
Setelah selesai Bram membawa Sisil ke dalam kamarnya di lantai atas dia segera mengunci kamar tersebut. Sisil masih saja menangis dia tidak meyangka bahwa Bram akan berbuat senekat ini.
Melihat Sisil menangis Bram pun segera memeluk tubuhnya sebenarnya Bram juga tega melihat air mata Sisil seperti ini tetapi dia juga tidak ingin Sisil pergi dari sisinya.
" Sisil kamu tahu aku dengan Lastri sudah berumah tangga hampir tujuh tahun kamu bayangin itu sudah lama banget, tapi sampai sekarang Lastri belum bisa memberikanku anak padahal aku juga ingin menantikan momen mengendong bayi"
" Kalo itu alasan mas ,mas bisa program bayi atau tidak mengasuh anak yang tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya di sana pasti banyak anak yang seperti itu tanpa harus menikahiku hingga menyakiti istri mas"
" Klo mas masalah progaram udah dari dulu mas coba sampai ke luar negeri tetapi sampai sekaran tidak ada hasilnya. Sebenarnya mas tidak masalah mengangkat anak tapi mas tidak bisa melakukan hal itu karena mami mas tidak mengizinkannya dia ingin cucu dari darah daging mas"
" Berarti mas hanya ingin anak kalo begitu kenapa mas tidak menyewa saja wanita di luar sana untuk bisa menghasilkan anak dengan memberi uang"
Sisil pun sudah sangat emosi hingga mengatakan hal seperti itu dia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang walaupun sebenarnya rasa cinta kepada Bram dari dulu sampai sekaran tidak pernah pudar.
Bram pun tidak meyangka Sisil akan berucap seperti itu .Bram pun merasa harga dirinya sebagai lelaki di injak - injak. Dia pun melepaskan pelukannya kepada Sisil terlihat sorot matanya mulai memerah tangannya pun mengeras. Andai Sisil laki -laki sudah dia pukul saat mengatakan itu. Bram pun memukul tembok yang berada di dekat Sisil. Dia tidak peduli dengan tangannya yang mengeluarkan darah.
" Mas maafin Sisil bukan maksud Sisil seperti itu mas bisa mencari wanita lain tapi bukan Sisil karena Sisil tidak bisa merusak rumah tangga orang lain
apalagi duri di rumah tangga mas"
"Asal kamu tahu Sisil aku tidak pernah ingin mempunyai hubungan dengan wanita seperti itu bahkan mami sudah banyak mengenalkanku pada wanita baik -baik untuk menjadi istriku tetapi aku menolaknya karena aku tidak ingin menyakiti perasaannya.Sisil cintaku padamu tidak pernah bisa pudar itu berbeda dengan rasaku pada Lastri aku dulu mengajak Lastri menikah karena rasa kecewaku padamu aku berfikir mungkin berjalannya waktu aku bisa mencintai Lastri dan menghapus cintaku padamu ternyata aku salah sampai sekarang aku tidak bisa menghapus rada cintak padamu . Aku selama ini memperlakukan Lastri dengan penuh kasih sayang tetapi rasa cintaku lebih besar padamu . Karena aku tahu bahwa selama ini yang selalu ada hanya Lastri yang bisa menghapus rasa kecewaku padamu. Sisil harus apa yang aku lakukan apakah kamu bisa menghilangkan rasa cinta ini padamu?"
" Mas ..." Sisil pun menangis dia tidak meyangka bahwa Bram masih begitu mencintainya apakah dia bisa menjadi wanita egois untuk sesaat.
" Sisil jawab aku apakah kamu bisa menghapus rasa cinta ini apakah perlu kamu mengeluarkan hatiku biar cinta ini hilang"
" Mas kenapa kamu membuatku sulit untuk melangkah aku tidak tahu apa jalan apa yang harus aku ambil"