Light Warriors

Light Warriors
Bagian 49



"Syam dan Rumi kok belum pulang ya? " batin ibu.  


Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Ibu sangat cemas.  Beberapa kali ia mengirim pesan ke ponsel cerdas anak-anaknya,  namun tidak ada balasan.   Ia mencoba menelepon,  tetapi tidak aktif. 


Pukul 8 pagi,  Syam sudah harus masuk sekolah.  Namun,  sudah pukul 10, kedua anaknya tidak juga tampak.  


Sembari meneguk secangkir teh panas,  Ibu menyalakan televisi dan menonton berita.  Setelah beberapa berita tentang dunia politik,  muncullah sebuah berita yang cukup membuatnya terkejut. Kecelakaan bus di Madiun. Pikiran Ibu semakin kacau.  


"Ya Tuhan, anakku," katanya. Ia mencoba mencari tahu lebih banyak melalui internet berita kecelakaan bus ini. Jantungnya berdegup tak beraturan.  Matanya mulai berkaca-kaca.  


"Anakku. Aku tidak salah lagi,  kedua anakku ada di dalam bus itu. Ya Tuhan. Aku harus kesana."


*


Tubuh cahaya Rumi dan Syam tiba di sebuah dunia serba putih.  Dunia yang penuh kedamaian. 


Tubuhnya melayang-layang. Terasa ringan. Ringan sekali.  Tidak pernah mereka merasa seringan ini. 


"Kita berada dimana?  " kedua kembaran itu bertanya. 


"Jangan takut," kata Teja dan Agni yang berada di depan mereka. "Kalian berada di dunia yang hanya ada kasih tanpa batas. Dunia yang hanya ada cinta. Inilah rumah sejati kalian. Rumah kita semua. Inilah alam cahaya."


Rumi dan Syam pun mengikuti kedua Malaikat Pembimbingnya itu.


Dua titik cahaya itu melayang-layang bagaikan kunang-kunang, mengikuti dua titik cahaya lain yang lebih terang, memasuki sebuah lorong yang penuh dengan sinar berwarna-warni seperti pelangi. 


Sinar itu memancarkan energi penyembuhan,  energi kasih,  dan energi kebijaksanaan tanpa batas.  Tubuh cahaya Rumi dan Syam merasa sangat nyaman. 


Mereka mendengar berbagai melodi-melodi semesta yang tidak pernah mereka dengar selama hidup di bumi.  Lorong itu sangat panjang dan terus menyedot tubuh cahaya Rumi dan Syam untuk masuk lebih dalam lagi.  Hingga mereka bertemu dengan alam penuh cahaya yang lebih terang lagi. 


Di alam cahaya itu,  mereka melihat titik-titik cahaya yang jumlahnya sangat banyak. Tidak terhingga.  Mereka melihat satu Cahaya Tunggal yang paling besar,  dimana semua titik cahaya itu terpancar dariNya.  Energi kasih yang dipancarkan oleh Sumber Cahaya Maha besar itu seolah merangkul semua titik cahaya yang ada dengan penuh kebijaksanaan.  


"Syam,  indah sekali disini, " kata Rumi.  "Aku ingin terus disini." 


"Iya, Mi. Rasanya, aku nggak ingin kembali lagi ke bumi."


" Kalian semua berasal dari sini dan akan selalu kembali kesini," kata Teja.


"Cahaya Yang Maha Besar itu. Siapakah Dia? " Rumi bertanya. "Aku merasa ingin mendekati-Nya."


"Itu adalah Nurcahya, Sang Sumber Cahaya," kata Agni." Sang Sumber Kecerdasan Cahaya tanpa batas. Sang Sumber kasih tanpa batas. EnergiNya meliputi semua gerak dan mekanisme yang di Semesta ini dengan cinta kasih tanpa batas.


Ketika di bumi, di dalam tubuh fisik manusia,  pikiran kita tidak pernah sampai kepadaNya. Kecuali mereka yang telah mencapai pencerahan dan senantiasa terhubung dengan diri sejatinya sendiri. Diri cahayanya." 


"Aku ingin mencapai Sang Sumber Cahaya itu,"kata Syam.


"Kita semua berada didalamNya," Teja menambahkan. "Bekerja didalamNya. Menjalankan peranan kita masing-masing. Seperti ikan yang berenang di dalam air. Kitapun senantiasa berenang di dalamNya. Sadarilah itu dan kita semua akan mencapaiNya dalam kesadaran kita." 


Rumi dan Syam tersenyum damai. Tidak pernah mereka merasa sedamai ini.


"Ketika kalian berada dalam tubuh manusia,  kalian terselimuti dengan berbagai ilusi yang melekati tubuh fisik kalian, " kata Agni. "Sehingga kalian melupakan diri sejati kalian. Diri cahaya ini. Esensi kehidupan dari semua makhluk,  yang hanya ada kebijaksanaan dan kasih sejati. Diri cahaya ini,  mewakili semua sifat Sang Sumber Cahaya. Ibarat sinar matahari yang memiliki panas yang sama dengan matahari. Setetes air laut yang memiliki rasa asin yang sama dengan samudera luas." 


Rumi dan Syam tersenyum lagi.


" Ada yang menunggu kalian berdua," kata Teja.


"Siapa?  " Rumi bertanya.  


"Nanti kalian akan tahu,"jawab Agni." Kalian pasti senang. " 


Rumi dan Syam mengikuti kedua Malaikat Pembimbing mereka menuju sebuah ruangan berbentuk bola cahaya.  Di dalam ruangan itu,  setitik cahaya berwarna agak kekuningan menyambut mereka. 


Rumi dan Syam mengenalinya sebagai bapak kandungnya.  Keduanya merasa terharu, sekaligus berbahagia.


"Bapak, " kata Rumi dan Syam.  


"Rumi, Syam," kata Bapak.  Mereka saling berpelukan.  Bukan berpelukan seperti manusia bumi,  melainkan saling memancarkan vibrasi yang bisa dirasakan oleh mereka.  Rumi dan Syam sangat merindukan bapaknya. 


Kemudian,  ada cahaya lain berwarna kecoklatan. Pak Min. Mereka pun saling berpelukan. 


Selain bertemu dengan Bapak dan Pak Min,  mereka juga bertemu dengan titik-titik cahaya lain yang merupakan kakek dan neneknya, juga para leluhurnya.  Mereka saling memancarkan vibrasi ke arah Rumi dan Syam.  


Ruangan itu semacam ruang kelas.  Ada bangku-bangku dan meja-meja, dan buku-buku yang diletakkan diatas meja. Buku-buku itu berbeda dengan buku yang ada dibumi, tetapi berbentuk bola-bola energi.


Rumi dan Syam membuka buku-buku itu.  Disitu,  terlihat semua perjalanan hidupnya selama di bumi.  Ada banyak kehidupan yang telah mereka lalui, dengan berbagai peranan tubuh fisik.  Mereka pernah menjadi laki-laki, perempuan, bangsa Eropa, Asia, Afrika, Alien, hewan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lain.


Sebagai seorang aktor, tubuh cahaya mereka telah memerankan berbagai macam film.


"Kami semua disini menganggap bumi adalah sekolah tempat semua jiwa untuk belajar dan bertumbuh,  " kata Teja.  "Semua yang kita alami di bumi,  baik susah,  senang,  sedih,  sehat,  sakit adalah kurikulum pembelajaran yang harus kita tempuh.Semakin banyak kita mengalami itu,  jiwa kita akan bertumbuh semakin matang. Vibrasi kita akan semakin memancar. Kita akan mendapat peranan yang lebih besar lagi di semesta ini." 


Agni membuka sebuah tirai cahaya yang ada di dalam ruangan itu.  Terlihatlah bumi yang dipenuhi kegelapan. Di balik bumi, tampak cahaya raksasa berwarna hitam dan terus memancarkan titik-titik hitam ke arah bumi dan planet lain. Terlihat juga titik-titik cahaya yang terpancar dari Sang Sumber Cahaya mencoba menyinari kegelapan bumi.  


"Itu adalah Niwatakawaca, Sang Sumber kegelapan," kata Agni. "Bumi sedang diselimuti kegelapan karena energi-energi negatif yang terpancar dari nya, mempengaruhi pikiran-pikiran manusia dan semua makhluk yang ada disana. "


Bumi ini sedang sakit dan membutuhkan lebih banyak cinta dan kasih sebagai obatnya.


Karena itulah,  Para kesatria cahaya lahir ke bumi untuk menyebarkan sebanyak mungkin cinta dan kasih. Cinta tanpa syarat. Cinta tanpa batas.


Segala tindakan, pikiran, dan ucapan yang kita lakukan dengan penuh kasih kepada sesama manusia,  maupun kepada semua makhluk yang ada di bumi,  adalah energi cinta kasih yang kita pancarkan untuk bumi dan semesta. "


"Ikut kami," kata Teja dan Agni.


"Kemana lagi? "Rumi bertanya.


"Kami ingin mengajak kalian ke tempat Para Dewan Cahaya berada, "kata Teja. "Mereka adalah Para Hakim Agung. "


"Hakim Agung? " Rumi dan Syam bertanya.  "Apakah kami akan diadili? " 


"Tidak, " jawab Agni.  "Tidak ada pengadilan disini. Juga tidak ada penghakiman dalam bentuk apapun. Pengadilan dan penghakiman seperti yang ada di dalam benak kalian itu hanya ada di bumi. Di dalam kesadaran manusia-manusia bumi yang sedang mengalami ketidaksadaran.


Dewan Cahaya adalah Para jiwa yang telah mencapai pencerahan dan kematangan sempurna, lebih dulu daripada kita. Mereka bertugas untuk mengevaluasi semua jiwa dan membimbing kinerja setiap Jiwa. "


Kedua kembaran mengikuti kedua Malaikat Pembimbing mereka ke sebuah bangunan berkubah, semacam aula raksasa yang terbuat dari cahaya.  Ada banyak bangku disitu.


  Didepan mereka,  ada ada tiga sosok cahaya yang memancarkan vibrasi yang sangat kuat. Mereka tampak sebagai tetua yang sangat bijaksana. 


Pancaran energi mereka membuat Jiwa-jiwa yang berhadapan dengan mereka diselimuti oleh energi kebahagiaan yang tak terkira.  


"Jangan takut, " kata sosok Cahaya yang berada ditengah.  "Kami tidak akan menghakimi kalian.Kami juga tidak akan menyalahkan kalian atas segala kesalahan yang telah kalian perbuat karena ketidaksadaran kalian selama di bumi. Hanya ada kasih dan pengampunan tanpa batas disini."


"Kami hanya akan memberi kalian nasihat, "Sosok Cahaya yang duduk disebelah paling kiri menambahkan.  "Apa yang sudah kalian capai dan apa yang masih harus kalian capai selama hidup di bumi."


"Pada dasarnya,  kalian sudah banyak melakukan kebaikan, " giliran sosok Cahaya yang duduk disisi paling kanan menjelaskan.  "Hanya saja,  terkadang kalian masih cenderung untuk menutup diri selama di bumi."


"Ini menjadikan pekerjaan utama kalian di bumi menjadi kurang efektif, " kata sosok Cahaya yang duduk ditengah.  " Yaitu pekerjaan utama kalian untuk membawa cahaya kami dan menyebarkannya untuk menerangi bumi."


"Belajarlah untuk bersikap lebih terbuka dan percaya diri lagi," Sosok Cahaya yang duduk disebelah kanan menambahkan." Jangan pernah menyalahkan diri kalian sendiri. Kami ingin agar kalian belajar untuk mengampuni diri kalian sendiri,  sebelum kalian belajar untuk mengampuni sesama kalian tanpa syarat."


"Sebagaimana kami disini selalu mengampuni kalian semua tanpa syarat, " Sosok Cahaya yang duduk disebelah kiri menambahkan.  "Selagi masih ada waktu dibumi,  pergunakanlah waktu kalian dengan baik. Jangan menghamburkan energi kalian disana untuk hal yang sia-sia. "


"Terima kasih, " kata Rumi dan Syam.


"Rumi, kembalilah ke bumi," kata sosok Cahaya yang duduk ditengah. "Jangan khawatir,  kami selalu mendampingimu."


Para Dewan Cahaya memberkati Rumi dengan energi cinta kasih yang melimpah ruah.  Tubuh cahaya Rumi merasa mendapatkan banyak kekuatan setelah perjumpaan dengan Para Dewan Cahaya itu.


"Namun Syam tidak bisa ikut," Sosok Cahaya yang ditengah melanjutkan.


Rumi terkejut mendengarnya. "Kenapa?"


"Tubuh fisik Syam di bumi sudah tidak bisa digunakan lagi akibat kecelakaan bus itu. Syam bisa kembali lagi ke bumi jika ia sudah mendapatkan tubuh fisik yang baru."


" Syam harus mengulangi kehidupan dari awal lagi," Sosok Cahaya yang disamping kiri menambahkan. "Dari bayi lagi, hingga menjadi anak-anak, remaja, dan dewasa."


"Itu artinya, peranannya sebagai Syam di bumi sudah berakhir," kata sosok Cahaya yang duduk disamping kanan. "Waktunya untuk berganti peranan yang baru. "


"Tapi,  aku ingin Syam ikut ke bumi," kata Rumi. "Aku ingin selalu bersamanya. " 


"Kalian selalu bersama," kata sosok Cahaya yang ditengah. "Kalian adalah Cahaya kembar dan kalian adalah satu kesatuan cahaya."


"Kamu tidak akan pernah terpisah denganku," kata Syam menenangkan saudaranya.


"Percayalah, sekalipun kita beda dimensi. Kamu adalah aku,  aku adalah kamu. Kita adalah cahaya yang sama, yang terbelah menjadi dua cahaya atas kehendak Sang Sumber, hidup dalam tubuh Rumi dan Syam. Seperti api yang dibagi kedalam beberapa lilin untuk menerangi beberapa tempat yang berbeda, sebagaimana yang kamu baca dalam puisimu tadi." 


Rumi merasakan kesedihan yang amat mendalam. 


Dewan Cahaya memahami yang dirasakan oleh Rumi. Mereka memancarkan sinar berwarna hijau ke arah tubuh cahaya Syam.


Seketika, Syam berubah menjadi kupu-kupu berwarna hijau yang sangat indah, memancarkan sinar berwarna hijau yang berpendar ke segala penjuru.


 Syam, dalam wujud kupu-kupu, bersama kedua Malaikat Pembimbing ikut mengantar Rumi sampai ke lorong tempat mereka masuk ke alam cahaya.


"Pergilah, Mi," kata Syam. "Selesaikan pembelajaranmu. Percayalah,  aku nggak pernah meninggalkanmu. " 


"Syam, aku nggak ingin berpisah denganmu," kata Rumi. "Aku ingin terus disini."


"Pergilah, Mi. Selesaikan misimu. Aku nggak akan meninggalkanmu. Percayalah."


Lorong cahaya itu menarik tubuh cahaya Rumi seperti magnet,  memaksa tubuh cahaya Rumi untuk masuk.  Tubuh cahaya Rumi terserap kedalamnya tanpa bisa melawan.


"Syam...... Syam........ Syaaaaaaammmmmmm!!!!


Rumi berteriak sekencang-kencangnya.  Lorong itu tetap menariknya dengan kuat dan membawanya semakin menjauh dari Cahaya kembarnya.