Love Triange

Love Triange
eps.36



Masih di dalam suasana di dalam lift yang terasa sunyi,di mana perasaan Sisil masih ada untuk Bram walaupun selama ini dia berusaha dekat dengan Rangga tetapi rasa yang dulu tak pernah hilang.


Setelah menunggu tak berapa lama pintu lift terbuka. Mereka sampai di lantai satu, Bram pun menyuruh Sisil menunggu di loby sementara dia mengambil mobilnya yang terparkir di dalam tempat parkir. Tak berapa lama Bram pun muncul dengan mengemudikan mobil sport warna merah.


Sisil pun yang tak pernah melihat Bram membawa mobil merah sport hanya diam saja di loby. Sampai Bram turun dari mobil baru Sisil sadar dengan kehadiran Bram.Bram pun mengajak Sisil naik ke mobilnya dengan membukakan pintu mobil baru setelah Sisil duduk, Bram berjalan masuk ke dalam ke mudi. Tak sampai di situ Bram pun memasangkan sabuk pengaman ke badan Sisil.



Sudah tidak bisa di kendalikan bagaimana Sisil merasa jantungnya berdebar mendapat perhatian dari Bram. Sisil pun memandang Bram yang sudah siap melajukan mobilnya.


Dia pun mengucapkan terima kasih kepada Bram.


"Terima kasih pak"


Bram pun menoleh ke hadapan Sisil dia pun berkata.


" Klo sudah tidak di kantor jangan panggil pak,panggil saja Mas"


" Tapi itu tidak sopan pak ,kamu sekaran adalah atasan saya"


" Lupakan sekaran kita atasan dan bawahan sudah kamu jangan protes"


"Sisil sudah saya katakan klo tidak di kantor jangan panggil pak tetapi mas"


" Baiklah mas"


" Lah itu baru benar"


Bram pun melajukan mobilnya membelah jalanan dia pun masuk ke dalam tol.Karena Bram ingin mengajak Sisil ke puncak bersamanya.


Sisil pun hanya diam dalam perjalanan karena dia merasa mungkin Bram mau mengajaknya ke luar kota bertemu klien untuk membahas kerjasama perusahaan. Dia pun tak terasa tidur di dalam mobil karena dari tadi Bram hanya diam fokus mengemudi .Karena merasa bosan ,Sisil pun tertidur.


Perjalanan selama hampir dua jam membawa Bram ke daerah pegunungan di mana terasa hawa dingin apalagi sekarang sudah hampir magrib. Sebelum turun dia pun mengirim pesan kepada istrinya Lastri bahwa malam ini tidak bisa pulang sampai besok karena ada urusan pekerjaan di luar kota.


Bram sudah berfikir dia ingin menjadikan Sisil istrinya. Awalnya dia merencanakan membuat Lastri dan Sisil dekat agar bisa saling menerima. Tetapi ketika dia membaca banyak berita bahwa tidak ada wanita yang ingin di madu. Maka Bram memutuskan tidak akan memberitahukan Lastri bahwa dia akan menikah lagi. Sekaran tinggal menyakinkan Sisil untuk menerimanya dia masih sangat yakin bahwa Sisil masih punya rasa terhadapanya apalagi saat tadi dia memasang sabuk pengaman .Bram mendengar bagaimana detak jantung Sisil yang memacu lebih cepat dari detak jantung normal tubuh seseorang.


Bram pun sudah berhenti di depan sebuah villa mewah di mana tadi penjaga villa sudah membukakan pintu gerbang. Sehingga Bram bisa masuk dia pun memandang Sisil yang tertidur lelap tak berniat membangunkannya. Bram memandang wajah Sisil wanita yang dulu membuat dia jatuh cinta pertama kali. Sekarang wajah itu nampak begitu dewasa dan menawang Bram ingin sekali menjadikan Sisil miliknya.


Dia pun akan bersikap adil pada ke duanya apalagi mamanya tidak melarang Bram untuk menikah lagi malah memberikan dukungan karena bagi mamanya Lastri sampai saat ini tidak bisa memberikan cucu.Padahal harapan mama Bram hanya pada Bram karena Bram merupakan anak tunggal jadi dia ingin punya cucu untuk bisa meneruskan semua kekayaannya pada cucunya.