
Mamangmurka juga mengawasi warung Ibu Ismunah. Ia tersenyum sinis. Penuh misteri. Ia mengarahkan telapak tangannya kearah warung nasi, sambil berkomat kamit membaca mantra.
Dari telapak tangannya, munculah sinar hitam, yang kemudian menjelma menjadi beberapa pekerja kegelapan, dengan wujud tengkorak dan manusia berkepala anjing bertanduk.
Pekerja kegelapan itu merasuki orang-orang yang makan di warung itu. Mendadak mereka bangkit dari tempat duduknya, membalik meja dan kursi, memecahkan piring dan gelas mereka, kemudian mengobrak-abrik meja-meja yang lain. Tatapan mata mereka menjadi kosong dan matanya memerah.
"Mari kita hancurkan saja warung ini," kata salah satu dari mereka.
"Ayo, hancurkan! Hancurkan!" teriak mereka semua.
"Hahahaha, " Mamangmurka tertawa lirih.
Pak Min terkejut sekali melihat pelanggannya tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas. Ia mencoba menenangkan pelanggannya yang marah.
Buru-buru Ibu Ismunah menarik lengannya. Ia merasakan hawa yang tidak enak. Ia melihat ada banyak makhluk astral jahat mendekati warungnya, bersamaan dengan orang-orang itu. Sembari menarik lengan Pak Min, Ibu Ismunah segera berlari menuju masjid terdekat yang ada di dalam kantor polisi.
"Lho, Bu, sebenarnya ini ada apa?" tanya Pak Min. " Kok tiba-tiba orang-orang itu marah dan ingin menghancurkan warung kita? Memangnya kita salah apa?"
"Ada yang tidak beres, Pak. Bapak tenang saja di masjid ini. Jangan keluar dari masjid ini. Bapak aman disini."
Pak Min menurut, walaupun pikirannya dipenuhi pertanyaan. Ibu Ismunah mengambil air wudhu, dan melakukan sholat sebanyak 2 rakaat.
Setelah sholat, ia duduk dan mengheningkan diri. Tubuh cahayanya langsung melompat keluar. Ia kembali ke warungnya. Dilihatnya makhluk-makhkuk astral jahat itu mendesak orang-orang, yang jumlahnya sekitar sepuluh orang itu, agar menghancurkan warungnya. Memecahkan semua gelas dan piring. Bahkan ada yang bersiap membakarnya.
Tentu saja orang-orang sekitar berduyun-duyun datang. Tetapi mereka tidak ada yang berani mendekat. Tiga dari sepuluh orang itu membawa pisau yang biasa digunakan oleh Ibu Ismunah untuk memotong sayuran dan lauk pauk, mengancam akan membunuh siapa saja yang mendekat.
Tubuh cahaya Ibu Ismunah menembakkan sinar kuning kepada pekerja kegelapan yang menghinggapi sepuluh orang itu. Makhluk astral itu melebur menjadi energi positif setelah terkena sinar yang dipancarkan oleh Ibu Ismunah.
Salah satu makhluk astral mencoba menyerang Ibu Ismunah, namun Ibu Ismunah berhasil menangkis serangannya dan melebur makhluk itu.
Setelah semua makhluk astral itu lenyap, kesepuluh orang itu mendadak sadar dan langsung meminta maaf kepada orang sekitar. Polisi datang dan menangkap mereka karena telah melakukan aksi pengrusakan.
Ibu Ismunah kembali ke masjid dan masuk kedalam tubuh fisiknya. Pak Min masih duduk termangu, dipenuhi kebingungan. Ibu Ismunah menuntunnya keluar masjid.
Tanpa disadari, Mamangmurka melancarkan serangan energi hitam dan mengenai dada Pak Min.
"ADUUUH!!!!" Pak Min mengerang kesakitan.
"BAPAK!!! Ibu Ismunah kaget, sekaligus panik. Ia melihat Mamangmurka melesat dan menghilang dari pandangannya. Dengan posisi berada di dalam tubuh fisiknya, mustahil ia mengejar Mamangmurka.
"ADUH...SAKIT....SAKIT!!!!" Pak Min menjerit sambil memegang dadanya.
Buru-buru, Ibu Ismunah membawa tubuh Pak Min, kembali ke dalam masjid. "Bertahanlah, Pak. Bertahanlah!" kata Ibu Ismunah. Ia meneteskan air matanya.
Ia meletakkan telapak tangannya diatas dada Pak Min yang terkena serangan, dan membacakan doa-doa positif.
"Bertahanlah, Pak."
"Ibu...."
Ibu Ismunah memanggil Pak Pur, tukang becak yang biasa berdiam di depan warung Ibu Ismunah. Pak Pur sibuk membersihkan pecahan gelas dan piring, akibat aksi perusakan yang baru saja terjadi.
Ibu Ismunah meminta Pak Pur membantu membawa Pak Min ke Rumah Sakit terdekat. Pak Pur menyanggupi. Ibu Ismunah mendampingi suaminya.
Sesampai di Rumah Sakit Islam Surabaya, Pak Min yang merintih kesakitan dibawa ke Unit Gawat Darurat untuk diberi penanganan medis.
"Para pekerja kegelapan itu mengincar nyawamu," kata Pertiwi. " Kamu harus secepatnya pergi dari sini. Dia itu pekerja kegelapan yang cukup sakti. Aku merasakan getaran energi yang cukup kuat, dari alam kegelapan tingkat lima atau enam. "
"Saya juga merasakannya, " kata Ibu Ismunah.
"Biasanya, pekerja kegelapan dari tingkat lima keatas bisa dengan mudah mengubah dirinya, dari tubuh fisik ke tubuh astral, dan sebaliknya, tanpa harus keluar dari tubuh fisiknya. Posisinya sangat dekat dengan Niwatakawaca. Hanya energi positif yang sangat besar yang dapat mengalahkan mereka. Tampaknya, kamu harus berlatih lebih keras lagi untuk meningkatkan energi positifmu sendiri. "
"Benar, Pertiwi, " kata Ibu Ismunah.
"Pergilah dari sini.... "
Buru-buru, Syam menemui Ibu Ismunah yang sedang duduk di ruang tunggu. Ia begitu panik ketika Pak Pur memberitahu bahwa terjadi aksi perusakan di warung Ibu Ismunah dan Pak Min terkena serangan, sehingga harus dirawat di Rumah Sakit.
"Ibu, bagaimana kondisi Pak Min?" tanya Syam.
"Masih dirawat di UGD, Syam. Kamu bantu doa ya. "
"Iya, Bu. "
"Pekerja kegelapan menyerang warung saya. Mereka merasuki orang-orang yang sedang makan, yang kemudian menghancurkan warung saya. Memecahkan semua piring dan gelas."
"Lalu?"
"Saya melihat seorang pekerja kegelapan yang cukup sakti, yang menjadi penyebab dari semua ini. Pekerja kegelapan itulah yang juga menyerang suami saya."
"Mamangmurka..."
"Mamangmurka?"
"Iya, Bu. Nama pekerja kegelapan itu adalah Mamangmurka. Rumi memberitahu saya melalui telepati. Kemarin, Mamangmurka juga melakukan serangan di kantor Charity, melalui perantara seorang ksatria cahaya yang berkhianat.
Sewaktu kami berada di dalam pesawat terbang, dalam perjalanan ke Malaysia, ia juga nyaris membunuh kami berdua di dalam pesawat.
"Wah, sampai seperti itu ya? Kalau begitu, kamu harus berhati-hati, Syam."
"Iya, Bu. Kemarin, pekerja kegelapan itu juga melancarkan serangan kepada saya, sewaktu saya sedang membonceng pacar saya. "
"Saya tidak bisa berlama-lama disini, Mi. Saya harus pulang ke Ngawi. Tempat ini sudah tidak aman lagi untuk saya dan suami saya. "
"Baiklah," kata Syam. "Kalau memang itu yang terbaik. "
Ibu Ismunah meminjam kertas dan bolpoin kepada perawat yang ada diruang tunggu. Ibu Ismunah menggambar sebuah denah dan menulis alamat rumahnya di Ngawi.
"Ini denah dan alamat rumah saya di Ngawi," kata Ibu Ismunah. "Nanti, kalau Rumi pulang ke Surabaya, saya tunggu kalian di rumah saya."
"Baik, Bu. Terima kasih. "
Sekalipun Pak Min merasa kesakitan, hasil rontgen mengatakan bahwa dada Pak Min sehat-sehat saja. Tidak ada luka ataupun penyakit, baik di paru-paru, maupun jantungnya.
Setelah Pak Min diperkenankan pulang, mereka berdua menuju terminal Bungurasih. Selanjutnya, dengan bus menuju Ngawi.
*
Rumi berjalan-jalan disepanjang Jalan Petaling, ditemani oleh Azlina dan Aizad.
Jalan Petaling atau Petaling street adalah sebuah pecinan di Kuala Lumpur. Pusat berjualan warga beretnis Tionghoa yang tetap menjaga tradisinya, terutama terasa sekali pada waktu malam hari, ketika para pedagang menggelar barang-barang dagangan mereka untuk dijual di sepanjang jalan itu.
Mereka bertiga sedang duduk disebuah kedai dan menikmati segelas teh tarik, ketika tiba-tiba Syam memberinya sinyal melalui detak jantungnya.
"Mi, warung nasi Ibu Ismunah diserang oleh Mamangmurka dan para pekerja kegelapan yang menyusup kedalam tubuh pembeli," kata Syam. "Warung Ibu Ismunah dihancurkan oleh orang-orang itu."
Rumi terkejut mendengarnya. "Lalu, bagaimana kondisi mereka berdua?"
"Ibu Ismunah selamat. Tetapi Pak Min terkena serangan di bagian dadanya."
"Ya Tuhan..."
"Untuk alasan keamanan, Ibu Ismunah membawa Pak Min pulang ke Ngawi. Beliau meninggalkan alamat dan denah kepadaku. Kita berdua ditunggu dirumahnya."
"Oke, Syam. Secepatnya, aku akan pulang ke Surabaya. "
Rumi terdiam. Pikirannya mendadak kosong.
"Apa yang terjadi, Abang Rumi?" tanya Azlina. " Wajahmu tiba-tiba pucat."
"Mereka menyerang warung nasi Ibu Ismunah," kata Rumi. "Syam baru saja memberitahuku melalui telepati."
"Si Mamangmurka itu?" tanya Aizad.
"Iya, Zad. "
"Kurang ajar sekali dia," kata Aizad. "Aku ingin melebur pekerja kegelapan itu."
"Sabar, Zad," kata Azlina. "Jangan menghadapi Para Pekerja Kegelapan dengan kemarahan."
"Iya, Akak Azlina. "
"Secepatnya, aku arus pulang ke Indonesia. Aku harus pergi ke rumah Ibu Ismunah."
Buru-buru, Rumi dan kedua temannya naik LRT, kembali ke apartemen tempat tinggalnya. Azlina dan Aizad berpamitan dengan Rumi, begitu sampai di apartemen. Ia langsung berlari menuju ke rumah tinggalnya dan menemui Encik Johan.
"Encik, ada kejadian yang kurang menyenangkan," kata Rumi. "Terkait dengan Ibu Ismunah dan kedai nasinya di Surabaya."
"Oh iya. Apa yang terjadi? " Encik Johan bertanya.
"Saudara saya baru saja mengabarkan, Mamangmurka telah menyerang warung nasi Ibu Ismunah," kata Rumi. "Pak Min terkena serangan di dadanya. Kini, mereka harus kembali ke desanya untuk alasan keamanan."
Encik Johan terkejut. " Ya Allah... "
"Jika diperbolehkan, saya minta izin untuk balik ke Surabaya dan bertemu dengan Ibu Ismunah di desanya."
"Sebentar, saya harus mengabarkan masalah ini kepada David. "
Encik Johan menghubungi Encik David dengan ponsel cerdasnya dan menceritakan semua yang terjadi.
"Kami tidak bisa mengizinkanmu pulang ke Surabaya," kata Encik Johan setelah menutup pembicaraan dengan Encik David.
"Maksud Encik?"
"Kita tidak bisa mengizinkanmu kembali ke Surabaya tanpa pengawalan. Jadi, Encik David memerintahkan lima orang kesatria cahaya senior untuk mengawalmu.
Mereka akan pergi bersamamu dengan tubuh cahaya mereka. Ketika kamu sudah tiba di Surabaya dengan selamat, barulah mereka akan balik ke Malaysia."
"Terima kasih, Encik."
"Kapan kamu pulang?"
"Secepatnya. "