
Sisil pun mengetuk pintu ruangan bosnya setelah mempersiapkan hatinya. Mendengar suara pintu di ketuk Bram pun menyuruhnya masuk.
Sisil pun berjalan ke meja Bram menyerahkan dokumen yang di minta bosnya. Bram yang saat itu duduk dia pun menerima dokumen tersebut dan membukannya. Sisil hanya diam berdiri memperhatikan bosnya dia karena bosnya belum memerintahkan untuk keluar maupun duduk.
Bram yang melihat sekilas laporan dia pun memperhatikan Sisil walaupun dia harus tetap bersikap profesional dan juga bersandiwara tidak mengenalnya.
Sisil yang merasa tidak enak dia pun memberanikan diri bertanya pada bosnya.
" Pak apakah sudah tidak ada yang di perlukan bolehkah saya keluar"
" Ya tapi sebelum kamu keluar...."
" Ya pak ada apa" Sisil pun sudah benar- benar takut Bram mengenalnya.
" kamu harus persiapkan acara meeting besok pukul sembilan"Bram pun menyerahkan apa yang mesti di lakukan besok
" ya pak" Sisil pun menerima kertas tentang apa yang perlu di siapkan untuk besok dia merasa lega ,bahwa bosnya tidak mengenalnya.
Bram pun menyuruh Sisil keluar, Sisil pun keluar dari ruangan bosnya menuju ruangannya. Dia pun duduk membaca apa saja yang mesti dia kerjakan untuk meeting besok.
Sisil yang sudah melihat bosnya tidak ada di pandangan matanya. Dia pun segera membereskan mejanya untuk bersiap pulang karena bosnya sudah pulang.
Setelah mejanya beres dia segera membawa tasnya untuk pulang. Sisil pun berjalan masuk ke dalam lift karyawan karena ini jam pulang maka banyak karyawan yang ada dalam lift.
Begitu lift tiba di lantai bawah Sisil pun segera keluar dari kantor dia berjalan agak jauh meninggalkan perusahaan tersebut. Karena sisil harus mencari angkutan umum untuk membawanya pulang ke kos -kosannya . Dia harus belajar hidup hemat agar uang yang tersisa cukup sampai dia menerima gaji.
Setelah melihat angkutan umum yang lewat Sisil segera masuk untuk segera pulang. Setelah sampai dia segera membayar ongkosnya kebetulan dalam perjalanan menuju tempat kosnya ada pedagang sayur. Sisil pun membeli dagangan tersebut karena dia harus benar- benar berhemat.
Sisil pun berjalan menuju kamar kosnya dia pun segera menaruh tas juga belanjaannya. Sisil pun segera mandi membersihkan badannya. Setelah mandi berganti pakaian Sisil pun segera mengeksekusi belanjaannya tadi dia pun mulai memasak.
Tak berapa lama masakannya jadi Sisil pun menunggu sampai nasinya matang baru dia makan. Setelah di rasa nasinya matang Sisil pun mulai makan sendiri kadang dia merasa sedih kalo teringat dengan kedua orang tuannya saat bersamanya.
Betapa bahagianya mereka bisa makan bersama-sama ,tapi kini Sisil hidup hanya sendirian teman -temanya dulu bahkan menjauhinya begitu tahu Sisil hidup miskin . Karena sejak kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya usaha yang di kelola orang tuanya malah di khianati orang kepercayaan orang tuanya.
Kala itu Sisil yang masih menjalani kuliah tidak banyak hal yang bisa di lakukan hingga di akhir terakhir kuliah dia mendapati bahwa usaha orang tuanya bangkrut dan rumah yang di tempatinya telah di sita oleh bank. Padahal waktu itu Sisil baru saja berduka atas kematian orang tuanya.
Dan disinilah Sisil hidup sendiri di kamar kos walaupun dulu dia bukan anak pengusaha paling tidak orang tuanya bisa membayar kuliah Sisil memberikan kasih sayangnya.