Light Warriors

Light Warriors
Bagian 41



Azlina mengambil vas bunga yang ada diruang tengah dan memukulkannya ke kepala Abang Badrol. Vas bunga itu pecah. Abang Badrol terjatuh dan mengerang kesakitan.  Kepalanya berdarah. Ia pun tak sadarkan diri.


"Akak Azlina,  apa yang kamu lakukan? " 


"Nanti aku jelaskan, Zad.  Kemarikan biolaku"


Aizad menyerahkan biola kepada kakaknya.  


"Kita harus segera pergi ke ruangan rahasia.  Tubuh fisik mereka dalam bahaya. "


Azlina berlari ke ruangan rahasia,  sambil bermain biola. Para Pekerja Kegelapan bertampang seram itu menjauh dan sebagian lenyap. 


Sesampai di ruangan rahasia,  Azlina terus memainkan biolanya.  "Aizad,  keluarlah kamu dari tubuh fisikmu.  Biar aku disini saja menjaga tubuh fisik mereka semua dan tubuh fisikmu juga." 


Aizad mengangguk. Ia duduk bersila,  mengheningkan cipta, melesat keluar dari tubuhnya,  dan mulai berperang melawan para pekerja kegelapan.  Win, malaikat angin pembimbingnya turut membantunya melakukan tembakan-tembakan angin. 


Suara biola Azlina menciptakan energi pelindung untuk sementara.  


Dari kejauhan,  tubuh cahaya Encik David dan lainnya melihat kantor Charity diselubungi energi gelap. 


"Bagaimana mereka bisa menembus kristal-kristal energi yang saya pasang? " Encik David geram.


"Pasti seseorang sudah menyusup, " kata Puan Hanizah. 


Encik Johan,  Encik David,  dan Rumi bertempur melawan Para Pekerja Kegelapan yang mengepung kantor Charity.  Mereka saling menembakkan sinar. 


Sementara,  tubuh cahaya Puan Hanizah dan Puan Norima masuk kedalam kantor,  melihat apa yang terjadi.  Betapa kagetnya mereka melihat seisi kantor gelap gulita.  Dengan kekuatannya,  ia memancarkan energi ke seisi kantor,  sehingga listrik kembali berfungsi.  Lampu kembali menyala. 


Mereka terkejut melihat Abang Badrol tergeletak,  tak sadarkan diri,  dengan kepala berdarah terkena pecahan vas bunga.  


"Abang Badrol...???? " Puan Hanizah tersentak.


  Puan Norima bergerak menuju ruangan rahasia,  tempat tubuh fisik mereka berada.  Azlina masih menghalau pekerja kegelapan yang menghujaninya dan semua tubuh fisik diruangan itu dengan serangan energi negatif. 


Puan Norima membantu Azlina menembaki makhluk-makhluk astral itu dengan sinar energi positif, hingga tidak ada yang tersisa.  


"Kamu tidak apa-apa kan, Azlina?" 


"Syukurlah,  aku masih sehat,  Puan. " 


"Syukurlah.  Sebenarnya,  apa yang terjadi sini? Bagaimana Abang Badrol bisa tidak sadarkan diri seperti itu? " 


"Aku yang memukulnya,  Puan.  Dia telah mengkhianati kita.  Dialah yang telah menghancurkan semua kristal pelindung kita.  Diam-diam, dia bekerja sama dengan pekerja kegelapan.  " 


"Kurang ajar sekali dia," Puan Norima bersungut-sungut. "Awas ya, saya pukul dia.


Puan Norima kembali ke tubuh fisiknya, dan mengambil tali yang ada di ruangan rahasia. 


"Sebaiknya, saya ikat pengkhianat itu." 


Puan Norima keluar dari ruangan rahasia dan segera mengikat tubuh Abang Badrol yang masih tak sadarkan diri.  


Aizad dan Win sedang berperang dengan pekerja kegelapan yang mengepung halaman kantor Charity.  Puan Hanizah datang membantunya.  Setelah bersusah payah,  mereka berdua berhasil menghabisi semua pekerja kegelapan itu.  


Menjelang subuh,  tubuh cahaya Rumi dan Encik Johan masih melesat di langit kota Kuala Lumpur, berkejaran dengan ratusan pekerja kegelapan,  saling serang. 


Semua makhluk astral itu berubah menjadi titik-titik cahaya dan melesat kelangit.  


Sembari melihat Rumi bertempur,  Mamangmurka kembali membaca mantra-mantra.  Ia mengarahkan telapak tangannya ke arah tubuh cahaya Rumi. Dari telapak tangannya,keluarlah tali energi berwarna hitam. Tali itu terus memanjang ke arah Rumi,  hendak menjeratnya. 


Tanpa disadari oleh Mamangmurka,  Encik David memergokinya.  Ia segera menembakkan cahaya ke arah tali energi itu.  Tali energi itu hancur.  Mamangmurka menjadi geram.  


"Siapa kamu? " tanya Encik David.  "Kamu pekerja kegelapan yang menjadi dalang dari semua ini kan? "


"Hahaha, " Mamangmurka tertawa.  "Kamu tidak perlu tahu siapa aku.  Serahkan saja cahaya kembar itu kepadaku. Aku tidak akan mengusik kalian. Aku hanya menginginkan mereka berdua. "


"Tidak akan kubiarkan kamu menyentuh mereka, " kata Encik David.  "Encik David melancarkan serangan energi listrik,  dibantu oleh Thund, malaikat petir pembimbingnya.


Mamangmurka pun balas meyerang. 


Keduanya saling beradu kekuatan.  Energi hitam yang dipancarkan oleh Mamangmurka cukup kuat.  Encik David sedikit  kewalahan. 


Rumi yang melihat mereka adu kekuatan, segera mengheningkan diri.


  "Aku mencintaimu.  Aku tidak berniat mencelakaimu.  Aku berniat membantumu,  lepas dari kegelapan, " ucapnya dalam hati. 


Bola cahaya berukuran cukup besar keluar dari tubuh cahaya Rumi,  dan melesat ke tubuh Mamangmurka. Mamangmurka kesakitan. 


Ia terkejut sekali dengan serangan mendadak Rumi.  


"Sial, " gumamnya.  Ia segera melompat dan menghilang bersama dengan awan gelap.  


"Hei,  jangan pergi kamu, " teriak Encik David berusaha mengejarnya.  


Semua pekerja kegelapan lenyap.  Langit kota Kuala Lumpur kembali cerah, diiringi dengan suara adzan Subuh di Masjid Negara, Masjid As Syakirin, Masjid Jamek, dan masjid-masjid yang lain. 


Mereka semua kembali ke kantor Charity,  ke dalam tubuh fisik mereka masing-masing.  


Encik David memperbaiki kristal-kristal energi yang telah dirusak oleh Abang Badrol,  dengan bantuan kesatria cahaya yang lain. Ia tidak akan membiarkan kejadian semacam ini terulang lagi.  


"Sebenarnya,  apa yang kamu mau? " tanya Encik Johan menginterogasi Abang Badrol yang masih dalam keadaan terikat.  "Selama ini,  kita terlalu percaya kepadamu. "


Abang Badrol tersenyum,  tanpa ada penyesalan.  "Aku ingin memiliki kesaktian.  Kekuatan yang bisa membuatku kaya dan lepas dari kemiskinan. " 


"Bukankah selama ini,  Charity sudah banyak membantumu? " tanya Puan Hanizah sedikit jengkel.  


"Hahaha, "ia tertawa.  "Bantuan yang kalian beri tidak pernah mencukupi apa yang aku mau.   Tapi,  Mamangmurka sanggup memberiku lebih daripada yang kalian beri.  Ia menjanjikan kesaktian,  kekayaan,  dan keabadian kepada saya.  " 


"Mamangmurka? " tanya Encik David.  "Pekerja kegelapan berjaket hitam dengan tutup kepala itu kah? " 


"Betul,  " jawab Abang Badrol.  


"Dia telah menipumu,  Badrol, " kata Encik David.  "Tidak ada kesaktian,  kekayaan,  dan keabadian yang bisa menjamin kebahagiaanmu.  Hanya cinta,  pencerahan,  dan cahaya yang bisa membawa kita kepada kedamaian dan kebahagiaan yang sebenarnya. "


"Huh, masa bodoh dengan khotbah kalian semua, "kata Abang Badrol.  


Hari menjelang pagi.  Dua orang petugas kepolisian diraja Malaysia masuk ke kantor Charity dan memasangkan borgol pada kedua tangan Abang Badrol.  Abang Badrol pasrah saja,  tidak melawan ketika polisi membawanya.  Senyuman dan tatapan kosong masih menghiasi wajahnya.