Light Warriors

Light Warriors
Bagian 16



Ibu Ismunah terkejut sekali ketika Rumi membawa tamu dari Malaysia dan Pak Tirto mengunjungi kiosnya.  Buru-buru ia merapikan pakaiannya. Pak Min merapikan rambutnya dengan sisir.  


"Ssst...Mi, kamu kok nggak memberi tahu saya sih kalau ada tamu? " bisik Ibu Ismunah kepada Rumi. 


Rumi tersenyum. " Saya sendiri juga nggak menyangka kalau ada tamu." 


Ibu Ismunah membuatkan teh untuk Encik David,  Puan Hanizah,  dan Pak Tirto.  Encik David dan Puan Hanizah terus mengamati kondisi sekitar.  Timbul rasa iba dalam hati mereka.  Mata mereka melihat benjolan di leher Pak Min seperti yang diceritakan oleh Rumi. 


Setelah berkenalan,  mereka mulai berbincang.  Namun,  Pak Min tidak bisa ikut karena harus mengirim pesanan nasi bungkus ke proyek bangunan.  


"Dulu awalnya kami nggak berjualan disini,  " kata Ibu Ismunah.  "Kami sempat punya warung di Pasar Wonokromo. Namun,  musibah kebakaran datang tak terduga membakar seluruh pasar.


Warung kami terbakar. Kami mengalami banyak kerugian. Sebelumnya, warung nasi kami di desa juga terbakar karena korsleting. Jadi, sampai saat ini, saya sudah dua kali mengalami kebakaran warung. Yang pertama, mungkin karena kecerobohan kami sendiri. Sedangkan yang kedua, adalah kebakaran masal, dimana kami tak kuasa berbuat apapun.


Dengan sisa uang yang ada,  saya dan suami membuka kios kecil-kecilan disini. Saya nggak mampu membayar kos-kosan. Akhirnya,  ya saya dan suami saya tidur disini." 


"Ibu dan bapak aslinya mana? " tanya Pak Tirto.  


"Kami dari Ngawi, Pak. Kami pindah ke Surabaya setelah warung kami yang di Ngawi juga mengalami kebakaran.


Kami memulai semuanya dari nol. Mula-mula, saya dan suami saya bekerja ikut orang. Saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan suami saya sebagai penjaga keamanan. Sampai kami bisa menyekolahkan anak semata wayang kami."


"Anak Ibu sekarang dimana? " tanya Encik David. 


"Sudah meninggal dunia, Pak. Kecelakaan lalu lintas saat dibonceng sepeda motor oleh temannya. Waktu itu, anak saya seumuran Rumi."


"Oh, Inalillahi wa inailayhi rajiiun, " kata mereka serentak.  


"Oleh karena itu, saya senang kalau Rumi dan saudara kembarnya berkunjung ke kios saya. Rasanya,  seperti anak saya hadir kembali."


Puan Hanizah melirik ke arah Rumi dan tersenyum.  


"Jadi kamu punya saudara kembar ya, Mi? " tanya Puan Hanizah.  "Pasti dia tampan seperti kamu."


Rumi tersenyum dan tertunduk malu. 


"Jadi benar ya Rumi sering datang ke kios Ibu dan membantu pekerjaan Ibu? " tanya Encik David.  


"Iya, Pak," jawab Ibu Ismunah. " Setiap pulang sekolah, Rumi selalu berkunjung ke kios saya dan membantu saya mencuci gelas dan bersih-bersih. Sudah beberapa kali saya larang, tetapi Ruminya terus memaksa. Kadang si Syam,  saudara kembarnya juga ikut membantu." 


"Lho, mengapa dilarang, Bu? " tanya Puan Hanizah. " Mereka kan membantu meringankan pekerjaan Ibu?" 


"Saya malu, Bu." Ibu Ismunah menghela napas.  "Saya tidak bisa membayar mereka berdua. Saya juga kasihan sama Rumi. Baru pulang sekolah,  badan masih terasa lelah,  namun langsung membantu saya bekerja disini."


"Rumi pernah minta bayaran kah? " Encik David bertanya. Ia menyeruput segelas es teh didepannya.  


Ibu Ismunah menggelengkan kepala. "Nggak pernah, Pak. Rumi selalu bilang bahwa dia ikhlas membantu saya." 


Encik David,  Puan Hanizah, dan Pak Tirto merasa terharu, sekaligus kagum dengan Rumi.  Rumi tetap menundukkan kepala, malu terus menerus dipuji.  


"Saya juga heran. Kok ada anak muda seusia Rumi dan Syam yang mau membantu orang tua seperti saya dan suami saya ini, " Ibu Ismunah tak kuasa menahan air matanya. 


"Padahal saya nggak bisa memberi mereka apa-apa. Saya cuma bisa mendoakan mereka agar mereka dibukakan jalan hidup, diberi kesehatan, dan Kesuksesan. " 


Puan Hanizah langsung berdiri dan memeluk Ibu Ismunah dengan erat.  


"Semoga Tuhan memberikan jalan untuk kita semuanya, " kata Puan Hanizah. " Ibu Ismunah dan Pak Min harus kuat.Harus bersabar menghadapi cobaan hidup. " 


Setelah Puan Hanizah memeluk Ibu Ismunah,  ganti Encik David dan Pak Tirto memeluk Ibu Ismunah. Semuanya terhanyut dalam perasaan haru.  


"Mi, boleh tidak kita berkunjung ke rumahmu?" tanya Puan Hanizah.  


"Uhm, boleh sih,  " Rumi menggaruk kepalanya.  "Tapi Saya dan keluarga saya tinggal di kamar kos yang sempit. Saya malu." 


"Tidak masalah, Mi, " kata Encik David. "Kami hanya ingin berkenalan dengan keluargamu, Mi. Boleh kan?"  


Rumi mengangguk mengiyakan.


*


Mobil pun bergerak menuju kos-kosan Rumi.Karena jalanan sangat sempit dan kendaraan beroda empat tidak diperkenankan masuk gang, mobil terpaksa diparkir didepan gang dan mereka pun berjalan kaki menuju kos-kosan.


 Sesampainya di kamar kos Rumi, mereka mengamati kondisi sekeliling.  


"Silahkan masuk Pak, Bu, " kata Ibu. " Tapi maaf, kami tidak memiliki meja dan kursi. Jadi,  hanya bisa duduk dibawah seperti ini." 


"Ah, tidak masalah, Bu, " kata Encik David.  "Duduk dibawah seperti ini saja kami sudah merasa nyaman."


Ibu membangunkan Syam yang sedang tidur sambil bertelanjang dada karena udara sangat panas.  


"Syam, " Ibu menepuk pundak Syam. " Ada tamu dari Malaysia." 


Syam termenung sejenak, mengusap-usap matanya. "Hah, Malaysia? Jauh sekali?" 


"Dari sekolahnya Rumi. Tuh, ada Pak Tirto juga." 


Syam langsung mengenakan kausnya dan mencuci muka.  Ibu mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dari dalam tasnya.


" Syam, tolong kamu belikan minuman dan makanan kecil di warung Bu Sri." 


"Iya, Bu."


Syam sedikit menundukkan kepala melewati tamu-tamu itu. 


"Permisi, Pak, Bu." Syam menyalami Pak Tirto, Encik David dan Puan Hanizah.


"Apa kabar, Syam? " tanya Pak Tirto.  


"Alhamdulillah, baik, Pak. Permisi ya, Pak."


Syam  keluar rumah menuju warung Bu Sri.  


Puan Hanizah melirik ke arah Rumi. " Mi, itu saudara kembarmu kah? " 


"Iya, Puan, " jawab Rumi lirih.  


"Sebenarnya semuanya ada empat. Ibu,  Bapak,  saya,  dan saudara kembar saya. Tetapi,  Bapak baru saja meninggal dunia seminggu yang lalu. Jadi, tinggal kami bertiga saja. " 


"Oh, Innalillahi wa inailayhi rajiuun, " ucap Pak Tirto. "Kami turut berduka cita." 


"Terima kasih, Pak, "jawab Rumi.


"Semua cobaan hidup akan membuatmu kuat dikemudian hari, " kata Encik David.  "Kamu harus terus bersemangat. " 


"Terima kasih, Encik," jawab Rumi.


"Saudara kembarmu tidak sekolah kah? " tanya Puan Hanizah.  


Rumi menggelengkan kepala.  "Syam terpaksa putus sekolah karena nggak ada biaya. Selain itu, dia juga harus bekerja membantu Ibu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami." 


"Oh, kasihan sekali, " kata Puan Hanizah. 


Syam datang dengan membawa es teh dan gorengan.  


"Mari, Pak, Bu, silahkan dinikmati."


"Ah, kok jadi merepotkan? "tanya Pak Tirto. 


 


"Nggak apa-apa, Pak, " Syam duduk disebelah Pak Tirto.  Sesekali ia melirik ke arah Rumi.  Rumi pun balas melirik.


Syam masih heran,  bagaimana bisa Rumi membawa tamu dari Malaysia berkunjung ke rumahnya. Ia berniat mewawancarai saudaranya setelah tamu-tamu itu pulang. 


Tidak lama kemudian,  Ibu yang baru selesai mandi dan berganti pakaian, datang dan menemui tamu-tamu itu.  Ibu mulai sedikit berbasa-basi.  


"Hmm, Bapak, Ibu, mohon maaf ya, kami hanya bisa menyajikan makanan seadanya, " katanya. " Rumah kami juga berantakan sekali."


"Nggak apa-apa, Bu, " kata Pak Tirto.  "Jadi,  pagi ini, sekolah kami kedatangan sebuah organisasi kemanusiaan dari Malaysia. Encik David dan Puan Hanizah ini adalah pemimpin organisasi itu." 


"Oh, begitu, " kata Ibu. 


"Kami juga kagum dengan apa yang sudah Rumi lakukan, " kata Puan Hanizah.  "Menurut kami,  pemuda seperti Rumi ini luar biasa sekali." 


Ibu memandang wajah Rumi dengan penuh heran. " Memangnya,  anak saya sudah melakukan perbuatan apa sampai-sampai membuat Bapak dan Ibu kagum? " 


"Membantu seorang wanita tua mencuci gelas dan piring, juga membersihkan kiosnya dengan sukarela, " jawab Encik David.  


"Oh, ha..ha..ha, " Ibu tertawa kecil.  Dalam hatinya,  ia menertawai dirinya sendiri yang sempat menegur dan menyalahkan anaknya gara-gara bekerja di kios Ibu Ismunah tanpa dibayar.  Muncul sedikit penyesalan.


 "Ah, cuma membantu mencuci gelas saja. Bukanlah sesuatu yang besar." 


"Memang bukan sesuatu yang besar, " kata Encik David.  "Karena untuk saat ini, hanya hal kecil ini yang bisa Rumi lakukan. Tetapi bermula dari hal yang kecil inilah,  kita yakin , kelak Rumi akan melakukan sesuatu hal yang lebih besar." 


Syam hanya bisa termangu mendengarnya.  Kini, ada sedikit titik terang dalam benaknya mengapa tamu-tamu dari Malaysia ini datang ke rumahnya. 


"Anak Ibu hebat sekali, " ujar Puan Hanizah. " Organisasi kita telah mengadakan kunjungan ke berbagai negara dan memberi penghargaan kepada pemuda-pemudi yang telah melakukan perbuatan-perbuatan kecil,  tapi besar artinya bagi kemanusiaan. " 


"Wah, hebat sekali, " kata Ibu. "Biasanya penghargaannya berupa apa?"


"Beasiswa pendidikan, dana bantuan dari sumbangan anggota organisasi kita yang ada di seluruh dunia, dan masih banyak lagi, " kata Encik David.  "Kita juga telah bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk memberi penghargaan kepada pemuda-pemudi Indonesia yang mau berbuat sesuatu untuk kemanusiaan." 


"Syukurlah kalau begitu, " kata Ibu. "Rumi ini adalah satu-satunya tumpuan keluarga kami. Semenjak bapaknya berhenti bekerja dan terserang stroke,  Syam terpaksa putus sekolah dan bekerja di proyek bangunan untuk membantu membiayai kebutuhan hidup kami. Sementara Rumi tetap sekolah dengan harapan kelak, setelah ia menyelesaikan sekolahnya, ia akan membawa perubahan pada keluarga kami."


"Oh begitu ya, " kata Encik David.  "Andaikata ada peluang,  apakah Syam ingin bersekolah lagi? " Encik David bertanya pada Syam.  


Syam menganggukkan kepala,  "Tentu saja saya mau." 


Encik David tersenyum. Ia melirik istrinya sejenak.  Puan Hanizah membalas dengan senyuman.  


"Sabar ya, Syam, " kata Puan Hanizah. "Pasti ada jalan dari Tuhan agar kamu bisa bersekolah lagi." 


"Amiin, " jawab Syam, Rumi,  dan Ibunya serentak.  


"Asalkan ada niat yang kuat dari dalam diri Syam untuk maju,  " tambah Encik David. "Segalanya tidak ada yang tidak mungkin." 


Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore.  Mereka pun berpamitan.  .


Setelah tamu-tamu itu pulang,  Ibu bergegas pergi kerja. Sebelum berangkat, ia memeluk Rumi.  


"Mi, Ibu minta maaf ya, " katanya.  


"Minta maaf kenapa, Bu? " tanya Rumi.  


"Ibu sudah salah sangka terhadapmu. Mulai sekarang, Mi, lakukan apa yang menurutmu baik."


"Iya, Bu. Sama-sama. Maafkan saya juga ya kalau saya punya salah dengan Ibu. " 


Ibu menyudahi pelukannya.  Ia menatap kedua anaknya. "Ibu pergi dulu ya."  


"Iya Bu," jawab Rumi dan Syam serentak.


Ibu segera meninggalkan kamar kos dan pergi.


Rumi dan Syam saling memandang selama beberapa menit.  Kemudian mereka saling senyum.  


"Akhirnya, Ibu sadar juga, " kata Syam.  


"Iya, Syam."


"Mandi sana. Baumu nggak enak, Mi. Bercampur dengan bau sungai lagi." 


Syam tertawa terpingkal-pingkal.  


"Memang iya. Kenapa?  Kamu nggak suka? "


Rumi pun mengambil handuk dan segera mandi.