Light Warriors

Light Warriors
Bagian 34



Keesokan harinya, semua anggota Charity, beserta Encik David, Puan Hanizah, Encik Johan, Puan Norima, Azlina, dan Aizad, berkumpul di Yayasan Anak Yatim Rumah Ilham di jalan Damansara.


Pertama-tama, mereka menyerahkan uang dan sejumlah kebutuhan pokok kepada pengurus panti asuhan. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, yang dibacakan oleh seorang anak yatim yang suaranya merdu sekali.


Namanya Raihan. Ia buta sejak kecilnya. Namun, dengan menggunakan huruf braille, ia mampu menguasai bacaan Al quran, hingga ia hafal 30 juz Al quran pada usia yang masih sangat muda, 9 tahun.


Rumi terkagum-kagum melihatnya. Ia mengambil foto anak itu dengan ponsel cerdasnya, dan mengirimkan kepada saudara kembarnya.


Acara dilanjutkan dengan pembacaan sambutan oleh kepala panti asuhan.


Ia mengucapkan terima kasih kepada rombongan organisasi Charity. Kemudian dilanjutkan oleh Encik David yang menjelaskan visi dan misi organisasi Charity.


Setelah itu, dilanjutkan dengan pertunjukan nasyid yang dibawakan oleh anggota-anggota Charity. Barulah tiba giliran Rumi untuk membaca puisi yang ditulisnya.


Sementara Rumi membaca, Azlina mengiringinya dengan gesekan biola.


"Semangat Mi," kata Encik David. " Kamu pasti bisa."


"Iya, Encik." Terima kasih."


"Jangan tegang," Puan Norima menyemangati.


Rumi tersenyum kepada Ibu asuhnya.


Rumi mulai melangkah kedepan. Seluruh hadirin menyambutnya dengan tepuk tangan. Suasana hening sejenak. Azlina menggesek biolanya. Rumi mulai membaca puisinya.


Perpaduan energi positif antara puisi yang dibacakan oleh Rumi dan permainan biola Azlina membentuk selubung energi yang berwarna merah muda dan hijau yang sangat cantik.


" Ketika aku melihat matahari bersinar....


Menyinari bumi tanpa meminta imbalan sedikitpun....


Kawan, aku telah melihat cinta....


Matahari itulah yang mengajarkan aku cinta..


Ketika aku melihat air yang mengalir....


Membasahi tempat-tempat yang kering tanpa meminta imbalan sedikitpun....


Memberikan minuman kepada semua makhluk tanpa berharap pujian....


Kawan, aku telah melihat cinta....


Air itulah yang mengajarkan aku cinta...


Ketika aku merasakan jantungku berdetak...


Kembang kempisnya paru-paruku....


Tanpa meminta imbalan....


Kawan, aku telah melihat cinta...


Jantung dan paru-paruku lah yang mengajarkan aku cinta...


Ketika aku mengasihi tanpa batas....


Oh kawan, aku telah hidup didalam cinta...


Aku melihat cinta dimanapun aku berada...


Aku mendengar cinta dimanapun aku berada..


Aku merasakan cinta dimanapun aku berada... "


Seluruh hadirin mendengar puisi yang dibacakan oleh Rumi dengan seksama. Sungguh puisi yang menggetarkan hati.


Hampir semua hadirin, termasuk Encik David menitikkan air mata. Setelah Rumi selesai membaca puisi, semua hadirin bertepuk tangan dengan meriah.


"Bagus sekali puisimu," puji Encik David.


"Lihat ini," Puan Hanizah menanggapi. "Mata saya berair. Kamu membuat saya menangis."


Rumi tersenyum.


"Selamat ya Mi, " kata Encik Johan. "Kamu akan menjadi pujangga ternama seperti Abdullah Samad Said. Hahaha."


"Abdullah Samad Said?" Rumi bertanya.


"Itu pujangga negara ternama," jawab Puan Norima. "Beliau banyak menulis karya sastra. Kapan-kapan, kamu bisa membaca novel Salina yang ditulisnya. Saya punya. Kamu boleh pinjam kalau mau."


"Terima kasih," kata Rumi. " Dan Azlina bermain biola bagus sekali. "


"Terima kasih, Mi," kata Azlina."Kapan-kapan, kita kolaborasi lagi ya?"


Rumi mengangguk.


*


" Gimana pembacaan puisimu hari ini?" tanya Syam melalui telepati.


"Alhamdulillah. Lancar. Semua orang memuji puisiku. Banyak yang menangis juga. Azlina juga pandai sekali mengiringi puisiku dengan biola."


"Wow. Aku Percaya. Kamu kan pintar menulis puisi. Dan kamu tampil bersama Azlina? pasti kamu gugup sekali ya?"


"Nggak juga kok, Syam. "


"Beruntungnya kamu, Mi. "


" Biasa saja, Syam."


"Aku boleh membaca puisimu nggak?"


"Hmm. Kapan-kapan saja ya, Syam? Aku malas ngetiknya. hehehe.  


"Hahahaha."


Rumi mengirim rekaman video ketika dia membaca puisi kepada Syam, melalui ponsel cerdasnya. Video yang sempat direkam oleh Encik David.


"Selamat tidur, Syam. Selamat menikmati puisiku."