Light Warriors

Light Warriors
Bagian 39



Berikutnya,  titik kelima,  berada di Sungai Gangga.  Rumi melesat dengan cepat dari Jepang menuju Varanasi,  India. 


Dibawahnya,  tampak orang-orang sedang melakukan ritual dan mandi di sungai Gangga.  Ada yang berperahu menyusuri sungai.  Ada yang bertapa.  Para Pandhita India dan Para Yogi melakukan ritual agni hotra (pemujaan dengan sarana api) untuk menyambut datangnya Para Kesatria Cahaya. 


Tepat ditengah sungai Gangga,  tampaklah tubuh cahaya yang menyerupai Dewa Siwa.  Duduk dengan tenang diatas cahaya yang menyerupai lembu Nandini.


Rumi menghampirinya dan segera ia berpindah ke dunia putih tanpa batas.  


Dewa Siwa datang bersama dengan tubuh cahaya neneknya yang sudah meninggal dunia.  


"Rumi,  ini nenek.  Bagaimana kabarmu?  Ikutlah nenek.... Nenek akan membawamu ke tempat yang membahagiakanmu." 


Belajar dari pengalaman di Gunung Fuji,  Rumi tidak mudah percaya.  Ia langsung mengheningkan diri dan menolak permintaan neneknya. 


Tubuh cahaya neneknya langsung menghilang. Sang Dewa tersenyum padanya.


"Keputusanmu sudah tepat. Terus gunakan nuranimu agar tidak salah jalan. Nurani adalah perwujudan dari tubuh cahayamu ketika kamu berada didalam tubuh fisik. Tubuh cahaya adalah setetes sinar suci Ilahi yang ada di dalam dirimu."


  Setelah memberkati tubuh cahaya Rumi,  Dewa Siwa mempersilahkannya pergi.  


Berikutnya Rumi menuju kota Yerusalem.  Tempat pertemuan ketiga Agama besar semitik : Yahudi,  Kristen,  dan Islam. 


Ia terbang melintasi Masjid Al Aqsha yang dipenuhi sinar,  melewati tembok ratapan,  melihat Rabi-rabi Yahudi tengah menggerak-gerakkan kepalanya melakukan ritual, kemudian melihat orang-orang Kristen dan Katolik tengah berdoa. 


Diatas kubah Sakhrah (dome of the rock) yang berwarna emas, tampak tubuh cahaya berwarna kebiru-biruan, menyerupai seorang pemuda berambut agak panjang, dengan sorot wajah yang teduh. Para Ksatria Cahaya memanggilnya Sananda.  Ia sedang memberkati sekelilingnya. 


Rumi segera menghampirinya.  Ia tiba di dunia putih tanpa tepi.  Sananda menunjukkan sebuah lorong cahaya yang sangat indah.


  "Jika kamu mau memasuki lorong itu,  kamu akan mendapatkan kebahagiaan. " 


Rumi mengheningkan ciptanya. 


"Aku tidak bisa masuk ke lorong itu.  " 


"Boleh kutahu alasannya? "


"Karena lorong itu bukan tujuanku saat ini.  Aku hendak pergi ke Shambala,  bukan ke lorong itu. " 


Sananda tersenyum.  "Keputusanmu sudah tepat,  anakku. Masukilah Kerajaan Tuhan melalui jalan yang sempit, yang tidak banyak diikuti oleh kebanyakan orang di muka bumi. Kerajaan Tuhan yang selalu engkau bawa, kemanapun engkau pergi.


Terus sebarkan cahaya dengan kasih tanpa syarat. Kasihilah sesamamu seperti kau mengasihi dirimu sendiri.


Berkatilah siapapun, termasuk mereka yang menganiaya kamu. Jangan menghakimi siapapun dengan penilaian-penilaian sempit yang kamu miliki, jika kamu tidak ingin dihakimi." 


Sananda memberkatinya dan mempersilahkannya pergi. 


*


                             


Setelah berhasil menghancurkan ketujuh kristal pelindung yang disembunyikan oleh Encik David,  orang itu turun ke ruang bawah tanah,  tempat kristal terakhir disembunyikan. 


Azlina menghentikan bermain biola, setelah mendengarkan suara langkah kaki di ruangan bawah tanah.  "Siapa ya? "


Ia meletakkan biolanya,  dan segera menuju ruangan bawah tanah.  Ia berjalan secara perlahan,  menuruni tangga,  dan membuka pintu ruangan rahasia. 


Azlina terkejut sekali melihat seseorang didalamnya tengah membawa kristal pelindung,  berniat untuk menghancurkannya.  


"Tidak..... ini tidak mungkin..., " kata Azlina terbata-bata.


*


Titik ketujuh, titik terakhir.  Berada di kota Mekkah.  Sebelumnya,  Rumi, beserta rombongan tubuh cahaya lainnya mengunjungi Masjid Nabawi di kota Madinah.  Ia sholat dengan tubuh cahayanya di dalam masjid itu,  kemudian ia mengunjungi Raudah,  makam Nabi Muhammad yang berada di dalam Masjid Nabawi. 


Ia melihat cahaya yang sangat terang di makam Rasulullah.  Setelah mengucapkan salam dan sholawat Nabi,  Rumi terbang tinggi dan melesat menuju kota Mekkah,  melewati jalan raya besar yang di kelilingi oleh padang pasir. 


Sesampai di kota Mekkah, mereka menuju Masjidil Haram dan kabah.  Rumi terharu sekali berada tepat didepan kabah.  Ia melihat bangunan itu di kelilingi oleh pusaran energi yang sangat dahsyat dari orang-orang yang melakukan tawaf dan dijaga oleh jutaan Malaikat Cahaya. 


Seberkas cahaya putih menghubungkan kabah dengan semesta.  Rumi melakukan tawaf dengan terbang mengitari kabah sebanyak tujuh kali,  diiringi dengan tarian para malaikat. 


Ia meninggalkan Masjidil Haram,  menuju Padang Arafah,  Jabal Rahmah,  dan terakhir ke Jabal Nur atau Gunung Cahaya.


  Di dekat Gua Hira,  dipuncak Jabal Nur, Rumi menikmati gemerlapnya kota Mekkah dan Masjidil haram.  Tiba-tiba,  ia kembali masuk kedalam dunia putih tanpa tepi. 


Ia bertemu dengan sosok yang menyerupai dirinya sendiri.  


"Siapa kamu? " tanya Rumi.  


"Aku adalah dirimu sendiri. Ikutlah aku.  Siapa lagi yang akan kamu percayai kalau bukan dirimu sendiri?  Aku akan membawamu kepada kebenaran sejati.  Ikutlah aku,  dirimu sendiri.  Kau ingin pergi ke Shambala kan? Akulah jalan satu-satunya menuju Shambala."


Rumi mengheningkan dirinya sejenak. Ini adalah ujian terakhir,  sekaligus yang tersulit diantara keenam ujian yang telah dilaluinya.  Jika keenam ujian tadi banyak menawarkan kebahagiaan dan kesenangan, juga orang-orang yang dicintai, kini sosok yang menyerupai dirinya mengatakan bahwa dirinyalah satu-satunya jalan menuju Shambala.


Rumi kembali mengheningkan ciptanya.  Lebih dalam.  


"Bagaimana?  Mau tidak?  Aku akan membawamu langsung menuju Shambala. Percayalah, akulah cermin dirimu. Aku yang paling tahu jalan menuju Shambala. Banyak kesatria cahaya yang gagal di titik terakhir ini karena tidak mempercayai dirinya sendiri. "


Rumi terus mengheningkan diri. Cukup lama, hingga ia mendapat jawaban:


"Tidak! " jawab Rumi tegas.  


"Mengapa? Aku kan dirimu sendiri ? Kamu tidak percaya dengan dirimu sendiri? Kamu pasti gagal. Kamu tidak akan sampai ke Shambala. "


"Sekalipun kamu berwujud diriku,  namun sesungguhnya kamu bukanlah diriku yang sebenarnya.  Engkau adalah tiruan.  Diriku yang asli adalah tanpa wujud apapun.  " 


Sosok yang menyerupai dirinya itu tertawa dan segera menghilang.


Mendadak, semuanya menjadi gelap. Tiada batas ruang dan waktu. Rumi menjadi panik.


Mungkinkah sosok yang menyerupai dirinya tadi berkata benar? Rumi sudah salah langkah kali ini.


Pikirannya di penuhi kekacauan. Tubuh cahayanya berputar putar, seperti roller coaster.


"Tidak.... Tidak.... tidaaaak..... "


Rumi mencoba mengendalikan pikirannya. Ia mulai berdzikir. Tubuh cahayanya tidak lagi berputar-putar. Kegelapan itu memudar, berubah menjadi normal. Ia kembali melihat Gua Hira dan pemandangan kota Mekkah dari puncak Jabal Nur. Telinganya mendengar keramaian orang berdoa di sekeliling kabah, dari kejauhan.


 Di hadapan Rumi, tampak sosok cahaya yang sangat terang. Ia menyerupai seorang lelaki Arab yang sangat tampan.  Ia enggan untuk menyebut namanya.  


"Selamat,  anakku, " katanya.  "Kamu telah menyelesaikan ketujuh ujian ini. "


"Benarkah? Aku tidak salah menjawab? "


"Tidak... "


"Terima kasih,  wahai tubuh cahaya yang sangat indah. "


Tubuh cahaya itu tersenyum,  " ketahuilah,  sesungguhnya sesuatu yang masih bisa kamu lihat wujudnya bukanlah kebenaran sejati.  Karena Sang Sumber kebenaran atau Allah itu tanpa wujud apapun.  Namun,  Dia meliputi semua wujud yang ada.  Sang Sumber kebenaran meliputi semua nama,  sifat,  dan perbuatanNya.  Namun,  Dia bukanlah nama,  sifat,  dan perbuatanNya itu.  Dia adalah Dia.  Dia adalah asal mulamu dan tempat kembalimu. "


Rumi mengangguk. 


Lelaki itu mengeluarkan sebuah kendi yang berisi air telaga, namun seluruh airnya terbuat dari cahaya.  Lelaki itu menyuruh Rumi berwudhu dengan air cahaya itu.


  Mereka berdua melakukan sholat berjamaah diatas Jabal Nur. Entah mengapa,  Rumi diselimuti perasaan haru bersama lelaki yang enggan menyebutkan namanya itu. 


Setelah lelaki itu memberkati Rumi,  Rumi kembali bersama rombongannya.  Encik Johan,  Puan Norima,  Puan Hanizah,  dan kali ini mereka bersama dengan Syam.  


"Syam,  gimana ujianmu tadi? " tanya Rumi. 


"Syukurlah,  Mi, aku berhasil melewatinya semuanya.  Berkat bantuan Agni.  " 


Rumi tersenyum.  


"Ayo, kita melanjutkan perjalanan menuju Shambala, " kata Puan Hanizah.  


"Ayo.. "