
Hubungan antara Rumi dan Syam bisa diibaratkan hubungan antara matahari dan bulan.
Matahari dengan energi panasnya, menyinari bumi beserta isinya. Sementara bulan dengan energinya yang lebih lembut, membantu matahari menyinari bumi, manakala matahari sedang sibuk menyinari belahan bumi yang lain.
Bulan tidak akan bercahaya tanpa menerima pantulan cahaya dari matahari. Kolaborasi antara matahari dan bulan menciptakan keharmonisan bagi bumi dan seisinya. Konon, ada pengaruhnya bagi tubuh fisik manusia juga.
Kalau Syam mewakili sifat matahari, maka kembaranya mewakili sifat bulan.
Mereka berdua lahir dengan kombinasi nomor yang cukup unik. Serba sebelas. Tanggal sebelas, bulan sebelas, dan jam sebelas pagi.
Kata ibu, Syam yang lebih dahulu lahir, kemudian disusul oleh Rumi. Tentu saja bapak dan ibu senang sekali dengan kelahiran sepasang anak kembarnya.
Kehidupan bapak dan ibu masih mapan pada saat itu, meski tinggal di rumah kontrakan. Tidak ada masalah dengan pekerjaan bapak pada waktu itu.
Meskipun kembar, Rumi dan Syam memiliki sifat yang bertolak belakang. Ya, seperti matahari dan bulan tadi. Meskipun kuat dan ditakuti, Syam juga seringkali bersikap manja dan kekanak-kanakan. Jika suasana hatinya sedang bahagia, ia suka sekali bergurau.
Syam juga suka dengan olahraga yang menantang. Sejak kecil, Syam suka bermain sepak bola dan bela diri. Sedangkan Rumi tidak. Ia pendiam. Pemalu. Tidak suka olahraga apapun. Selalu lamban dalam segala aktivitas fisik.
Rumi dan Syam bisa berbicara secara telepati. Komunikasi batin antara mereka berdua terjalin dengan sangat kuat. Rumi bisa mendengar suara Syam, dan Syam bisa mendengar suara Rumi sekalipun mereka berada saling berjauhan.
Jika mereka hendak berkomunikasi jarak jauh secara telepati, mereka tinggal memejamkan mata dan meletakkan telapak tangan di dada. Setelah itu, tinggal memanggil nama kembaran mereka. Maka, kembaran yang satunya lagi akan langsung menyahut.
Biasanya, ketika salah seorang kembaran memanggil dengan telepati, kembaran yang lain menerima sinyal berupa detakan jantung yang sangat kuat, diikuti dengan suara batin kembarannya.
Namun, kedekatan ini tidak lantas membuat hubungan keduanya selalu akur. Syam sempat malu mengakui Rumi sebagai saudaranya. Syam sempat membenci Rumi.
Hampir setiap hari, Syam memarahi dan menindas Rumi. Kadang menjahili Rumi sampai Rumi menangis. Juga seringkali Syam memaksa Rumi untuk mengerjakan semua PR nya, sementara ia sendiri asyik bermain dengan teman-temannya. Kalau sampai ketahuan Bapak dan Ibu, pasti Syam bakal dimarahi.
Namun Rumi tidak pernah marah, sekalipun Syam terus menindasnya. Rumi selalu memaafkan Syam, meski sebenarnya hatinya menangis. Rumi selalu tersenyum pada Syam, apapun yang Syam lakukan padanya.
Syam masih terus menindasnya hingga mereka duduk dibangku SMP. Mereka sempat dipisah. Rumi tinggal di luar kota bersama nenek dan kakeknya. Sedangkan Syam tetap tinggal bersama bapak dan ibu.
Pada mulanya, tidak ada masalah. Hingga entah kenapa, tiba-tiba Syam merasa kesepian sekali tanpa adanya Rumi. Tidak ada yang membantunya belajar dan mengerjakan PR. Tidak ada yang bisa disuruh-suruh. Tetapi lebih dari itu, Syam sangat merindukannya. Tanpa ada sebab yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Suatu hari yang tak terduga, Syam sakit demam berdarah. Jumlah trombosit dalam tubuhnya menurun drastis. Padahal, selama ini, ia tidak pernah sakit, kecuali flu dan penyakit ringan lainnya.
Syam terpaksa dirawat di rumah sakit. Tubuhnya lemas sekali. Sesekali, Syam hilang kesadaran. Dan selain orang tua mereka, Rumi lah yang paling panik pada waktu itu (ini diluar dugaan Syam. Syam mengira, Rumi tidak akan mempedulikannya).
Kata nenek, ia terus merengek dan menangis minta diantar ke Surabaya. Katanya ia ingin menemani Syam di rumah sakit. Nenek tak kuasa untuk menolak permintaannya.
Selama Syam berbaring di rumah sakit, tidak ada satupun temannya yang datang menjenguknya. Karena kesibukan mereka, Bapak dan Ibu tidak bisa selalu menemaninya. Syam kesepian sekali. Syam merasa seperti dipenjara di dalam kamar rumah sakit.
Syam sering melihat Rumi tertidur disampingnya dalam posisi duduk. Sekeras kerasnya baja didalam diri Syam, pastilah akan hancur melihat semua ini.
Sejak saat itu, Syam berpikir bahwa Rumi adalah segalanya baginya. Syam berjanji akan terus menjaga Rumi ketika dirinya sembuh. Ia memegang telapak tangan Rumi.
" Mi, terimakasih ya."
Rumi tersenyum sambil menatap Syam.
"Maafkan aku ya Mi, atas kelakuanku selama ini."
"Nggak perlu minta maaf, Syam, " jawab Rumi. "Apapun yang kamu lakukan kepadaku selama ini sudah aku lupakan."
Lelehlah air mata Syam. Rumi langsung menyeka air matanya.
"Sudah, nggak usah nangis, Syam. Kamu harus kuat. Kamu harus sembuh."
Bapak dan Ibu merasa senang karena mereka berdua akur. Sejak saat itu, mereka tinggal bersama lagi di Surabaya. Mereka satu sekolah sampai SMA.
Rumi menyukai gadis yang juga disukai oleh Syam. Syam tahu itu. Syam bisa merasakan apa yang dirasakan Rumi, sekalipun ia tidak pernah menceritakannya. Dan ini menyebalkan sekali.
Ketika Rumi ditindas oleh teman-temannya, Syam lah yang datang untuk membelanya. Selama ada Syam, tidak ada satupun teman-teman yang berani berbuat macam-macam dengan Rumi.
Kehidupan berubah sejak kakek dan nenek meninggal dunia, kemudian bapak di diberhentikan dari pekerjaannya dan terkena stroke. Dan mereka harus pindah ke kamar kos yang lebih kecil dan sesak.
Mereka sangat terpukul sekali ketika Ibu memberi tawaran, bahwa salah satu dari mereka harus putus sekolah karena kesulitan biaya. Syam memutuskan untuk mengalah. Biarlah Rumi yang melanjutkan sekolah.
Rumi adalah anak yang pandai di sekolahnya. Sayang kalau Rumi putus sekolah. Biarlah Syam yang membantu Ibu menjadi tulang punggung keluarga.
Syam melanjutkan hidupnya sebagai seorang kuli bangunan. Setiap hari, Syam berhadapan dengan batu bata dan semen. Tubuhnya menjadi lebih berotot dari biasanya.
Syam juga memiliki kemampuan melihat Malaikat Api, sejak ia masih kecil. Jika ia memejamkan matanya, ia melihat Malaikat Api berwarna merah.
Jika ia sedang marah, tubuhnya terasa panas dan kekuatannya berlipat ganda. Karena itulah, teman-temannya disekolah tidak ada yang berani menatap matanya ketika ia sedang marah, karena mereka melihat api dimatanya.
Syam memanggilnya Agni. Karena kekuatan dari Agni, Syam juga jarang merasa lelah sekalipun harus bekerja berat seharian. Sebagaimana Rumi, Agni berpesan agar Syam jangan menceritakan kemampuannya itu kepada siapapun atau Agni akan meninggalkannya.
Syam harus tampil sebagai sosok yang periang dan rendah hati. Ia boleh marah jika kondisi sudah sangat mendesak, misalnya ketika saudara kembarnya disakiti.