
Mereka bergerak melewati jalan cahaya menuju candi Angkor Wat, di Siem Reap, Kamboja.
Sebagaimana Pura Besakih, candi Angkor Wat tampak bercahaya. Para bhikku kamboja membacakan Paritta menyambut kedatangan Para Kesatria Cahaya. Di sisi lain, terlihat orang-orang Kamboja memainkan alat musik tradisional dan para gadis menarikan tarian Apsara.
Disitu, telah menunggu tubuh cahaya yang menyerupai Sang Buddha. Ia berada diatas bunga teratai yang terbuat dari cahaya dengan posisi terlentang. Sorot matanya penuh keheningan.
Rumi mendekati Buddha itu. Dan ia kembali ke dunia serba putih yang tanpa tepi. Hanya ada Rumi dan Sang Buddha.
"Aku memiliki cahaya dengan lima macam warna yang akan menuntun kelahiranmu di kehidupan mendatang. Ada warna hitam, merah, kuning, putih, dan hijau. Manakah yang kamu pilih? "
Rumi tampak lebih santai kali ini. Ia mengheningkan dirinya dan membiarkan nuraninya menuntunnya.
"Aku tidak memilih salah satu dari kelima warna itu. "
"Boleh kutahu, apa alasannya? "
" Aku melihat istana binatang dalam warna hitam itu. Jika aku memilihnya, maka aku akan terlahir di alam binatang. Aku melihat istana setan dalam warna merah itu. Jika aku memilihnya, maka aku akan terlahir di alam kegelapan. Aku melihat istana burung dalam warna kuning itu. Jika aku memilihnya, maka aku akan terlahir sebagai burung. Aku melihat istana ikan dalam warna putih itu. Jika aku memilihnya, maka aku akan terlahir sebagai ikan. Dan aku melihat istana tumbuhan dalam warna hijau itu. Jika aku memilihnya, aku akan terlahir sebagai tumbuhan. "
Sang Buddha tersenyum. "Tepat sekali jawabanmu. Kelahiranmu sebagai manusia adalah kelahiran yang paling utama. Dengan tubuh manusia ini, kamu dikaruniai akal budi. Dengan akal budi yang tercerahkan, kamu bisa melakukan kebajikan-kebajikan, yang tidak bisa dilakukan apabila kamu terlahir di alam hewan, alam kegelapan, atau alam tumbuhan. Maka, jangan sia-siakan kelahiranmu sebagai manusia."
Setelah memberkati tubuh cahaya Rumi, Rumi dipersilahkan pergi.
Rumi beserta rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Penglai, di daratan Cina.
Sebagaimana tertulis dalam manuskrip kuno Cina, Gunung ini terletak di salah satu dari ketiga pulau ilahi di laut timur yang dihuni oleh delapan Dewa dan Para Kesatria Cahaya yang telah mencapai keabadian.
Gunung ini tampak dipenuhi kabut. Konon, bagi yang memasuki gunung ini, ia tidak akan merasakan penderitaan. Meski begitu, kabut tebal selalu menggagalkan setiap kapal orang-orang awam yang hendak memasukinya.
Di sebuah pagoda yang terletak di puncak Gunung Penglai, tubuh cahaya yang menyerupai Dewi Quan Yin, Sang Dewi welas asih, tampak tersenyum menyambut kedatangan Para kesatria cahaya.
Rumi pun mendekatinya. Dan ia kembali berada di dunia serba putih tanpa tepi. Hanya ada Rumi dan Sang Dewi.
" Aku mempunyai cahaya yang terdiri dari delapan warna, yaitu hitam, merah, kuning, putih, hijau, biru, ungu, dan merah muda. Manakah yang kamu pilih? "
Rumi melihat surga yang penuh dengan taman-taman dan para bidadari. Kedelapan warna itu juga mengeluarkan bau yang sangat harum.
Rumi sedikit terkecoh, tetapi Teja menyuruhnya untuk tetap tenang. Rumi mengheningkan dirinya.
"Aku tidak memilih salah satu dari kedelapan warna itu. "
"Boleh kutahu, apa alasannya? "
"Kedelapan warna itu memperlihatkan surga kepadaku. Tetapi, bukanlah surga yang sejati. Itu adalah surga tipuan yang semu, diciptakan oleh para setan untuk mengecoh tubuh-tubuh cahaya agar mau mengikuti mereka ke alam kegelapan. "
Sang Dewi tersenyum. "Tepat sekali jawabanmu. Kau memang tidak akan menemukan kebahagiaan apapun dengan surga yang kau lihat dalam kedelapan warna itu. Surga yang sejati selalu ada bersamamu, ketika kau membawa cinta kasih tanpa batas dan tanpa syarat bersamamu. "
"Jadilah Jiwa yang welas asih. Jadilah perwakilanku di muka bumi untuk melepaskan setiap makhluk dari penderitaannya.
Teruslah memberkati. Jangan berhenti memberkati. Katakan kepada dirimu sendiri : pantang bagiku untuk marah, pantang bagiku untuk menyakiti Jiwa lain, pantang bagiku untuk membicarakan kejelekan Jiwa lain, aku memaafkan siapapun yang menyakitiku , aku tidak akan membicarakan kesalahannya lagi setelah aku memaafkannya, jika aku bersalah, aku akan bersikap rendah hati, jika aku bersalah, aku akan mengakui kesalahanku, jika aku bersalah, aku akan mengambil pelajaran dari kesalahanku, aku berterima kasih pada setiap kesalahanku, aku berterima kasih pada setiap kesalahanku, setiap kesalahanku adalah pelajaran."
Sang Dewi pun memberkati tubuh cahaya Rumi dengan bunga persik ditangannya dan mempersilahkan Rumi pergi.
Rumi melanjutkan perjalanannya menuju titik keempat, Gunung Fuji. Ia bersama yang lain meninggalkan daratan Cina, menuju Jepang.
Mereka terbang di atas langit kota Tokyo yang dipenuhi gedung pencakar langit, melewati Menara Tokyo yang berwarna merah.
Kemudian melintasi kota kuno Kyoto dan Nara, barulah terakhir melewati Danau Yamanaka ke Gunung Fuji yang diselimuti salju abadi.
Di puncak Gunung Fuji, sesosok tubuh cahaya yang pancarannya sangat kuat, menyerupai Dewi Amaterasu Omikami, berdiri dengan tenang sambil memainkan shamisen, alat musik senar khas Jepang.
Rumi menghampirinya, dan ia kembali tiba di dunia serba putih tanpa batas. Sang Dewi bersama tubuh cahaya seseorang yang dikenalnya. Orang yang dicintainya, yang telah meninggal dunia.
"Bapak! " Rumi dipenuhi kerinduan yang amat mendalam.
"Rumi! Apa kabar? "
"Syukurlah, baik, Pak... "
"Syukurlah. Rumi, tujuan dari kedatangan bapak adalah untuk mengajakmu ke suatu tempat yang penuh dengan kebahagiaan yang hakiki. Ikutlah bapak, nak.."
Bapak mengulurkan tangannya. Rumi yang masih dalam suasana haru, spontan hendak menerima uluran tangannya.
"Hati-hati, Mi, " kata Teja. "Jangan mudah percaya. "
Rumi menarik kembali tangannya dan mengheningkan dirinya.
"Lho, kenapa, Mi? Tidakkah kamu rindu dengan bapak? bapak mohon, ikutlah bersama bapak... "
"Tidak! " kata Rumi tegas. "Kamu bukan bapakku. Kamu ada ilusi. "
"Ayolah, Rumi.... Bapak mohon.... "
"Tidak! Aku tidak akan mengikutimu... "
Tubuh Bapak langsung lenyap dari hadapannya. Sang Dewi Matahari tersenyum.
"Keputusanmu sudah tepat, anakku. Selalu kendalikan pikiranmu agar tidak terkecoh dengan berbagai macam ilusi yang menipu. Banyak tubuh-tubuh cahaya yang tersesat, tidak tahu jalan pulang ke rumah asalnya karena terjebak oleh ilusi. "
Setelah memberkati tubuh cahaya Rumi, Sang Dewi mempersilahkan Rumi pergi.