Light Warriors

Light Warriors
Bagian 23



Pesawat mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) II. 


Mamangmurka langsung bergegas keluar dari pesawat dan menghilang.


Sembari menggeret tas koper yang dibawanya,  Rumi memejamkan mata dan menarik nafas panjang.  Sementara Syam sibuk melakukan swafoto dengan ponsel cerdasnya dan memotret hal menarik yang dilihatnya. Ibu tampak biasa saja. 


"Syam, nanti memori handphonemu penuh lho, " kata Rumi. " Dari tadi kamu memotret terus. Padahal baru sampai di bandara." 


Syam nyengir lagi.Rumi melihat seorang lelaki membawa papan nama bertuliskan namanya.  


"Nah, itu, " kata Rumi.  Mereka menghampiri lelaki itu dan menyalaminya.  


"Kamu Rumi Satria Pramana kah? " tanya lelaki itu dalam bahasa Melayu. " From Indonesia? " 


"Ya, betul, " jawab Rumi. "Ini Ibu dan saudara kembar saya."


"Saya Badrol. Panggil saya Abang Badrol saja ya. " 


"Oke, " kata Rumi.  


" Di Malaysia ini,  jangan sampai salah," kata Abang Badrol. "Panggilan Abang khusus untuk lelaki dan panggilan Kakak khusus untuk perempuan." 


"Oh begitu?" Ibu menanggapi.  "Rumi, kamu harus belajar bahasa Melayu biar nggak salah paham."


"Baik, Bu," jawab Rumi.  


"Ah, nggak perlu belajar. Nanti juga Rumi fasih dengan sendirinya," Syam berkomentar.    


"Oke, kita ke Kuala Lumpur naik ERL ya? " kata Abang Badrol. "Kalau dengan kereta dari sini,  bisa lebih dari dua jam karena terjebak macet."


"ERL? Apa itu? " Syam bertanya. 


"Express Rail Link Sdn Bhd, " jawab Abang Badrol. Itu semacam kereta api cepat yang menghubungkan Kuala Lumpur International airport di Sepang ini dengan Kuala Lumpur. Hanya 30 menit saja." 


"Tadi kata Abang Badrol, kalau naik kereta bisa lebih dari dua jam? "tanya Rumi. "Benarkah seperti itu?"


Abang Badrol tertawa lagi.  "Di Malaysia ini,  ada dua macam kereta. Yang pertama, kereta api yang bermakna 'train', dalam bahasa Inggris. Yang kedua,  kereta yang bermakna car atau mobil ya dalam bahasa Indonesia.


Spontan Syam tertawa.  Rumi menyikutnya.  "Hus... " 


"Maaf, maaf, Tuan besar Rumi," Syam masih menahan tawa.


"Ayo, " kata Abang Badrol.  Abang Badrol menuju loket ERL dan membeli tiket untuk empat orang. Harganya 35 Ringgit Malaysia per orang.  


"Wow, keren, "Syam terpana melihat keindahan kereta api cepat itu.  Tempat duduk yang nyaman.  Hawa pendingin ruangan yang sejuk.  Pintu kereta yang bisa membuka dan menutup secara otomatis. "Mimpi apa aku bisa naik kereta api sebagus ini? " 


Rumi menyikut saudara kembarnya lagi.  


Dari dalam kereta api cepat,  terlihat pemandangan pohon kelapa sawit dan perkotaan silih berganti. Kereta bergerak dengan gesit melewati Bandar Tasik Selatan, Salak Tinggi, Putrajaya, dan tibalah di stasiun terakhir, Kuala Lumpur Sentral atau KL sentral.


Terdengar suara pengumuman yang diucapkan oleh seorang wanita dalam bahasa Malaysia dan bahasa Inggris:


"Stesen berikutnya.... KL sentral......sila awasi langkah anda.... The next station... KL sentral.... Please watch your step.... "


"Nah, kita telah tiba di Kuala lumpur, " kata Abang Badrol.


Mereka semua turun di Stasiun Kuala lumpur sentral atau KL Sentral.  Stasiun KL Sentral tidak terlihat seperti stasiun kereta api, tetapi lebih mirip pusat perbelanjaan raksasa,  dengan beragam toko-toko dan rumah makan berkelas internasional. 


" Kalian semua tunggu disini sebentar, " kata Abang Badrol.  "Saya mau ambil mobil." 


Rumi mengangguk.


Syam tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh melihat tulisan di sebuah rumah makan cepat saji. Kali ini, Rumi pun tertawa. Disusul Ibu juga tertawa. 


       


      BELI MAKAN , PERCUMA MINUM


"Bahasa Malaysia ini lucu ya, Mi?" kata Syam.


" Apa coba maksudnya beli makan percuma minum?" 


"Aku juga nggak tahu, Syam," jawab Rumi. "Ha..ha..ha" 


"Mungkin saja artinya kalau makan disitu,  kita nggak perlu minum? " Ibu menyahut. 


"Wah, bisa mati kehausan kita, " kata Syam.


"Rumah makan yang aneh."


"Nanti kita tanyakan saja sama Abang Badrol, " kata Rumi.  


Tidak lama kemudian,  mereka sudah berada di dalam sebuah mobil mewah.  Abang Badrol yang mengemudikannya.


"Percuma itu artinya free. Nggak perlu bayar, "Abang Badrol menjelaskan.  " Gratis kalau dalam bahasa Indonesia. Maksudnya,  kalau kalian beli makanan di rumah makan itu,  kalian tidak perlu membayar minumannya. " 


"Ooh begitu,  " kata Rumi, Syam, dan Ibu serentak.


"Kalau di Indonesia,  percuma itu artinya useless,  " kata Syam.


 Abang Badrol mengernyitkan dahi seraya tersenyum.  


Mobil bergerak melewati jalanan kota Kuala lumpur yang padat,  kemudian melewati KLCC di Jalan Ampang,  tempat Menara Kembar Petronas berada.  


"Nah, lihat itu, " kata Abang Badrol. "Menara kembar Petronas"


"Wow, " kata Rumi. "Bagus sekali."


"Keren, " kata Syam. 


"Kata Encik Johan, beliau akan mengajak kalian semua berkeliling kota Kuala lumpur. Mungkin besok."


"Asyiiikkkk," kata Syam dan Rumi serentak.


Mobil berhenti di sebuah apartemen mewah.  Beberapa petugas apartemen membantu membawa barang bawaan. 


Syam mendongak keatas, mengamati bangunan apartemen yang menjulang tinggi.  


"Sedang apa kamu, Syam? " Rumi kembali menepuk pundak saudara kembarnya.  " Mau coba menghitung jumlah tingkat gedung ini?  Kurang kerjaan sekali. Hahaha." 


Mereka berdua tertawa.  


"Nggak, Mi. Rasanya nggak percaya saja kamu akan tinggal di apartemen mewah ini."


Rumi tersenyum. 


"Ayo masuk, Syam." 


Syam mengangguk.