
Wow, keren sekali kamarmu Mi, " kata Syam.
Rumi tersenyum sembari mengamati sekeliling. Ada sebuah rak buku, meja belajar, seperangkat komputer, televisi layar datar dan satu tempat tidur besar dengan sebuah kasur yang empuk. Syam langsung merebahkan diri dikasur itu.
"Serasa di surga, Mi, " katanya.
Rumi membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya dan membuka jendelanya. Sinar matahari sore menerangi seisi ruangan.
Angin bertiup memasuki kamar. Tampak dihadapannya pemandangan menara kembar Petronas. Rumi menarik napas panjang sambil tersenyum.
"Wow," batinnya.
Ia masuk kedalam kamar mandi yang ada di ruangan itu. Kamar mandi mewah yang baru dilihatnya selama hidupnya. Ada 1 bathtub, shower, dan meja rias. Ia memutar kran air. Ada air panas dan dingin.
"Syam, lebih baik kamu mandi dulu deh sebelum naik ke tempat tidur, " Rumi menegur saudara kembarnya."
Syam sudah keburu tidur dengan posisi terlentang. Suara dengkurannya terdengar cukup keras.
"Yaaah, sudah tidur, " Rumi menggelengkan kepala. Ia bergegas mengambil handuk dan segera mandi.
*
Syam dan Rumi terkagum-kagum melihat Menara Kembar Petronas malam itu. Lampu berwarna biru tampak menghiasi ikon wisata negeri ini.
"Mari, " Encik Johan menepuk pundak mereka berdua. "Encik David dan keluarganya sudah menunggu kita."
"Oh, baik Encik, " kata Rumi.
"Kalian ingin foto berdua kah? "tanya Encik Johan. "Boleh saya bantu ambil gambar? "
Rumi tersenyum. "Boleh Encik. Terima kasih."
Rumi memberikan ponsel cerdasnya kepada Encik Johan.
"Nah, lebih dekat sedikit," kata Encik Johan.
Rumi merangkul saudara kembarnya. Jari jemari keduanya membentuk simbol peace. Wajahnya tersenyum lebar.
"One... two... three..... senyum," Encik Johan memberi aba-aba. "Coba lihat, bagus tidak? "
Encik Johan menunjukkan hasil fotonya. Tampak Rumi dan Syam berpose dengan menara kembar sebagai latar belakangnya.
"Bagus , Encik," kata Syam. "Terima kasih."
"Sama-sama," jawab Encik Johan.
Dibawah menara kembar, ada pusat perbelanjaan yang sangat besar, namanya Suria KLCC. Juga ada taman yang sangat cantik dengan danau dan air mancur yang dihias dengan lampu warna-warni. Disitu, ada sebuah masjid kecil beratap biru muda yang cukup unik. Namanya Masjid As Syakirin.
Malam ini, mereka makan di sebuah restoran Italia. Semua atapnya terbuat dari kaca, sehingga menara kembar terlihat jelas dari dalam restoran itu.
Encik David dan Puan Hanizah memiliki anak lelaki dan perempuan. Anak lelakinya berusia sekitar 15 tahun. Sedangkan anak perempuannya berusia sekitar 17 tahun.
Hari itu, mereka berdua ikut serta. Anak lelakinya terlihat asyik dengan kameranya. Tampaknya, ia mendalami dunia fotografi. Sedangkan anak perempuannya sibuk dengan aktivitas di ponsel cerdasnya.
Spontan, Rumi melirik gadis itu. "Cantik sekali," pikirnya. Namun, gadis itu tidak mempedulikan Rumi.
"Ehem, " Syam terbatuk-batuk menggoda saudara kembarnya. Syam menyikut Rumi.
Rumi tersentak kaget.
"Apaan sih, Syam?" Rumi pura-pura tidak melihat apapun.
"Halo Rumi, Syam, Ibu, apa kabar? " sapa Encik David ramah. "Senang sekali rasanya berjumpa dengan kalian lagi."
"Syukurlah, baik, Encik, "jawab Rumi.
Mereka menyalami Encik David dan Puan Hanizah.
"Oh iya, perkenalkan, ini anak-anak saya," kata Encik David. "Yang laki-laki bernama Aizad dan yang perempuan bernama Azlina."
Rumi dan Syam menyalami Aizad dan Azlina.
"Salam kenal," kata Rumi ketika menyalami Azlina. Rumi tersenyum manis padanya.
"Sama-sama," jawab Azlina. Ia membalas senyumannya. Jantung Rumi berdetak kencang.
Aizad dan Azlina kembali pada keasyikannya masing-masing. Aizad berkeliling dan memotret segala sesuatu yang dilihatnya menarik. Sementara, Azlina tetap asyik dengan ponsel cerdasnya. Mereka berdua tidak terlalu mengikuti pembicaraan orang tuanya.
"Bagaimana kabar Ibu Ismunah dan Pak Min? " tanya Puan Hanizah.
"Syukurlah, warungnya semakin ramai, " jawab Syam.
"Mi, organisasi kita memiliki ibu pejabat di Bandar Tasik Selatan, " kata Puan Hanizah.
"Setiap akhir pekan, kita mengadakan pertemuan dengan anggota organisasi kita. Banyak juga pemuda sepertimu. Silahkan datang kalau ada waktu. Di sana, kamu boleh berdiskusi apapun.
Kita juga rutin mengadakan kunjungan kepada fakir miskin,rumah sakit, panti asuhan, dan membantu orang-orang yang sedang kesusahan. "
"Ibu pejabat? Maksudnya? "Rumi bertanya.
"Main office, Mi, " sahut Encik Johan. "Kalau pejabat saja bermakna office."
"Kalau di Indonesia, pejabat berarti ' government officer's, " kata Rumi. "Kalau ibu pejabat ya berarti ' government officer' wanita."
"Hahaha." Mereka semua tertawa.
"Menarik juga ya kalau kita saling belajar bahasa masing-masing, " kata Puan Norima. "Benar kan, bu? "
Ibu tersenyum."Betul sekali, Puan. Saya minta tolong agar Rumi diajari berbahasa Malaysia yang benar selama tinggal disini. "
"Tidak perlu belajar terlalu keras, Mi, "kata Encik David. " Dalam waktu tiga bulan saja kamu duduk di sini, kamu akan lancar berbahasa Malaysia. Banyak kok orang Malaysia yang mengerti bahasa Indonesia. "
"Duduk? " Rumi kebingungan.
"Duduk bermakna 'stay' Mi, " kata Puan Hanizah.
Makanan pun disajikan. Berbagai masakan yang selama ini hanya ada dalam mimpi indah kedua kembaran itu, kini tampak nyata di depan mata. Spaghetti dengan berbagai macam saus, pizza, seafood, dan sup. Kemudian dilanjut denga es krim gelato sebagai makanan penutupnya.
"Alhamdulillah," Rumi membatin.
"Hei kalian." Tiba-tiba, Azlina berdiri dihadapan mereka berdua." Senang sekali melihat kalian berdua bercakap-cakap."
Rumi dan Syam terkejut.
" Wajah kalian benar-benar mirip ya? "
"Hahaha," Syam. "Kamu orang kedua yang mengatakannya. Tadi, Encik Johan juga berkata seperti itu."
"Hahaha." Azlina tertawa. "Kalian manis sekali kalau tersenyum. Bagaimana aku bisa membedakan kalian berdua?"
"Hmm...bagaimana ya?" jawab Syam. "Nanti juga lama-lama kamu bisa membedakannya jika sudah terbiasa bergaul dengan kami."
"Hahah,benar," kata Rumi.
" Pasti kalian berdua memiliki pengalaman menarik yang kalian jalani bersama-sama kan?" tanya Azlina. "Iya kan?"
"Hehehe, benar," kata Rumi. "Kami memang selalu seperti ini. Kami sering tertawa bersama. Berkelahi bersama. Bahkan kami pernah menjalani kehidupan yang sukar bersama."
"Oh, menarik sekali," kata Azlina.
"Hahaha," Rumi tertawa."
"Rumi ini suka dengan cewek cantik lho," kata Syam melirik dengan pandangan nakal kepada kembarannya. Kemudian menatap Azlina. "Yang seperti kamu ini."
Rumi tersentak kaget. Spontan ia. mencengkeram lengan kembarannya dengan kuat. Syam nyengir.
"Hah? Kamu ngomong apa tadi,Syam?" tanya Azlina. "Aku tidak mendengar jelas."
"Oh, tidak, tidak," kata Rumi, malu-malu.
"Hahaha," Azlina tertawa. "Oh ya Mi, ini nomor whatsapp ku. Selama di Malaysia, jangan malu untuk menghubungiku jika ada masalah."
"Terima kasih," kata Rumi. Rumi menyimpan nomor Whatssapp Azlina di ponsel cerdasnya.
"Sampai jumpa lagi ya."
"Iya," kata Rumi. Azlina meninggalkan mereka berdua.
Syam melirik ke arah Rumi dengan raut wajah menggoda. "Beruntung kamu, Mi," katanya. "Bahkan sebelum kamu meminta, dia sudah datang dan memberikan nomornya duluan. Hebat."
"Biasa saja, Syam. Kenapa? Kamu iri?"
"Ah, nggak lah. Aku nggak iri. Justru aku senang jika saudaraku dapat jodoh di Malaysia."
"Bicaramu melantur. Aku jauh-jauh kesini bukan untuk cari jodoh."
"Memangnya jodoh itu selalu harus dicari ya, Mi? Seringkali jodoh itu datang walaupun kita tidak mencarinya. Justru terkadang yang kita kejar-kejar malah sesungguhnya bukan jodoh kita."
"Huh, terserah kamu sajalah, Syam."
"Hahahaha," Syam tertawa lepas.