Light Warriors

Light Warriors
Bagian 19



Sebulan berlalu sejak kedatangan tamu-tamu dari Malaysia itu.


Saat jam istirahat,  Pak Tirto memanggil Rumi ke ruangannya. Rumi masih tidak mengerti mengapa kepala sekolahnya itu ingin berbicara dengannya.  Katanya ada sesuatu yang penting.  Rumi terus bertanya-tanya dalam hati, apakah gara-gara bulan ini ia belum melunasi biaya sekolahnya? 


"Berpikirlah positif , Mi. " Ia menyemangati dirinya sendiri.  


Sesampai di ruang kepala sekolah,  Pak Tirto menyuruhnya duduk.  Wajahnya terlihat tegang, membuat Rumi semakin khawatir.  


"Begini, Mi. Saya baru saja menerima informasi dari bagian keuangan, kamu belum membayar uang sekolah bulan ini. Benar nggak?" 


Rumi menundukkan kepalanya.  Ternyata benar dugaannya.  Tubuhnya menjadi lemas.  


"Iya, Pak, " jawabnya lirih. " Tetapi saya berjanji akan segera melunasinya." 


Pak Tirto menatapnya tajam, mendadak tersenyum.  Rumi mulai berani memandang wajah Pak Tirto.  Aneh,  kenapa beliau jadi tersenyum? Pikirnya.  


"Hmm, ya. Saya memahami kondisimu. Saya ada kabar baik untukmu." 


Rumi sedikit terkejut mendengarnya.  Perasaannya menjadi lebih lega. "Kabar baik apa, Pak?"  


" Saya baru saja menerima email dari Encik David untuk kamu."


"Untuk saya, Pak? "


"Benar. Untuk kamu. Katanya,  organisasi Charity akan membiayai semua biaya sekolahmu hingga selesai,  membiayai keluargamu agar bisa memiliki tempat tinggal yang layak, dan membiayai saudara kembarmu agar bisa sekolah lagi. "


Rumi masih belum mempercayai apa yang didengarnya.  Ia mencoba memukul pipi kirinya dan pipi kanannya. Pak Tirto melihatnya dengan heran, bercampur geli.  


"Kamu nggak sedang bermimpi, Mi. Selamat ya. Kamu memang layak untuk menerimanya. Mulai tahun ajaran baru,  Syam bisa bersekolah lagi. Tapi harus mengulang kelas dua belas lagi. Nggak apa-apa ya? " 


"Oh, nggak masalah,  Pak. Yang penting saudara saya bisa bersekolah lagi." 


Mata Rumi mulai berkaca-kaca karena perasaan haru.  Rasanya,  ia ingin segera pulang dan memberitahu kabar baik ini kepada Ibu dan Syam.  


"Oh ya, organisasi Charity juga memberi modal kepada Ibu Ismunah untuk membesarkan usahanya," Pak Tirto menambahkan."Untuk yang satu ini, kamu harus membuat laporannya disertai dengan foto-foto pendukungnya untuk dikirim ke Malaysia. Organisasi Charity akan terus memantau perkembangannya." 


"Baik, Pak. Syukurlah. Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, Mi. Saya juga berterima kasih kepadamu karena sudah mengharumkan nama sekolah ini."


Rumi tersenyum.  


"Kerjakan amanah ini dengan baik ya, Mi. Nggak main-main lho, Mi. lima puluh ribu Ringgit Malaysia  sudah masuk ke rekening saya, sekitar seratus enam puluh satu juta rupiah. Dan ini masih akan terus bertambah."


 


"Wah, banyak sekali, Pak."


"Iya. Tetapi saya nggak akan menyerahkan uang itu sekaligus kepadamu. Setiap kamu membutuhkan uang itu, buatlah laporan terlebih dahulu. Kamu serahkan ke saya laporan itu. Baru saya setujui dan saya beri uangnya. Intinya, Mi, harus hati-hati mengelola uang dalam jumlah besar." 


"Baik, Pak."


Sebelum meninggalkan ruang kepala sekolah,  Rumi melakukan sujud syukur.  Air matanya tak terbendung lagi.  


*


Begitu turun dari angkot,  Rumi segera berlari dengan riang menuju kos-kosannnya. 


Sesampai di kos-kosan,  tanpa melepas sepatu,  ia langsung memeluk saudara kembarnya. Syam yang baru selesai mandi dan masih dalam kondisi bertelanjang dada terperanjat kaget.  Rumi terus memeluk saudaranya sambil menangis. Ia tak kuasa berkata-kata lagi.  


"Mi, sebenarnya ada apa sih?" Syam tampak kebingungan.  "Kok tiba-tiba kamu datang dan langsung memelukku. Sepatumu juga belum dilepas. Badanmu berkeringat. " 


"Syukurlah, Syam."


"Syukur kenapa?"


"Kita.... kita..... ," Rumi terbata-bata.


"Kita kenapa?"


"Kita.....


"Oke, oke, kamu tenang dulu, Mi. Lepas sepatumu. Minum air. Setelah itu, bicaralah dengan santai. "


Rumi melakukan apa yang diperintahkan oleh saudara kembarnya.  Setelah agak tenang,  barulah Rumi menceritakan kabar baik yang diterimanya hari ini.  


"Jadi begini Syam, tadi kan aku dipanggil oleh Pak Tirto... "


"Lalu?"


"Katanya kita dapat bantuan dari Charity,  organisasi dari Malaysia itu."


"Yang bulan lalu bertamu ke kos-kosan kita itu? Encik David dan Puan Hanizah itu? " 


"Iya, Syam. Yang bulan lalu bertamu ke rumah kita itu. " 


"Lalu, bantuan untuk apa, Mi?"


"Eh, tunggu sampai aku selesai bercerita. Jangan dipotong dulu."


"Oke, oke. Lanjut Mi."


"Katanya bantuan untuk kita agar kita punya tempat tinggal yang layak, bantuan untuk biaya sekolahku sampai selesai."


"Serius, Syam."


"Kamu pasti bercanda kan? Oke, aku memang suka menggodamu, Mi. Dan aku tahu kamu mau membalas dendam."


Rumi cemberut. " Memangnya apa untungnya buatku untuk membalas dendam?"


"Syukurlah." Ingin rasanya Syam melompat kegirangan,  tapi ia masih bisa menahan diri. 


" Dan ada juga dana bantuan agar kamu bisa sekolah lagi, Syam," Rumi melanjutkan.


"Aku?  Sekolah lagi? " Syam terkejut. " Kalau ini aku yakin kamu pasti benar-benar menggodaku. Sulit dipercaya."


"Nggak, Syam," Rumi meyakinkan saudaranya.


"Aku berani sumpah. Kamu boleh datang sendiri menemui Pak Tirto kalau kamu masih nggak percaya. Mulai tahun ajaran depan,  kamu bisa sekolah lagi."


"Terima kasih ya Tuhan." Syam melakukan sujud syukur.  


"Dan kita juga dapat dana untuk membesarkan usaha Ibu Ismunah. Sudah ada sekitar seratus enam puluh satu juta rupiah yang masuk ke rekening Pak Tirto." 


Syam ganti memeluk Rumi. Kemudian keduanya saling bertatap muka.  Syam memandang Rumi dengan sorot mata yang dalam.  


"Mi, benar kan kataku? Hukum karma itu ada." 


"Iya, Syam. Kamu benar."


"Ibu pasti senang sekali mendengar kabar ini, Mi."


"Iya, Syam. Dan jangan lupa kita berterima kasih kepada Ibu Ismunah juga. Allah yang membuka jalan kita melalui perantara Ibu Ismunah." 


*


Sepulang kerja,  betapa bahagianya Ibu mendengar berita baik ini.  Ia merangkul kedua anaknya.  


"Ibu bangga dengan kalian semua, Nak.


Mulai sekarang, Ibu janji akan meninggalkan pekerjaan Ibu yang sekarang. Ibu mau membuka usaha sendiri." 


"Usaha apa, Bu?" tanya Syam.


"Ibu punya cita-cita memiliki sebuah butik. Mungkin Ibu bisa mulai dari kecil-kecilan dulu."


"Amin ya Tuhan," kata Syam. "Semoga terwujud cita-cita Ibu yang baik. "


"Jadi, kapan kita pindah rumah, Bu? " tanya Rumi.  


"Secepatnya, " jawab Ibu.


                           


*


"Pak, kita akan punya usaha yang besar, " Ibu Ismunah memeluk suaminya setelah Rumi dan Syam memberitahu kabar baik kepadanya.  "Kita dapat bantuan uang dari Malaysia." 


Mereka berdua pun melakukan sujud syukur. 


"Ya Tuhan," kata Ibu Ismunah. "Semoga Engkau memberi ganjaran yang berlipat ganda kepada orang yang mau peduli dengan orang-orang seperti kita." 


Ibu Ismunah ganti memeluk Rumi dan Syam. "Terima kasih ya, Mi, Syam."


"Sama-sama, Bu," Rumi dan Syam kompak menjawab.


"Sekarang, Ibu rencananya ingin usaha apa? " tanya Rumi.  


"Saya ingin jualan nasi lagi seperti dulu," jawab Ibu Ismunah." 


"Amin, Ya Tuhan,  " kata Syam.  " Semoga diberi kelancaran. " 


*


                                 


Bantuan dana dari Malaysia terus mengalir ke rekening Pak Tirto.  Dengan dana itu,  Ibu membeli sebuah rumah yang sederhana,  tapi rapi dan layak huni.


Kini,  Syam, Rumi, dan Ibu punya kamar sendiri.  Ibu juga memulai bisnis pakaian dirumahnya.  Ibu menjualnya secara online dengan menawarkannya di media sosial. 


Ibu Ismumah dan Pak Min kini tidak tidur dipinggir jalan lagi.  Mereka menyewa sebuah kamar kos.  Selama beberapa bulan, Syam dan Rumi  sibuk membangun  tenda untuk  warung nasi Ibu Ismunah.


  Syam membeli sebuah cat dan kain putih. Rumi menuliskan " WARUNG NASI IBU ISMUNAH". Kemudian memasangnya di tenda agar orang bisa membacanya.


Syam dan Rumi membeli ponsel cerdas yang baru.  Dengan sarana itu, mereka bisa melakukan promosi secara online. 


Perkembangan warung nasi Ibu Ismunah sangat pesat.  Semakin hari,  semakin ramai pembeli,  terutama pada malam hari.  Rumi dan Syam terus mencatat setiap perkembangannya,  kemudian melaporkannya kepada Pak Tirto, baik dalam bentuk tulisan,  foto,  maupun video. 


*


Dari Kuala Lumpur,  Malaysia, Encik David dan Puan Hanizah terus mengamati perkembangan mereka.  Mereka sangat puas dengan kinerja Syam dan Rumi.  


"Kita harus memberikan kejutan yang lebih besar lagi untuk kedua kesatria cahaya itu, " kata Encik David.  Ia melirik ke arah istrinya.  Puan Hanizah menganggukkan kepala seraya tersenyum.