
Dua hari berlalu sejak kejadian itu.
Seperti biasa, Rumi tetap pada kesendiriannya, bergelut dengan rasa sepi yang dinikmatinya.
"Jangan khawatir, " kata Teja. "Dalam kesendirian, itulah kesempatanmu untuk memahami dirimu sendiri."
Rumi mengiyakan tanpa bersuara.
Hari itu, pelajaran bahasa Inggris dimulai. Rumi duduk dibangku pojok paling belakang. Sendirian saja. Dan ia memang merasa lebih nyaman duduk sendiri daripada harus duduk bersama siswa-siswa yang menjahilinya, atau duduk bersama mereka yang mendekatinya hanya agar dirinya mau mengerjakan tugas-tugas mereka atau agar diberi contekan ketika ujian tiba. Biasanya, Syam yang menempati bangku kosong disebelahnya.
Miss Titin memberi tugas mengarang. Hanya satu paragraf. Tugas yang terlalu ringan bagi Rumi. Bahkan ketika siswa-siswa yang lain masih harus berpikir keras hanya untuk menulis karangan sebanyak satu paragraf, Rumi sudah menulis sebanyak lima paragraf dalam waktu hanya tiga menit.
Saat jam istirahat tiba, ketika siswa-siswa yang lain sedang asyik bersantai, Rumi menghabiskan waktu seorang diri melahap habis buku-buku di perpustakaan sekolahnya, termasuk buku-buku karya penulis asing, seperti JK. Rowling, Charles Dickens, Paulo Coelho, Sydney Sheldon dan masih banyak lagi. Ia sangat menggemari novel detektif Sherlock Holmes.
Tentu saja, menurut Rumi, menulis karangan hanya satu paragraf seperti tugas anak TK. Namun, Teja berkali kali menyuruh Rumi agar berpura pura bodoh dihadapan guru dan teman-temannya. Berpura-pura tidak tahu apa-apa. Berpura-pura tidak bisa apa-apa. Atau Teja akan menghilang untuk selama-lamanya.
Ada yang aneh selama dua hari itu. Jaka tidak masuk sekolah. Apakah dia sakit? Entahlah.
Teja mendesak Rumi untuk berkunjung ke rumah Jaka sepulang sekolah ini.
"Yang benar saja, " batin Rumi. Ia memejamkan matanya dan berkomunikasi dengan Teja. "Bagaimana mungkin aku berkunjung ke rumah Jaka, sementara selama ini dia nggak pernah absen menindasku? Dia sangat membenciku. Hanya karena terpaksa dan butuh uang, aku meminjam uangnya. Itu pun, setiap hari tubuhku babak belur dipukulinya. " Kali ini, Rumi protes.
"Apakah kamu tidak mempercayaiku lagi?" Teja bertanya.
"Hmm... bukan berarti seperti itu sih, " jawab Rumi dalam hati. "Aku cuma nggak siap aja kalau harus bertemu dengan Jaka. Selama ini, dia selalu mempermalukanku. "
"Dan kamu menyimpan rasa dendam kepadanya? "
"Hmm.. nggak.... "
"Lalu, kenapa kamu keberatan? Kamu membencinya? "
"Juga nggak, " jawab Rumi.
"Aku cuma merasa rendah diri aja kalau harus bertemu dengan Jaka."
"Percayalah, aku mengerti apa yang tidak kamu mengerti."
"Apa itu? "
"Aku tidak akan memberitahumu sebelum kamu mengalaminya sendiri. Aku ingin kamu belajar dan mengambil pengetahuan dari pengalamanmu."
"Ya, ya, ya. Baiklah, " kata Rumi sedikit sebal.
Rumi membuka matanya. Tampak Miss Titin tepat di depan wajahnya. Semua teman-teman sekelasnya melihat Rumi seperti orang yang tertidur dengan posisi duduk, begitu juga Miss Titin.
"Rumi, kamu ketiduran ya? " tanya Miss Titin." Cuci mukamu sana."
Hahahaha, " semua murid tertawa. Ruang kelas menjadi lebih ramai. "Profesor tidur, " salah seorang siswa menimpali. "Mungkin semalam ia tidak tidur karena menemukan mesin waktu. Hahaha... "
"Diam! " bentak Miss Titin. "Apakah tugasmu sudah selesai, Rumi? "
"Oh, sudah, Miss, " jawab Rumi. Ia menyerahkan lembar tugasnya. Dan Miss Titin melihat karangannya, sembari tersenyum.
"Seperti biasa, Rumi. Saya menyuruhmu menulis sebanyak satu paragraf, kamu malah menulis lima paragraf. Bagus. Saya akan memberi nilai tambah untukmu. "
"Terima kasih, Miss."
"Nah, sekarang yang lain, mana tugas kalian? Kalau dalam waktu lima menit kalian belum menyelesaikannya, saya akan menambah tugas kalian menjadi sepuluh paragraf. "
Seluruh siswa menjadi murung. Mereka buru-buru menyelesaikan tugas mengarangnya. Sekenanya. Asalkan selesai dalam waktu lima menit dan mereka terbebas dari tambahan tugas menjadi sepuluh paragraf.
Sekalipun Rumi tidak mempunyai teman dekat, ia banyak disenangi oleh guru-guru disekolahnya karena kepandaiannya. Ia dapat dengan mudah mengerjakan soal-soal fisika dan kimia untuk anak kuliahan. Gurunya sangat mengaguminya. Seringkali, ketika gurunya berhalangan, Rumi diminta menggantikan mereka mengajar. Namun Rumi selalu menolak. Selain ia tidak pandai berbicara didepan umum, ia tidak ingin dipandang lebih unggul daripada teman-temannya.
Salah satu alasan mengapa teman-teman sekelasnya banyak yang menjauhinya, selain Rumi lebih suka menyendiri, juga karena mereka iri dengan Rumi yang disayang oleh para guru. Mereka menganggap Rumi pandai mencari muka dihadapan guru-gurunya, padahal Rumi tidak berniat seperti itu.