
Bram yang telah selesai membersihkan badannya serta berganti pakaian segera turun untuk menemui Sisil. Terlihat Sisil yang sedang duduk sambil menikmati minuman hangat. Bram pun segera mengajak Sisil untuk makan bersama.
Mereka berdua segera berjalan ke ruang makan di mana sudah tersedia banyak hidangan yang tersedia. Bram pun mengeserkan kursi untuk di duduki Sisil . Sisil pun mengucapkan terima kasih kepada Bram.
Setelah mereka berdua duduk ,segera mereka mengambil makanan yang tersedia Bram pun menyuruh Sisil untuk makan yang banyak. Saat makan mereka berdua sama sama diam tidak ada yang berbicara hanya terdengar sendok garbu yang berdengting setelah selesai Bram mengajak Sisil ke taman belakang yang ada di villa.
Di sisi lain di kediaman Bram yang seperti Istana dimana sekarang Lastri sedang di kamar yang biasa di tempatinya dengan suaminya. Karena sudah di beritahu olwh suaminya bahwa tidak bisa pulang. Lastri segera merebahkan ke tempat tidur ingin segera cepat tidur tetapi dia sendiri tidak tahu kenapa tidak bisa tidur.
Lastri pun duduk mau mengambil air putih yang terletak di meja dekat tempat tidur bukannya gelas yang dia raih tetapi malah album foto pernikahan dia dengan suaminya tersenggol oleh tangannya yang kebetulan ada di atas meja tersebut.
Tak ayal album foto pernikahan itu terjatuh hingga kaca yang membingkainya retak semua.Lastri pun begitu terkejut melihat foto pernikahannya hancur. Dia pun berdoa agar suaminya baik -baik saja di luar sana. Soalnya ada yang pernah bilang klo album foto sampai jatuh pasti ada musibah.
Lastri pun tidak ingin berfikiran buruk dia pun segera mengambil sapu agar pecahan kaca tidak mengenai kakinya. Walaupun ada pembantu tapi Lastri tidak ingin merepotkan orang apalagi sekaran udah malam . Setelah membersihkan kaca dari pigora foto Lastri pun berjalan ke balkon melihay bintang di atas langit ternyata bintamg pun tidak terlihat mungking karena cuaca mendung. Lastri pun masih mefikirkan peristiwa tadi walaupun dia menepis tidak akan ada apa apa dengan suaminya. Tapi jauh di lubuk hatinya Sisil merasa gelisah seperti ada firasat buruk yang akan terjadi.
Sisil pun yang merasa dingin dia segera masuk kedalam kamar berbaring kembali di tempat tidurnya. Dia pun berusaha untuk tidur dengan memejamkan matanya. Sisil pun berdoa agar di manapun suaminya tetap baik -baik saja selalu dalam lindungannya.
Kembali ke tempat Bram dan Sisil berada dimana sekarang Bram sudah menyuruh Sisil berdiri menutup matanya. Bram pun mengambil saputangan menutup mata Sisil.
Sisil pun merasa berdebar apa yang sedang di inginkan oleh Bram sampai dia di suruh menutup mata.
Mereka berdua berjalan ke taman belakang villa.Di mana taman tersebut sudah di hias oleh Bram dengan sejuta lampu yang menghiasinya juga bunga-bunga mawar yang menambah keindahan taman tersebut.
Bram pun sudah bediri di belakang Sisil .
" Kamu sudah siap menerima kejutannya"
" Mas apa yang akan kamu lakukan"
" Kamu pasti senang melihatnya"
Bram pun sudah bersiap - siap melepaskan ikatan sapu tangan yang menutup mata Sisil. Bram pun menyuruh Sisil menutup mata dalam hitungan ke tiga baru Sisil boleh membuka mata. Ikatan sapu tangan di mata Sisil sudah terlepas ,Bram pun mulai menghitung
satu...dua...tiga....
Sisil pun membuka matanya