bisa ini terjadi?!" teriak Reza bertanya.
"Sebaiknya tuan pulang sekarang, biar nanti tuan besar yang menjelaskannya"
Reza pun seperti berpikir dan langsung mengiyakan, mereka langsung pergi dengan pesawat pribadi karena jika tidak mungkin saja akan sangat terlambat menunggu pesawat umum.
__--__--__--__--__--__--
"Riri, sayang makanlah, apa kau tidak mau bermain denganku?" bujuk Willem pada Riri, Riri menatap ke arah Willem tidak bergeming sama sekali hanya menatap seolah ingin tahu siapa yang terus berada di sisinya.
"Siapa kau? aku tidak mengenalmu!" tanya Riri membuka mulut.
"Hahaha, akhirnya kau bicara sayang, aku adalah Willem suamimu" jawab Willem berbohong.
"Benarkah? kapan aku menikah? aku tidak ingat sama sekali" ucap Riri menatap ke bawah bingung.
"Tidak apa apa jika tidak ingat, jika kau mau kita bisa menikah lagi" ujar Willem dan memeluk Riri erat.
"Aku ingin pergi, dimana bunda? kenapa dia tidak ada?" tanya Riri melantur seperti anak kecil.
"Kita sudah menikah, tidak mungkin bunda mu ikut ke sini kan?" tanya Willem dan di angguki oleh Riri.
"Makanlah dulu ya, setelah itu minum obatnya agar tidak merasa pusing lagi" bujuk Willem, Riri pun langsung mengangguk dengan senang Willem menyuapi Riri.
Setelah mengatakan bahwa Willem adalah suami Riri, Willem merencanakan untuk menikah dengan Riri dan Riri akan menjadi miliknya seutuhnya.
__--__--__--__--__--__--
Suasana seperti es dingin yang di panaskan, di dalam mansion Ryn, mereka semua telah berkumpul di ruangan keluarga.
Reza terus melihat ke arah handphone dan terus mendengar perkataan dari orang orang.
"Lalu apa Riri tidak bisa di temukan? kenapa bodyguard grandfha sangat tidak berguna?!" ucap Reza langsung karena merasa kesal.
"Reza, kau seperti ini, ada apa? kau pikir mudah untuk mencari Riri? mereka sudah menghapus semua jejaknya, bahkan cctv yang ada di sisi jalan saja di rusak oleh mereka!" ucap Harry pada Reza.
"Ckk, uncle! jika kita terus berada di sini maka akan sangat susah menemukan Riri!" ucap Reza lebih kesal.
"Reza! jangan tinggikan suaramu!" tegur Hana, Reza hanya mendesah kesal karena bundanya tidak membelanya sama sekali.
"Apa kau sudah menemukan petunjuknya?" tanya Farrel pada Reza
"Sudah grandfha, Riri sedang berada di kawasan perumahan elit, pemiliknya adalah William Henry, namun di alihkan menjadi Willem William Henry" ucap Reza.
"Benarkah Reza? lalu bagaimana dengan Riri sekarang? apa dia baik baik saja? apa dia sudah makan sekarang?" tanya Hana yang seketika menjadi panik lagi.
"Tenang lah bunda, aku rasa Willem akan menjaga Riri dengan baik" ucap Reza menenangkan bundanya.
"Tahu apa kau?"
"William adalah ayah dari Willem, Willem sama sepertimu mencintai Riri, Reza, kau, Leonard dan Willem mencintai wanita yang sama" ucap Farrel terkekeh di saat saat seperti ini.
"Hei grandfha! aku tidak mencintai Alice!" sangkal Leo yang malu karena ketahuan oleh grandfha nya.
"Tidak perlu berbohong"
"Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Farrel pada Reza.
"Aku akan merencanakan dulu grandfha, setelah itu kita lakukan dengan baik baik, jangan sampai musuh mengetahui kita bahwa kita sudah menemukan Riri" Jawab Reza masih melihat ke arah ponselnya.
"Tapi Reza, dari mana kau tahu Riri berada di mansion William?" tanya Hana dengan penasaran nya itu.
"Kalung dan cincin, di sana aku meletakkan GPS untuk bisa melacak keberadaan Riri" jawab Reza tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi cincin itu berada di pulau sekarang, lebih tepatnya di sebuah villa, aku rasa Riri di sekap di sana terlebih dahulu sebelum di bawa ke mansion William tua itu!" lanjut Reza sedikit meledek.
"Aku berharap Riri tidak melepaskan kalung itu" ucap Hana memohon.
"Ya aku harap, karena jika itu terjadi akan sangat sulit melacak keberadaan Riri"
"Selama beberapa bulan ini, kenapa kau mematikan handphone mu?" tanya Arif pada Reza
"Ayah, kau seperti tidak tahu aku saja! setiap hari aku selalu melakukan perjalanan bisnis, ke sana ke mari untuk membuat perusahaan grandfha menjadi terkenal dan berkembang menjadi nomor satu" jawab Reza menatap Arif.
Mereka semua mengangguk, namun tetap saja penjualan senjata ilegal itu lebih menguntungkan dari pada perusahaan, karena setiap bulan penjualan senjata itu sampai puluhan juta dollar.
Telepon berdering, terdengar suara itu dari Leo, Leonard langsung mengangkat telpon itu karena itu dari anak buahnya yang sedang melakukan perjualbelikan senjata.
"Hallo tuan" ucap seseorang di telepon sebrang sana
"Ada apa?"
"Tuan, polisi berada di depan kami sekarang, sedangkan mereka sedang melakukan pemeriksaan" ucapnya yang sama sekali merasa tidak khawatir
"Bagaimana ini bisa terjadi? dan bagaimana bisa sangat kebetulan?" tanya Leo bernada kesal.
"Lakukan saja yang aku bilang, suap mereka, jika tidak mau lakukan penyerangan saja jika mereka masih tidak mau menyerah dan pergi" titah Leo dan di iyakan oleh nya.
"Ada apa Leo?" tanya Farrel pada Leo.
"Tidak ada apa apa grandfha, hanya masalah kecil saja"
__--__--__--__--__--__--
Di sebuah butik gaun pernikahan, Willem dan Riri sedang memilih gaun untuk pernikahan mereka berdua, Riri pun hanya diam saja dan melihat gaun cantik yang indah, Riri menyentuh gaunnya, Willem yang peka langsung saja meminta gaun itu dan membelinya.
Setelah cukup lama di sebuah butik, Willem membawa Riri ke salon untuk mendandani pengantin wanitanya, di sebuah hotel sudah terdapat beberapa hiasan bunga untuk pelaminan, untuk pernikahan Willem dan Riri.
Ini semua di lakukan oleh Willem sendiri, dirinya tidak mau menunda pernikahannya dengan Riri lagi, sudah cukup dirinya menunggu Riri.
Namun dalam hati kecilnya, Willem memikirkan seorang gadis yang membuat dia terus mengenang semasa dirinya berada di negara J, namun saat Willem ingin menemui wanita itu, dia malah sudah pergi darinya.
Setelah berdandan, Riri langsung di bawa oleh Willem ke hotel, Willem juga sudah mengatakan pada Riri bahwa dirinya akan menikah dengan Riri, mengatakan bahwa ini adalah pernikahan keduanya bersama Riri lagi.
Di mansion, Reza yang uring uringan melihat ponselnya karena Riri yang sudah berada di butik lalu ke salon dan sekarang sedang berada di hotel, Reza telah menyiapkan untuk membawa Riri besok, namun Reza sudah tidak tahan lagi, lalu menyuruh pada penjaga untuk segera bersiap membawa semua senjata.
"Ada apa Reza?" tanya Hana yang melihat Reza kelimpungan menyiapkan semuanya
"Bunda jangan bertanya dulu, jika ingin ikut, ikuti saja aku, ayok" ucap Reza yang tidak mau menjawab pertanyaan bundanya.
Reza dan yang lain termasuk Aryan, mereka sudah berada di hotel, benar dugaan Reza jika Riri dan Willem sebentar lagi akan menikah.