
Rumi menyudahi menulis puisi dan menutup buku hariannya.
Semenjak berpisah secara fisik , kedua kembaran saling berkomunikasi melalui telepati. Seperti biasa, ia tinggal memejamkan matanya dan meletakkan telapak tangan diatas dada.
"Halo tuan besar Rumi. Apa kabar?" tanya Syam.
" Kabar baik Syam," jawab Rumi." Nggak perlu memanggilku tuan besar. Ibu Ismunah dan Pak Min gimana kabarnya, Syam?"
" Aku belum sempat kesana, Mi. Tapi sekilas, warungnya tetap ramai seperti biasa."
"Kamu harus sering-sering ke warungnya. "
"Oke Mi. Akan selalu aku pantau terus."
"Sip."
Rumi mengakhiri telepatinya dengan Syam. Terdengar suara Puan Norima mengetuk pintu kamar.
"Mi, kamu sibuk tidak?"
"Oh, tidak, Puan. " Rumi membukakan pintu.
"Tuh, di ruang tamu ada kawan-kawanmu ingin berjumpa denganmu."
"Kawan-kawan? Siapa ya?"
"Azlina dan Aizad. Anak-anak Encik David. Kamu temui mereka ya. Saya akan buatkan minuman untuk mereka."
"Oh, baik, Puan."
Buru-buru Rumi masuk kedalam kamar mandi, mencuci mukanya, membetulkan rambutnya yang acak-acakan, dan mengganti pakaiannya. Ia sedikit grogi.
"Syam, Azlina dan adikknya datang kerumah," kata Rumi kepada Syam melalui telepati.
"Wow, Tenang, Mi. Jangan panik. Ambil nafas, hembuskan. Ambil nafas lagi, hembuskan lagi."
"Apaan sih kamu, Syam."
"Hahaha."
Azlina sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu bersama dengan Aizad. Encik Johan mengajak mereka berbincang-bincang sembari menonton televisi.
Rumi pun datang menemui mereka dengan penampilan yang sangat rapi. Encik Johan termenung melihat penampilan anak asuhnya.
"Wow, rapi sekali penampilanmu," kata Encik Johan. "Seperti hendak bertemu orang pemerintahan.Hahaha."
Rumi tersenyum. " Biasa saja kok, Encik. Hahaha."
"Baiklah, kalian bersantailah," kata Encik Johan. "Saya sedang ada pekerjaan."
"Baik, Encik," jawab Azlina, Aizad, dan Rumi serentak.
Encik Johan meninggalkan ruang tamu dan melanjutkan pekerjaannya yang terbengkalai di ruang kerjanya.
"Apa kabar Abang Rumi?" tanya Azlina.
"Syukurlah, baik," jawab Rumi. "Dan kamu Aizad ?"
"Baik, Abang Rumi," jawab Aizad. Seperti biasa, Aizad membawa kameranya. Kali ini, Azlina membawa biola kecilnya.
"Wah, ada apa nih kok tiba-tiba ingin menemuiku?" Rumi bertanya.
"Nggak ada apa-apa, Abang Rumi," jawab Azlina. "Kami hanya ingin mengunjungimu saja. Selagi ini hari libur. Gimana? Senang tidak tinggal di Malaysia?"
"Hahaha. Baru dua hari saja," jawab Rumi.
"Kamu nggak rindu saudara kembarmu kah?" tanya Azlina.
"Tentu saja aku rindu. Rindu ingin marah-marah ke dia. Hahaha."
"Kenapa begitu?" tanya Aizad. "Hahaha."
"Cuma bercanda kok," Azlina menanggapi. "Biasanya, saat kita lama meninggalkan kampung halaman, kita mengalami yang namanya homesick. Perasaan rindu rumah. "
"Oh, begitukan?" Rumi menanggapi. "Namun aku belum merasakannya."
"Hahaha. Baru dua hari saja, Abang Rumi," Aizad menanggapi. "Nanti kalau sudah satu bulan, barulah Abang Rumi terasa."
"Tapi nggak perlu cemas," kata Azlina. "Itu nggak akan lama kok."
Puan Norima datang dengan membawa tiga gelas es sirup.
"Wah, terima kasih, Puan," kata Azlina dan Aizad.
"Sama-sama," jawab Puan Norima. "Sering-seringlah kalian berkunjung kemari dan menemani Rumi agar dia tidak kesepian."
"Baik Puan," jawab Aizad dan Azlina serentak. Aizad meminum es sirupnya sampai tinggal separuh.
"Encik David dan Puan Hanizah gimana kabarnya?" tanya Rumi.
"Ayah dan Ibu sehat," jawab Azlina.
"Sibuk, seperti biasa," tambah Aizad. "Saat ini, mereka sedang berada di luar negeri. Semalam, mereka terbang ke Seoul, Korea Selatan. "
"Wow,amazing," jawab Rumi. "Ada acara Charity kah?"
"Ya lah," jawab Azlina "Pertemuan dengan anggota Charity disana. "
"Kamu rajin mengikuti kegiatan Charity juga ya?" tanya Rumi. "Kalau nggak salah, kata Puan Hanizah, kantor pusatnya ada di Bandar Tasik Selatan."
" Uhm, nggak juga." jawab Azlina."Sesekali saja."
Aizad berbisik kepada kakaknya," Gimana? Jadi nggak?" Azlina mengangguk.
"Abang Rumi, kita mau pergi ke Berjaya Times Square," kata Azlina." Ikut yuk."
"Berjaya Times Square?" tanya Rumi.
"Shopping mall, Abang Mi," jawab Aizad."
"Ayo lah. Kamu nggak sibuk kan?" tambah Azlina.
"Uhm, baiklah," kata Rumi.
Mereka menghabiskan minumannya. Setelah itu, berpamitan dengan Encik Johan dan Puan Norima.
*
Dengan menggunakan LRT, mereka pergi menuju Berjaya Times Square. Sebuah pusat perbelanjaan dengan gedung berwarna coklat.
Didalamnya, mereka melihat bermacam-macam toko-toko ternama. Azlina dan Aizad memilih-milih pakaian yang bagus-bagus. Aizad membeli sebuah sepatu baru.
Sejujurnya, Rumi tidak terlalu tertarik dengan keramaian seperti ini. Ia juga tidak terlalu tertarik dengan pakaian-pakaian bermerk dan sejenisnya. Ia cukup mengenakan pakaian dan sepatu apa adanya, asalkan pantas. Jika ke pusat perbelanjaan, toko buku lah yang senang ia kunjungi. Tempat kedua yang paling disenanginya adalah rumah makan. Rumi hanya mengikuti kedua teman Malaysianya itu.
Di Game center, Azlina tampak asyik dengan permainan Dance-Dance Revolution.
"Hei Abang Rumi, kamu mau coba nggak?"
Azlina berseru sembari menggerak-gerakkan kakinya mengikuti irama musik. "Seru sekali."
Rumi menggelengkan kepala dan menanggapinya datar.
"Abang Rumi, kamu mau nonton wayang nggak?" Aizad bertanya.
"Hah? Nonton wayang? Wayang kulit kah?"
"Hahaha." Aizad tertawa. "Bukan wayang kulit. Wayang is movie in here."
"Oh bioskop maksudmu?" tanya Rumi.
"Yes, bioskop kalau dalam bahasa Indonesia," jawab Aizad. "Ada film Transformer. Keluaran Marvel yang terbaru."
"Aku sudah lama nggak nonton bioskop," kata Rumi. "Bahkan aku nggak pernah ada waktu untuk itu. "
"Oh okay," kata Aizad. "Tapi kali ini Abang Rumi harus ikut. Abang pasti suka. "
"Uhm," Rumi mengangguk.
Hari menjelang malam. Mereka menonton bioskop bersama. Sementara Aizad dan Azlina asyik menonton, Rumi malah asyik melakukan telepati dengan saudara kembarnya.
"Syam, mereka mengajakku nonton bioskop," kata Rumi.
"Wow. Asyik sekali."
"Tetapi jujur, aku nggak menikmatinya. Kamu tahu kan, aku nggak suka keramaian."
"Ya. Aku tahu. Kamu memang seharusnya tinggal didalam gua atau di dalam hutan. "
" Hah? Ngawur bicaramu. "
"Kamu harus bisa beradaptasi dengan lingkungan barumu. Bergaul dengan orang-orang baru."
"Oke. Aku akan berusaha."
"Transformer."
"Wow. Keren banget film itu. Coba kamu berusaha untuk menikmati jalan ceritanya."
"Iya deh. "
Rumi mengakhiri percakapan jarak jauhnya dan mulai menikmati jalan cerita. Ia ingin sekali agar film itu cepat berakhir. Ia bisa kembali ke kamarnya dan menulis semua puisi-puisinya.
Setelah selesai menonton, mereka mampir ke sebuah kedai di pinggir Jalan Imbi, dekat Berjaya Times Square.
"Abang Rumi, aku tahu kamu nggak menikmati jalan-jalan kita hari ini," kata Azlina sembari menyeruput segelas teh tariknya.
"Bagaimana kamu tahu?" Rumi bertanya.
"Aku bisa membaca raut wajahmu," jawab Azlina sembari tertawa."Kamu kelihatan nggak bersemangat"
Aizad mencelupkan roti canai kedalam kuah kari dan memasukkan kedalam mulutnya. " Akak Azlina ini dari dulu suka membaca buku-buku tentang ilmu Jiwa."
"Aku bisa menebak, kamu punya bakat untuk jadi seorang filsuf," kata Azlina." Cocok sekali dengan namamu, Rumi. Kamu lebih suka hidup sendiri, sambil membaca dan menulis. Beda dengan kembaranmu."
Rumi tersenyum. "Tebakanmu itu tepat sekali. Tetapi, aku nggak mengatakan diriku ini seorang filsuf. Aku hanyalah manusia biasa."
"Seorang filsuf nggak perlu menyebut dirinya seorang filsuf," kata Azlina. "Cukup hidup seperti kebanyakan orang saja. Namun, ia selalu berbuat sesuatu dengan pikiran dan karya-karyanya. "
"Abang Rumi, next time, kita nggak akan mengajak kamu ke shopping mall atau nonton bioskop," kata Aizad. " Tapi jangan salah terka, kita nggak marah denganmu.
Kita cuma ingin mengajakmu pergi ke tempat yang kamu sukai. "
"Uhm, baiklah," jawab Rumi. " Maafin aku ya."
"Nggak apa-apa," jawab Azlina. " Mungkin kapan-kapan, kita pergi ke toko buku atau perpustakaan ya."
"Nah, itu aku suka," kata Rumi.
"Eh, minggu depan kita jadi ke Melaka, nggak? " Aizad bertanya kepada Azlina.
"Melaka?" tanya Rumi.
"Iya, Melaka," jawab Aizad. "Sebuah kota bersejarah yang cantik sekali. Kamu pasti suka, Abang Rumi."
Aizad sangat menyukai pergi ke tempat-tempat yang bersejarah, kota-kota kuno, museum, dan sebagainya. Di tempat-tempat semacam itu, ia lebih banyak mendapatkan objek untuk foto-fotonya.
"Kamu mau ikut nggak? " tanya Azlina.
"Boleh," jawab Rumi. "Jauh nggak dari Kuala lumpur?"
"Agak jauh," jawab Aizad. " Dari stasiun KL sentral, kita naik KTM hingga tiba di kota Seremban. Setibanya di Seremban, lanjut naik bus hingga tiba di Melaka."
"Sepertinya menarik," kata Rumi. " Aku ikut kalau begitu."
"Oke," kata Aizad.
Pelayan kedai datang membawakan makanan pesanan Aizad yang cukup aneh. Nasi yang berwarna biru. Spontan, Rumi terkejut melihatnya.
"Kamu harus coba makanan ini," kata Aizad. " Makanlah. Kita sudah pesankan khusus untukmu. "
"Hah? Apa ini?" tanya Rumi. "Nasinya kok berwarna biru? Diberi cat kah?"
"Hahaha," Azlina tertawa. " Jangan lihat warnanya. Tapi coba kamu cicipi. "
"Ini namanya nasi kerabu,Abang Rumi," kata Aizad" Nggak perlu takut. Warna biru itu bukan berasal dari cat, melainkan dari kelopak bunga kembang telang yang warnanya biru."
"Gimana cara membuatnya?" tanya Rumi.
"Tanyakan saja Puan Norima. Ibu asuhmu," jawab Azlina. "Mungkin saja dia bisa. "
"Oke."
"Nah, sekarang, makanlah," kata Aizad.
Rumi ragu-ragu hendak memakannya. Tetapi ia memaksakan diri untuk makan. Ternyata rasanya enak. Rumi pun memakannya sampai habis.
"Nah, kamu suka kan?" tanya Azlina.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Aizad.
"Hmm, lumayan enak," jawab Rumi.
"Kami ingin kamu menikmati Malaysia, " kata Azlina. Kamu harus merasakan apapun yang menarik di Malaysia ini. "
"Dan kami akan membantumu untuk mengenal Malaysia," kata Aizad.
"Makasih ya, " kata Rumi.
*
Mamangmurka berdiri diatas puncak bangunan Berjaya Times Square. Ia terus mengawasi Rumi, beserta kedua teman barunya itu.
"Ini kesempatanku untuk menghabisinya," katanya dalam hati. "
Mamangmurka mengarahkan pandangannya kepada lima orang pemuda India yang tengah lewat di depan sebuah kedai mamak (masakan muslim India).
Ia berkomat-kamit membaca mantra dan mengarahkan telapak tangannya. Dari telapak tangannya, keluarlah lima Pekerja Kegelapan berwujud manusia ular, yang melesat menghampiri lima orang pemuda India itu.
Masing-masing Pekerja Kegelapan itu mempengaruhi pemuda- pemuda itu. Ia juga mengarahkan telunjuknya ke langit.
Muncullah awan gelap yang membawa hujan yang sangat deras. Mamangmurka tertawa, kemudian segera menghilang.
Seperti orang kerasukan, lima orang itu bergerak menuju kedai tempat Rumi dan teman-temannya makan. Kehadiran mereka mengagetkan semua pengunjung kedai, termasuk Rumi dan kawan-kawannya.
"Aku ingin uang kalian," kata salah seorang pemuda seraya menggebrak meja.
Pemuda yang lain menghampiri pemilik kedai dan mencengkeram krah bajunya. "Jika kamu mencoba melapor ke polisi, aku nggak segan-segan membunuhmu."
"Ampun...ampun," pemilik kedai ketakutan.
"Ambillah apapun yang kalian mau, asal jangan habisi nyawa kita."
Tiga orang pemuda mulai mengobrak-abrik kedai dan mengambil beberapa Ringgit uang.
Rumi melihat ada yang tidak beres dengan kelima lelaki India ini. Mata ketiganya melihat lima Pekerja Kegelapan berwujud manusia ular menghinggapi tubuh kelima pemuda ini.
Tapi, tidak mungkin ia meninggalkan tubuh fisiknya di kedai ini. Ia harus mencari masjid atau tempat-tempat lain yang ada energi pelindungnya. Sementara diluar, mendadak hujan deras, diiringi badai.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Duduklah dengan tenang," kata Teja.
"Berzikirlah."
Rupanya, Aizad dan Azlina juga merasakan hal yang sama. Mereka mencoba untuk tenang dan tetap berzikir.
"Hai anak muda," bentak salah seorang pemuda itu kepada mereka bertiga sambil menodongkan pisau. "Serahkan ke kita smartphone kalian."
Ketiga remaja itu terpaksa menyerahkan ponsel cerdas mereka tanpa bisa melawan.
Tiba-tiba, seperti diluar kendali, salah seorang pemuda memegang krah baju Rumi dan melemparkan tubuh Rumi ke lantai.
"Aduh." Rumi terjatuh. Lengannya lecet.
"Abang Rumi!" teriak Aizad spontan.
"Kamu jangan coba-coba tolong dia," kata pemuda gelap mata itu. Dengan mata ketiga, terlihat sosok ular berkepala manusia membelit lehernya, dan membisiki telinganya. "Ayo, habisi dia..bunuh dia...Hahaha."
Pemuda itu mengambil pisau dan mendekat ke arah Rumi. Tubuh Rumi gemetaran.
Azlina memejamkan matanya selama beberapa detik. Setelah ia kembali membuka matanya, ia berdiri dan segera memainkan sebuah lagu dengan menggunakan biolanya.
Terdengarlah alunan nada yang aneh, tapi sangat indah. Kelima orang pemuda itu menutup telinganya, seolah kepanasan mendengarkan alunan musik yang dimainkan oleh Azlina.
"Hei, berhenti!" kata seorang pemuda. "Hentikan bermain biola."
Azlina tidak menggubrisnya. Ia terus bermain. Dengan mata ketiganya, Rumi melihat sinar berwarna biru keluar dari biola Azlina. Sinar berwarna biru itu langsung melenyapkan Pekerja-pekerja Kegelapan yang menghinggapi kelima pemuda itu.
"Wow," kata Rumi. "Ini baru keren."
Setelah Pekerja Kegelapan itu lenyap, kelima orang pemuda itu seperti tersadar kembali. Mendadak wajah mereka pucat. Mereka pun meminta maaf kepada pemilik kedai dan mengembalikan semua uang yang mereka ambil. Mereka juga mengembalikan semua ponsel cerdas kepada pemiliknya masing-masing. Barulah setelah itu, mereka meninggalkan kedai.
Hujan deras dan badai mendadak berhenti setelah kelima orang pemuda itu pergi. Langit kembali cerah.
"Kamu memang Kesatria Cahaya yang hebat, Azlina, " kata Rumi. "Kamu memiliki biola ajaib yang bisa meredam semua kejahatan."
Azlina tersenyum. "Kamu nggak apa-apa kan?"
"Cuma lenganku sedikit luka," kata Rumi.
Aizad membantu Rumi berdiri. " Ayo kita pulang. "
Rumi mengangguk.