
Rumi harus belajar dengan keras untuk mengejar semua ketinggalan mata pelajarannya.
Tidak terasa, tibalah waktunya Ujian Nasional. Hari pertama Ujian Nasional, Syam membonceng Rumi ke sekolah.
"Sukses ya, Mi, "Syam memberi semangat. " Semoga lancar ujiannya."
"Terima kasih ya, Syam."
Bagi Rumi yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, tidak terlalu sukar soal-soal yang dikerjakannya. Dalam beberapa menit saja, ia sudah bisa menyelesaikan semua soal ujian dengan tepat.
Akhirnya, tiga hari masa ujian terlampaui. Semua ujian baik teori maupun praktik terlampaui. Ketika pengumuman kelulusan tiba, Rumi lulus dengan nilai yang tertinggi.
"Syukurlah, aku lulus Syam. Dengan nilai yang tertinggi."
"Iya, aku percaya, Mi. Kamu kan memang jenius. Tinggal aku yang belum lulus ya, Mi? Malah harus jadi adik kelasmu."
"Hmm, nggak masalah, Syam. Kehidupan nggak hanya dibangku sekolah saja kan? Yang jelas, kamu sudah melakukan sesuatu yang terbaik untuk keluarga kita."
Syam tersenyum. Keduanya saling berpandangan.
"Oh ya, Mi. Kamu harus melakukan persiapan untuk keberangkatanmu ke Malaysia lho."
"Iya, Syam. Kamu dan Ibu juga. Kamu jadi ikut mengantarku ke Kuala lumpur kan? Atau kamu nggak usah ikut saja ya? " Rumi menggoda. "Jaga rumah."
"Enak saja, Mi. Ya aku harus ikut lah. Lagipula, nanti kamu menyesal lho kalau aku nggak ikut mengantarmu. Setelah itu kan kita bakal berpisah lama. "
"Ha...ha...ha....ha, " Rumi tertawa lepas. "Iya, Syam. Aku sedih sekali kalau kamu nggak ikut."
*
Sehari sebelum keberangkatan ke Kuala Lumpur, Rumi mengunjungi warung Ibu Ismunah untuk berpamitan.
"Mi, saya senang sekali kamu bisa kuliah di Malaysia, " kata Ibu Ismunah. "Harapan saya, Mi, kamu bisa jadi orang besar kelak, yang nanti akan membawa perubahan untuk negeri ini."
"Amiin. Saya juga berharap warung nasi Ibu semakin besar dan laris manis."
Ibu Ismunah tertawa ringan. "Kalau saya sudah tua, Mi. Nggak terlalu banyak memikirkan masa depan. Hari ini diberi kebahagiaan saja saya sudah bersyukur sekali. Setiap nafas. Setiap detak jantung. Setiap nikmat berupa kesehatan, kekuatan. Mata masih bisa melihat dengan jelas. Telinga masih bisa mendengar dengan baik. Ingatan masih bagus di usia setua saya.Semua itu anugerah yang patut saya syukuri."
Rumi tersenyum. Ibu Ismunah memegang pipi Rumi dengan kedua telapak tangannya. "Terima kasih ya, Mi. Kamu sudah membuat saya dan suami saya semangat untuk menjalani hidup. Entahlah, sejak ada kamu, saya merasakan kehadiran almarhum Rohman."
Rumi tak kuasa menahan air matanya.
"Saya juga terima kasih, Bu. Semua keajaiban yang terjadi dalam hidup saya, semuanya berkat doanya Ibu Ismunah. "
Ibu Ismunah tersenyum lagi. "Semua karena Tuhan, Mi. Saya ini hanya seorang wanita tua. Banyak dihina orang karena miskin."
"Dan sekarang Ibu Ismunah bukan wanita tua yang sering dihina lagi. Sekarang Ibu adalah seorang pemilik warung nasi yang laris manis. Yang terkenal di seluruh kota Surabaya. Percayalah, Bu. Nggak lama lagi ini akan terwujud."
"Amin."
Mereka berdua berpelukan.
"Selamat jalan, Mi. Doa saya selalu menyertaimu. Hati-hati kalau di negeri orang."
"Selama saya di Malaysia, Ibu Ismunah dan Pak Min jaga diri baik-baik ya. Ada Syam yang akan membantu Ibu. "
"Terima kasih, Mi. "
Mamangmurka masih mengawasi mereka berdua dari kejauhan, sembari tersenyum sinis. Ia mengeluarkan ratusan Pekerja kegelapan berupa makhluk astral jahat dengan berbagai wujud dari telapak tangannya.
"Habisi mereka," kata Mamangmurka.
"Baik, bos," kata mereka serentak.
Para Pekerja Kegelapan itu menembakkan energi negatif ke arah Rumi dan Ibu Ismunah. Spontan, Ibu Ismunah mendorong tubuh Rumi. "Awas, Mi!!!! " katanya. Tembakan-tembakan itu tidak berhasil mengenai tubuh Rumi.
"Ada apa, Bu?" tanya Rumi.
"Ada Pekerja kegelapan menyerang. "
"Pekerja kegelapan?" tanya Rumi. "Berarti Ibu...."
"Ya, saya adalah Kesatria Cahaya sepertimu juga."
"Hah? Benarkah? Ibu...Kesatria Cahaya?"
Belum sempat menjawab rasa terkejutnya, Ibu Ismunah segera menarik tangannya.
"Kita ke masjid terdekat, Mi."
Rumi mengangguk.
Ibu Ismunah dan Rumi berlari menuju Masjid yang berada didalam area kantor polisi, tidak jauh dari warung. Para Pekerja Kegelapan itu mengejarnya sambil menghujani mereka tembakan-tembakan energi negatif.
Rumi berzikir untuk melindungi diri. Sesampai di Masjid, mereka berdua mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat. Setelah itu, mereka berdua mengeheningkan diri dan keluar dari tubuh fisik mereka.
Dengan tubuh cahaya, mereka segera melesat meninggalkan masjid. Ibu Ismunah menembaki Pekerja-pekerja Kegelapan itu dengan tembakan energi positif. Pekerja-pekerja kegelapan itu lenyap. Giliran tiga Pekerja kegelapan yang berwujud manusia tanpa kepala, manusia kepala anjing, dan wanita dengan lubang ditubuhnya yang dipenuhi belatung, menghampiri Rumi.
Mereka melakukan tembakan, namun Rumi dapat menghindarinya. Rumi mencoba menembak mereka, tetapi tembakan Rumi juga tidak mempan. Rupanya, Pekerja-pekerja kegelapan itu lebih kuat daripada Rumi.
"Ingat, berpikirlah positif," Teja membisikinya. "Jangan menggunakan emosi."
Rumi mengangguk. Ia mencoba menenangkan pikirannya dan mengucapkan dalam hati :" Aku mencintai kalian...aku tidak berniat menghancurkan kalian....aku tidak membenci kalian..."
Rumi menembakkan energi positif yang cukup kuat, dan berhasil melenyapkan ketiga Pekerja kegelapan itu dan sepuluh Pekerja Kegelapan yang lain. Tubuh-tubuh cahaya mereka melayang bebas ke langit, seperti kunang-kunang yang baru dibebaskan dari sangkar. Ia melakukan hal yang sama kepada Pekerja Kegelapan yang lain. Ibu Ismunah membereskan sisanya.
"Hebat kamu, Mi," kata Ibu Ismunah.
"Terima kasih. Ibu juga hebat."
Mamangmurka benar-benar geram melihat mereka berdua berhasil mengalahkan pasukan Pekerja Kegelapannya. Ia segera melesat dan menghilang dari lokasi itu.
Ibu Ismunah dan Rumi kembali ke tubuh fisiknya. Mereka berdua berbincang sejenak di dalam masjid.
"Saya benar-benar tidak menyangka, ternyata Ibu adalah Kesatria Cahaya juga," kata Rumi. "Ibu tidak pernah menceritakannya kepada saya dan Syam."
Ibu Ismunah tersenyum. "Keberadaan kita sebagai Kesatria Cahaya ini tidak boleh diceritakan kepada siapa-siapa, Mi. Apalagi kalau kamu menduduki posisi seperti saya ini. "
"Benar. Dewan Cahaya memilih saya sebagai ketua Kesatria Cahaya yang ada di seluruh Indonesia."
"Wow, " kata Rumi. "Luar biasa. Saya baru mendengarnya kali ini, ternyata Kesatria Cahaya ada ketuanya juga."
Ibu Ismunah tersenyum. "Kebaikan yang tidak terorganisir, akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir.
Di setiap negara, ada manusia yang dipilih untuk mengetuai seluruh Kesatria Cahaya di wilayah itu. Tapi, umumnya mereka sulit untuk ditemukan. Dan memang inilah strategi kami agar tidak mudah dikenali oleh semua orang.
Banyak dari Para Ketua itu hidup dalam tubuh orang-orang miskin, orang-orang cacat, dan orang-orang lain yang seringkali diabaikan oleh kebanyakan orang. Dengan cara ini, kami tidak mudah ditemukan oleh Para Pekerja Kegelapan.
Setiap setahun sekali, ada pertemuan agung Para Kesatria Cahaya di Shambala, dihadiri oleh semua Kesatria Cahaya dari seluruh dunia, dan semua Ketua Kesatria Cahaya seperti saya ini, juga wajib hadir. "
"Shambala? Dimana itu?"
"Shambala adalah sebuah kerajaan rahasia yang dihuni oleh Para Kesatria cahaya.
Semua penduduknya adalah Kesatria Cahaya. Usia mereka panjang-panjang, hingga ratusan tahun, ada yang sampai seribu tahun.
Kerajaan ini berada diantara gurun Gobi dan Pegunungan Himalaya, berada tersembunyi dibalik gunung es. Meski berada dibumi, di alam fisik, kerajaan ini tidak akan pernah dijangkau oleh manusia biasa, apalagi Pekerja Gelap.
Para Malaikat melindunginya dengan selubung energi yang sangat kuat, berlipat-lipat ganda dari selubung energi yang biasa kamu lihat di tempat-tempat lainnya. Sehingga, sekalipun ada manusia biasa yang melintasi wilayah itu, ia tidak akan pernah bisa melihat kerajaan Shambala.Berapa usiamu sekarang?"
"Delapan belas tahun, Bu."
"Berarti tahun ini, kamu dan saudaramu bisa mengikuti pertemuan agung di Shambala. Hanya Kesatria Cahaya yang berusia delapan belas tahun keatas saja yang boleh memasuki Shambala untuk mengikuti pertemuan agung. Usia dibawah delapan belas tahun tidak diperkenankan mengikuti pertemuan agung."
"Mengapa begitu, Bu?"
"Usia delapan belas tahun dianggap matang secara emosional. Shambala ini kerajaan yang amat dirahasiakan keberadaannya. Siapapun yang mengetahuinya tidak diperkenankan membocorkan keberadaannya. Ditakutkan, jika belum matang secara emosional, mereka bisa saja secara tidak sengaja membicarakan Shambala di hadapan orang awam, bahkan dihadapan Pekerja Kegelapan, tanpa mereka sadari.
Jika tidak didalam masjid atau tempat-tempat yang memiliki energi pelindung, saya tidak akan berani berbicara mengenai Shambala. Bahkan saya tidak berani secara terang-terangan mengakui jati diri saya. Banyak mata-mata dan telinga-telinga Pekerja Kegelapan diluar sana."
"Oh, begitu ya,Bu?"
"Iya, Mi. Dan ketika tubuh cahayamu dipilih menjadi Kesatria Cahaya, kamu harus terus berlatih untuk menyeimbangkan fisik, pikiran, dan emosimu. Belajar mengendalikan diri dan energi dalam tubuhmu, melalui beribadah, meditasi, dan puasa."
"Iya, Bu."
"Dan berhati-hatilah selama kamu berada di Malaysia. Mereka mengincarmu dan kembaranmu."
"Maksud Ibu, Pekerja Kegelapan yang menyerang kita barusan?"
"Tidak hanya itu. Pekerja-pekerja kegelapan yang menyerang kita barusan itu hanya suruhan. Ada lagi Pekerja Kegelapan dari alam-alam kegelapan tingkat yang lebih tinggi yang mengendalikan mereka. Mereka sangat kuat dan sakti, bahkan ada yang kekuatannya melebihi saya sendiri."
"Mengapa mereka harus mengincar saya dan saudara kembar saya? Bukankah banyak Ksatria Cahaya yang lebih hebat daripada saya dan kembaran saya?"
"Karena kalian adalah Cahaya Kembar."
"Cahaya kembar?"
"Betul. Satu tubuh cahaya, yang karena kehendak Sang Sumber, kalian membelah diri dan lahir dalam dua tubuh fisik yang berbeda untuk menjalankan misi besar ini.
Kekuatan Cahaya kembar ini akan sangat kuat jika disatukan dalam energi cinta tanpa batas. Karena itulah, Para Pekerja Kegelapan dari alam-alam kegelapan tingkat tinggi begitu terancam dengan kehadiran Para Cahaya kembar.
Banyak Cahaya Kembar yang terlahir di bumi sebagai bagian dari skenario Sang Sumber untuk menaikkan getaran spiritual bumi.
Para Cahaya kembar itu, tidak harus berwujud fisik saudara kembar seperti kalian, melainkan bermacam-macam pola hubungan sesuai dengan kebutuhan dalam misi. Ada Cahaya kembar yang lahir dalam tubuh fisik sepasang suami istri, sepasang kekasih, orang tua dan anak, sahabat, saudara, bahkan antar manusia dan makhluk lain.
Ada juga yang terlahir berbeda bangsa, berbeda suku, terpisah oleh jarak yang cukup jauh. Namun, apapun pola hubungan fisik itu, tidaklah penting. Yang jelas, hubungan Jiwa kalian sangat kuat dan mendalam.
Para Pekerja Gelap selalu berusaha memutus hubungan Jiwa Cahaya kembar ini dengan berbagai cara. Mereka juga berusaha agar Para Cahaya Kembar mengalami kesulitan hidup, misalnya dengan menciptakan masalah dan mempengaruhi keluarga-keluarga Para Cahaya Kembar agar melakukan hal yang negatif kepada mereka, dengan tujuan meredupkan energi positif salah satu, atau kedua Cahaya kembar itu, hingga benar-benar habis energi positifnya.
Jika mereka kehabisan energi positif, maka Cahaya kembar itu dapat dengan mudah di seret ke alam-alam kegelapan, setelah melenyapkan tubuh fisik mereka.
Coba kamu renungkan lagi perjalanan hidup kalian berdua. Apakah kalian banyak mengalami kesengsaraan hidup, yang disebabkan oleh orang-orang ketiga? Coba pikirkan, siapa yang membuat ayahmu diberhentikan bekerja? Siapa yang membuat pemilik rumah kontrakanmu yang lama mengusir kalian sekeluarga sehingga kalian harus pindah ke rumah kos-kosan yang lebih kecil? Siapa yang membuat keluarga besar kalian acuh tak acuh terhadap kalian? Siapa yang membuat saudara kembarmu memusuhimu ketika kamu masih kecil? Siapa yang membuat teman-teman disekolah menindasmu dan menjauhimu? Dan....siapa yang membuat ayahmu meninggal dunia?"
Rumi tersentak. " Bapak? Meninggal dunia karena ulah mereka?"
"Benar. Penyakit yang dialami oleh bapakmu itu bukan penyakit biasa, sama seperti penyakit yang dialami oleh suami saya. Tidak akan ada obat di alam fisik yang bisa menyembuhkannya, kecuali energi positif dari Para Kesatria Cahaya. Itu pun tidak akan berguna, tanpa ada kesadaran dari dalam diri orang yang sakit untuk hidup berspiritual.
Karena itulah, sekalipun saya adalah ketua dari semua Kesatria Cahaya di Indonesia, saya belum bisa menyembuhkan penyakit suami saya sendiri."
"Dan bagaimana Ibu tahu semua cerita kehidupan saya, padahal saya belum pernah menceritakannya kepada Ibu?"
Ibu Ismunah tertawa ringan. "Saya selalu mengawasi kalian berdua, sejak kalian dilahirkan di dunia ini. Tanpa kalian sadari.
Saya selalu berkoordinasi dengan Malaikat Pembimbing kalian. Keselamatan kalian berdua adalah tanggung jawab saya juga sebagai Ketua Para Kesatria Cahaya."
"Mengapa selama ini Malaikat pembimbing saya tidak pernah memberitahukan kepada saya mengenai ini?" Rumi bertanya.
Ibu Ismunah tertawa ringan lagi.
"Malaikat pembimbing tahu kapan harus mengatakannya dan kapan harus menyembunyikannya.
Mereka juga tahu saat-saat yang tepat dan saat-saat yang tidak tepat untuk mengatakan sesuatu. Seringkali, mereka bekerja dengan cara yang sangat misterius. Mereka bisa saja dengan sengaja menjatuhkan kita, membawa kita kepada suatu permasalahan yang serius, sebab mereka tahu bahwa permasalahan itu baik untuk bahan pembelajaran Jiwa kita. "
Rumi mengangguk.
"Jagalah dirimu, Mi. Dan jangan takut, keluargamu di Malaysia nanti adalah Kesatria Cahaya semuanya. Encik David dan Puan Hanizah juga Kesatria Cahaya.
Sama seperti saya, Encik David adalah ketua dari Kesatria Cahaya yang ada di wilayah Malaysia. Selama di Malaysia, kamu dibawah pengawasan dan penjagaannya."
"Iya, Bu. Terima kasih."
"Dan jangan sampai putus berzikir. Berzikir adalah cara yang paling mudah untuk menciptakan energi pelindung bagi tubuh fisikmu. Semakin sering berdzikir, energi pelindungmu semakin kuat. Dan semakin tidak bisa ditembus oleh Para Pekerja Kegelapan."
"Iya, Bu."
Mereka kembali ke warung. Rumi ingin berpamitan juga dengan Pak Min. Tapi dilihatnya, Pak Min sedang tidur pulas. Rumi mengurungkan niatnya.
"Biarkan saja suami saya tidur, Mi. Nanti kalau dia bangun, saya sampaikan salammu. "
Rumi tersenyum. Ia meninggalkan warung nasi Ibu Ismunah. Ia merasa sedikit berat meninggalkan Ibu Ismunah yang telah mengisi hidupnya selama ini.
Namun, ia harus menatap masa depan. Dilihatnya rembulan memancarkan sinarnya malam itu.
"Ya Tuhan, jagalah Ibu Ismunah dan Pak Min selama tidak bersama saya, " batinnya.