
Bukan pertama kali Puan Hanizah dan suaminya, Mohammad David Abdullah bin Abdullah Abdurrahman, mengunjungi Indonesia.
Kunjungan pertama kali ketika terjadi musibah tsunami di Aceh dan beberapa tempat di Asia Tenggara pada tahun 2004.
Aceh adalah salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah dari bencana itu. Ketika rombongan mereka mendarat di Banda Aceh, pemandangan sangatlah mengenaskan. Kota itu tampak rusak berat. Kemudian, mereka juga mengunjungi dan memberikan bantuan ke daerah-daerah lain di Aceh. Mereka mencari anak-anak yatim piatu, dimana salah satu atau kedua orang tua mereka hilang atau meninggal akibat bencana yang teramat dahsyat.
Sekembalinya dari Aceh, mereka mencarikan sebanyak mungkin orang tua angkat untuk anak-anak itu, baik dari Malaysia, maupun negara lain.
Hal yang sama mereka lakukan ketika mengunjungi Phuket, Thailand dan beberapa wilayah yang terkena dampak tsunami.
Kunjungan kedua mereka, baru-baru ini. Mereka mengunjungi Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan terakhir adalah Surabaya. Mereka mengunjungi beberapa sekolah dan melakukan bakti sosial.
Sebenarnya, Mereka hendak membuka cabang organisasi mereka di Indonesia. Mereka mencari anak-anak muda yang memiliki ketulusan hati untuk memberikan pelayanan kepada sesama manusia. Kelak, anak-anak muda itu akan mereka didik untuk menjadi pemimpin cabang. Tidak perlu pandai atau berasal dari keluarga yang kaya raya. Cukuplah anak itu memiliki ketulusan hati.
Hati mereka tertambat pada Rumi dan Syam. Bukan karena nama mereka yang mirip dengan nama seorang sufi terkenal, Jalaludin Rumi dan guru spiritualnya, Syam Tabrizi, melainkan karena mereka tahu bahwa Rumi dan Syam adalah kesatria cahaya juga, sama seperti mereka.
Mereka tahu bahwa Ibu Ismunah adalah ketua dari semua Kesatria cahaya yang ada di Indonesia, yang menyamar sebagai seorang wanita miskin. Mereka dapat merasakan getarannya. Hanya saja, karena ada Pak Tirto, mereka tidak bisa mengungkapkannya.
Baik Puan Hanizah, maupun Encik David, keduanya juga didampingi oleh Malaikat Pembimbing, Puan Hanizah didampingi oleh Malaikat pohon yang bernama Lea, sedangkan Encik David didampingi oleh Malaikat petir yang bernama Thund.
Di Malaysia, Encik David adalah ketua kesatria cahaya. Menurut Encik David, wujud dari keimanan seseorang kepada Tuhannya adalah ketika seseorang itu telah melakukan sesuatu untuk membantu sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan. Meringankan beban mereka. Sekalipun orang itu terlihat sebagai ahli ibadah yang tekun, namun, jika hidupnya tidak diwujudkan untuk membantu sesamanya, rasanya ada yang kurang. Seperti makan nasi tanpa lauk. Itulah yang selalu dan selalu ayahnya, Encik Abdullah Abdurrahman, katakan.
Ayahnya selalu mencontohkan teladan Rasulullah yang tidak pernah berhenti menolong sesama. Berkali-kali ia membacakan surat Al Ma'un di dalam Al Quran kepada Encik David kecil dan menyuruhnya mengulanginya beserta arti hingga Encik David hafal diluar kepala.
"Tahukah kamu, seperti apakah orang yang mendustakan agamanya itu? " kata Sang Ayah. "Pertama, orang yang lalai dalam sholatnya. Kedua, orang yang mencela anak yatim. Dan yang ketiga, orang yang menolak untuk memberi makan orang miskin. Ketiga hal ini harus kau ingat. "
Setelah pendudukan Jepang di tanah Melayu dan berakhirnya Perang Dunia kedua, Encik Abdullah membuat kelompok-kelompok kecil untuk menyebarkan cahaya dengan cara membantu fakir miskin, sebagaimana Bunda Theresa, seorang ksatria Cahaya yang menyebarkan cahaya dengan cara meninggalkan kehidupan biara, dan melayani orang-orang miskin di India.
Kelompok itu menjadi semakin besar setelah kemerdekaan Malaysia pada tanggal 31 Agustus 1957. Mulai tahun 1958 hingga sebelum menikah dengan ibunya pada tahun 1960an, Sang Ayah pergi ke Inggris untuk menyelesaikan pendidikannya.
Ia bertemu dengan David Connor, salah seorang kesatria cahaya dari Inggris, dosennya yang sangat peduli dengan masalah kemanusiaan. Ia sangat mengaguminya sampai-sampai ia memberi nama anaknya dengan nama David.
Bersama dengan David Connor ini, ia mendirikan organisasi kemanusiaan yang bernama Charity. Disamping untuk misi kemanusiaan, organisasi ini juga secara terselubung mendidik jiwa-jiwa manusia bumi untuk menjadi kesatria cahaya.
Hingga kini, Charity telah berkembang pesat di hampir 30 negara dan telah mendapat dukungan dari PBB.
Sekembalinya mereka ke Malaysia, mereka segera menulis pengalaman mereka bertemu dengan Rumi, Syam dan Ibu Ismunah di Surabaya itu. Mereka melampirkan foto-foto yang diam-diam diambil dengan kamera ponsel cerdas mereka. Kemudian menyebarkan tulisan dan foto-foto itu ke seluruh dunia melalui email dan media sosial.
Tidak lama kemudian, mereka menerima rasa simpati dan sumbangan dari anggota Charity yang lain, juga dari para kesatria cahaya di seluruh dunia. Keduanya tersenyum puas.