
Keesokan harinya, setelah beberapa jam dengan bus melewati beberapa kota di Jawa timur, tibalah mereka di Ngawi. Kemudian, dengan naik ojek online, mereka melanjutkan perjalanan menuju desa Ibu Ismunah, sesuai dengan alamat dan denah yang diberikan.
Mereka tiba di rumah yang dituju. Rumah itu kecil sekali, mengingatkan Syam dan Rumi dengan kamar kos nya yang lama. Berdebu dan tampak tidak terawat. Tidak terasa adanya penghuni di rumah itu.
Syam mengetuk pintunya. "Permisi,"katanya.
Namun tidak ada jawaban. Rumi menjadi resah.
"Permisi, " Syam mengulangi ucapan salamnya beberapa kali. Masih tidak ada jawaban.
"Syam, kok sepertinya rumah ini kosong ya? " Rumi bertanya.
"Iya, Mi," kata Syam. "Apa mungkin Ibu Ismunah salah memberi alamat ya? " Syam juga tak kalah bingung. "Kita sudah terlanjur jauh-jauh kesini."
Syam membuka pegangan pintunya. Rumah itu tidak dikunci. Dan benarlah dugaan mereka, ternyata rumah itu kosong.
"Nggak ada orang Mi," kata Syam. " Apa kita pulang saja ya ke Surabaya? "
"Aku nggak mau pulang sebelum ketemu dengan Ibu Ismunah dan Pak Min," kata Rumi. "Pokoknya aku harus ketemu mereka berdua. "
Syam terdiam dan menghela nafas." Baiklah. Kita tanya orang sekitar ya."
Syam bertanya kepada seorang bapak yang tiba-tiba lewat. " Permisi, Pak, apakah bapak tidak mengetahui keberadaan pemilik rumah ini? "
Bapak itu mengerutkan dahi. " Adik mencari siapa ya?
"Yang menghuni rumah ini, " jawab Syam.
"Hmm. Pak Min bukan? " tanya bapak itu.
Legalah perasaan mereka berdua mengetahui bahwa bapak itu mengenal Pak Min.
" Benar Pak.Itu orangnya, " sahut Rumi. " Bapak mengenalnya? "
"Ya, tentu saya mengenalnya, dik, " jawab bapak itu.
"Di mana beliau sekarang? " Syam bertanya.
"Sudah meninggal dunia, dik," jawab bapak itu. "Baru saja."
Betapa kagetnya mereka berdua. Keduanya tidak yakin dengan yang didengarnya.
"Apa? Meninggal dunia? " jerit Rumi.
"Benar, dik," kata bapak itu.
"Innalillahi wa ina ilaihi rajiuun." Rumi merangkul saudara kembarnya.
"Lalu, bagaimana dengan Ibu Ismunah? " tanya Syam.
Bapak itu terdiam sejenak. " Kalian tunggu disini," katanya.
Bapak itu meninggalkan mereka berdua, beranjak pergi menuju sebuah rumah yang letaknya tiga rumah dari rumah Ibu Ismunah dan Pak Min.
Setelah mengetuk pintunya dan mengucapkan salam, seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan keluar. Bapak itu berbincang sejenak, menanyakan sesuatu kepada wanita itu.
Setelah menoleh kearah kedua kembaran, wanita itu kembali masuk kedalam rumahnya. Beberapa detik kemudian, wanita itu keluar sembari menggandeng seorang wanita tua.
"Syam, itu Ibu Ismunah," Rumi melompat kegirangan.
"Syukurlah, Mi," kata Syam."
Rumi berlari mendatangi Ibu Ismunah, kemudian diikuti oleh Syam.
"Ibu.... Ibu Ismunah, " Rumi memanggil. Ibu Ismunah melihat Rumi dan Syam. Ia terkejut sekali.
"Rumi,Syam, " katanya lirih. " Bagaimana kabar kalian?" Mereka bertiga saling berangkulan.
Wanita berusia 40 tahunan itu melihat mereka dengan perasaan heran, sekaligus haru.
"Kabar saya baik, Bu, " kata Syam.
"Saya juga baik," Rumi menyahut.
"Kapan kamu kembali dari Malaysia, Mi? " Ibu Ismunah bertanya.
"Kemarin lusa, Bu, " jawab Rumi. "Saya kaget sekali mendengar warung Ibu mendapat serangan.
Ibu Ismunah menyeka matanya yang berkaca-kaca, "Kejadian itu benar-benar diluar dugaan saya. Mari masuk. Kita berbicara didalam rumah. "
"Rumi.... Syam, " kata Ibu Ismunah. "Ini namanya Mbak Ningsih, tetangga saya. Rumi dan Syan bersalaman dengan Mbak Ningsih.
"Saya Rumi. Dan ini saudara saya, Syam," Rumi memperkenalkan dirinya dan saudara kembarnya kepada Mbak Ningsih.
Mbak Ningsih tersenyum sembari menyuguhkan dua cangkir teh hangat untuk Rumi dan Syam.
" Saya banyak berterima kasih kepada Mbak Ningsih ini, " kata Ibu Ismunah. "Mbak Ningsih ini sedang belajar dengan saya untuk menjadi kesatria cahaya. Setelah warung saya diserang, suami saya diserang dan saya pulang ke Ngawi, keesokan harinya, suami saya meninggal dunia. Sejak itu, saya sebatang kara.
Namun, Mbak Ningsih berkenan menemani saya dan merawat saya seperti Ibunya sendiri, sekalian ia belajar untuk menjadi ksatria cahaya. Mbak Ningsih ini sama seperti saya, sebatang kara juga. Suaminya juga sudah lama meninggal dunia. Dari pernikahan dengan suaminya itu, Mbak Ningsih tidak dikaruniai anak. "
Rumi tersenyum kearah Mbak Ningsih. Sosok wanita desa yang memancarkan keteduhan dari sinar wajahnya.
"Ibu Ismunah ini seringkali bercerita tentang kalian, " kata Mbak Ningsih. "Katanya, kalian berdua yang telah membantu membesarkan warung nasinya yang ada di Surabaya itu. Ibu Ismunah sudah menceritakannya semua tentang kalian berdua, sebagai Cahaya Kembar."
"Tapi saya yakin, kalian pasti bertemu lagi dengan saya, " Ibu Ismunah menimpali. " Keyakinan itu semakin hari semakin kuat. Saya berdoa, sebelum saya pada akhirnya turut menyusul suami saya, saya ingin bertemu dengan kalian berdua. Setidaknya untuk yang terakhir kalinya. Sekarang Tuhan mengabulkan doa saya."
"Hus, Ibu Ismunah jangan berbicara yang tidak-tidak ah, " kata Mbak Ningsih. "
"Saya berbicara apa adanya, Ningsih," kata Ibu Ismunah. "Usia saya sudah cukup tua sekarang. Mungkin, saya tinggal menunggu waktu saja. Semoga Dewan Cahaya memilihmu sebagai Ketua kesatria cahaya, menggantikanku. Atau kalau tidak, Rumi atau Syam juga boleh."
"Kami turut berduka cita, Bu, atas meninggalnya Pak Min, " kata Syam.
"Semoga arwahnya mendapatkan tempat yang terbaik disisi Nya, " tambah Rumi.
" Saya justru berbahagia. Akhirnya, suami saya terbebas dari penderitaannya. "
"Kalau boleh tahu, dimanakah Pak Min dimakamkan? " Rumi bertanya. "Kami ingin berziarah ke makamnya. "
"Tidak jauh dari sini, " kata Ibu Ismunah.
"Maukah Ibu mengantar kami kesana? " Rumi bertanya.
"Tidak masalah," jawab Ibu Ismunah.
Mereka berempat berjalan kaki menuju pemakanan tempat almarhum Pak Min dimakamkan, melewati area persawahan yang hijau, deretan pepohonan. Rumi menarik nafas sejenak. Dihirupnya dalam-dalam udara segar pedesaan.
"Terima kasih Tuhan, " batinnya. Ia melanjutkan perjalanan bersama Ibu Ismunah dan Syam.
Tibalah mereka disebuah pemakaman tua. Sebuah pohon beringin raksasa tampak tumbuh ditengah-tengah pemakaman. Diantara deretan batu-batu nisannya, tampak pohon kamboja.
"Di sini makam suami saya, " kata Ibu Ismunah. Wanita tua itu berjongkok dan memegang batu nisan makam suaminya.
Sejenak ia memejamkan matanya dan mengheningkan cipta. Mulutnya berkomat kamit melantunkan surat Al fatihah. Syam dan Rumi ikut-ikutan berjongkok dan mendoakan arwah pak Min. Keduanya diselimuti perasaan haru.
"Semoga arwah Pak Min mendapat tempat yang terbaik disisiNya, " kata Syam.
Rumi menambahi, " Dan semoga semua dosa-dosa Pak Min diampuni oleh Allah."
Ibu Ismunah menoleh kearah mereka.
"Terima kasih. Suami saya sudah tenang sekarang, " kata Ibu Ismunah. " Ia sudah terbebas dari penderitaannya. Juga dari rasa sakit yang telah lama ia rasakan.
Syam dan Rumi mengangguk. Air mata merembes membasahi pipi Rumi. Rumi langsung menyeka dengan kausnya. Syam merangkul saudara kembarnya, mencoba memberi semangat.
"Sudah, Mi," katanya. " Jangan sedih."
"Iya Syam. Aku nggak sedih kok."
"Tuh, air matamu, " Syam menggoda.
"Hanya terharu sedikit saja, Syam. "
Ibu Ismunah tersenyum melihat mereka berdua bercanda.
Mereka kembali ke rumah Mbak Ningsih. Mbak Ningsih sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Nasi, sayur nangka, tahu dan tempe goreng, ikan goreng, dan sambal.
"Wah, kok jadi merepotkan? " kata Rumi.
" Nggak kok, " kata Mbak Ningsih. "Hanya makanan sederhana saja. Ayo, dimakan."
"Terima kasih, " kata Syam.
Mereka pun mulai mengambil piring dan sendok yang telah disiapkan, kemudian mengambil lauk pauk yang telah tersedia.
Ibu Ismunah memasang kristal-kristal pelindung di beberapa titik di dalam rumahnya. Kristal pelindung yang sama dengan yang digunakan oleh Encik David.
"Ibu Ismunah, " Rumi memulai pembicaraan.
" Tidak adakah keinginan untuk membuka kembali warung nasi? "
Ibu Ismunah merenung sejenak. "Ada. Tetapi tidak di Surabaya. Saya harus mencari tempat yang lebih aman. Yang berada didekat masjid atau tempat ibadah apapun. Apakah Encik David dan yang lainnya menanyakannya? "
"Sejujurnya ya, " kata Rumi. "Mereka turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Pak Min dan warung nasi Ibu, dan akan memberikan dana tambahan jika Ibu berkenan untuk membuka kembali warung nasi."
Syam tidak mempedulikan pembicaraan mereka. Ia tampak asyik melahap makanan dipiringnya. Sejak tadi, ia menahan lapar.
"Dasar rakus, " Rumi membisiki telinganya. Syam tetap tidak mempedulikan.
" Saya akan membuka warung saya kembali, " kata Ibu Ismunah. "Tapi mungkin bukan saya lagi yang mengelola. "
"Maksud Ibu? " Rumi bertanya.
"Semuanya akan saya serahkan kepada Mbak Ningsih. Beserta semua tabungan yang saya dapatkan selama berjualan di Surabaya dan semua uang yang tersisa pemberian dari Malaysia itu. Semuanya masih cukup untuk mendirikan warung yang baru."
Mbak Ningsih tampak terkejut. " Tapi Ibu Ismunah, apakah itu tidak berlebihan?" Mbak Ningsih bertanya. " Saya ini bukan keluarga Ibu. Saya merasa kurang pantas untuk menerima semua ini."
"Kamu memang bukan keluarga fisik saya, tetapi kamu adalah keluarga cahaya saya. Lagipula, siapa lagi yang akan meneruskan usaha warung nasi saya kalau bukan kamu?
Saya sudah terlalu tua dan saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Ningsih. Kamu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri."
Mbak Ningsih terharu dan memeluk Ibu Ismunah, " Terima kasih, Bu."
"Sama-sama Ningsih. Saya yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena bersedia menemani saya."
"Syukurlah, " Rumi tersenyum.
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul delapan malam.
"Ibu Ismunah, kami mohon izin untuk pamit ke Surabaya, " kata Syam.
"Lho, malam-malam seperti ini? Apa tidak sebaiknya kalian pulang besok pagi saja? "
"Besok saya harus masuk sekolah, Bu, " jawab Syam.
"Kami janji Bu, kami akan berkunjung kesini lagi kalau hari libur," Rumi menambahi.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan dan banyak berdoa dan berzikir."
"Baik, Bu, " jawab mereka serentak.
Setelah memesan ojek online, mereka pun berpamitan.