Light Warriors

Light Warriors
Bagian 35



"Syam, gimana sekolahmu?  Asyik nggak?" Rumi berkomunikasi jarak jauh secara telepati dengan Syam, yang baru saja masuk sekolah.


"Hmm. Asyik sih. Tapi jadinya aku yang paling tua di kelas. Teman-teman sebaya kita sudah pada lulus semua. Ada sih satu anak yang kita kenal baik."  


"Siapa, Syam?"  


"Nadine. Kamu ingat nggak, Mi?  


"Wah, si Nadine. Iya. Aku ingat, Syam."


"Tambah cantik dia sekarang,  Mi."


"Sampaikan salamku ya, Syam"


"Iya, Mi. Nadine melirikku terus, Mi. Sampai aku nggak bisa konsentrasi."  


"Oh, hahaha. Gimana perasaanmu,  Syam?"


 


"Campur aduk, Mi."


"Es campur dong? Hehehe."


" Bukan Mi. Gado-gado. Hahaha. "


"Kamu masih suka kan sama dia, Syam ?"  


"Nggak jelas, Mi. Antara iya dan nggak."


"Oh, oke. Tapi jangan sampai pelajaranmu berantakan ya."  


"Iya, Mi."


"Kemarin, Mi, dia memintaku untuk mengantarnya pulang. Tapi sebelum pulang,  aku mengajaknya ke wisata hutan mangrove."


"Lalu ?"  


"Aku bilang ke dia kalau..... "


" Kamu suka dia kan?"   


"Iya Mi. Aku gugup sekali waktu mengungkapkannya. Tetapi berhasil juga." 


"Terus, apa tanggapannya?"  


" Awalnya diam saja. Kemudian, dia tersenyum dan ngomong kalau sejak lama,  dia juga suka sama aku. Cuma ia menunggu aku untuk mengungkapkannya. Akhirnya,  kami resmi berpacaran."


Rumi terdiam.  Ia memikirkan sesuatu. Ia menghentikan telepatinya dengan Syam. Dari jendela kamarnya,  ia melihat Menara Kembar Petronas yang mulai disinari lampu berwarna biru. Ia melihat kedua menara itu dengan tatapan kosong.  


"Mi?" Syam terus memanggilnya dan memberinya sinyal melalui detak jantungnya.


Namun, Rumi masih tidak menjawab.


Mi ? Mi? Kamu kenapa?  Kok nggak menjawabku sih?  Kamu ada masalah?  


Rumi terus hanyut dalam lamunan dan tatapan kosongnya. Pikirannya bergerak mundur.


*


Teringat dalam benaknya, hujan turun dengan deras waktu itu.  Sesekali angin kencang mengiringinya.  Rumi tidak mempedulikannya. 


Waktu itu,  Rumi masih duduk di kelas sebelas. Syam juga masih bersekolah dan menjadi teman sekelasnya. 


Dari balik buku yang sedang dibacanya di perpustakaan sekolah,  Rumi melihat seorang gadis dari kelas sepuluh,  adik kelasnya. Rumi tidak tahu namanya, yang jelas, gadis itu cantik sekali. Rumi baru pertama kali melihatnya. 


Ia terus mengamati gadis itu, tanpa bisa menghentikan matanya untuk terus mengamati.  Segala gerak-geriknya.  Ketika gadis itu sedang serius membaca.  Ketika gadis itu sedang bercengkerama dengan beberapa orang temannya.


Ketika mata gadis itu tertuju pada Rumi secara tidak sengaja,  buru-buru Rumi menutup wajahnya dengan buku yang dibacanya.  


"Mi,  kenapa kamu tidak menghampirinya langsung dan berkenalan?" Suara didalam dirinya terus mendesaknya.  Tapi ada suara lain yang mematahkan semangatnya:


"Ah, nggak. Aku bukanlah laki-laki yang sempurna untuk cewek secantik dia. Aku malu."


"Dan apakah aku harus menjadi sempurna hanya untuk sekedar berkenalan?  Sekedar menanyakan nama?"


" Nggak, aku malu."


Akhirnya,  suara kedua yang menang.  Rumi mundur. Meski hatinya terus bergejolak. Rumi hanya berani melihatnya secara tersembunyi. Ketika gadis itu meninggalkan ruang perpustakaan, Rumi membuka buku pengunjung yang ada di ruangan itu.  Ia melihat nama dan tanda tangannya tertulis disitu. Nadine.  Kelas sepuluh sembilan. 


Rumi tersenyum puas.  Setidaknya,  karena ia tahu namanya.  


"Hei Mi,  kamu kok senyum-senyum sendiri sih? " Syam membuyarkan lamunannya dengan suara kasarnya. 


"Ehm, nggak ada apa-apa kok," kata Rumi.  


"Masuk kelas yuk. " Syam merangkulnya. "Sebentar lagi jam pelajaran dimulai. "


"Ayo,  Syam."


Rumi sengaja melewati ruang kelas sepuluh sembilan sebelum masuk ke ruang kelasnya sendiri. 


Diam-diam,  Rumi meliriknya sejenak.  Gadis itu sedang bercanda dengan teman sebangkunya.  


Rumi tersenyum dan membatin satu nama : Nadine.


  Ya, Nadine.   Satu nama yang mampu membangkitkan sejuta kekuatan di dalam dirinya.  Membuatnya semangat.  Tapi sayang,  ia hanya sekedar nama yang terkubur dalam angan-angannya saja. 


Lidahnya terasa kaku,  walaupun hanya sekedar berkenalan saja.  


Jam istirahat, Rumi melihatnya di kantin sekolah.  Nadine sedang asyik bercengkerama dengan beberapa teman gadisnya.  Sesekali, Rumi mencuri pandang ke arahnya. 


Seperti biasa, ketika Nadine tidak sengaja membalas tatapannya, Rumi langsung membuang wajah.  


"Ya Tuhan,  tolong aku, " Batinnya mengadu kepada Sang Maha Pencipta.  "Mengapa tatapan mata itu membuatku seolah tersengat bervoltase-voltase aliran listrik?" 


"Makan yuk, " tiba-tiba Syam duduk di depannya.  Ia membawa dua mangkok bakso,  satu untuk dia makan dan satunya lagi untuk dimakan oleh Rumi.  "Ini,  aku belikan bakso untukmu juga. kamu pasti kelaparan.  " 


"Terima kasih Syam, " kata Rumi. Ia mulai menyuapkan potongan bola-bola daging itu kemulutnya. Tetapi, konsentrasinya tetap fokus ke gadis itu. Syam melihatnya agak aneh. 


Syam merasakan sesuatu.  Tapi rasanya malu juga kalau sampai Syam tahu apa yang dipikirkannya.  


"Mi,  makannya lebih cepat sedikit dong, " kata Syam.  "Keburu waktu istirahat habis. " 


"Iya Syam," jawab Rumi.


"Kamu sedang melihat apa sih? " Syam bertanya penasaran.


"Ah, nggak kok, "jawab Rumi.


"Yang benar? " Syam tersenyum nakal.  " Coba aku tebak ya."


"Ya sudah. Cepat habiskan baksonya," kata Syam.


"Iya Syam, " jawab Rumi.


"Kak Syam, " tanpa disangka,  Nadine mendatangi meja tempat mereka makan.  Ia menepuk pundak Syam.  Rasanya,  mereka berdua sudah saling akrab.  Spontan Rumi tersedak.  


"Kamu kenapa, Mi? " tanya Syam. "Terkejut ya melihat cewek cantik."


Syam tertawa terkekeh kekeh.  Buru-buru Rumi menghabiskan es teh nya hingga tinggal separuh.  Gugup sekali rasanya.  Jantungnya berdetak kencang.  


"Oh ya Syam,  kenalkan, Ini Nadine,  anak dari kelas sepuluh sembilan, " kata Syam.


Rumi menjabat tangan Nadine dengan gemetaran. "Aku Rumi... " 


"Nadine," gadis itu tersenyum pada Rumi.  " Saudara kembarmu ya? Kalian berdua benar-benar mirip. Aku sampai nggak bisa membedakan. "


Rumi tersenyum tanpa bersuara.  Ia mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.  


"Gimana PR dari Pak Suyadi kemarin? " tanya Syam basa-basi.  


"Lancar kak, " jawab Nadine.


"Lain kali,  kalau ada tugas sekolah,  minta tolong Rumi saja. Dia jago banget, " Syam mengedipkan mata ke arah kembarannya.  


"Oh ya? Wah, asyik nih, " kata Nadine.  " Kak Rumi mau ya membantu Nadine belajar. "


"Uhm, iya," jawab Rumi singkat.


Bel berbunyi.  Jam istirahat berakhir.  


"Sudah dulu ya, kak Syam, kak Rumi," Nadine melambaikan tangan kepada mereka.  


"Iya, Nad, " kata Syam.  


Mereka meninggalkan Rumi dan Syam. Rumi dan Syam bergegas kembali ke ruang kelas 


                       


Mi, menurutmu si Nadine itu cantik nggak? " Syam bertanya kepada Rumi sembari memboncengnya dalam perjalanan pulang.  


"Hmm. Boleh juga, " Rumi mengangguk. 


"Kenapa? " 


"Nggak tahu, Mi," jawab Syam. " Rasanya kok aku nggak bisa berhenti memikirkan dia." 


"Maksudmu? " 


"Hmm. Mungkin saja aku....aku menyukainya,  Mi."


Jantung Rumi terasa mau lepas ketika mendengar kata-kata Syam itu. Mereka berdua menyukai gadis yang sama.  Tapi,  Rumi tidak mau menceritakan perasaannya kepada Syam. 


Kali ini demi kebahagiaan saudara kembarnya, Rumi memutuskan untuk mengalah.  


"Oh begitu. Bagus deh, " jawab Rumi datar. 


"Memangnya kalian kenal dimana sih? " 


"Sebenarnya sudah satu bulan kami berkenalan.  Waktu itu,  nggak sengaja saja kita ketemu di kantin. Banyak anak-anak yang suka sama dia, Mi." 


"Lalu,  kamu ketularan anak-anak suka sama dia juga, begitu? " 


Syam menggaruk kepalanya. "Mungkin saja." 


"Terus, kenapa kamu nggak langsung mengungkapkan perasaanmu saja ke dia? " 


"Aku menunggu saat yang tepat,  Mi."


"Nanti keburu diambil orang lain lho, Syam. "


"Hehehe. Kalau sudah jodoh, nggak akan lari kemana-mana, Mi. " 


Sejak saat itu,  Rumi berusaha untuk tidak memikirkan Nadine lagi.   Beberapa kali Nadine meminta bantuan Rumi mengerjakan tugas-tugas fisikanya.  Tetapi,  demi menjaga perasaan saudara kembarnya,  Rumi memilih untuk menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Nadine.  


Apakah Rumi cemburu dengan saudara kembarnya sendiri?  Ya,  tentu saja Rumi cemburu.  Dan itu wajar.  Tapi Rumi tidak bisa berbuat apapun.  Syam juga segalanya baginya. Ia tidak mau bertengkar dengan saudara kembarnya sendiri hanya gara-gara masalah seorang gadis. 


Rumi memutuskan untuk mengalah.  Namun,  belum sempat Rumi melihat mereka berpacaran,  Syam sudah putus sekolah.


*


" Kamu pasti marah denganku, ya, Mi?" tanya Syam dalam telepatinya.


" Uhm, nggak kok, Syam. Aku nggak marah."


"Kamu jangan menipuku, Mi. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan."


" Memangnya, kenapa aku harus marah denganmu?"


" Kamu suka sama Nadine kan? Jawab yang jujur, Mi. Kalau memang kamu suka sama Nadine, aku akan mengakhiri hubunganku dengannya. Nggak apa-apa, Mi. Lebih baik aku nggak pacaran dengannya, Mi. Daripada aku harus membuatmu sakit hati."


" Cukup Syam. Kamu nggak perlu melakukannya. Kamu nggak perlu mengakhiri hubunganmu dengan Nadine. Aku senang kok dengar kamu bisa jadian sama Nadine. Akhirnya, terwujud juga niatmu untuk berpacaran dengan cewek yang sudah kamu suka sejak kelas sebelas dulu."


" Mi, kamu nggak bisa menyembunyikan pikiranmu dariku. Ingat apa yang sering aku katakan."


" Jujur ya,Syam, aku dulu memang sempat suka sama Nadine. Tapi itu dulu. Sekarang sudah nggak lagi. Aku sudah melupakannya. Jadi, aku justru bersyukur kamu bisa pacaran sama Nadibe. Benar, Syam. Aku nggak bohong. Asal, jangan sampai pelajaran sekolahmu terbengkalai saja. "


" Terima kasih ya, Mi, atas segala pengertianmu. Aku nangis lho."


" Hahaha. Dunia bisa kiamat kalau super hero sepertimu sampai nangis."


"Hahaha. Aku bukan super hero, Mi. Aku manusia biasa yang punya perasaan juga."


"Oh ya, Syam, kurang beberapa hari lagi, pertemuan agung di Shambala dimulai. Kamu sudah ada persiapan belum?"


"Sudah, Mi. Malaikat pembimbingku banyak memberitahuku soal Shambala, berbagai macam pertanyaan yang diajukan sebelum memasuki Shambala, dan lain-lainnya. Malaikat pembimbingku menyuruhku berpuasa setiap hari Senin dan kamis, karena aku masih belum sepenuhnya bisa mengendalikan emosiku. Juga menyuruhku banyak-banyak bermeditasi. Sebab, sekalipun aku mengerti semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dengan pikiranku, tidak menjamin aku akan lolos kalau aku nggak bisa menjawab dengan nuraniku. Dan ketajaman nuraniku hanya bisa diasah apabila aku bisa mengendalikan emosiku sendiri."


"Oh bagus itu, Syam. Encik David juga memberiku sebuah gulungan naskah kuno untuk aku baca, buat persiapan."


"Wow, bagus itu, Mi. Kalau boleh tahu, isinya tentang apa?"


"Tentang mengenal diri kita sendiri, dimulai dari mengenal badan kasar kita dan badan halus kita yang jumlahnya ada berlapis-lapis, hingga melepas segala keterikatan, dan menyadari keberadaan diri sejati kita. Diri sejati kita yang melampaui semua wujud yang pernah kita lihat. "


"Bagus itu. Dan kamu sudah selesai membacanya semua?"


"Malam ini, aku akan menyelesaikannya, Syam."


"Semangat ya, Mi. "


"Semangat juga, Syam."