
Rumi selalu mengunjungi kios Ibu Ismunah setiap sepulang sekolah. Entah membantu mencuci gelas kotor, membantu membersihkan dan menata kios, atau sekedar mengobrol saja.
Rumi merasa nyaman dengan kehadiran Ibu Ismunah dalam hidupnya. Begitupula Ibu Ismunah, menganggap Rumi seperti anaknya sendiri.
Suatu hari, sepulang sekolah, Rumi kembali mengunjungi kios Ibu Ismunah. Kali ini, Pak Min sedang membersihkan sepeda pancalnya. Sepeda itu digunakan Pak Min untuk mengirim pesanan nasi bungkus. Tidak banyak yang mereka hasilkan, tetapi setidaknya ada penghasilan yang bisa mereka syukuri.
Seorang pengemudi becak yang biasa menunggu penumpang disekitar jalanan itu sedang asyik berbincang dengan Ibu Ismunah. Namanya adalah Pak Pur. Pak Pur dan Ibu Ismunah sama-sama sosok yang suka bercanda dan murah senyum.
"Duh, zaman sekarang ini semua orang menggunakan ojek online," Pak Pur mengeluh. "Segala sesuatu online. Becak saya jadi sepi, " katanya sembari menyeruput kopi panas dan menghisap sebatang rokok.
Ibu Ismunah tersenyum, " lho, kamu kok nggak membuat becak online juga? "
"Saya nggak mengerti, Bu." Pak Pur menggaruk-garuk kepalanya."Bagaimana caranya menggunakan online itu. Handphone saya saja masih menggunakan handphone yang lama. Nggak ada warnanya."
Pak Pur mengambil telepon genggam dari dalam sakunya dan menunjukkan kepada Ibu Ismunah. Telepon genggam yang belum memiliki fitur apapun, kecuali hanya bisa untuk mengirim pesan singkat dan menelepon saja. Pak Pur melilitkan karet gelang pada telepon genggamnya, membuat geli siapapun yang melihatnya.
"Ini handphone saya, Bu. Saya beli dengan harga seratus lima puluh ribuan di Pasar Maling, " katanya seraya terkekeh-kekeh. "Yang penting bisa buat menelepon anak dan istri."
Ibu Ismunah tertawa lepas. "Memang, handphonenya ada karetnya ya, Pak Pur ? "
"Hahaha. Iya, Bu. Kalau nggak saya ikat dengan karet gelang seperti ini, handphone saya sering mati dan nggak bisa hidup lagi."
"Nggak apa-apa lah, Pak Pur," kata Ibu Ismunah. "Syukur masih punya handphone, sekalipun nggak bisa digunakan untuk online. Setidaknya, Pak Pur nggak perlu susah menghubungi anak dan istri. Sedangkan saya ini, malah nggak punya handphone sama sekali. Jangankan punya, menggunakan saja nggak bisa. "
Pak Pur tertawa terpingkal-pingkal.
Rumi memperhatikan percakapan mereka berdua dengan perasaan geli. Ia mencium tangan Ibu Ismunah, Pak Min, dan bersalaman dengan Pak Pur.
"Saya pergi dulu ya, Bu." Pak Pur mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan membayar kopi dan rokoknya. "Kalau terlalu lama bersantai seperti ini, bisa-bisa nggak ada pemasukan. "
"Ya sudah. Hati-hati ya, Pak Pur," kata Ibu Ismunah.
Rumi langsung mengambil gelas bekas kopi Pak Pur dan meletakkannya di ember cucian. Ia langsung mencuci semua gelas yang ada disitu.
" Wah..wah...datang-datang sudah langsung mencuci gelas, " kata Ibu Ismunah. "Rajin sekali kamu, Mi. Andai saya punya uang lebih, pasti saya akan membayarmu."
Rumi tersenyum. " Ah, nggak usah, Bu. Bisa membantu Ibu saja hati saya sudah senang."
"Bersyukur ya orang tuamu dikaruniai anak sebaik kamu, Mi."
Rumi tertawa ringan. "Nggak juga, Bu. Saya juga sering berbuat nakal dan menyusahkan kedua orang tua saya kok. "
"Biasa lah, anak muda itu ada nakalnya. Asal jangan keterlaluan saja. Misalnya sampai meresahkan masyarakat atau sampai berurusan dengan polisi."
"Manis sekali wajah kamu kalau sedang tersenyum Mi," kata Ibu Ismunah. " Saya jadi ingat sama si Rohman."
"Sudah, Bu. Jangan diingat-ingat lagi. Nanti Ibu tambah sedih. "
Ibu Ismunah duduk dibangku kayunya dan menghela napas. "Saya nggak akan bisa lupa, Mi. Namanya juga anak kandung sendiri. Tetapi saya sudah lama mengikhlaskannya."
"Pastinya Ibu merasa kesepian, " kata Rumi.
"Kesepian sekali, Mi. Namanya juga anak." Ibu Ismunah mulai berkaca-kaca matanya. Ia segera menyeka wajahnya dengan pakaian. "Tetapi saya punya Tuhan, Mi. Tuhan yang selalu memberi saya dan suami saya kekuatan. Karena ada Tuhan, kami nggak pernah kesepian. Dan meskipun kami ini orang miskin yang merantau di kota besar, nggak punya apa-apa kecuali barang-barang rongsokan yang kamu lihat disini, tetapi kami merasa kaya, Mi. Karena kami punya Tuhan."
Rumi tersentak hatinya mendengar kata " Tuhan" disebut. Ingin rasanya ia menangis juga. Ia memikirkan hidupnya sendiri dan keluarganya yang sudah cukup menderita. Namun, Ibu Ismunah membuka mata batinnya. Bahwa masih ada yang lebih menderita daripada dirinya dan keluarganya, tetapi masih bisa merasa kaya karena merasa memiliki Tuhan.
Pak Min menepuk pundaknya." Mi, kamu sudah punya pacar belum?"
Rumi malu-malu, "Belum, Pak. "
"Hah, masak belum, Mi? " Pak Min tertawa. "Padahal kamu tampan. Kamu kalah sama saya kalau begitu."
"Maksudnya?" Rumi bertanya kebingungan.
Ibu Ismunah melirik suaminya dengan tatapan agak sinis. Pak Min sedikit ketakutan.
"Uhm...maksud saya, waktu saya masih seusia kamu dulu. Istri saya ini dulu waktu mudanya paling cantik di desa. Dan dia mengejar-ngejar saya, " Pak Min menggoda istrinya.
"Halah. Apa nggak terbalik tuh? " Ibu ismunah menimpali. "Bukannya dulu kamu ya yang mengejar-ngejar saya? Ingat, dulu kamu pernah hampir bunuh diri dan membuat panik orang satu desa gara-gara saya mau dijodohkan dengan orang lain? "
Pak Min dan Rumi tertawa.
"Masih ingat juga kamu, Bu," Pak Min tertawa terkekeh-kekeh. " Saya saja sudah lupa."
"Hah, lupa atau pura-pura lupa, Pak? "tanya Ibu Ismunah.
"Untuk saat ini, saya nggak memikirkan masalah pacaran dulu, " kata Rumi. " Saya ingin fokus dengan pendidikan saya sampai lulus. Saya nggak ingin membuat kedua orang tua saya kecewa."
"Nah, ini baru benar Mi, " kata Ibu Ismunah. "Jangan pernah menyusahkan kedua orang tua. Kalau bisa, kamu harus membuat mereka berdua bangga."
Sebuah taksi berhenti di dekat terminal Joyoboyo. Ibu keluar dari dalam taksi itu. Ia berjalan menuju kos-kosannya. Namun langkahnya terhenti. Dilihatnya dari kejauhan anaknya sedang mencuci gelas di sebuah kios dan bercanda ria dengan pemilik kiosnya.
"Sedang apa Rumi disitu? " pikirnya. "Apa dia kerja di kios itu ya? " Ia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya menuju kos-kosan.