
Pada zaman dahulu kala, " Ibu Ismunah mengenang masa lalunya, ketika ia mulai membacakan buku cerita untuk Rohman, anak semata wayangnya yang baru berusia 10 tahun.
"Ada seorang guru spiritual yang sangat hebat dan terkenal dengan kebijaksanaannya.
Suatu ketika, seorang pemuda datang dari negeri yang sangat jauh ke padepokan beliau, dengan niatan untuk menimba ilmu.
"Guru, izinkan aku untuk menimba ilmu kepadamu," kata pemuda itu.
Guru itu tersenyum dan memberikan beberapa butir biji jambu kepada pemuda itu.
"Tanamlah biji jambu ini disitu dan pergilah. Kembalilah kepadaku tiga tahun lagi," perintah sang guru.
Pemuda itu pun menjalankan perintah sang guru dengan rasa penasaran. Sang guru tidak memberikan penjelasan apapun.
Tiga tahun kemudian, pemuda itu kembali. Dilihatnya jambu yang dahulu ditanamnya telah berubah menjadi pohon.
"Apa yang kamu lihat? " sang guru bertanya.
"Biji jambu itu telah berubah menjadi pohon, " jawab si pemuda.
"Kalau begitu, pulanglah dan kembalilah tiga tahun lagi, " kata sang guru.
Si pemuda semakin penasaran saja. Tiga tahun kemudian, si pemuda kembali dan melihat pohon jambu itu semakin besar, daunnya semakin lebat, dan dipenuhi buah jambu yang besar-besar.
Burung-burung berteduh dan membuat sarang dipohon itu. Anak-anak kecil bermain dengan riang di bawah pohon itu dan mengambil buahnya.
"Apa yang kamu lihat? " sang guru kembali bertanya.
"Luar biasa, pohon ini berkembang demikian pesat."
Sang guru tersenyum, " tahukah kamu, biji jambu yang dulu kamu tanam, kini telah berubah menjadi pohon jambu yang besar dan menghasilkan buah yang demikian banyak. Adakah pelajaran yang bisa kamu petik?"
Si pemuda menggelengkan kepalanya.
"Apabila kamu menanam sesuatu, baik melalui pikiran, ucapan, maupun tindakan, maka kelak kamu pasti akan menuai buahnya. Jika kamu menanam kebaikan, maka kamu akan menuai kebaikan. Jika sebaliknya, kamu menanam keburukan, maka kamu pun akan menuai keburukan. "
Si pemuda pun menganggukkan kepala, tanda bahwa ia telah memahami pelajaran dari gurunya itu."
Ibu Ismunah mengakhiri membaca cerita. Rohman tampak mendengarkannya dengan antusias.
Sudah menjadi kebiasaannya, setiap pagi, menjelang Rohman berangkat ke sekolah, Ibu Ismunah membacakannya buku cerita.
Sengaja Ibu Ismunah memilih cerita-cerita penuh hikmah yang bisa dipetik pelajarannya.
Baginya, perkembangan jiwa Rohman adalah yang utama. Kesuksesan duniawi, biarlah mengikuti kemudian, asalkan jiwanya tercerahkan dulu.
Hari itu, dan seperti hari-hari yang lain, Rohman selalu takut pergi ke sekolah. Memang, anak ini badannya kurus sekali. Bukan karena Ibu Ismunah tidak mampu memberinya makan, tetapi memang begitulah perawakannya.
Di sekolah, ia kerapkali diejek oleh teman-temannya. Kata mereka, " kamu ini anak seorang penjual nasi, tetapi kok badannya kurus kering. "
Pada saat seperti itu, Ibu Ismunah selalu berusaha memberinya semangat agar terus bangkit dan tidak patah semangat. Tidak lupa, Ibu Ismunah membekalinya dengan ilmu agama dan mengajaknya mengaji setiap selesai sholat maghrib.
Waktu itu, Ibu Ismunah dan keluarga kecilnya tinggal di Ngawi. Di desa kelahirannya. Mereka bahagia sekali. Tidak kekurangan, meskipun tidak juga berlebihan.
Warung nasi Ibu Ismunah cukup laris. Warung yang dirintis mulai dari kecil, hingga berkembang cukup pesat.
Pak Min juga bekerja serabutan. Ia tidak pernah memilih-milih pekerjaan. Apapun, asalkan halal dan bisa menghasilkan uang, ia kerjakan dengan penuh semangat. Berapapun hasilnya selalu ia syukuri. Badannya sehat dan kuat waktu itu.
Hingga suatu malam yang tak terduga, warung mereka terbakar. Penyebabnya diduga akibat hubungan arus pendek. Semua barang dagangan ludes, termasuk sejumlah uang yang disimpannya didalam warung. Mereka mengalami kerugian yang luar biasa.
Sejak kecil, Ibu Ismunah bisa melihat Malaikat Bumi. Ia memanggilnya Pertiwi. Malaikat itu seringkali muncul dalam wujud seorang wanita yang bijaksana.
Melalui Pertiwilah, Ibu Ismunah mampu memberikan kata-kata bijak kepada anaknya dan kepada orang lain, mengalir saja, tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
Memang itulah jalan untuk menunaikan misi besar Jiwanya turun ke bumi. Ia harus sebanyak mungkin memberi nasihat kepada orang yang membutuhkan.
Seandainya ia mau, ia bisa saja menjadi seorang penceramah atau tokoh agama. Namun, Pertiwi melarangnya. Pertiwi justru menyuruhnya untuk hidup dalam kondisi yang paling sederhana di muka bumi.
Pertiwi menuntunnya untuk selalu menjadi orang miskin. Dengan begitu, Jiwanya belajar banyak untuk mensyukuri hidup dan lepas dari segala keterikatan duniawi.
Atas perintah Pertiwi, Ibu Ismunah dan keluarga kecilnya memberanikan diri merantau ke Surabaya.
Pak Min mendapat pekerjaan sebagai seorang satpam. Sedangkan Ibu Ismunah awalnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mereka bersyukur, uang penghasilan mereka bisa untuk bertahan hidup dan membiayai sekolah Rohman.
Namun, mereka kembali ditimpa ujian hidup. Pasar Wonokromo mengalami kebakaran hebat, yang membakar semua toko-toko di dalamnya, termasuk warung nasi mereka. Untuk kedua kalinya, api membuat mereka mengalami kerugian besar.
Mereka hanya bisa pasrah. Tetapi mereka tahu, Tuhan pasti memiliki rencana yang besar dibalik semua ini, minimal untuk menguji kadar keimanan mereka.
Setelah kebakaran yang kedua kalinya itu, dengan sisa uang yang ada, mereka membangun kios kecil di pinggir jalan raya Wonokromo. Mereka menjual nasi, rokok, makanan, dan minuman ringan.
Mereka tidak mampu lagi membayar uang kos. Sejak saat itu, mereka tidur di kios mereka yang kecil itu, dengan menggunakan alas seadanya. Jika hujan turun, mereka terpaksa meminjam tempat untuk berteduh di warung sebelah kios mereka.
Tak terasa, Rohman sudah berusia delapan belas tahun. Ia berubah menjadi seorang remaja yang cukup tampan. Anaknya juga santun dan pendiam. Tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh.
Ibu Ismunah belum berani membelikannya sepeda motor, sekalipun Rohman seringkali meminta. Ibu Ismunah khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.
Rohman pergi ke sekolah dengan naik angkot. Sesekali, ia dibonceng oleh Rudi, sahabatnya. Ini yang sedikit membuat Ibu Ismunah resah. Rudi ini kegemarannya kebut-kebutan di jalan raya.
"Tidak apa, Bu, " kata Rohman. "Saya akan selalu menjaga diri. " Begitu yang selalu diucapkannya.
Namun, tetap saja Ibu Ismunah khawatir ketika Rohman terus bersama Rudi. Namanya juga anak muda.
Hingga suatu hari, yang teramat menyedihkan. Ibu Ismunah tidak bisa melupakannya seumur hidupnya.
Rohman tengah dibonceng oleh Rudi. Dan Rudi memacu motornya dengan kencang. Terjadilah kecelakaan maut. Baik Rohman maupun Rudi terjatuh dan berdarah. Nyawa mereka berdua tidak tertolong. Keduanya meninggal dunia di usia yang masih teramat muda.
Selama beberapa bulan setelah itu, Ibu Ismunah larut dalam kesedihan. Makan dan tidur rasanya tidak enak. Rasanya tidak ada semangat untuk melanjutkan hidup. Namun, hidup ini harus terus berlanjut. Takdir dari Tuhan tidak boleh diratapi. Perlahan -lahan, Ibu Ismunah kembali bangkit.
*
"Syam, aku bawa makanan nih," Rumi menyerahkan beberapa nasi bungkus kepada saudara kembarnya.
" Gratis lho. Cuma aku nggak tahu, masih enak atau sudah basi. Sudah sejak pagi soalnya."
"Wah, cocok sekali nih, " Syam tertawa nyengir. " kebetulan perutku sedang lapar sekali."
"Eits, jangan keburu dimakan, Syam. Dicium dulu. Apa masih enak aromanya. Takutnya sudah basi. "
"Ah, mau makan aja kok banyak sekali ritualnya," Syam terkekeh kekeh. Diambilnya sebuah nasi bungkus dan digelar diatas lantai. Tanpa basa basi, ia mengambil nasi dan sedikit lauk, kemudian memasukkan kedalam mulutnya.
" Bagaimana? Masih enak nggak? "Rumi bertanya.
"Hmm.... masih enak kok, " jawab Syam." Bahkan enak sekali."
Rumi menghela napas lega. "Syukurlah, Syam"
"Kamu nggak makan, Mi? Ayo kita makan sama-sama. "
Rumi membuka sebungkus nasi lagi dan memakannya bersama Syam.
"Eh, ngomong-ngomong, siapa sih orang baik yang mau memberi kita makanan gratis? " Syam bertanya.
"Tadi, aku bertemu dengan Ibu Ismunah. Pemilik kios di pinggir jalan. Kasihan sekali orangnya. Sudah tua, tapi masih harus bekerja keras. Suaminya juga sakit parah."
"Kasihan sekali. Tinggalnya dimana, Mi? "
"Nggak punya rumah, Syam. Ya tidur di kiosnya itu. Ibu Ismunahnya menggelar tikar dijalan, sedangkan suaminya tidur meringkuk didalam kios."
"Lalu, apakah mereka nggak punya keluarga, Mi?"
"Katanya beliau punya anak tunggal seusia kita. Tapi sudah meninggal dunia karena kecelakaan."
"Oalah... kasihan sekali, ya, Mi."
"Aku nggak bisa membantu apa-apa Syam. Uang di dalam dompet tinggal lima ribu rupiah untuk membeli es teh. Ya, aku bantu mencuci gelas-gelas yang kotor dan merapikan kiosnya."
Syam mengelus kepala saudaranya, " Ini pasti perintah dari Malaikat cahayamu kan? "
Rumi mengangguk.
" Eh, nasi bungkusnya untuk Bapak dan Ibu juga, ya, Syam. Jangan kamu habiskan semua lho."
"Iya Mi. Tenang saja kalau soal itu. "