
"Syam, tolong jemput aku di sekolah dong, " Rumi memejamkan matanya dan meletakkan telapak tangannya di dada. Ia mulai berbicara secara telepati dengan Syam.
"Ada apa, Mi? " Syam menyahut secara telepati. "Kamu nggak dapat angkot kah? "
"Nggak, Syam. Bukan begitu maksudku. Aku butuh bantuanmu. "
Lima belas menit kemudian, Syam datang dengam membawa sepeda motornya.
"Syam, antarkan aku ke rumah Jaka. Kamu tahu rumahnya kan? "
"Hah? Ke rumah si Jaka? " Syam tampak heran. "Kok tumben? "
"Sudah dua hari dia nggak masuk sekolah, Syam. Aku merasa aneh saja. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya. "
"Ah, peduli amat dengan si sombong itu, Mi."
"Jangan begitu, Syam. Biar bagaimanapun, Jaka itu teman kita juga. "
"Dia nggak pernah menganggapmu teman, Mi. Dia mau berteman kalau ada maunya aja "
"Tapi aku mau ke rumahnya, Syam. Kamu harus mengantarku kesana."
"Ya sudahlah, Mi. Kalau itu memang maumu."
Surabaya panas sekali siang itu. Ditambah dengan kemacetan yang membuat orang merasa lelah. Beruntung pemerintah kota Surabaya menanami sepanjang ruas jalan dengan pepohonan hijau dan tanaman-tanaman hias yang lain. Salah satu jenis pohon itu bernama Tabebuya, yang jika berbunga mirip sekali dengan bunga sakura yang ada di Jepang. Selain membuat kota Surabaya menjadi tampak cantik, pohon Tabebuya ini memiliki fungsi untuk menyerap polusi.
Dalam perjalanan menuju rumah Jaka, mendadak Teja mengajak Rumi berbicara.
"Mi, jangan lupa berhenti di mini market untuk beli buah atau makanan ringan, " katanya.
"Untuk apa? " Rumi bertanya dalam hati.
"Masa kamu berkunjung ke rumah temanmu, tetapi tidak membawa apapun? "
"Tapi aku nggak punya uang, "jawab Rumi.
"Pinjam uang Syam."
"Ya, ya, ya. Baiklah."
"Syam, kita mampir ke mini market dulu ya," kata Rumi.
"Ada apa, Mi? "
"Aku mau membeli sesuatu untuk Jaka."
"Hah? Kamu serius, Mi? "
"Aku serius kok. Kenapa? "
"Kok kamu jadi terlalu baik seperti itu? Mau-maunya sih kamu membelikan sesuatu untuk si sombong itu? "
"Nggak tahu, Syam. Tiba-tiba ingin saja. Kenapa, Syam? Kamu keberatan? "
"Hmm...nggak kok, Mi. Aku cuma heran saja. Dan aku khawatir, jangan-jangan kamu salah makan sesuatu atau kerasukan makhluk ghaib."
Hahaha. Nggak kok, Syam. Pikiranmu saja yang harus dibawa ke bengkel. Bawaannya negatif melulu. "
"Iya, iya, Mi. Maafin aku ya."
"Eh, tapi aku pinjam uangmu, Syam. Boleh nggak? "
Syam tampak heran. "Hah? Kamu mau pinjam uangku untuk membelikan si sombong sesuatu? "
"Uhm, iya, Syam. Boleh ya? "
"Nggak boleh, " kata Syam.
"Ayolah, Syam. Uangku sudah habis. "
"Maksudku, nggak boleh kalau pinjam, Mi. Aku bukan bank atau koperasi simpan pinjam. Tapi aku adalah saudaramu yang akan memberimu tanpa kamu harus meminjamnya. "
Syam tersenyum. Legalah hati Rumi.
"Terima kasih ya, Syam."
"Sama-sama, Mi."
Setelah membeli buah-buahan dan beberapa makanan ringan di mini market, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Jaka, di sebuah komplek perumahan mewah yang didesain mirip dengan suasana di Eropa. Jalan-jalan di komplek perumahan itu diberi nama dengan nama kota-kota di Eropa. Ada Paris, Roma, Venesia, dan lain sebagainya.
Rumah Jaka terdiri dari dua lantai, dengan pilar-pilar yang kokoh seperti pilar-pilar istana dewa-dewa Gunung Olympus dalam mitologi Yunani Kuno. Pagarnya sangat kokoh, bisa dibuka dan ditutup dengan menggunakan remote control. Di dalamnya, ada tiga buah mobil mewah yang diparkir.
"Inikah rumahnya si Jaka? " tanya Rumi.
"Iya, Mi."
Rumi pun menekan bel yang ada di dekat pintu gerbang. Seorang pembantu membukakan pintu.
"Cari siapa, Mas? " tanyanya.
"Uhm... Jakanya ada di rumah, Mbak? "
"Oh, ada, Mas."
"Saya Rumi, temannya sekolah."
"Oh, baik, Mas. Tunggu sebentar ya, saya panggilkan Mas Jaka."
Dari dalam kamarnya di lantai dua, Jaka tampak ketakutan sekali. Semenjak pertemuannya dengan Syam, dirinya menjadi tidak tenang. Ia selalu melihat api setiap kali ia memejamkan matanya. Api itu selalu mengejarnya. Hampir setiap malam Jaka menjerit karena api itu datang mengagetkannya, membuatnya berteriak-teriak seperti orang kerasukan.
Api itu bisa berbicara dengannya dan memaksanya untuk meminta maaf kepada Rumi dan Syam. Juga memintanya agar berhenti menindas siswa-siswa yang lemah.
Terdengar pintu kamarnya diketuk.
"Mas Jaka, " kata pembantunya. "Ada teman-teman sekolah Mas Jaka ingin bertemu. "
"Siapa, Mbak? " jawab Jaka.
"Namanya Rumi. Yang satunya lagi saya belum menanyakan namanya. "
"Wah, untuk apa Rumi datang kemari?" pikir Jaka. "Apa dia ingin meminjam uang lagi? Dan satunya lagi, pastilah itu si Syam. Mungkin ia ingin memukuliku kalau aku nggak mau meminjaminya uang. Wah, aku harus bagaimana ini?" Jaka semakin ketakutan. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun selain menemui mereka berdua.
"Uhm...Baik, Mbak. Suruh mereka menunggu di ruang tamu, " kata Jaka.
Jaka pun menemui Rumi dan Syam di ruang tamu dengan terpaksa.
"Halo si so.., " sebelum menuntaskan memanggil Jaka dengan sebutan si sombong, Rumi menginjak kaki Syam. " Hmm... halo Jaka. "
"Ya, " jawab Jaka singkat. Wajahnya tampak pucat. "Ada perlu apa kalian datang kesini? "
"Cuma ingin tahu kabarmu saja, " jawab Rumi. "Sudah dua hari ini kamu nggak masuk sekolah dan nggak ada kabar. Kamu sakit ? "
Jaka membetulkan krah bajunya. Ia masih tetap tanpa ekspresi untuk menjaga wibawanya. "Ya, sedikit nggak enak badan."
"Oh begitu, " kata Syam.
"Kalian mau pinjam uang lagi ? " tanya Jaka.
"Katakan berapapun yang kalian mau, nanti aku pinjami. Tapi jangan sampai kelamaan mengembalikannya. "
"Hmm... Nggak, Jak, " kata Rumi. " Kami cuma ingin tahu kabarmu. Itu saja. Nggak ada niat pinjam uang atau yang lainnya. Oh iya, aku membawa buah-buahan dan makanan ringan untukmu. "
Rumi menyerahkan kantong plastik berisi buah-buahan dan makanan ringan. Jaka semakin heran. Kok tiba-tiba Rumi dan Syam bersikap baik padanya?
Sebenarnya, dalam hati, ia tersentuh juga. Namun, ia tetap memilih menyembunyikan perasaannya itu agar tampak berwibawa.
"Ya, terima kasih, " kata Jaka. "Letakkan saja disitu. "
Rumi meletakkan barang bawaannya diatas meja ruang tamu.
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya, " kata Rumi. "Cepat sembuh ya, Jak. "
"Ya, terima kasih, "jawab Jaka datar.
Syam dan Rumi pun meninggalkan rumah Jaka. Setelah kedua kembaran itu pergi, Jaka membuka kantong plastiknya. Ia melihat buah-buahan segar dan makanan ringan. Kebetulan, perutnya sedang lapar. Kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Pas sekali ada yang membawakannya makanan.
"Tapi tunggu dulu, jangan-jangan makanan ini ada racunnya. Ya, mereka pasti ingin balas dendam. Mereka ingin aku mati, " batinnya.
Jaka terus mengamati dengan seksama setiap makanan dan buah-buahan itu. Semuanya masih tertutup rapat. Buah-buahannya pun masih segar, tidak ada bekas suntikan atau semacamnya. Terasa sekali makanan ini masih baru dibeli dari mini market. Tidak ada yang mencurigakan. Jaka pun mengambil sepotong apel dan menggigitnya.
"Hmm... enak juga, "batinnya.
Sembari tersenyum, ia mengambil semua makanan itu dan membawanya kedalam kamar tidurnya di lantai dua.
*
"Gila banget, " Syam menggerutu dalam perjalanan pulang. " Kita sudah berbaik hati mau berkunjung ke rumahnya. Dan aku sudah kehilangan uang untuk membeli makanan untuknya. Tapi sikap si sombong itu masih saja angkuh. "
"Sabar, Syam, " kata Rumi.
"Huh, untung aku masih bisa mengendalikan emosiku. Kalau nggak, sudah aku patahkan gigi-giginya."
"Syam, apapun yang terjadi, kita harus tetap berbuat baik kepadanya,"kata Rumi.
"Kamu terlalu baik, Mi. Terlalu baik. Bahkan karena terlalu baiknya, kamu seringkali direndahkan oleh teman-teman yang lain."
Rumi terdiam dan memejamkan matanya. Dilihatnya Teja memancarkan cahaya yang semakin terang.
"Kamu tenang saja, Mi. Teruslah berbuat baik sekalipun kamu disakiti. Berkati dan doakan orang yang menganiaya kamu. Kasihilah orang yang memusuhimu. Dengan kekuatan kasih, batu karang yang paling kuat di dalam samudera hati seseorang akan hancur berkeping-keping. "
Rumi tersenyum.
"Kamu ngantuk, Mi? " Syam bertanya.
"Nggak kok, Syam." Ia membuka matanya.
"Tuh, kamu memejamkan matamu."
"Hanya sedikit kelilipan aja, Syam. "
"Kamu jangan menipuku, Mi. Aku tahu, kamu bisa melihat Malaikat," kata Syam.
"Maksudmu?" Rumi keheranan.
"Setiap kamu memejamkan matamu, kamu sedang berbicara dengan Malaikatmu."
"Darimana kamu mengetahuinya, Syam?"
"Aku juga sama sepertimu, Mi. Aku bisa melihat Agni, Malaikat Apiku. Dan itulah yang menjadi rahasia kekuatanku selama ini."
"Kenapa kamu baru cerita sekarang, Syam?"
"Karena aku hanya boleh menceritakannya kepada sesama orang yang bisa melihat Malaikat juga. Dan aku ragu, apakah kamu juga bisa melihat Malaikat, sepertiku. Selama ini, aku menyelidikimu. Rahasia kecerdasan otakmu. Puisi-puisimu. Dan kebiasaanmu memejamkan mata setiap kali hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit, sampai kamu dijuluki profesor tidur oleh teman-teman yang lain. Dan sekarang aku yakin, kamu juga bisa melihat Malaikat sepertiku. "
"Iya, Syam," Rumi mengangguk. "Aku bisa melihat Malaikat Cahaya. Aku memanggilnya Teja."
Syam tersenyum puas. Ia memacu kendaraannya dengan kencang.