
Jam sekolah berakhir. Rumi kelelahan menunggu angkot yang biasa ditumpanginya.
Tiba-tiba Syam menghentikan motornya, tepat dihadapan Rumi. Syam tampak gelisah. Wajahnya memerah. Matanya tampak sembab, seperti habis menangis.
" Lho, Syam. Kamu nggak kerja ?"
Syam turun dari sepeda motornya dan langsung memeluk saudara kembarnya. Ia tidak mampu lagi menggerakkan mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
"Bapak, Mi.."
"Bapak? Bapak kenapa, Syam?"
"Bapak...., "Syam masih tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
"Iya, Bapak kenapa Syam? "
"Sudah tidak ada umur, Mi."
"Hah?" Rumi terperanjat kaget. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar dari saudara kembarnya. "M... maksudmu? "
"Bapak... bapak meninggal dunia, Mi."
"Hmm... Kamu pasti bercanda kan, Syam?"
" Bapak nggak kenapa-napa kan? Kamu pasti membohongiku. Kamu pasti niat menggodaku. Benar kan, Syam?"
Wajah Rumi ikut-ikutan memerah. Air matanya keluar juga. Wajah sembab Syam menatap wajah Rumi dalam-dalam. Mereka saling memandang.
"Ayo kita pulang, Mi. "
Syam memacu motornya dengan kencang, membonceng saudaranya. Sesampai di depan kampung, terlihat para tetangga sudah berkerumun di depan kos-kosan. Jenazah bapak ditutupi kain. Sebagian warga mempersiapkan pemandian jenazah bapak.
"Mas, " terdengar suara Ibu menjerit-jerit. "Bangun,Mas. Bangun. Jangan tinggalkan aku, Mas. Jangan tinggalkan anak-anak."
"Sudah, Bu," seorang tetangga mencoba menenangkan Ibu. "Yang sabar. Yang ikhlas."
"Biasanya, sekitar jam sembilan pagi, Bapak terbangun dan minta makan, "Syam mulai bercerita. " Tetapi, hari ini, Bapak nggak bersuara sama sekali, Mi. Hingga pukul dua belas siang, masih tetap nggak bersuara.
Bapak tetap seperti orang tidur pulas. Bersama Ibu, aku pun memeriksanya. Ternyata Bapak sudah nggak bernapas. Jantungnya sudah nggak berdetak. Urat nadinya juga sudah nggak berdenyut. Tubuhnya dingin dan pucat. Bapak tidur untuk selama-lamanya."
Sekali lagi, kedua kembaran itu berpelukan erat. Mereka berdua menangis.
"Sabar ya, Mi. Kita harus tetap bangkit."
"Kamu juga, Syam. Yang sabar."
Mereka mendatangi Ibu dan langsung berpelukan. Ketiganya tenggelam dalam tangis dan suasana duka cita.
Setelah dimandikan dan disholatkan di masjid dekat rumah, jenazah Bapak dimakamkan di makam Islam tidak jauh dari kos-kosan mereka. Rumi dan Syam turut mengiringinya.
Selama seminggu, mereka melakukan doa dan pembacaan surat Yasin untuk Bapak. Hari-hari menjadi normal setelahnya. Hanya saja tidak ada Bapak. Itulah perbedaannya.
"Sabar ya, Mi, " Ibu Ismunah membesarkan hati Rumi. "Semua orang pasti mengalami yang namanya kematian. Nggak peduli tua, muda, kaya, miskin, pintar, bodoh. Semuanya akan mati"
"Tetapi waktu rasanya begitu cepat, Bu, " Rumi menundukkan kepala. "Saya benar-benar nggak menyangka Bapak terlalu cepat meninggalkan kami. Padahal saya belum lulus sekolah. Saya juga belum menunjukkan yang terbaik untuk Bapak."
"Sstt, " Ibu Ismunah menepuk pundak Rumi. "Semuanya sudah ada yang mengatur. Tetapi saya percaya satu hal, selama masih ada cinta di hatimu untuk Bapakmu, selama itulah Bapakmu akan terus hidup di dalam ingatanmu, Mi. "
Rumi menatap Ibu ismunah. Ia tersenyum.
"Mi, kalau orang meninggal itu kan yang meninggal dan dikubur cuma badannya saja. Tetapi Jiwanya masih hidup dan akan terus hidup. Walaupun kamu nggak bisa merangkul badannya, tetapi kamu bisa merangkul Jiwanya.Maka, rangkullah Jiwa orang-orang yang sudah meninggal dengan doa-doa yang kita panjatkan."
"Terima kasih, Bu. Nasihat Ibu membuat saya lebih kuat. "
"Bagus, Mi. Wajah kamu semakin tampan dan manis kalau bersemangat. "
Ibu Ismunah memegang kedua pipi Rumi, sembari tersenyum.
Syam dengan mengendarai sepeda motornya tiba-tiba berhenti di depan kios Ibu Ismunah, mengagetkan mereka berdua. Ibu Ismunah bingung dan terkejut melihat Syam, yang wajahnya sama dengan Rumi. Beberapa kali ia menoleh ke arah Syam, kemudian ke arah Rumi, ke arah Syam lagi, ke arah Rumi lagi. Pak Min juga terus mengamati Rumi dan Syam dengan perasaan heran.
"Lho, Mas Rumi kok ada dua ya? " tanya Ibu Ismunah.
Rumi tertawa terkikik kikik melihatnya. "Dia itu saudara kembar saya, Bu. Namanya Syam."
"Oh, pantas saja wajah kalian mirip sekali. Sampai bingung saya."
Syam menyalami Ibu Ismunah dan Pak Min.
"Oh, jadi ini rupanya kios Ibu Ismunah yang sering kamu ceritakan itu? " tanya Syam.
"Iya, Syam."
"Syam, Kamu sudah pulang kerja? "tanya Rumi.
"Sudah, Mi. Hari ini aku pulang lebih awal."
"Kenapa, Syam? "
"Nggak kenapa-kenapa, Mi. Memang sudah selesai pekerjaannya."
"Oh, begitu ya, Syam."
"Sekalian ingin melihat kiosnya Ibu Ismunah."
"Ya sudah, Syam. Lihat aja sampai puas. Selagi kamu ada disini sekarang. "
Kedua kembaran tertawa cekikikan.
"Sekolahnya Syam apakah sama dengan sekolahnya Rumi? " tanya Ibu Ismunah.
"Uhm... dulunya kita satu sekolah, Bu," jawab Syam. " Tetapi sekarang saya sudah nggak bersekolah lagi. Saya bekerja di proyek bangunan."
"Lho, Kok tidak bersekolah? " tanya Ibu Ismunah.
"Nggak ada biaya, Bu, " jawab Syam. " Biarlah Rumi saja yang menggantikan saya untuk melanjutkan sekolah. Lagipula, saya harus membantu Ibu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari."
"Tetapi seandainya ada rejeki, apa kamu tidak ingin bersekolah lagi?" Ibu Ismunah bertanya.
Syam menggaruk kepalanya. " Ya ingin, Bu. Siapapun pasti ingin sekolah sampai lulus. Kemudian, melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Namun, berhubung nggak ada biaya, ya saya harus bagaimana lagi?"
"Semoga suatu hari ada jalannya kamu bisa sekolah lagi seperti Rumi, " kata Ibu Ismunah. " Pasti ada jalan kalau ada niat yang kuat."
"Amiin, " jawab Syam.
Sebelum pulang, Rumi membantu membersihkan kios dan mencuci gelas yang kotor. Syam melihat saudara kembarnya itu sambil tersenyum. Ia pun beranjak dari kursinya dan segera membantu Rumi mencuci gelas kotor.
"Aku bantu, Mi, " kata Syam.
"Eh, memangnya kamu bisa? " tanya Rumi.
"Kamu jangan meremehkan aku, Mi. Masak mencuci gelas saja nggak bisa?"
"Hati-hati pecah gelasnya Syam,"Rumi menggoda. " Kamu kan pekerja bangunan. Lenganmu berotot. Khawatir gelas-gelas ini retak jika kamu pegang."
"Huh, dasar sombong kamu, " Syam memerciki saudara kembarnya dengan air yang ada didalam ember. Rumi tidak terima dan balas memerciki saudara kembarnya.
"Eh, sudah-sudah. Jangan bermain air di kios saya, " tegur Ibu Ismunah.
Setelah selesai mencuci gelas, Syam dan Rumi berpamitan.
Ibu Ismunah tersenyum. "Ya Tuhan, hamba nggak bisa membalas apapun kebaikan Rumi dan Syam ini, " batinnya. " Tapi hamba yakin, Engkau pasti mendengarkan doa-doa hamba. Berilah mereka berdua jalan yang terbaik dalam hidup mereka. jalanMu yang penuh misteri. JalanMu yang tidak terduga. JalanMu yang datangnya dari segala arah. Amin. "
Pertiwi, Malaikat bumi, kembali menampakkan diri dalam wujud seorang wanita yang bijaksana dan anggun. Ibu Ismunah tersenyum padanya.
"Teruslah menjalankan misimu dengan baik,Ismunah," kata Pertiwi. "Terus awasi kedua anak itu. Ingat, mereka adalah Cahaya Kembar yang sangat ditakuti oleh Para Pekerja Kegelapan, pengikut Niwatakawaca."
"Niwatakawaca, si Penguasa Kegelapan itu. "
Ibu Ismunah menghela napas.
"Benar, dan semakin hari, pengikut-pengikutnya, para siluman, para hantu, dan makhluk-makhluk astral jahat, juga semakin gencar menyebarkan kegelapan, melalui teror, kebencian, penipuan, kesedihan, dan kekejaman-kekejaman lainnya," kata Ibu Ismunah.
Pertiwi melanjutkan :
"Kekuatan Niwatakawaca akan semakin bertambah dengan menyerap energi-energi negatif itu. Para kesatria cahaya sepertimu juga harus semakin gencar menyebarkan energi cinta untuk meredam energi gelap yang disebar oleh para pengikut Niwatakawaca. Kalian, para kesatria cahaya, harus menyelamatkan sebanyak mungkin Jiwa manusia dengan cara membantu mereka keluar dari kegelapan, dan memberi pencerahan dan cinta. Membantu mereka naik menuju tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Ismunah, sebagai ketua para kesatria cahaya untuk wilayah Indonesia, aku kira kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
"Saya mengerti, Pertiwi."
"Bagus. Teruslah berperan sebagai orang miskin. Orang yang hidupnya paling sederhana. Agar keberadaanmu sebagai ketua kesatria cahaya untuk wilayah Indonesia ini tidak diketahui oleh siapapun. Selalulah waspada. Banyak manusia yang secara kasat mata terlihat sebagai manusia biasa, namun sesungguhnya mereka berada dibawah kendali para pengikut Niwatakawaca."
Ibu Ismunah memandang benjolan di leher suaminya. "Saya tahu itu bukan penyakit biasa. Sekalipun dibawa berobat ke rumah sakit yang paling mahal sekalipun, tetap tidak akan sembuh."
" Suamimu terkena energi gelap pengikut Niwatakawaca. Penyakit itu tidak akan sembuh dengan obat, melainkan dengan kasih sayang dan doa yang kamu berikan padanya. Jiwa suamimu hadir sebagai pembelajaran bagimu, sekaligus sebagai Jiwa yang harus kamu bimbing secara langsung untuk mengalami kenaikan."
"Saya mengerti, Pertiwi."
"Jangan pernah lelah mendampingi suamimu. Jangan pernah lelah mencintainya. Karena itulah obat yang paling mujarab untuk suamimu, kecuali Sang Maha Kuasa berkehendak mematikan tubuh fisiknya karena waktunya di bumi sudah habis. Dengan jalan merawat dan mendampingi suamimu ini, kamu menyebarkan energi cinta ke seluruh Semesta. Dengan penglihatan mata ketigamu, kamu bisa melihat cahaya yang berkilauan berpendar ke seluruh penjuru semesta dari kiosmu ketika kamu merawat suamimu, menghiburnya dengan kata-kata positif, dan mendoakannya. Percayalah, itu akan mempengaruhi jiwa-jiwa yang lain disekitarmu juga. Mereka yang berada dibawah pengaruh kekuatan energi gelap pengikut Niwatakawaca, kemudian melihatmu dan mereka tersentuh hatinya. Disaat mereka tersentuh hatinya, kekuatan gelap itu lenyap dari diri mereka. "
Ibu Ismunah tersenyum. "Terima kasih sudah mengingatkanku, Pertiwi."
Malaikat Bumi menghilang. Ibu Ismunah melanjutkan pekerjaannya.