
Sore hari, di Kuala Lumpur, Malaysia.
Sembari menatap kosong pemandangan Menara Kembar Petronas dari jendela kamar tidurnya, Rumi mulai menulis puisi di buku hariannya.
Kupu-kupu hijau itu dengan setia menemaninya. Ia terus menggerak-gerakkan sayapnya. Sekalipun Rumi tidak mengurungnya di suatu tempat, seperti toples, botol, atau semacamnya, kupu-kupu itu tidak pernah pergi meninggalkan Rumi.
Rumi tersenyum memandang kupu-kupu itu. Tangannya terus menorehkan tinta di buku hariannya, merajut kata demi kata.
Kupu-kupu itu hinggap diatas buku hariannya, seolah ia ikut membaca apa yang dituliskan oleh Rumi. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Rumi dalam tulisan-tulisannya.
Kupu-kupu yang menyimpan sejuta misteri.
Rumi menulis :
"Aku memandang kupu-kupu hijau yang selalu mengikutiku...
Ada tangis, tawa, sedih, bahagia dibalik kupu-kupu hijau itu...
Aku memutar tubuh cahayaku, terus berputar dan berputar...
Melakukan tarian Semesta yang penuh misteri...
Berputar mengikuti putaran bumi..
Berputar mengikuti putaran jarum jam...
Perputaran siang dan malam...
Sedih bahagia, Bahagia sedih...
Melampaui semua dualisme yang ada...
Hingga terlihat hanya ada satu titik saja..
Satu titik yang menjadi pusat perputaran itu...
Satu titik yang menjadi pusat segala keberadaan...
Satu titik yang meliputi segala-galanya di Semesta ini..
Titik itulah DIA..
DIA lah titik itu..
Kupu-kupu hijau turut menari bersamaku...
Rasanya, aku ingin bercerita kepadamu
Bagaimana kupu-kupu hijau itu bermula ? "
*
Surabaya, dua tahun sebelumnya.
Hujan turun dengan derasnya, diiringi suara petir dan angin topan. Kota Surabaya berada dalam ancaman angin kencang.
Seorang lelaki, bertubuh jangkung dan mengenakan jaket hitam, terus mengamati gedung sekolah SMA itu. Tutup kepala yang menyatu dengan jaket, membuat wajahnya tidak terlihat jelas. Matanya terus memandang gedung sekolah itu dengan tajam. Senyuman sinis menghiasi wajahnya.
Mulutnya berkomat-kamit, merapalkan mantra-mantra sihir. Dari telapak tangan kanannya, keluarlah ratusan asap hitam yang membentuk berbagai wujud makhluk astral yang menyeramkan.
"Jalankan tugas kalian dengan baik," kata lelaki itu. "Terus awasi kedua cahaya kembar itu."
"Baik, Tuan," kata makhluk-makhluk astral itu serentak.
Mereka berpencar, menempeli tubuh setiap orang yang lewat, sembari menyebarkan rasa marah, rasa benci, rasa sombong, rasa sedih, dan berbagai perasaan negatif lainnya.
*
BUKK. Jaka memukul perut Rumi Satria Pramana dengan keras. Sementara, kedua teman Jaka lainnya, Anjar dan Koko memegangi tangan Rumi.
Rumi tampak lemah dan tak berdaya. Wajahnya penuh memar karena dipukuli mereka bertiga. Bibirnya berdarah. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun gagal. Ia kalah kuat. Tiga orang berhadapan dengan satu orang yang tidak bernyali. Kekuatan yang tidak seimbang.
"Kamu sudah janji untuk melunasi hutang-hutangmu, " bentak Jaka dengan garang. Ia menyalakan sebatang rokok, menghisapnya, dan menghembuskan asapnya ke wajah Rumi.
Spontan, Rumi terbatuk-batuk. Anjar dan Koko tertawa-tawa. Mereka terhibur melihat Rumi yang terbatuk-batuk dihadapan mereka.
"Kapan kamu bisa melunasi hutang-hutangmu, Profesor tidur? " lanjut Jaka.
"A.. aku akan segera melunasinya. Tapi nggak bisa sekarang. Aku belum punya uang, " jawab Rumi terbata-bata. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
BUKK. Jaka kembali memukul perut Rumi dengan keras. Rumi jatuh tersungkur dilantai gudang sekolah yang kotor.
Seragam putihnya terkena debu yang memenuhi lantai gudang sekolah, bercampur keringat dan darah yang mengucur dari wajah dan bibirnya.
Jaka dan kedua temannya menendangi tubuh Rumi yang tergeletak di lantai bertubi-tubi. Rumi hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan perlawanan. Rasa sakit disekujur tubuhya tak tertahankan rasanya.
"Ayo kita pergi, teman-teman, " perintah Jaka kepada Anjar dan Koko. "Buang-buang waktu saja disini. "
Mereka meninggalkan Rumi tergeletak sendirian di gudang sekolah. Gelap dan pengap ruangan itu. Sarang laba-laba menenuhi hampir setiap sudut ruangan. Hanya ada sedikit sinar matahari yang masuk melalui ventilasi udara menyorot tubuh anak SMA berusia delapan belas tahun itu.
"Syam...tolong aku, " Rumi menyebut nama saudara kembarnya, Syam Satria Pramana. Tubuhnya tak kuasa untuk bangkit. Terlalu sakit.
Dalam gelap, ia melihat Malaikat cahaya. Malaikat itu berkata dalam suara batin:
" Jangan membalasnya, sekalipun kamu disakiti. Awas, jangan membalas, atau aku akan pergi meninggalkanmu selamanya"
Samar-samar. Malaikat Cahaya itu menghilang, berganti menjadi sosok laki-laki misterius berjaket hitam dan bertubuh jangkung. Ia berdiri tepat dihadapan wajah Rumi yang terkapar, menyilangkan kedua tangannya, seraya tersenyum sinis. Rumi tak kuasa untuk melihatnya. Rumi menutup mata, tak sadarkan diri. Telapak tangan kananya menyentuh dada dan terus menyebut nama saudara kembarnya. Semuanya menjadi gelap.
"Aku akan membawamu ke alam kegelapan sekarang," gumam laki-laki itu. Ia mengarahkan tangannya untuk mencekik leher Rumi, tiba-tiba seseorang membuka pintu gudang, mengagetkan laki-laki itu.
"Sial...," gerutunya. Ia segera mengubah tubuh fisiknya menjadi tubuh astral, kemudian melesat dengan cepat dan menghilang.
*
Rumi terbangun di alas tidurnya, di kamar kosnya yang sempit. Sementara, Syam sedang mengompres wajahnya yang memar-memar dan mengobati luka-lukanya.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Samar-samar, Rumi melihat wajah saudara kembarnya.
"Kamu sudah siuman, Mi? " Syam bertanya. " Syukurlah.... "
"Syam, dimana aku?" tanya Rumi.
"Kamu ada di kos-kosan, Mi," jawab Syam.
"Syam, gimana ceritanya aku bisa kembali ke kos-kosan? " Rumi terheran-heran. "Bukankah tadi aku berada di gudang sekolah?"
Syam tersenyum. "Aku mengkhawatirkanmu. Sebelum maghrib, biasanya kamu sudah ada dirumah. Tapi, sampai menjelang Isya, kamu belum pulang juga. Jantungku mendadak berdetak kencang. Firasatku nggak enak. Kukira kamu memanggilku secara telepati. Aku langsung buru-buru ke sekolah dan aku menemukanmu tergeletak di gudang sekolah, tak sadarkan diri. Aku langsung membawamu pulang."
"Apa bapak sudah makan? "tanya Rumi.
"Sudah. Tadi aku belikan nasi goreng langganan kita," jawab Syam.
Rumi mengintip dari balik lemari. Bapaknya sedang tertidur pulas. Bungkus sisa nasi goreng masih ada disebelah tubuh bapaknya.
Rumi kembali berbaring. Rasa sakit masih menjalar ke sekujur tubuhnya.
"Mi, besok kalau badanmu masih sakit, sebaiknya nggak usah pergi ke sekolah dulu," kata Syam.
"Hmm... nggak apa-apa kok, Syam. Paling besok juga sudah nggak sakit lagi."
Syam merebahkan dirinya disebelah Rumi.
"Mi, kamu punya hutang sama temanmu lagi ya? "
"Iya, Syam. Aku terpaksa berhutang sama si Jaka untuk bayar uang sekolah. Sudah menunggak selama beberapa bulan."
"Berapa totalnya, Mi? "
"Satu juta, Syam."
"Hah? Banyak banget? " Syam terkejut.
"Nggak ada jalan lain, Syam. Kalau nggak segera dilunasi, bisa-bisa aku dikeluarin dari sekolah."
"Kenapa kamu nggak ngomong sama aku sih? "
Rumi menundukkan kepala. "Maaf, Syam."
Syam memandang wajah saudara kembarnya. Ia menghela nafas.
Kamu tenang saja, Mi. Aku janji, akan menyisihkan uang hasil kerjaku untuk melunasi semua hutangmu ke Jaka."
Rumi memeluk saudara kembarnya. Ia tak kuasa menahan air matanya.
"Syam, maafkan aku. Aku sudah menyusahkan kamu."
"Nggak, Mi. Aku nggak pernah susah."
"Apa sebaiknya aku berhenti sekolah saja ya, Syam, agar bisa membantumu bekerja ?"
"Jangan, Mi. Kalau kamu berhenti sekolah, nggak ada lagi harapan untuk keluarga ini. Ingat kata Ibu, kamulah harapan keluarga kita."
Rumi masih terus menangis dalam pelukan saudara kembarnya.
" Aku masih kuat bekerja mencari uang untuk melunasi semua hutangmu ke Jaka dan membayar uang sekolahmu. Kamu tenang saja ya, Mi. Tunjukkan ke aku, bapak, dan ibu bahwa kamu bisa lulus sekolah dengan baik, kemudian lanjut kuliah, dan kerja atau mungkin punya usaha sendiri yang besar."
"Pikiranmu terlalu panjang, Syam. "
Syam tersenyum, " kita makan dulu yuk. Aku membelikanmu nasi goreng. "
"Ayo, Syam. Aku juga sudah lapar."