Light Warriors

Light Warriors
Bagian 50 (END)



Rumi terbangun di sebuah kamar di rumah sakit Islam Siti Aisyah,  Madiun. Ibu ada didekatnya, tampak lelah.  Matanya sembab karena terus menangis. Sudah 3 hari Rumi tak sadarkan diri, sekalipun masih bernapas.   


"Rumi,  " kata Ibu terkejut melihat anaknya membuka mata." Syukurlah,  kamu sudah sadar. " 


"Ibu," telapak tangan Rumi memegang telapak tangan ibunya.  Rumi mencoba menggerakkan tubuhnya,  namun terasa kaku dan sakit.  


"Jangan bergerak dulu,  Mi!"


"Dimana aku, Bu? "


"Kamu ada di rumah sakit."  


"Di rumah sakit? " Rumi bertanya.


"Bus yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan. Kamu tidak sadarkan diri selama 3 hari. Beberapa penumpang lain,  termasuk sopirnya,  meninggal dunia. Beberapa yang lain selamat,  termasuk kamu. Bersyukurlah, Mi,  kamu dikaruniai hidup. "


Tiba-tiba ia teringat dengan saudara kembarnya. 


"Syam......Syam dimana, Bu?  Bagaimana kondisinya?" Rumi begitu panik.  


"Syam selamat,  " kata Ibu. 


Sejenak,  Rumi merasa lega.  


" Namun, Syam mengalami benturan hebat di kepalanya,  hingga terjadi pendarahan."


Ibu menitikkan air mata dan menangis, tak mampu melanjutkan ceritanya. Ia mencoba mengatur napas dan menenangkan diri. Setelah sedikit tenang, barulah ia bercerita.


" Ketika dievakuasi,  Syam ditemukan sedang mendekapmu dengan erat. Kepalamu tidak sampai terbentur karena terlindungi oleh tubuhnya. "


Ibu tak kuasa menahan tangisnya lagi.  Rumi pun meneteskan air mata.  Betapa luar biasa pengorbanan saudara kembarnya itu.  


"Sekarang Syam ada di ruang ICU dan masih tidak sadarkan diri," kata Ibu. "Kita doakan yang terbaik ya,  Mi? " 


Rumi mengangguk tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.  


"Tampaknya Syam menyayangimu melebihi siapapun di dunia ini. "


Rumi tersenyum.  Rasa haru di dalam dirinya semakin menjadi-jadi.  


Hening sejenak.  Tiba-tiba seorang perawat memanggil Ibu.  Ada kabar mengenai Syam.  Ibu menyeka air matanya dan keluar sebentar menemui perawat itu.  Rumi ditinggal sendirian.


"Ya Tuhan, berilah yang terbaik untuk Syam, " Rumi berdoa dalam hati.  


Lima belas menit kemudian, terdengar suara jeritan histeris Ibu, membuat Rumi menjadi semakin panik. Ibu kembali dengan wajah yang memerah dipenuhi air mata.  Ia langsung memeluk Rumi. 


"Bu,  bagaimana kondisi Syam? " Rumi bertanya panik.  


"Yang sabar ya, Mi, " kata Ibu.  " Memang sudah menjadi kehendak Tuhan. " 


"Kenapa, Bu? "Rumi bertanya.  


"Syam baru saja meninggal dunia,  " kata Ibu terbata-bata.  


"Apa, Bu?  Syam meninggal dunia?  " Rumi tidak mempercayai berita yang didengarnya."Benarkah?"


Ibu mengangguk. Kemudian kembali memeluk anaknya.


"Syam..... Syam..... Syaaaaaaammmmm!!!!!!!!! " 


Rumi berteriak. Suaranya memecah keheningan kamar, membuat panik pasien yang lain.  Beberapa perawat mencoba menenangkan Rumi. 


"Syaaaaaaammmmm!!!!!!!!! " 


"Tabahkan hatimu, Mi, " kata Ibu. Ia mendekap kepala anaknya yang menangis. "Tabahkan hatimu."


Ibu pun menangis. Keduanya sama-sama menangis.


*


                         


Encik David, Encik Johan, Puan Hanizah, Puan Norima, Azlina, dan Aizad datang dari Malaysia untuk menghadiri pemakaman Syam. Begitu juga dengan Ibu Ismunah dan Mbak Ningsih.


Syam dimakamkan disebelah makam bapaknya.  Rumi terus saja menangis.  Dipeluklah batu Nisan saudara kembarnya.  


"Syam," katanya. "Syaaammm...."


Ibu memegang pundaknya. " Mi, pulang yuk. "


"Tinggalkan aku disini, Bu," kata Rumi. "Aku nggak ingin pulang."


"Mi, tabahlah," kata Encik David.


"Semua yang hidup pasti mengalami kematian," kata Puan Hanizah.


"Namun, percayalah, tidak ada tubuh cahaya yang benar-benar mati," kata Azlina.


"Hanya tubuh fisik saja yang mengalami kematian," Puan Norima menambahkan.


"Terima kasih," kata Rumi. "Tapi saya masih ingin disini. "


"Baiklah. Lakukan apapun yang bisa membuat hatimu tenang," kata Encik David. Mereka semua meninggalkan Rumi sendirian.


Seorang gadis yang tampak terpukul datang ke makam Syam dan meletakkan karangan bunga diatas makam Syam. Nadine. Pacar Syam.


Sejenak, ia memandang Rumi yang tengah meratapi kematian saudaranya. Ia memegang pundak Rumi, mencoba untuk menenangkannya.


"Kak Rumi yang sabar ya. Kak Rumi harus bisa menerima kenyataan kalau...."


Belum sempat Nadine menyelesaikan kata-katanya, Rumi melihat seekor kupu-kupu hijau hinggap di atas batu nisan kembarannya.  Kupu-kupu yang dilihatnya di alam cahaya sebagai penjelmaan dari tubuh cahaya saudara kembarnya.


Suara halus mengalir bersama suara hatinya.  Rumi berbicara secara telepati dengan tubuh cahaya saudara kembarnya, seperti biasanya.


"Mi, ini aku."


"Syam.... Syam... kamu kah itu? Syam...  "


"Iya. Ini aku, Mi," kata tubuh cahaya Syam. "Sekalipun tubuh fisikku sudah mati,  aku masih tetap hidup. Karena sejatinya aku adalah energi yang terus hidup. 


"Syam...." .


"Mi, lanjutkan hidupmu sebagai kesatria cahaya. Nggak ada gunanya meratap seperti ini. Kamu terjebak oleh ilusi." 


"Syam...."


"Kak Rumi harus bisa menerima kalau kak Syam sudah tiada," Nadine melanjutkan kalimatnya.


"Nggak," potong Rumi tegas. "Syam masih hidup dan akan terus hidup. Aku masih bisa berbicara dengannya."


Rumi bangkit dari makam Syam dengan perasaan lebih positif dan meninggalkan Nadine sendirian. Nadine heran melihat Rumi. Ia tidak memahami apa yang baru saja dikatakan oleh Rumi.


Cerita kehidupan terus berlanjut. 


                                        


*


Mbak Ningsih menggandeng Ibu Ismunah melihat sebuah tempat yang baru saja dibelinya. Tempat itu terletak di kota Ngawi. Lokasinya cukup strategis. Berada disebelah masjid. Jadi, aman dari gangguan makhluk-makhluk astral jahat.


"Bagaimana menurut Ibu?  " tanya Mbak Ningsih.  "Cocok tidak kalau kita berjualan makanan di tempat ini?  "


Ibu Ismunah tersenyum puas.  "Tentu cocok, Ningsih. Kok pintar kamu memilih tempat? " 


"Hehehe, syukurlah kalau Ibu merasa cocok," kata Mbak Ningsih. "Mulai besok,  kita mulai berjualan ya, Bu."


"Iya Ningsih,  " kata Ibu Ismunah.  " Jangan lupa Rumi dikabari kalau kita mulai buka. " 


"Beres, Bu," kata Mbak Ningsih. "Nanti saya kabari dia."


                               


Di Bandara Internasional Juanda,  Rumi berpamitan dengan Ibunya.  Keduanya saling berpelukan.


Ibu nggak apa-apa kan tinggal sendiri? " tanya Rumi.


Berangkatlah, Mi," jawab Ibu. " Ibu bisa kok hidup sendiri. Yang terpenting, kamu harus melanjutkan kuliahmu di Malaysia hingga selesai dengan nilai yang terbaik. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Jadilah anak kebanggaan Ibu. Jadilah kebanggaan bangsa dan negara kita di masa depan." 


"Jaga diri baik-baik ya, Bu."


"Iya, Nak."


*


Siang itu,  Rumi terbang ke kuala Lumpur bersama dengan rombongan kesatria cahaya dari Malaysia.  Sesampai di bandara KLIA 2,  mereka hendak membeli tiket ERL. 


Spontan, Rumi melihat kupu-kupu hijau itu hinggap diatas pundaknya dan mengepakkan sayapnya.  Rumi terkejut,  sekaligus terharu yang sangat mendalam. Ia menitikkan air mata.


"Rupanya kamu mengikutiku sampai kesini," kata Rumi dalam hati. "Syam, terima kasih banyak ya." 


"Mi, aku akan selalu bersamamu. Sekalipun aku tidak berwujud manusia lagi. Sekalipun kita beda alam. Rasakanlah esensi diriku.


Rasakanlah kehadiranku. Aku nggak pernah mati. Aku adalah setitik energi yang menyatu bersama keabadian.Aku nggak tercipta,  juga nggak bisa dimusnahkan.


Inilah esensi diriku.Esensi dirimu juga.Esensi diri semua makhluk di alam semesta ini.Aku selalu ada. Jangan bersedih.


Kita nggak pernah berpisah. Nggak akan pernah. Kita adalah satu. Semua perpisahan yang kamu lihat adalah ilusi. Tapi rasakan dengan penuh kesadaran.


Pejamkan matamu. Rasakan esensi diriku. Rasakan kehadiranku. Lihatlah kupu-kupu hijau itu. Jangan lihat dengan kepalamu. Lihatlah dengan setitik rasa dalam hatimu. Ia akan menjadi pertanda kehadiranku."


Rumi memejamkan matanya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Sekali lagi, terima kasih ya, Syam."


*


Dua tahun kemudian....


Kupu-kupu hijau terus menatap dengan tatapan yang tajam dan penuh misteri.  Ia tidak beranjak dari buku harian milik Rumi, seolah ia membaca semua tulisan Rumi. 


Sementara,  Rumi tertidur di meja belajarnya karena kelelahan. Buku hariannya terbuka begitu saja.  Ia juga tidak menyadari ketika penanya menggelinding dan terjatuh dari meja.


Kupu-kupu hijau terus saja hinggap diatas buku harian yang terbuka. Tampaklah goresan-goresan tinta Rumi yang baru saja ditulisnya:


" Wahai Cahaya Kembarku...


Kamu ingat tidak, ketika kita bersama-sama menjalani cerita kehidupan ini?


Di sekolah raksasa yang bernama bumi ini


Seringkali kita merasakan suka, duka, sakit, dan marah bersama...


Seringkali kita bertengkar, tertawa, dan menangis bersama...


Ketika kita belum memahami satu sama lain, kita sering bentrok...


Namun, semua cerita kehidupan ini, mengajarkan kita untuk saling mengasihi lebih dalam lagi...


Hingga tataran cahaya....


Tataran yang tertinggi ....


Setiap aku bertemu denganmu di alam mimpi


Kurasakan jarum jam bergerak lebih cepat daripada biasanya...


Dan ketika aku membuka mataku, bangun dari tidurku...


aku merasakan kedamaian yang sangat mendalam ...


Jalan ceritaku di bumi ini terasa lebih indah


Ketika aku menyadari...


 Esensi dirimu selalu bersamaku setiap saat..


Kurasakan ada esensi dirimu di dalam semesta kecilku...


Ketika esensi dirimu hadir di dalam hidupku


Kurasakan semesta memberkatiku tanpa batas...


Getaran kasih kita memancar keseluruh bumi dan seluruh Semesta...


Kurasakan rasa kasih murni ini sebagai anugerah yang tak terkira...


Kurasakan setiap kali kita bertemu di alam mimpi..


 


Alam dimana tiada batasan-batasan antara aku dan kamu...


Bahkan aku tidak memandangmu sebagai laki-laki atau perempuan di alam itu...


Aku juga tidak memandangmu sebagai manusia, hewan, atau tumbuhan...


Hanya esensi dirimu dan diriku yang kurasakan..


Kupeluk esensi dirimu tanpa ada beban...


Kucium esensi dirimu tanpa ada rasa malu atau rasa bersalah...


Sekalipun kini engkau telah meninggalkan tubuh fisikmu...


Dengan kesadaran ini, aku tidak pernah merasa sendiri...


Aku senantiasa berbahagia...


Meski aku tidak lagi melihat bentuk manusiawimu...


Tanpa kesadaran ini,  segalanya tiada berarti..


Ada esensi dirimu dalam Semesta kecilku..


Ada esensi dirimu di hatiku ...


Karena aku adalah kamu...


Kamu adalah aku...


Tat Twam Asi ....


Tidak peduli apapun wujudmu,  aku akan tetap menyayangimu tanpa syarat...


Hatiku selalu terhubung dengan hatimu...


Mengalir bersama keabadian...


Selamanya ..."


 


*SELESAI*