Light Warriors

Light Warriors
Bagian 4



Lagi-lagi lelaki berjaket hitam itu merapalkan mantra-mantra misteriusnya.


Ratusan makhluk astral, para pekerja kegelapan berwujud aneh, melesat keluar dari telapak tangannya dan menghinggapi tubuh Jaka dan teman-teman Rumi yang lain, tanpa mereka sadari.


Rumi terus berlari, mencoba menghindari Jaka dan teman-temannya.  Sepulang sekolah,  ia tidak melewati jalan yang biasa dilewatinya. Ia keluar melalui jendela dan mengendap-endap melewati lorong di belakang ruang kelasnya.


 Sesekali ia bersembunyi jika berpapasan dengan Jaka dan teman-temannya. Namun sial,  Anto dan Irwan, dua orang teman Jaka memergokinya.  "Hei...mau lari kemana kamu? " Anto berteriak. Rumi tersentak kaget dan langsung mempercepat langkahnya. 


Anto dan Irwan mengejarnya.  Rumi berlari semakin kencang.  Namun Irwan berhasil menarik krah bajunya.  Anto segera memegang tangannya dan menghujani Rumi dengan tinjuan yang bertubi-tubi. 


Rumi kembali diseret menuju gudang sekolah dalam kondisi tak berdaya. Di dalam gudang sekolah, sudah menunggu Jaka, Anjar, dan Koko. 


Jaka menghampiri Rumi dan menendangnya dengan keras. 


"Aduh," Rumi tersentak ketika tendangan Jaka mengenai perutnya.


"Kamu mencoba kabur dari kami, hah? " bentak Jaka.  "Dasar pengecut." 


Semua teman-teman Jaka tertawa. Sebagian ada yang merekam adegan ini dengan alat perekam di ponsel cerdas mereka.  


"Ambil tasnya, " perintah Jaka.  " Ambil barang apa saja yang bisa diambil." 


"Tolong... jangan..., " rintih Rumi.  " Aku janji akan segera membayarnya.. "


Tetapi mereka tidak mempedulikannya.  Irwan merebut tas ransel milik Rumi dan mengeluarkan semua buku-bukunya.  


"Nggak ada barang berharga apapun, "kata Irwan. "Bahkan handphone aja dia nggak punya." 


"Dasar miskin, " kata Jaka. "Lebih baik kamu mati saja kalau nggak punya apa-apa. " 


Sekali lagi, Jaka hendak meninjunya. Tetapi, seseorang berhasil menangkis tangan Jaka dan balik memukul Jaka. Tubuh Jaka jatuh terpental.  Sementara teman-teman Jaka yang lain tidak ada yang berani mendekat.  


"Syam," kata Jaka melihat saudara kembar Rumi. Malaikat Api didalam diri Syam semakin berkobar-kobar, membuat sekujur tubuhnya panas. Dan itu membuat Jaka dan teman-temannya tidak berkutik.


"Iya. Aku Syam. Kenapa? " jawab Syam lantang. "Kalian nggak terima? " 


Mereka semua terdiam.  Mereka semua tahu Syam paling jago beladiri. 


"Ayo sini. Berkelahi denganku kalau kalian memang laki-laki sejati, " tantang Syam.  Semua tidak ada yang berani.  


"Kita pergi yuk, " kata Irwan. 


Mereka semua meninggalkan gudang sekolah, kecuali Jaka. Untuk mempertahankan wibawanya, ia justru membalas tantangan Syam untuk berkelahi, sekalipun hati kecilnya merasa gentar.


"Kamu kira aku takut melawanmu, hah?"


Jaka mengepalkan tangannya dan dengan cepat melayangkan tinju ke arah Syam. Syam berhasil menangkis dengan lengannya yang berotot dan langsung meninju perut Jaka, hingga Jaka kesakitan. Namun Jaka masih bisa menahan rasa sakitnya. Ia mengambil sebatang balok kayu yang ada di gudang sekolah dan memukul kepala Syam, mengenai dahinya. Darah segar mengucur dari dahi Syam.


Syam terdiam sejenak. Pandangan matanya sedikit berkunang-kunang. Ia memejamkan matanya. Tampaklah Agni dengan warna merahnya yang menyala-nyala, membuat sekujur tubuh Syam menjadi semakin panas.


Sebenarnya, Jaka semakin gentar melihatnya. Namun, perasaan gengsi membuat Jaka pantang untuk mengalah.


"Ayo, hadapi aku," kata Jaka sambil mengetuk-ngetuk balok kayunya di telapak tangannya. "Jangan sok kuat kamu ya."


Jaka menghampiri Syam yang masih berusaha mengendalikan panas tubuhnya dan langsung memukulkan balok kayu itu sekali lagi ke kepala Syam.


Spontan, Syam langsung menepisnya dan balok kayu itu patah menjadi dua bagian. Kekuatan Syam menjadi berlipat ganda ketika panas tubuhnya semakin tinggi.


Jaka terkejut sekali melihatnya. Ia sudah kehilangan nyalinya. Tidak ada pilihan lain selain lari sekencang-kencangnya.


Jaka berniat kabur meninggalkan gudang sekolah. Tetapi Syam membentaknya.  


"Aku masih ada urusan sama kamu  Jak, " kata Syam.


  Jaka tampak ketakutan.  Syam memegang krah bajunya dan menatap matanya dengan tajam. Mata Syam memerah. Jaka melihat api yang menyeramkan di bola mata Syam.  


"Aku tahu saudaraku punya hutang sama kamu. Tapi bukan begitu cara menagihnya!!!" bentak Syam. Syam melepas krah baju Jaka dengan keras hingga Jaka terjatuh. 


Syam mengambil  sepuluh lembar uang seratus ribuan dari sakunya dan melemparnya di depan wajah Jaka. Uang itu berserakan dilantai. 


"Nih, ambil semuanya, " kata Syam. " Hutang saudaraku lunas. Awas kalau kamu berani berbuat macam-macam lagi sama Rumi. "


Syam segera menghampiri saudara kembarnya yang tergeletak lemah dilantai. Darah menetes dari dahinya yang terkena pukulan balok kayu.  


Setelah membereskan semua buku-buku pelajaran milik Rumi dan memasukkannya kedalam tas ransel,  Syam menopang  Rumi menuju sepeda motornya yang diparkir dihalaman sekolah. 


"Tahan ya, Mi, " kata Syam.  "Nanti sampai rumah aku beri obat lagi. " 


Rumi tersenyum seraya menangis haru. Ia memeluk erat pinggang Syam, sembari menyandarkan kepalanya di punggung saudaranya sepanjang perjalanan pulang.  Punggung Syam belepotan darah yang mengucur dari wajah Rumi.  


"Aku juga akan mengobatimu, Syam," kata Rumi.


Sesampai dirumah, Syam mengompres luka Rumi dengan air hangat dan mengobatinya dengan obat luka. Setelah itu, gantian Rumi yang mengobati luka di dahi Syam.  


" Syam, darimana kamu dapat uang sebanyak itu? " 


Syam tersenyum. " Aku meminjam uang atasanku, Mi. Untung orangnya baik dan pengertian. Nanti melunasinya dengan cara potong gaji." 


"Syam, maafin aku. Aku cuma bisa nyusahin kamu."


"Nggak apa-apa,Mi. Demi saudara sendiri. Yang penting, kamu nggak perlu takut lagi sama Jaka dan teman-temannya. Kamu aman sekarang." 


Rumi tersenyum kepada Syam. "Kamu datang pada saat yang tepat" 


"Istirahatlah, Mi. Jangan memikirkan apapun lagi. Semua baik-baik aja dan akan selalu baik-baik aja." 


Adzan isya berkumandang. Terdengar suara pintu dibuka. Ibu masuk. Meskipun Bapak terbangun dan sadar,  ia tetap tidak bisa menggerakkan tubuhnya. 


 Ibu mengeluarkan amplop coklat berisi uang dan memberikannya kepada bapak.  


"Ini gaji saya, Mas. Sekalipun nggak banyak, tetapi cukup untuk biaya berobatmu." 


Bapak hanya bisa mengedipkan mata saja.


Ibu bekerja sebagai penyanyi di sebuah kafe malam. Pekerjaan yang terpaksa ia jalani karena himpitan ekonomi yang amat sangat.


  Awalnya,  ia melakukannya sembunyi-sembunyi. Namun, lama kelamaan,  terdengar juga oleh para tetangga dan penghuni rumah kos yang lain. Ia menjadi bahan gunjingan sehari-hari. 


Tetapi Ibu tidak peduli.  Ia lebih tahu kondisi ekonomi keluarganya.  Toh tidak ada satupun wanita didunia ini yang bercita-cita menjadi penyanyi malam di kafe.


Rumi dan Syam tidak pernah mempertanyakan pekerjaan Ibu, begitu juga bapak. Asalkan ada yang mereka makan setiap hari dan ada uang untuk berobat Bapak. 


Ibu menuju alas tidur kedua anaknya dan melihat Rumi tengah tertidur pulas, sementara Syam duduk disebelahnya.  Dilihatnya wajah Rumi yang penuh memar.  


"Syam, Rumi kenapa? " tanya Ibu.  "Kok wajahnya memar-memar gitu? Dahimu juga kenapa?"


"Habis dipukulin teman-temannya disekolah,  Bu, " jawab Syam. "Aku berkelahi dengan salah seorang teman Rumi yang memukulinya. Sombong sekali anak itu. Mentang-mentang anak orang kaya."


"Oalah, kasihan. Pasti Rumi punya hutang sama temannya ya? " 


"Iya, Bu. Katanya, uang sekolahnya menunggak selama beberapa bulan. Tapi tenang saja, bu. Aku sudah melunasi semuanya" 


"Dapat uang darimana kamu, Syam? "


"Aku meminjam uang atasanku. Satu juta. Untuk melunasi semua hutang-hutang Rumi."


Ibu mengambil sepuluh lembar uang seratus ribuan dan menyerahkan kepada Syam. 


"Ini Syam. Untuk melunasi hutang ke atasanmu itu." 


"Uhm, nggak usah, Bu. Biarkan saja gaji bulananku dipotong untuk melunasinya. Nggak apa-apa. Lebih baik, uangnya dipakai untuk tambahan biaya berobat Bapak, buat bayar listrik, buat bayar kos, atau ditabung saja untuk keperluan sehari-hari."


"Benar, Syam? Kamu ikhlas?"


"Iya, Bu. Saya ikhlas."


Ibu memasukkan kembali sepuluh lembar uang seratus ribuan itu kedalam tas jinjingnya.  


"Terima kasih atas pengertiannya ya, Syam." Ibu tersenyum kepada anaknya, meskipun batinnya sesungguhnya menangis.  Namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia harus tampak tegar dihadapan suami dan anak-anaknya.