Light Warriors

Light Warriors
Bagian 46



Malam itu, awan gelap menyelimuti langit. Tak lama kemudian, hujan turun dengan deras. 


Sementara,  bus yang mereka tumpangi melaju dengan kencang,  melewati rumah-rumah penduduk, sesekali melewati persawahan dan hutan jati.  


Sekalipun kelelahan,  Syam berusaha untuk tetap terjaga.  Sementara,  Rumi yang duduk di dekat jendela tampak mengantuk. 


Sejak meninggalkan rumah Ibu Ismunah, Rumi merasakan getaran energi yang tidak enak. Awan gelap terus mengikuti perjalanan bus.


Sesungguhnya, awan gelap itu adalah kumpulan para pekerja kegelapan. Salah satu dari mereka menyadari kehadiran Rumi dan Syam di dalam bus itu. Mereka berniat melenyapkan Rumi dan Syam.


Sejak keluar dari rumah Ibu Ismunah, mereka sudah diincar. Selama bersama Ibu Ismunah, mereka tidak bisa mendekati Rumi dan Syam, karena energi kristal-kristal pelindung Ibu Ismunah tidak bisa mereka tembus.


"Tidurlah, Mi,  " kata Syam.  "Nanti kalau sudah tiba di Surabaya,  aku akan membangunkanmu."  


"Tanpa kamu suruh pun,  aku akan tidur sendiri. Hahaha. Ngomong-ngomong,  terima kasih ya Syam." 


"Terima kasih untuk apa, Mi? "   


"Untuk semuanya. Termasuk kamu sudah mengantarku jauh-jauh ke Ngawi untuk bertemu Ibu Ismunah."


Syam menatap saudara kembarnya dan tersenyum. "Sudah kewajibanku sebagai saudara."


Rumi melihat ada yang aneh dari sorot wajah saudaranya kali ini.  Tatapan matanya tampak kosong.  Mendadak, dirinya dihantui firasat buruk.  Entahlah,  firasat apa itu. 


Syam memeluk Rumi dengan erat. "Kamu kelihatan gelisah, Mi," katanya.  "Kamu kelelahan. Tidurlah,  Mi." 


"Aku nggak bisa tidur,  Syam. Nggak ngantuk." 


"Kenapa, Mi? " 


"Entahlah,  Syam. Aku merasakan kehadiran pekerja kegelapan. Semuanya akan baik-baik saja kan? "


Syam mempererat pelukannya.  "Jangan khawatir,  Mi. Semua akan baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Ingatlah selalu kata-kataku ini. Berpikirlah positif."


"Jangan tinggalkan aku, Syam."


"Bicaramu terlalu mendramatisir ah, " Syam tertawa. "Lagipula,  untuk apa aku meninggalkanmu? " 


"Entahlah,  Syam. Perasaanku semakin nggak enak."


"Tidurlah, Mi." 


"Ayo kita berdoa , Syam."


"Iya, Mi."


Doa yang dipanjatkan oleh Rumi dan Syam membuat tubuh fisik mereka diselumuti cahaya terang.


*


Di balik semak belukar, Mamangmurka berdiri dengan tegak, sembari berbicara dengan pekerja kegelapan yang terpancar dari telapak tangannya. Kali ini, hampir semua jenis hantu yang ada di dunia berkumpul.


"Sial," kata salah satu pekerja kegelapan." Kedua kesatria cahaya itu diselimuti sinar terang. Kita tidak bisa menembusnya."


"Apakah kita harus menunggu sampai mereka tertidur dan hilang kesadaran? " tanya pekerja kegelapan yang lain. "Baru kita sergap mereka."


Tidak perlu," kata Mamangmurka sembari membuka tutup kepalanya.


Lima ratus empat puluh tahun yang lalu, Mamangmurka adalah sosok manusia biasa. Tidak memiliki tanduk dan sayap. Namun, seratus tahun terakhir, tiba-tiba tanduk dan sayap itu muncul tanpa diketahui pasti penyebabnya.


Terpaksa Mamangmurka menutupinya. Ia tidak ingin jati dirinya diketahui masyarakat. Ia bekerja dengan cara sembunyi-sembunyi.


"Aku punya cara lain yan lebih baik," katanya.


*


Suara burung gagak di atap rumah mengagetkan Ibu Ismunah.


Mendadak, ia terbangun dari tidur singkatnya. Perasaannya gelisah sekali. Setelah itu, ia tidak lagi bisa tidur. Ia menepuk-nepuk pundak mbak Ningsih yang tidur disebelahnya.


"Ningsih....Ningsih," katanya."


"Iya, Bu," jawab Mbak Ningsih sembari mengusap-usap matanya. "Ada apa kok tiba-tiba terbangun?"


"Burung gagak di atap rumah itu berisik sekali. Perasaan saya tidak enak. Pertanda apa ya?"


Mbak Ningsih turun dari tempat tidurnya dan mengambilkan air minum untuk Ibu Ismunah.


"Terima kasih, Ningsih. Saya tidak haus. Hanya perasaan saya tidak enak saja."


"Tenang,Bu. Itu hanya suara burung. Nggak ada hubungannya dengan apapun."


"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Perasaan saya semakin kacau, Ningsih."


"Ismunah, akan ada pertempuran hebat malam ini," kata Pertiwi. "Kedua Cahaya Kembar itu dalam bahaya."


"Ya Tuhan, berilah mereka keselamatan," kata Ibu Ismunah.


"Semua ini harus terjadi," kata Pertiwi. " Mereka harus mengalaminya."


Ibu Ismunah tertunduk dan menangis. Ia mengambil air wudhu, kemudian melakukan sholat tahajud. Setelah sholat, ia berdzikir untuk mengirim energi kepada Rumi dan Syam.


Setelah berpesan kepada Mbak Ningsih untuk menjaga tubuh fisiknya, ia memejamkan matanya dan tenggelam dalam meditasi.


Tubuh cahayanya yang berwarna keemasan melesat, keluar dari dalam tubuh fisiknya, bersama dengan Pertiwi.


"Kamu sudah siap, Ismunah?" tanya Pertiwi.


"Siap," jawab Ibu Ismunah.


Tubuh cahaya mereka melayang, mencari keberadaan bus yang membawa Rumi dan Syam.


"Mereka berada di sekitar kota Madiun," kata Pertiwi.


Awan gelap semakin tebal diatas kota Madiun. Mamangmurka menambah jumlah pasukan pekerja kegelapannya.


Ibu Ismunah dan Pertiwi terus bergerak ke arah awan gelap itu. Ketika mendekati awan gelap itu, mereka dihadang oleh sepuluh pekerja kegelapan berwujud ular, tengkorak, makhluk berbulu, dan makhluk bersisik.


Tubuh cahaya Ibu Ismunah menembakkan sinar kearah Pekerja-pekerja Kegelapan itu. Dan seketika, makhluk-makhluk astral itu lenyap.


Kemudian, datang lagi Pekerja Kegelapan dalam jumlah lebih banyak mengepung mereka. Giliran Pertiwi menembakkan sinarnya. Semua makhluk astral itu hancur lebur.


Mereka melanjutkan perjalanan mencari bus yang ditumpangi Rumi dan Syam.