Light Warriors

Light Warriors
Bagian 33



Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) atau Universitas Nasional Malaysia atau dikenal oleh dunia internasional sebagai Nasional University of Malaysia, tempat Rumi berkuliah terletak di Bangi.


Untuk menuju kampusnya, Rumi harus diantar oleh Abang Badrol, demi keselamatannya. Encik Johan tidak mengizinkannya pergi sendirian dengan menggunakan transportasi umum.


Setelah jam perkuliahan berakhir, Rumi berkomunikasi dengan Syam secara telepati.


" Mi, gimana sih rasanya kuliah di Malaysia? "


" Alhamdulillah, Syam. Menyenangkan."


"Memang apa bedanya dengan kuliah di Indonesia?"


"Kuliah di Indonesia kan aku belum pernah Syam. Hahaha. Di kampusku,  semuanya wajib berbahasa Melayu. Karena visi dari kampusku adalah untuk meninggikan bahasa Melayu sebagai bahasa dunia. Secara garis besar,  mirip dengan bahasa Indonesia. Cuma ada beberapa kosakata yang berbeda dan kadang membingungkan.Hahaha."


"Ya,  bahasa Melayu kan akar dari bahasa Indonesia. Aku jadi ingat dengan kata " Percuma" waktu di stasiun KL sentral itu. Hahaha."


"Masih banyak kata-kata yang lain,  Syam. Misalnya nih, Aduk-aduk bahasa Melayunya adalah kacaukan. Putar bahasa Melayunya adalah pusing. Pintu darurat bahasa Melayunya adalah pintu rintangan api atau pintu kecemasan. Air dingin bahasa Melayunya adalah air sejuk. Air hangat bahasa Melayunya adalah air suam. Sandal bahasa Melayunya adalah selipar. Sepatu bahasa Melayunya adalah kasut. Bioskop bahasa Melayunya adalah pawagan. Bayar listrik bahasa Melayunya adalah bayar api. Manisan bahasa Melayunya adalah jeruk. Buah jeruk bahasa Melayunya adalah oren."


"Hahaha," Syam tertawa. "Cukup, cukup, Mi. Kamu membuatku pusing. Sabar ya,  nanti juga terbiasa kok."


" Kemarin, Ibu asuhku sempat minta tolong aku untuk bantu dia membuat kue. Beliau memberiku perintah untuk mencampur semua bahan-bahan. Telur,  tepung,  gula halus, mentega. Setelah itu, beliau berkata : kacaukan....Kacaukan. Aku cuma bisa bengong. "


"Lalu,  adonan kuenya kamu apakan?  Kamu acak-acak kah ?  Hahaha."


"Nggak lah. Maksudnya,  beliau minta agar aku mengaduk semua adonan."


"Hahaha. Lalu, suasana perkuliahanmu sendiri gimana,  Mi?"  


"Hmm. Yang jelas,  beda dengan suasana SMA. Belajarnya lebih serius. Dosen dari setiap mata kuliah selalu memberikan tugas mingguan. Setiap seminggu sekali,  setidaknya ada 1 buku yang harus dibaca. Dan setiap akhir minggu,  aku harus membuat makalah tentang isi buku yang dibaca. Nggak ada waktu santai kalau bukan hari libur,  Syam. Tetapi alhamdulillah, tetap menyenangkan kok."


"Aku yakin pikiranmu mampu menampung semua itu. Kalau aku, lebih baik menyerah saja deh. Hehehe.. Teman-teman disana gimana?  Nggak ada yang menindasmu kan?"  


Hehehe. Nggak lah. Beda dengan waktu SMA dulu.  Teman-teman disini baik-baik kok.  Semuanya serius belajar.  Kadang-kadang suasana memanas waktu diskusi diruang kuliah.  Tapi setelah selesai ya selesai, nggak ada apa-apa." .


"Oh syukurlah. Pak Tirto merindukanmu lho. Kemarin,  beliau berkunjung kerumah.  


"Oh ya. Lalu? "


"Ya aku sampaikan kalau kamu baik-baik saja bersama orang tua asuhmu di Malaysia.


"Sampaikan salamku kepada beliau ya,Syam."


"Iya deh, Mi. Ibu Ismunah dan Pak Min juga rindu sama kamu tuh."


"Aku juga sangat merindukan mereka. Warung nasinya semakin lancar kan?" 


"Syukurlah. Semakin laris manis."


Rumi mengakhiri telepatinya.


*


Sepulang kuliah, Rumi dan Abang Badrol menuju ke Kantor pusat Charity di Bandar Tasik Selatan. Bangunan ini memiliki dua lantai, dengan sebuah ruang pertemuan di lantai satu. Terdapat sebuah ruangan rahasia di ruang bawah tanah.


Encik David meletakkan kristal-kristal pelindung di beberapa titik bangunan ini, sehingga energi pelindungnya cukup kuat.


Setidaknya sekali dalam seminggu, Rumi mengikuti pertemuan rutin di gedung ini, yang diadakan setiap hari Jumat malam.


Encik David sedang memberi pengarahan. Hari Sabtu keesokan harinya, Charity hendak mengadakan bakti sosial ke Yayasan Anak Yatim Rumah Ilham di Jalan Damansara.


Rumi mendapat tugas menulis sebuah puisi dan membacakannya dihadapan anak-anak yatim pada saat acara hiburan, sementara Azlina mendapat tugas mengiringinya dengan permainan biola. Ada lagi anak-anak muda Charity yang mendapat tugas untuk membawakan nasyid. Ada juga yang mendapat tugas mengatur transportasi, konsumsi, dan sebagainya.


"Rumi, apakah sudah kamu persiapkan puisi yang akan kamu baca?" Encik David bertanya. "Besok, semuanya harus sudah siap."


"Baik, Encik. Sudah saya tulis dan besok siap saya baca."


"Good. Kata Encik Johan, kamu pintar menulis puisi."


"Benarkah?"


"Hahaha.Iya,Mi. Dia tidak sengaja baca bukumu sewaktu kamu tidak ada di dalam kamar. Tapi kamu jangan marah ya. Dia tidak ada niat untuk ingin tahu rahasiamu."


"Hmm. Nggak apa-apa, Encik. Saya cuma sedikit malu saja jika Encik Johan diam-diam membaca puisi-puisi saya. "


"Nggak usah malu. Kamu punya talenta. Dan itu yang harus kamu kembangkan."


"Terima kasih, Encik, " kata Rumi.


"Yang kedua, saya ingatkan kamu, Mi."


"Mengenai apa itu, Encik?"


"Kamu sudah berusia delapan belas tahun kan?"


"Benar, Encik."


"Berarti, kamu dan saudara kembarmu sudah diperbolehkan ikut Pertemuan agung para kesatria cahaya."


"Benar, Mi. Rupanya, kamu sudah tahu tentang Shambala."


"Ibu Ismunah memberitahuku."


"Oh, Ibu Ismunah. Sejujurnya, saya sudah lama mengenalnya. Dia itu pemimpin seluruh Ksatria Cahaya untuk wilayah Indonesia.


Setiap tahun, saya berjumpa dengannya saat pertemuan agung. Hanya saja, waktu itu, saya dan istri saya berpura-pura tidak mengenalnya.


Kita harus pandai bersandiwara dan menyembunyikan apapun yang harus dirahasiakan dihadapan orang awam."


Rumi mengiyakan.


"Nah, kamu tahu tidak, untuk memasuki Shambala itu tidak mudah. Sekalipun dia Kesatria cahaya senior atau sudah berusia lebih dari delapan belas tahun, tetap saja tidak mudah memasukinya. "


"Maksud Encik, tidak mudah bagaimana?"


"Ada tujuh titik yang harus kamu lewati sebelum kamu memasuki wilayah Shambala. Setiap titik, dijaga oleh Para Malaikat atau Para Dewan Cahaya yang akan memberimu pertanyaan.


Kamu harus bisa menjawab semua pertanyaan itu. Satu pertanyaan saja kamu gagal, maka kamu tidak akan diperbolehkan masuk ke wilayah Shambala. Tubuh cahayamu akan secara otomatis kembali ke dalam tubuh fisikmu."


"Apa saja pertanyaannya, Encik?"


"Saya juga tidak tahu. Pertanyaannya selalu berubah setiap tahun. Lokasi dari ke tujuh titik yang harus dilalui pun juga tidak sama setiap tahunnya."


Rumi terus menyimak.


"Namun, saya bisa memberimu sedikit kunci-kuncinya. Mari, ikut saya."


"Kemana, Encik?"


"Ke ruangan rahasia. "


Rumi mengikuti Encik David kedalam ruang bawah tanah yang tersembunyi. Pintu menuju ruang bawah tanah itu disembunyikan dibawah karpet yang ada di ruang tengah.


Di bawah ruang bawah tanah itu, terdapat lorong panjang dan sebuah lemari. Encik David menyorotkan lampu senternya. Tiap sudut ruangan dipenuhi jaring laba-laba, mengingatkan Rumi dengan gudang sekolah SMA nya dulu, tempat ia pernah dipukuli oleh teman-temannya.


Encik David menggeser lemari itu dan tampaklah sebuah pintu. Encik David membuka pintu itu dan menyalakan lampu.


"Ini adalah ruangan rahasia," kata Encik David.


"Wow," Rumi takjub melihatnya.


Di dalamnya, banyak rak buku yang berisi gulungan-gulungan kuno. Juga deretan lemari yang berisi kristal-kristal dan benda-benda pusaka lainnya.


Sebuah foto masa kecil Encik David bersama Encik Abdullah, ayahnya, terpajang di ruangan itu. Rumi mengamatinya dengan antusias.


"Jarang ada yang tahu keberadaan ruangan ini," kata Encik David. "Hanya saya sekeluarga dan Encik Johan sekeluarga. Sekarang ditambah satu lagi, kamu. Saya percaya denganmu dan saudara kembarmu."


Rumi tersenyum. "Mengapa Encik percaya kepada saya dan saudara kembar saya?"


Encik David balas tersenyum. "Karena hati saya mengatakan demikian."


Encik David membuka rak bukunya. Ia mengambil sebuah gulungan naskah berbahasa yang cukup aneh.Namun, Encik David sudah menambahkan terjemahan bahasa Malaysia nya dalam bentuk coretan-coretan.


"Ini, bawalah," kata Encik David.


"Apa ini, Encik?"


"Ini adalah gulungan naskah kuno yang ditulis dalam bahasa Shambala. Tetapi, saya sudah menerjemahkannya ke dalam bahasa Malaysia. Bacalah gulungan ini sebagai bekal untuk menjawab semua pertanyaan yang akan kamu hadapi sebelum memasuki Shambala."


"Terima kasih, Encik. "


"Mintalah Malaikat Pembimbingmu untuk selalu memberimu arahan. Sering-seringlah bermeditasi dan terhubung dengan dirimu sendiri. Sebab, hanya mereka yang terhubung dengan diri sejatinya sendiri saja lah yang boleh menjawab pertanyaan itu dengan mudah."


Rumi menganggukkan kepala. Ia mengambil sebuah kristal yang ada di sudut ruangan.


"Kristal apa ini, Encik?"


"Oh, itu adalah kristal pelindung yang saya pasang untuk memberikan energi pelindung bagi tempat ini, agar tidak mudah dimasuki oleh para pekerja kegelapan dan energi negatif lainnya. Tidak hanya disini, saya juga meletakkan kristal-kristal itu dibeberapa titik bangunan ini, yang saya rahasiakan. "


Rumi meletakkan kembali kristalnya. Mereka berdua meninggalkan kamar rahasia.


Sekilas, ia membuka gulungan naskah itu. Rumi melihat tulisan tangan Encik David yang berbunyi:


"Kenalilah dirimu sendiri, sebelum kamu mengenal Sang Sumber yang menjadi asal mula dirimu.


Hanya mereka yang mengenal dirinya saja lah, yang dibimbing oleh kebijaksanaan.


Lampauilah segala penglihatan, pendengaran, dan apapun yang kamu tahu, sebelum kamu mengetahui kesejatian yang tidak berwujud."


"Apa maksudnya ini, Teja?" Rumi bertanya kepada Malaikat Pembimbingnya.


"Ingatlah apa saja yang kamu lihat ketika aku mengajakmu jalan-jalan menjelajahi dirimu sendiri. Coba kamu renungkan lagi."


Rumi tersenyum.