Light Warriors

Light Warriors
Bagian 37



Perjalanan dimulai.  Jalan cahaya yang dibuat oleh Encik David menuntun mereka bersama dengan ribuan Para Kesatria Cahaya lainnya, secara otomatis menuju Pura Besakih,  di Pulau Bali. 


Perjalanan dengan menggunakan tubuh cahaya tidak seperti menggunakan tubuh fisik. Tubuh cahaya mampu melesat melintasi ruang dan waktu dengan cepat, secepat kilatan cahaya. Mereka dapat berkeliling dunia hanya dalam waktu beberapa menit saja. 


Mereka bergerak meninggalkan Malaysia, menuju Pulau Bali.  Dari atas ketinggian, tampak Pulau Bali memancarkan cahaya menyerupai bunga teratai. 


Dengan tiga macam kesadaran, yang disebut Tri hita karana : harmonis dengan Tuhan,  harmonis dengan sesama manusia,  dan harmonis dengan alam, juga tiga macam ajaran yang disebut Tri kaya Parisudha : berbuat yang baik,  berbicara yang baik,  dan berpikir yang baik,  masyarakat Bali tidak pernah berhenti menyebarkan cahaya kepada semesta.


  Cahaya itu terwujud dalam mantra dan doa-doa mereka,  yang tidak hanya ditujukan kepada Para Dewa dan sesama manusia,  tetapi juga kepada semua makhluk, termasuk makhluk-makhluk astral dari alam kegelapan,  dan dalam aneka sesaji yang mereka haturkan.


Terlihat Pura dan semua tempat suci di Bali memancarkan cahaya malam itu. 


Gunung Agung tampak tersenyum menyambut Para Kesatria Cahaya.  Pura Besakih berdiri kokoh di dekat Gunung Agung.  Para Pemangku Pura dan Para Pedanda (pemimpin tertinggi agama Hindu Bali) secara serentak membunyikan genta,  menyambut kedatangan tubuh-tubuh cahaya mereka. Suasana begitu hening dan sakral. 


Di mandala agung Pura Besakih,  tampak tubuh Cahaya yang menyerupai seorang Resi berdiri.  Perutnya buncit.  Wajahnya menyerupai sosok tua yang sangat bijak. 


Dalam dunia pewayangan,  ia dikenal sebagai sosok Semar. Ada yang mengenal beliau sebagai tubuh cahaya Mahareshi Agastya. Cahaya nya berkilauan. 


Ribuan tubuh cahaya tampak mengantri kepadanya,  sementara beliau mengajukan pertanyaan.  Tidak lama menunggu antrian ini, tibalah giliran Rumi dan rombongan tubuh cahaya dari Malaysia yang lain. 


Mereka menyampaikan salam hormat kepada Sang Resi. Rumi semakin mendekat. Tiba-tiba,  semua tubuh cahaya yang lain menghilang.  Rumi berada di dunia serba putih yang tanpa tepi.  Hanya ada Rumi dan Sang Resi saja.   Sang Resi mulai mengajukan pertanyaan : 


"Aku memiliki cahaya dengan empat macam warna.  Ada warna hitam,  ada warna merah,  ada warna kuning,  dan ada warna putih.  Masing-masing dari keempat warna ini akan membawamu kepada kebahagiaan.  Manakah warna yang kamu pilih? " 


Spontan,  Rumi kebingungan.  Semua warna itu menarik hati dan bagaikan magnet, terus merayu tubuh cahaya Rumi untuk  masuk kedalamnya. 


"Jangan gunakan akalmu saja, " kata Teja. "Rasakan... rasakan dengan kebijaksanaanmu yang terdalam.  " 


"Aku tidak memilih semua warna itu, " kata Rumi. 


Sang Resi tampak heran. "Mengapa?  Coba kemukakan alasanmu. "


"Hitam adalah kebahagiaan akibat keserakahan dan kemalasan.  Merah adalah kebahagiaan akibat ego dan ambisi.  Kuning adalah kebahagiaan akibat syahwat.  Putih adalah kebahagiaan akibat kepandaian akal.  Semua itu bukan kebahagiaan yang hakiki.  Semuanya adalah kebahagiaan semu.  " 


Hati nuraninya menuntunnya kepada jawaban itu.


Sang Resi tersenyum.  "Tepat sekali jawabanmu. Tidak ada kebahagiaan abadi yang bisa diperoleh dengan menuruti kemalasan, ego dan ambisi, syahwat, dan kepandaian akal. Namun, lampauilah semua itu, hingga kamu menemukan kebahagiaan sejati yang bersumber dari diri sejatimu sendiri. "


Ia memberkati tubuh cahaya Rumi dengan limpahan energi positif.  


"Sekarang,  pergilah. "


Dunia serba putih yang tak bertepi itu lenyap,  berubah menjadi dunia yang dipenuhi Para Kesatria Cahaya, seperti semula. 


Rumi kembali kepada rombongannya.  


"Bagaimana,  Mi?" tanya Encik Johan. "Tidak sulit kan pertanyaannya? " 


Rumi mengangguk. "Tidak, Encik."   


"Ayo kita melanjutkan perjalanan. "