Light Warriors

Light Warriors
Bagian 2



Suatu hari,  Bapak diberhentikan oleh perusahaan elektronik tempatnya bekerja. Alasannya, terjadi pengurangan jumlah karyawan.  


Keluarga besar mereka tidak ada yang mau peduli.  Karena tidak mampu membayar rumah kontrakan,  mereka sekeluarga,  Bapak, Ibu, Rumi,  dan Syam, diusir oleh pemilik rumah kontrakan. 


Mereka pindah ke sebuah kamar kos yang kecil di daerah Wonokromo, disebuah kampung yang sangat sempit.  Hanya ada satu kamar untuk ditinggali berempat, dengan kamar mandi bersama dengan penghuni kos yang lain. Antara alas tidur Rumi dan Syam dengan alas tidur Bapak dan Ibu hanya dipisahkan oleh sebuah lemari.  


Sejak berhenti bekerja,  Bapak terlihat seperti orang kebingungan.  Tidak lama kemudian, Bapak jatuh sakit.  Separuh tubuhnya tidak bisa digerakkan. 


Karena tidak mampu membayar biaya sekolah,  salah satu dari saudara kembar terpaksa harus putus sekolah. 


Syam mengalah.  Ia putus sekolah dan bekerja sebagai kuli bangunan.  Pekerjaan berat ini harus dijalaninya demi memenuhi kebutuhan keluarga. 


Sementara Rumi tetap sekolah.  Karena menurut Ibu,  jika salah satu dari anaknya ada yang melanjutkan sekolah,  setidaknya ada harapan perubahan  nasib bagi keluarga mereka di masa depan.


Karena biaya sekolah Rumi belum terbayarkan selama beberapa bulan,  Rumi terpaksa meminjam uang kepada Jaka,  teman sekelasnya. 


Jaka adalah anak yang paling kaya di sekolah. Dia adalah anak tunggal seorang pengusaha ternama di Surabaya.  Ia sangat dimanja oleh kedua orang tuanya.  Karena Rumi belum bisa membayar hutang,  Jaka dan teman-temannya menyeret Rumi ke gudang sekolah dan memukulinya hingga babak belur. 


Malam itu,  ketika semua terlelap tidur,  Rumi terbangun.  Dengan tertatih-tatih,  ia bangkit dan membuka lemari yang memisahkan alas tidurnya dan saudaranya,  dengan alas tidur kedua orang tuanya. Luka-luka disekujur tubuhnya masih terasa amat menyiksa. 


Diambillah sebuah buku harian yang ada didalam lemari itu.  Tubuh Rumi terlihat kurus dan tidak berotot.  Berbeda dengan tubuh Syam yang lebih kekar dan berdada bidang.  Seringkali ia merasa minder dengan bentuk tubuhnya. Ia berpikir,  bagaimana agar ia bisa memiliki bentuk tubuh yang bagus seperti saudara kembarnya?  


Meski begitu, Rumi bisa melihat Malaikat Cahaya. Setiap ia memejamkan matanya,  terlihatlah Malaikat Cahaya itu.  Seringkali berwarna putih atau kuning.  Dan Malaikat Cahaya itu bisa berbicara.  Namun,  hanya Rumi sendiri lah yang bisa berbicara dengan Malaikat Cahaya itu, tanpa didengar oleh orang lain. 


Malaikat Cahaya yang misterius itu mengawalnya sejak ia masih bayi, mengikutinya kemanapun ia pergi.  Dan setiap kali Rumi ditindas oleh teman-temannya, Malaikat Cahaya itu selalu berpesan  agar Rumi jangan membalas perlakuan teman-temannya. Suatu kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan juga. Lantai yang kotor jangan dibersihkan dengan kain yang kotor.  Tapi bersihkanlah dengan kain yang bersih.  Lawanlah kegelapan dengan terang.  Taklukkan kejahatan dengan cinta.  Begitulah yang sering dikatakan oleh Malaikat Cahaya misterius itu. 


Rumi memberinya nama Teja. Sebenarnya, Malaikat itu tidak punya nama. Hanya untuk memudahkan Rumi memanggilnya saja.


Sesungguhnya, Malaikat Cahaya itu adalah portal rahasia untuk menembus Pusat kecerdasan Semesta tanpa batas, semacam perpustakaan di alam cahaya yang memuat semua pengetahuan dan kejadian yang ada di alam semesta.  


Meski begitu, Teja sangat menghargai setiap proses yang dialami oleh Jiwa Rumi untuk bertumbuh. Jika ia serta merta memberi bantuan kepada Rumi, Jiwa Rumi tidak akan pernah belajar dari proses. Ia tidak mau Rumi selalu tergantung kepadanya.


Sesekali, Teja tidak muncul sekalipun Rumi memejamkan matanya dan memanggilnya berkali-kali. Seringkali pula Teja sengaja membawa Rumi kepada suatu permasalahan, kemudian memberikan petunjuk dan suatu pelajaran setelah membiarkan Rumi menyelesaikan masalah itu sendiri.


Ia sengaja tidak menolong setiap kali Rumi dipukuli oleh teman-temannya. Sebab, ia tahu, sekalipun pahit, itu akan memberikan banyak pelajaran hidup bagi Jiwa Rumi.


Teja berpesan kepada Rumi, agar kemampuannya melihat Malaikat jangan sampai diketahui oleh siapapun, kecuali kepada sesama orang yang bisa melihat Malaikat sepertinya. 


Teja juga selalu mengingatkan agar Rumi jangan sampai jatuh kedalam kesombongan.  Jika itu sampai terjadi,  Teja akan menghilang. Begitupula jika sampai Rumi membalas perlakuan buruk orang lain dengan keburukan, sekalipun hanya berkata "ah", Teja tidak akan sudi menemuinya.  Rumi pun menyanggupinya.  


Saat usianya yang baru beberapa bulan, Rumi sudah bisa berbicara sepatah dua patah kata dan memanggil nama kedua orang tuanya. 


Sementara, layaknya bayi pada umumnya, Syam hanya bisa menangis. Ketika menginjak usia satu tahun,  Rumi sudah tertarik dengan buku dan bisa menyebut nama-nama gambar yang ada di dalam buku dengan tepat,  tanpa ada yang mengajari.  Sebenarnya,  Teja lah yang mengajarinya.


 Pada saat usia dua tahun,  ia sudah bisa membaca, sementara Syam masih belum lancar membaca hingga menjelang kelas dua SD, sampai Ia terancam tidak naik kelas.  Dan pada saat usia tiga tahun,  kemampuan berhitungnya berkembang pesat. 


Kekurangannya,  Rumi seringkali bosan dengan rutinitas sehari-harinya.  Ia juga bosan dengan pelajaran sekolahnya.  Ia lebih suka menyendiri.  Mengamati lingkungan sekitar.  Mengamati turunnya air hujan.  Orang awam mengiranya sedang melamun. 


Berbeda dengan Syam,  perasaan Rumi lebih mudah tersentuh.  Ia mudah sekali terharu dan menitikkan air mata. 


Rumi mendapat julukan "Profesor tidur", karena ia seringkali memejamkan matanya dalam waktu agak lama ketika ia berbicara dengan Teja.  Anak-anak lain mengiranya sedang tertidur,  padahal tidak.  Dan ketika ia membuka matanya,  Rumi selalu mendapatkan solusi-solusi cerdas dari setiap permasalahannya,  termasuk menemukan cara-cara cepat menyelesaikan tugas fisika,  matematika,  dan kimia.  


Hampir setiap malam,  Teja menyuruhnya untuk menulis puisi.  Hanya dengan menulis,  semua pesan dari alam cahaya untuk umat manusia dapat tersampaikan. Dan dengan cara itu,  bumi akan selamat dari kehancuran. 


Namun,  dalam pikiran seorang remaja,  Rumi belum memahami semua itu.  Ia belum memahami misinya.  Ia belum memahami betapa pentingnya puisi-puisinya itu untuk bumi.  Ia hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Teja tanpa protes.  


Rumi mulai menulis apa yang dikatakan oleh Teja.  Tangannya bergerak sendiri tanpa ia bisa mengendalikannya, hingga tibalah saat ia membubuhkan titik diakhir puisinya.  Rumi pun terlelap.