Light Warriors

Light Warriors
Bagian 7



Bel sekolah berbunyi nyaring.  Para siswa buru-buru memasuki ruang kelas. 


Pelajaran pertama adalah fisika.  Pak Suyadi,  wali kelas dua belas IPA dua, kelas Rumi,  mulai menuliskan rumus-rumus di papan tulis untuk dipecahkan oleh para siswa yang masih setengah mengantuk. 


Rumi berusaha memperhatikan penjelasan Pak Suyadi, walapun ia sudah memahaminya.  Bahkan,  ia menemukan rumus yang lebih cepat daripada yang dijelaskan oleh guru fisikanya itu. 


Namun,  lagi-lagi Teja menyuruh Rumi untuk tidak menunjukkannya kepada siapapun.  Ia harus selalu berpura-pura bodoh. 


Terdengar suara pintu kelas dibuka.  Tampak seorang siswa dengan raut wajah kurang bersemangat, dengan langkah kaki diseret,  masuk. Jaka.  Siswa yang biasanya cukup disegani disekolah.


"Kamu terlambat,  Jak, " kata Pak Suyadi.  


"Maaf,  Pak,  saya bangun kesiangan. "


"Seharusnya kamu tidak saya perkenankan masuk kelas, " kata Pak Suyadi.  "Tapi hari ini,  kamu saya maafkan.  Asal jangan diulangi lagi. "


"Baik,  Pak, " jawab Jaka.  


Jaka pun berjalan melewati deretan bangku,   menuju bangku kosong yang berada di sebelah Rumi. Jaka menempati bangku kosong itu.  Tentu saja ini mengagetkan siswa-siswa yang lain,  tak terkecuali Rumi. 


Para siswa saling berbisik membicarakan Jaka yang tidak seperti biasanya itu.  


"Mi,  aku boleh duduk disini kan? " tanya Jaka.  


Rumi mengangguk,  "Hmm... boleh saja.  " 


"Terima kasih. " 


Selama beberapa menit,  mereka saling diam.  Rumi bingung melihat keanehan ini.  Biasanya,  jangankan duduk disebelah Rumi,  berbicara dengan Rumi saja Jaka tidak ingin berlama-lama.  Takut wibawanya jatuh kalau bergaul dengan siswa yang lemah dan miskin seperti Rumi.  


"Mi,  tadi Pak Suyadi sampai mana menjelaskannya? " tanya Jaka.  "Aku boleh pinjam buku catatanmu nggak? Juga buku catatan mata pelajaran yang lain.  Aku sudah ketinggalan banyak mata pelajaran selama aku nggak masuk sekolah."


Rumi tersenyum,  "Pinjam aja semaumu,  Jak. "


"Terima kasih,  Mi. Nanti,  aku traktir kamu makan di kantin.  Makanlah sesukamu."


"Nggak perlu seperti itu,  Jak," kata Rumi. " Aku ikhlas kok." 


"Ngomong-ngomong,  terima kasih banyak ya untuk buah-buahan dan makanan ringan yang kemarin itu, " Jaka tersenyum.  "Sudah aku habiskan semuanya tadi malam. " 


"Hah? Semuanya? " Rumi terkejut. 


"Iya,  semuanya. Aku lapar sekali.  Kedua orang tuaku pergi sampai larut malam dan lupa meninggalkan makanan di lemari es.  Rasanya aku malas sekali membeli makanan di luar. Syukurlah kamu dan Syam datang membawa makanan.  " 


Rumi tersenyum.  


"Mi,  maafkan semua kelakuanku selama ini."  


Jaka merangkul pundak Rumi.  "Iya,  Mi. Nggak apa-apa. " 


Tentu saja sikap Jaka yang mendadak baik kepada si "Profesor tidur" itu menjadi pembicaraan hangat di seantero sekolah. 


Mereka semua bertanya-tanya.  Ada apa dengan Jaka?  Kok tiba-tiba menjadi aneh? Apakah ia tersambar petir,  hingga ingatannya  mendadak berubah? 


Jaka tidak mempedulikan semua itu.  Ia mengikuti Rumi kemanapun Rumi pergi,  walaupun sebenarnya Rumi merasa risih. 


Rumi lebih lebih senang sendiri,  kecuali bersama  dengan Syam.  Jaka merangkul pundak Rumi dan mengajaknya makan di kantin sekolah.


Koko,  Anjar,  Irwan dan Anto,  teman-teman Jaka yang ikut memukuli Rumi tampak duduk di kantin dan  membicarakan keanehan "bos besar" mereka itu.  Mereka tersentak kaget ketika Jaka dan Rumi datang.  Jaka langsung menggebrak meja.  


"Apa kabar kalian semua? " tanya Jaka.  


"B... baik,  bos, " kata Koko.  Sedangkan Anjar dan Anto tertawa nyengir saja.  


"Halo Prof..., " Koko kelepasan hendak memanggil Rumi dengan sebutan Profesor tidur.  Namun,  ia terhenti karena takut dengan Jaka.  "Halo Rumi..... " 


"Mulai sekarang,  siapapun yang berani macam-macam dengan Rumi akan berhadapan denganku, " kata Jaka. "Termasuk yang berani memanggilnya Profesor tidur atau julukan yang lainnya."


"Oh.. baik, baik bos, " kata mereka serentak.  


Semenjak Jaka berdamai dengan Rumi,  ia tidak merasa dikejar-kejar oleh api lagi.  Pikirannya menjadi lebih tenang.  Juga tidak ada lagi siswa yang berani mengganggu Rumi di sekolah. 


Namun,  sekalipun mereka berdua bersahabat,  Rumi tetap memilih untuk menyendiri di perpustakaan setiap jam istirahat.  Ia lebih asyik berdialog dengan Teja dan buku-buku di perpustakaan,  daripada bercanda ria dengan Jaka,  Koko, Irwan, Anjar,  dan Anto.  Jaka pun memakluminya.  


"Apakah kini kamu mempercayaiku? " Teja bertanya. 


Rumi mengangguk. 


"Selama ini, aku selalu mempercayaimu.  Kamu selalu memberiku jawaban dan solusi yang tepat setiap aku membutuhkannya. Kamu juga membantuku menemukan rumus-rumus cepat fisika dan kimia yang belum diketahui oleh siapapun.  Kamu mengetahui banyak tentang rahasia Semesta.  Jadi,  tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayaimu. " 


"Namun,  maafkan aku, aku tidak selalu serta merta memberimu bantuan atau jawaban.Pantang bagiku untuk seperti itu. Aku juga harus memberimu rintangan sebelum memberimu solusi.  Aku ingin kamu matang dan bertumbuh dengan mengalami berbagai rintangan. "


Rumi mengangguk.  


"Karena itulah,  aku tidak menolongmu ketika kamu dipukuli oleh Jaka dan teman-temannya, sekalipun aku bisa kalau aku mau.  Aku ingin kamu belajar dari penderitaan itu. " 


"Kenapa?  Memangnya,  apa yang bisa aku pelajari dari penderitaan itu? "


"Sekuat apapun batu karang di dasar samudera ego manusia,  akan hancur lebur dengan kekuatan kasih dan pengampunan. Dan kamu telah membuktikannya dengan pengalamanmu sendiri.  Seorang Jaka yang keras dan memusuhimu,  kini berbalik menjadi teman baikmu ketika kamu memberinya kasih dan pengampunan. Sekarang,  kamu tahu kan mengapa aku selalu melarangmu untuk membalas siapapun yang menyakitimu? " 


Rumi mengangguk.  Ia membuka matanya dan Teja pun menghilang.